Gunung Kirkjufel, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

“The most remarkable thing about a man’s dreams is that they will all come true; this has always been the case, though no one would care to admit it. And a peculiarity of man’s behaviour is that he is not in the least surprised when his dreams come true; it is as if he expected nothing else. The goal to be reached and the determination to reach it are brother and sister, and slumber in the same heart.”
― Halldór Laxness, Independent People

Ketika saya membeli buku Independent People karya Halldór Laxness enam tahun lalu di loakan buku bekas trotoar Jalan Dewi Sartika Bandung* tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa saya akan membaca buku ini di negara tempat sang penulisnya lahir, Iceland. Saya membelinya berbarengan dengan buku berbahasa Inggris bekas lainnya seperti Cold Mountain karya Charles Frazier yang dibeli karena bukunya sudah diadaptasi menjadi film yang membuat saya banyak tidak puas dan memutuskan untuk membaca sendiri bukunya, serta dua buah buku terjemahan Agatha Christie. Kecuali buku Agatha Christie, yang buku berbahasa Inggris, Independent People dan Cold Mountain, tentu saja tidak dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Tumpukan buku yang datang semakin menggunung sehingga membuatnya semakin kalah prioritas. Apalagi nama “Halldór Laxness” terasa asing sehingga semakin membuat saya menunda-nunda untuk membacanya alias tedorong semakin ke dasar timbunan buku-entah-dibaca-kapan dalam gunungan tumpukan buku saya. Bagaimanapun, saya pikir, dari 250 juta penduduk Indonesia, tak sampai 1000 orang pernah mendengar nama “Laxness” apalagi membaca sendiri buku karyanya. Saat saya mengkonfrontasikan kepada teman saya yang maniak baca pun apakah dia pernah mendengar nama “Halldór Laxness”, dia kehilangan petunjuk. Pun saat saya membeli bukunya, saya belum mengenal nama Laxness saat itu, hanya embel-embel “Winner of Nobel Prize in Literature” di jilid depannya yang membuat saya tergerak melirik-lirik sekilas isi bukunya dan memutuskan mencoba untuk membeli. Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3]

“It’s funny how the colours of the real world only seem really real when you viddy them on the screen.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

* ‘viddy’ is a Nadsat slang for ‘see’, Nadsat is a false language spoken by teenager in A Clockwork Orange

Kami menyebutnya sebagai “Minuman Kemenangan”. Tak ada yang spesial sesungguhnya. Biasanya yang disebut sebagai Minuman Kemenangan berupa minuman sereal, susu, bandrek, atau beberapa teman saya memilih kopi sachetan. Adapun penyebutan yang terkesan norak, alay, dan eksesif tersebut disebabkan karena kami meminumnya hanya saat mendaki gunung, tepatnya di pos terakhir perkemahan sebelum menaklukan puncak. Dengan segala kepayahan setelah pendakian seharian, istirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian esok dini harinya sangat diperlukan. Saat istirahat rileks dipenuhi canda tawa (atau caci maki meledek teman) itulah Minuman Kemenangan disajikan. Meski tak ada kesepakatan tegas di antara kami, tetapi gelar Minuman Kemenangan hanya disematkan untuk minuman di momen itu saja. Di saat-saat lain, misal berkumpul biasa di pos-pos pendakian lain, tak ada yang menyebut-nyebut “Minuman Kemenangan” meski yang disajikan sama saja. Minuman Kemenangan hanya disajikan saat kami sudah berjuang susah payah, menikmati setiap tetes keringat pendakian seharian, melepas segala kelelahan dengan kegembiraan, meresapi setiap kenikmatan kebersamaan sekecil-kecilnya, dan mensyukuri setiap anugerah keselamatan hidup yang mengiringi. Di Ambon, untuk pertama kalinya, setelah berjuang dan menikmati snorkeling seharian di Pantai Ora, kami harus mematahkan “kesepakatan” tersebut. Kami menegak “Minuman Kemenangan” lain, dalam bentuk yang… well… tak saya duga sebelumnya. Continue reading

Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2]

“Welly, welly, welly, welly, welly, welly, well. To what do I owe the extreme pleasure of this surprising visit?”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Sekawanan ikan kakak tua—saya belum pernah melihat kawanan ikan kakak tua sebanyak ini sebelumnya—berenang melintasi sampan yang kami tumpangi. Warna hijau kebiruan cemerlang mereka semakin tertegaskan dalam kejernihan air yang bening bak gelas kualitas terbaik. Kurang dari sepuluh detik, saya langsung menyambar snorkel, kamera kedap air dan lompat ke laut untuk mengabadikan penampakan langka ini. Teman-teman saya melakukan hal serupa. Setelah melompat ke air, saya menengok kiri kanan untuk melihat kemana kawanan ikan tersebut pergi, suara deburan lompatan kami pasti mengagetkan mereka. Saat menengok kiri kanan itulah saya menyadari sesuatu yang buruk akan datang. Seketika saya menyadari kesalahan fatal yang telah kami lakukan. Bahkan sebelum saya sempat berteriak memperingatkan teman-teman saya, sesuatu yang amat saya takutkan datang menyambar mereka dalam tempo nyaris sekejap saking cepatnya. Saya bahkan tak sempat memikirkan nasib teman-teman saya, karena tepat pada detik berikutnya hal yang sama terjadi pada saya. Detik-detik berikutnya hanya ada kegelapan yang pekat, rasa ngeri yang mencengkeram amat erat, dan bayangan tentang hal-hal buruk yang amat sangat dekat… Dan penyesalan… selalu datang terlambat… Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

“Oh, it was wonder of wonders. And then, a bird of like rarest spun heavenmetal, or like silvery wine flowing in a spaceship, gravity all nonsense now, came the violin solo above all the other strings, and those strings were like a cage of silk round my bed. Then flute and oboe bored, like worms of like platinum, into the thick thick toffee gold and silver. I was in such bliss, my brothers.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Kamu tahu apa yang dimaksud dengan frasa “intipati keindahan dan kenikmatan dunia”? Setiap orang punya versinya masing-masing tentu saja, tapi saya rasa tak banyak yang bisa mengalahkan ini: membaca buku bagus seperti A Clockwork Orange* karya Anthony Burgess ditemani melodi enigmatik Fantaisie-Impromptu** dari Chopin, duduk di ayunan dengan kaki telanjang di pasir pantai hangat dengan angin mengalir selembut kapas memeluk, air laut jernih semurni embun pertama dini hari dan ombak sejinak bayi yang terlelap tidur. Percayalah, tak ada yang lebih melenakan selain bersantai saat menunggu senja di pantai, well, nama tempatnya memang begitu populer dengan puji-pujian tak berkesudahan tentangnya, Pantai Ora di tepian Taman Nasional Manusela, Pulau Seram. Continue reading

Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])

Selama bertahun-tahun, tidak pernah saya pertanyakan penjelasan sejarah yang mereka sampaikan. Saya juga tidak banyak memikirkan peristiwa 1965-66. Bagi saya, semuanya terasa seperti cerita-cerita usang dari masa lalu…
Tahun yang Tak Pernah Berakhir, hal. 25

Menjelang hari peringatan G30S yang lalu, halaman utama lini massa media sosial saya dipenuhi oleh berbagai artikel yang membahas peristiwa ini. Larut dalam keriuhan, saya memutuskan membaca buku yang membahas topik tersebut. Saya memilih untuk membaca buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, sebuah kumpulan essai sejarah mengenai kesaksian para penyintas korban peristiwa 1965. Saya membaca buku ini dalam format digital tentu saja (buku-buku yang ‘vulgar’ namun jujur menceritakan kengerian 1965, sangat sulit ditemukan di pasaran dalam bentuk kopian cetak asli. Terlebih untuk buku ini, buku John Rossa lain yang bertanggung jawab sebagai editor, dilarang beredar oleh Kejagung). Buku ini, yang merupakan kumpulan kesaksian dan kisah para penyintas korban 1965, langsung mengingatkan saya pada salah satu penyesalan terbesar saya di masa kanak-kanak lalu.

Continue reading