Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]

“I had the epiphany that laughter was light, and light was laughter, and that this was the secret of the universe.”
― Donna Tartt, The Goldfinch

Kata “paradise” dalam bahasa Inggris (atau “firdaus” dalam bahasa Indonesia), memiliki akar kata dari bahasa Avesta (Iran Kuno) pairidaēza yang bermakna taman berdinding/berpagar/tertutup. Dalam konteks keagamaan, istilah tersebut memang diasosiasikan sebagai hunian eksklusif dengan pemandangan menawan dan kenikmatan tertinggi bagi mereka yang telah melewati fasa hidup fana di dunia setelah melakukan kebaikan-kebaikan yang disyaratkan dalam aturan agama tersebut, sehingga hanya mereka yang terpilih yang berhak memasukinnya. Sepanjang sejarah, taman-taman yang dibangun di kawasan Timur Tengah (mulai dari taman-taman historis yang telah musnah seperti Taman Tergantung Babilonia, hingga taman-taman dinasti Islam) mengikuti pakem tersebut, taman-taman istana dan publik mereka dibuat dan dilindungi dengan benteng-benteng sehingga untuk memasukinya harus melalui pintu-pintu tertentu saja yang dikawal penjaga. Begitulah, perjalanan saya menjelajahi pegunungan Karakoram dan Himalaya yang lalu sesungguhnya adalah perjalanan mengunjungi taman-taman firdaus, baik dalam pengertian spesifik berupa taman berbenteng, maupun taman firdaus dalam makna luas; saya menjelajahi tempat-tempat dengan keindahan luar biasa–saya sering kali kesulitan mendeskripsikan detail keindahannya–yang dipagari oleh gunung-gunung mahatinggi menjulang menusuk langit, yang acap kali untuk memasuki kawasannya, saya harus meminta izin pada penjaga bersenjata. Saya pikir saya telah banyak menyaksikan tempat-tempat surgawi sepanjang petualangan dan pendakian gunung-gunung yang telah saya lalui selama ini. Tapi perjalanan ke Karakoram dan Himalaya, memberikan pemahaman baru bagi saya dalam memahami ‘keindahan surga firdaus‘ yang tak saya duga sebelumnya.

Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]”

Advertisements

Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]

But the fool on the hill
Sees the sun going down
And the eyes in his head
See the world spinning round

― The Beatles, The Fool on the Hill

Jika saya menjadi seorang Julie Andrews maka saya sudah pasti menari-nari, melompat-lompat, bahkan berguling-guling sambil menyanyikan lagu seperti yang dia lakukan di film klasik fenomenal The Sound of Music (1965). Tentu saja saya tak melakukan itu semua karena akan tampak konyol jika dilihat orang lain, haha, meski saya tetap melakukan guling-guling di atas rumputnya sih. Di sini, udara terasa ringan. Tak beraroma, tak ada rasa panas atau dingin, tanpa ada kelembapan, tak mengandung butiran apapun murni seperti habis disuling. Tak ada beban sama sekali saat menghirupnya, membuat saya menghirup udara begitu perlahan tanpa ada ketergesaan. What a wonderful air! What a wonderful air! What a wonderful air! Saya mengucapkan mantra ini berkali-kali dengan mata terpejam sambil mengambil nafas dengan indera berusaha mengecap segala rasa di sekitar. Ah, siapa sangka jika tak jauh dari bukit permai dengan padang rumput hijau membentang luas ini, terdapat bayang-bayang kisah masa lalu yang kelam dan pedih. Bagian Peak District National Park yang saya datangi memang tak hanya menyajikan panorama memukau, tetapi juga keping sejarah masa lampau yang penuh kejayaan dan kemuraman. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]”

Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 1]

Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies
I sit, and meanwhile back

The BeatlesPenny Lane

Seperti halnya Varanasi bagi umat Hindu, atau Jerusalem bagi umat Yahudi/Kristen/Islam, saya juga punya ‘kota suci’ versi saya sendiri. Kesempatan untuk mengunjunginya telah menjadi semacam ziarah singkat yang sudah lama saya idam-idamkan. Sebuah pelawatan yang akan menyentuh salah satu kelokan dari kenangan, mimpi, hasrat, cita-cita, imajinasi, obsesi, bahkan pemujaan. Ritual harian saya yang senantiasa memutar lagu-lagu lawas di pagi hari entah untuk menemani saya membaca buku atau mengerjakan tugas-tugas harian, sudah pasti memasukan lagu-lagu The Beatles di dalam daftar putarnya. Bahkan The Beatles menjadi satu diantara dua artis yang semua lagu-lagunya dari segala album yang pernah mereka keluarkan ada dalam daftar musik yang saya putar di ponsel. Ya, kamu bisa menebak kemana semua ini akan bermuara. Saya akan melakukan ziarah suci ke kota Liverpool, Inggris, tempat lahirnya dua kenangan dan obsesi masa kecil yang terus bertahan hingga hari ini; band fenomenal The Beatles dan klub sepakbola Liverpool Football Club. Dan tentu saja, bagi seorang penggila jalan kaki di alam bebas seperti saya, juga sekalian termasuk trekking di taman nasional tertua di Inggris, Peak District National Park. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 1]”

Gunung Sumbing, Maret 2018

“If you are pitched into misery, remember that your days on this earth are counted and you might as well make the best of those you have left.”
Yann Martel, Beatrice and Virgil

Dalam setiap pendakian gunung, selain pemandangan indah atau keheningan hutan, kamu juga mendapatkan pengamatan paling “vulgar” dari sifat-sifat manusia. Dalam kondisi tertekan, kelelahan, dan kepayahan serta kondisi medan pendakian yang berat atau hujan lebat yang membuat tak nyaman, kamu bisa melihat sisi lain dari kawan-kawan sependakian kamu yang selama ini tak kamu lihat. Seseorang yang suka mengeluarkan lelucon konyol, bisa jadi seorang pembentak pada kondisi tertekan tersebut. Seseorang yang sebelumnya dianggap ramah malah bisa menjadi seorang pemaki. Pada pendakian Gunung Sumbing, saya menjumpai hal tersebut di rombongan lain yang nyaris akan saling berkelahi antara sesama anggota rombongan karena seorang anggota mereka (yang bersikap sok pemimpin) tetiba menjadi bersikap sok tahu, suka menyuruh, gemar membentak, serta mengumpat dengan kata-kata yang begitu kasar nan kotor sehingga membuat saya mencari korek kapas untuk membersihkan telinga saya dari aneka kata-kata kotor yang terlanjur masuk. Untungnya teman-teman rombongan pendakian saya adalah orang-orang asyik sehingga saat melihat cekcok rombongan lain membuat saya begitu banyak bersyukur. Pendakian bukanlah sekedar upaya untuk melihat pemandangan belaka, tetapi juga upaya untuk mengamati sifat-sifat dasar manusia, dari yang terbaik hingga yang terburuk. Continue reading “Gunung Sumbing, Maret 2018”

Gunung Slamet, Februari 2018

“Life is made up of sobs, sniffles, and smiles, with sniffles predominating.”
O. Henry, The Gift of the Magi

Adalah suatu hal yang tak bisa diduga kedatangannya. Daun-daun rimbun menapis cahaya matahari sehingga suasana hutan meremang meski jam masih menunjukan pukul empat sore. Angin semakin lama bertiup semakin lemah sehingga kegerahan semakin meraja dan keringat semakin bercucuran. Ketukan-ketukan lembut pada dedaunan yang ritmis terdengar di kejauhan di belakang kami, yang nadanya naik turun riuh rendah bahkan kadang menghilang. Sebelum saya dapat mengantisipasinya, hujan deras turun dalam hening. Bagi seorang pendaki, hujan bisa menjadi tantangan sendiri. Sebelum baju saya menjadi kuyup, saya segera mengeluarkan jas hujan yang sengaja saya tempatkan di kantong terdekat dan paling mudah diraih. Pendaki-pendaki lain yang tak siap, terlihat semakin kuyup sambil berusaha mencari pohon teduh untuk mengeluarkan jas hujannya. Beberapa orang terdengar menggerutu, sebagian cemberut, yang lainnya pasrah dengan senyum kecut. Namun bagi saya, hujan di gunung saat sore hari adalah sebuah janji. Janji bahwa kelak, saat hujan sudah berhenti dan kegelapan rimba sudah sempurna, akan tersibak misteri terbaiknya.  Continue reading “Gunung Slamet, Februari 2018”

Gunung Sindoro, Januari 2018

“What is the good of your stars and trees, your sunrise and the wind, if they do not enter into our daily lives? They have never entered into mine, but into yours, we thought–Haven’t we all to struggle against life’s daily greyness, against pettiness, against mechanical cheerfulness, against suspicion? I struggle by remembering my friends; others I have known by remembering some place–some beloved place or tree–we thought you one of these.”
― E.M. Forster, Howards End

Ketika saya masih SD (mungkin kelas 5 SD, saya tak ingat persis), salah satu tontonan favorit saya adalah acara-acara petualangan di kanal Discovery. Dalam sebuah episode yang mengisahkan para petualang yang mengalami cedera saat melakukan olahraga ekstrem di alam liar, tayangan tsb (sayang saya lupa judul serialnya) berulang kali menyorot tulisan besar yang ada di papan peringatan di kawasan Rocky Mountains yang terjal-terjal namun berpemandangan menawan yang bertuliskan “Mountains doesn’t care!” Kelak bertahun-tahun kemudian di masa SMA, ketika saya memulai mencoba bertualang  dengan berkemah di hutan dan gunung, saya mulai memahami apa makna dari frasa dan peringatan itu secara sesungguhnya. Kita bisa berikrar, mendeklamasikan, atau membual bahwa kita mencintai gunung. Tapi kenyataannya gunung tak mencintai kita. Gunung tak pernah peduli baju apa yang kita kenakan atau bekal yang kita bawa. Tapi jika memakai baju dan bekal ala kadarnya, “hukuman” dari gunung bisa begitu fatal mengerikan. Atau saat kita bertindak ceroboh tak mengikuti aturan, tak ada toleransi yang diberikan oleh gunung. Gunung punya jiwa, semangat, pesona, keindahan dan juga kebrutalannya sendiri. Kesenangan dan keselamatan kita tak menjadi perhatiannya. Ketika seorang pendaki mengabaikan kenyataan ini dimana dia melakukan kesenangan tanpa memerdulikan keselamatan, bersiaplah menghadapi resiko mengerikan. Saat pendakian ke Sindoro lah, saya masih mendapati perilaku pendaki gegabah itu, dalam konsekuensi yang begitu buruk. Mungkin ini adalah salah satu “kecelakaan” terburuk yang pernah saya hadapi secara langsung saat mendaki dalam 10 pendakian gunung terakhir. Continue reading “Gunung Sindoro, Januari 2018”

Terbaik dan Terburuk di 2017

“How often do we tell our own life story? How often do we adjust, embellish, make sly cuts? And the longer life goes on, the fewer are those around to challenge our account, to remind us that our life is not our life, merely the story we have told about our life. Told to others, but—mainly—to ourselves.”
― Julian Barnes, The Sense of an Ending

Tahun 2017 bisa dikatakan sebagai tahun terburuk sepanjang karir saya sebagai seorang pembaca buku, penonton film, dan pendaki gunung. Atau malah, dilihat dari sisi lain, salah satu yang terbaik? Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2017”