Terbaik dan Terburuk di 2018

“I think that most of us feel like something is missing from our lives. And I wondered then if Knight’s journey was to seek it. But life isn’t about searching endlessly to find what’s missing. It’s about learning to live with the missing parts.”
Michael Finkel, The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit

Siklus kembali bergulir. 365 hari bukanlah waktu yang sebentar, banyak hal yang bisa dan telah saya lakukan sepanjangnya. Tak semuanya berisi suka cita tentunya. Dari ke-365 hari terlewat itu, sebagian tentu saja terasa berat dijalani dulunya, tetapi sekarang saat ditinjau kembali, malah terasa menggelikan dan sepele. Well, seperti biasa, saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman saya sepanjang tahun 2018 yang lalu lewat pembacaan buku, penyaksian film, dan pendakian gunung.

Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2018”

Advertisements

Gunung Nglanggeran, Januari 2016

Sometimes you have to travel a long way to find what is near
― Paulo Coelho, Aleph

Saya selalu membayangkan kota Yogyakarta sebagai bocah SD kelas 2; imut, polos, sopan, tak ada cela dalam berperilaku, penurut pada perintah orang tua, dan manis tanpa banyak tingkah polah yang mencemaskan. Kadang saya merasa sedikit terenyuh ketika melihat kota ini yang terlihat sangat pemalu. Kesantunan dan keteguhannya memegang adat menjadikan kota ini benar-benar istimewa. Hal inilah yang membuat saya selalu menyambut gembira setiap kunjungan kembali ke kota ini dengan keistimewaan yang tak bisa saya temukan saat kunjungan ke kota lain (hanya Bukittinggi dan Solo mungkin yang menjadi saingan kuat). Setidaknya, dalam perjalanan terakhir saya yang belum lama sebelumnya ke kota ini, kesan tersebut masih tertancap kuat. Tapi, apa yang terjadi dalam perjalanan kali ini, mengobrak-abrik gambaran kepolosan kota ini. Ada banyak hal yang selama ini belum saya lihat, membuat ide saya tentang kota ini terusik. Namun sebagaimana diduga, tak ada kekecewaan yang saya rasakan. Sisi lain Yogya yang saya rasakan justru menjadikan kota ini sebagai kota yang manusiawi. Kota ini sudah beranjak remaja. Meski masih penurut, tetapi kadang dia bisa bengal jika diusik. Meski polos dan pemalu kadang sering degil dan ugal-ugalan. Dan itu yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan kota ini. Continue reading “Gunung Nglanggeran, Januari 2016”