Gunung Rinjani, Juni 2015

Tell him to seek the stars and he will kill himself with climbing.
― Charles Bukowski, The Roominghouse Madrigals

Sebagai salah satu gunung tujuan pendakian populer dengan publikasi blog dan review yang berjibun, saya sudah mendapat gambaran lengkap medannya yang berat sehingga awalnya sedikit bikin ogah naik ke Rinjani dalam waktu dekat―dengan tiga pendakian sebelumnya yang di luar dugaan, jelas pendakian berikutnya ingin sedikit yang lebih rileks, haha. Tetapi, siapapun yang sudah ke Rinjani akan tahu, ada magnet raksasa di puncaknya. Magnet yang akan menarik orang-orang pecinta gunung dari seluruh penjuru dunia untuk menjejak puncaknya (untuk hal ini saya tidak hiperbolis, mayoritas pendaki adalah warga asing. WNI tak sampai seperlimanya). Dengan sedikit bujuk rayu teman saya, saya langsung luluh menyetujui pendakian ini. Jadilah saya seperti amuba, terbelah antara sedikit menyesal (karena tahu akan menjalani trek yang lumayan dahsyat) dan tertarik untuk menjelajah lagi pelosok Rinjani yang eksotik.

Jika kamu hanya punya satu kesempatan sekali seumur hidup mendaki gunung, saya sarankan untuk mendaki Rinjani. Percaya deh, gunung ini cantik banget. Setelah ngotot-ngototan dengan teman saya, kami memutuskan untuk menjelajah seluruh tempat wisata Rinjani. Tak hanya jalur pendakian standar (Senaru-Puncak-Sembalun-Danau Segara Anak) tetapi juga pelosok-pelosoknya seperti Gua Susu, Air Terjun Tiu Kelep, dll. Dan asal tahu saja, setiap medan untuk menuju tempat-tempat tersebut sama sekali gak mudah. Terjal, ekstrem, jauh dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi selalu terbayarkan dengan kedahsyatan dan keindahannya.

Demi menghindari jarak yang lebih jauh jika melalui rute Senaru yang lebih landai dan rimbun, kami mencoba jalur Sembalun. Bahkan sejak gerbang masuk saja, saya sudah terpesona. Omegod, lanskap savannanya benar-benar meracuni mata (setengah jam perjalanan pertama sepertinya dihabiskan untuk foto-foto, haha). Efek perbauran warna kuning-ungu-cokelat-hijau membuyar sehingga menjadi atraksi surealis seperti di lukisan-lukisan lanskapnya Gauguin atau Cézanne. Bahkan saya rebahan dan tertidur di rerumputannya saat beristirahat. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang mengesankan.

Lanskap savana Sembalun yang mahaluas, mengingatkan saya pada deskripsi wilayah Shire para hobbit-nya Tokien

Lanskap savana Sembalun yang mahaluas, mengingatkan saya pada deskripsi wilayah Shire para hobbit-nya Tokien

Tetapi, kesenangan tsb ‘dihancurkan’ saat bertemu Bukit Penyesalan yang melegenda itu, haha. Tujuh bukit yang datang susul-menyusul tanpa ampun dengan kecuraman terjal benar-benar menguras nafas dan memeras keringat. Secara pribadi, seandainya saya menjadi orang pertama yang memberi nama tempat itu, saya akan memilih nama yang lebih optimis, katakanlah ‘Bukit Harapan‘, karena kita tahu, selepas melewati bukit tsb, kita akan menyaksikan surga keindahan. Nama yang lebih pesimis membuat perjalanan jadi ikut melelahkan juga karena tersugesti nama beraura negatif. Sehingga pendakian yang super melelahkan tsb harus diselingin dengan gurauan terutama saat rekan-rekan perjalanan saya mulai menunjukan gejala ‘penyesalan’ karena memilih rute dahsyat tsb, haha. Meski akhirnya saya kena batunya sih saat melakukan hal ini. Secara kiasan dan harfiah.

*****

Saat mencapai dua bukit terakhir dari tujuh rangkaian bukit super terjal itu, tetiba kabut datang. Saya langsung bersenandung lagu Misty Mountains yang ada di film The Hobbit: An Unexpected Journey secara spontan. Teman saya si M yang hobi nonton nyeletuk, “Kayak dalam film The Hobbit, ya? Kenapa gak sekalian Lord of the Ring aja?” saya menjawab, “Kalau senandung One Ring to Rule Them All nanti keluar Sméagol” sambil ngelirik si N. Si N yang sadar, langsung nyeletuk, “Bangke!” Dan saya menjawab, “tuh M, kamu dikatain bangke sama si N.” Detik berikutnya saya harus berakrobat menghindari dua timpukan batu sekaligus dari si M dan si N. Sial. Saya tidak mempermasalahkan timpukan batunya, toh batunya kecil dan saya berhasil menghindar meski hampir jatuh terguling karena medan yang curam. Yang saya herankan, kan ketika saya bilang ‘Sméagol’ gak mungkin dong saya menatap batang pohon, pasti melihat salah seorang, pun ketika seseorang mengatakan ‘bangke’ saya otomatis menafsirkan perkataan tsb ditujukan ke orang lain karena saya tidak merasa menjadi ‘bangke’. Eh, saya malah kena timpukan batu dari dua orang sekaligus. I didn’t get the logic.

Karena kami ingin menjelajahi hampir semua pelosok Rinjani, kami menyewa seorang guide untuk menunjukan rute-rute tempat wisata yang bisa dikunjungi. Tapi sayangnya, guide tsb ternyata sedang galau akut. Demi mengenang mantan, dia sampai memutar lagu India, yang sebenarnya bukan masalah besar asal jangan satu lagu india diputer terus-terusan. Haha. Mendengar satu lagu India yang sama selama 3 jam berturut-turut sambil mendaki bukit terjal, bisa bikin kepala berdenyut-denyut juga loh. Sebenernya saya pernah melakukan hal lebih ekstrem lagi sih, ada tiga lagu yang masing-masing lagu saya putar minimal 18 jam nonstop. Tetapi kalau lagu India yang saya gak ngerti makna liriknya diputar tiga jam, ya mabok juga sih, haha. Saya bahkan sampai hafal separuh liriknya (meski gak ngerti), haha.

Ada satu teman saya yang berbisik, “bagaimana jika kita buang BB-nya ke jurang. Itu BB model lama, dijual pun gak akan laku 300rb. Nanti kita patungan buat ganti rugi.” Saran yang masuk akal, dan bikin saya tergoda untuk melakukan hal tsb demi menghentikan lagu Indianya. Tetapi, saya tak jadi ambil kesempatan tsb. Bagaimana jika nanti yang masuk jurang malah teman saya karena si guide murka? Jadi, saya mengeluarkan kemampuan persuasif terbaik untuk menego si guide agar mengganti lagunya. Awalnya dia berkelit, baru setelah mendapat ceramah panjang tentang sisi positif ‘move-on’ dari saya dia mengalah, dan diputarlah lagu-lagu dari Dream Theater. Lumayan lah, saya tak mengharapkan lebih.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, jarak dari satu lokasi ke lokasi sangat berjauhan dengan medan yang lumayan bikin meringis. Menuju puncak misalnya, dari camp terdekat (Plawangan Sembalun), masih dilanjutkan dengan pendakian yang harus dilakukan sejak dini hari demi mengejar sunrise. Karena pendakian ini dilakukan di malam-malam yang sudah masuk fase purnama, maka harus menunggu bulan terbenam dulu di sepertiga akhir malam untuk bisa menikmati rasi-rasi bintang. Jadi, selama pendakian ke puncak yang bikin ngos-ngosan, saya merangkap juga sebagai cenayang yang berceloteh tentang sejarah kisah-kisah penamaan rasi bintang dari zaman ke zaman di berbagai kebudayaan kepada teman-teman saya. Tentu saja meski sibuk berceloteh, saya tetap harus konsentrasi melihat pijakan. Jalur pendakian menuju puncak sangat sempit dan gelap. Kiri kanan langsung menghadap jurang menganga. Dan ini mungkin yang dimaksud oleh Bukowski dalam puisinya yang saya cantumkan di atas, untuk mencari bintang kita harus berpayah-payah dengan memanjat (gunung).

Chichester Canal by JMW Turner. Pemandangan langit yang dramatis ini dihasilkan karena sisa ledakan Gunung Tambora (1828) yang menyebabkan Eropa dilanda tahun tanpa musim panas.

Chichester Canal oleh JMW Turner. Pemandangan langit yang dramatis ini terinspirasi oleh abu ledakan Gunung Tambora (1815) yang menyebabkan Eropa dilanda tahun tanpa musim panas.

Ah, sunrise di puncaknya. Jika ada daftar yang menuliskan 10 tempat dengan sunrise terindah di dunia, sudah pasti puncak Rinjani adalah salah satunya. Saya benar-benar ingin tahu, apa jadinya jika JMW Turner–pelukis aliran romantis Inggris yang terkenal dengan karya-karya sunrise/sunsetnya– datang ke Rinjani. Apakah pemandangan yang dia lukis bisa lebih dahsyat ketimbang gambaran langit di lukisan Chichester Canal? Begitu magis dan menghipnotisnya sunrise di puncak Rinjani, sehingga saya tidak banyak menghabiskan waktu dengan berfoto-foto seperti biasanya. Sambil mendengarkan aransemen klasik Das Rheingold karya Richard Wagner, saya hanya menatap diam saat sinar matahari muncul merangkak turun dari rambut saya sampai ke ujung kaki. Saya merasa terberkati. Tak ada kenikmatan yang lebih membahagiakan ketimbang mendengar prelude Das Rheingold versi Hamburg Philharmonic Orchestra sambil menyaksikan detik-detik kemunculan sang Surya. Waktu seolah melambat ketika cahaya matahari merambat perlahan menerangi dan menghangati tubuh saya, sementara saya sendiri sepenuhnya diam mematung. Khusyu. Tertegun.

*****

Saya tak pernah merasa puas ketika berada di puncak Rinjani. Bolak-balik badan tengok kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah, semuanya memberikan atraksi mendebarkan yang berbeda dan luar biasa. Di setiap tengokan meski ke arah yang sudah dilirik, selalu saja tampak pemandangan berbeda dari yang terakhir kali dilihat. Permainan cahaya mentari pagi menuju siang, kedatangan serta kepergian kabut, angin yang mengundang dan mengusir awan, membuat semuanya selalu tampak lebih dramatis dan menarik ketika dilihat seolah baru pertama menyaksikannya.

Ledakan Gunung Tambora (1815) telah memicu
A Year Without Summer tahun 1816 yang
menyebabkan kelaparan massal di bumi
Eropa. Kemuraman massal dan suasana
kelabu yang disebabkannya menjadi inspirasi
novel Frankenstein (Mary Shelley), dan hingga
sekarang, semua film horor selalu berlatar langit
kelabu. Ledakan Gunung Rinjani tahun 1257,
lebih dahsyat dan mengerikan ketimbang
Tambora. Memangkas ketinggian puncaknya
dari ketinggian 5000-an meter lebih menjadi
tinggal 3700-an, ledakan ini telah memicu
kejadian yang lebih dahsyat; era glasial
Little Ice Age. Little Ice Age telah menimbulkan
kelaparan massal di abad pertengahan dan
perubahan sosial-kultural signifikan di Eropa,
banyak laporan mengenai danau-danau dan
sungai-sungai di Eropa mendadak membeku
(yang tidak terjadi lagi setelahnya). Dan
karena Little Ice Age inilah, semua film
berlatar Eropa Abad Pertengahan selalu
berlangit kelabu. Peninggalan abadi ledakan
Rinjani tahun itu adalah salah satu danau
tercantik di dunia: Segara Anak.

Semua perjalanan melelahkan menuju puncak–bangun dini hari dalam medan berdebu dan badan menggigil–semuanya tertuntaskan saat menjejak puncaknya. Bahkan beberapa bule yang mengalami euforia sampai ada yang melepaskan baju saat berhasil menapak di puncak, dalam kondisi dingin dan berangin. Saya sih buka sarung tangan untuk mempersiapkan kamera HP saja sudah setengah mati menahan beku.

Tetapi, mengejar puncak dalam kondisi malam gelap sepertinya ada untungnya juga. Begitu saya hendak turun dari puncak menjelang siang, baru terlihat kengerian yang terpampang nyata; jurang kiri-kanan menganga, mengapit punggungan gunung yang menjadi jalan setapak sangat curam menuju puncak. Secara kontradiksi, kengerian ini justru menimbulkan efek keindahan yang mendebarkan. Apalagi selain puncaknya yang menjadi legenda, Rinjani punya pesona lain yang ketenarannya sama tuanya dengan nama gunung ini sendiri: Danau Segara Anak.

Dari ketinggian 3700-an meter, danau ini terlihat cantik, bak puding berwarna biru jernih dalam mangkuk raksasa. Puding ini mestinya berbentuk bulatan sempurna, andai tidak ada anak gunung Rinjani yang bernama Gunung Baru di bagian pinggirnya, alhasil danau ini berbentuk bulan sabit. Gunung Baru sendiri masih aktif dan mengeluarkan asap tiada henti hingga saat ini. Keindahan dari jauh ini semakin memotivasi saya untuk tak terlalu lama berada di puncak (juga karena udara semakin panas) untuk segera menunaikan undangan Danau Segara Anak dan bertamu dengannya.

*****

Ya, saya sudah bercerita kalau medan Rinjani yang ekstrem dan terjal membutuhkan stamina ekstra. Dari puncak menuju Danau Segara Anak, harus ditempuh dalam waktu 6-8 jam sendiri dengan menuruni lereng yang aduhai. Ketika saya akhirnya sampai di tepian danau, hampir semua energi terkuras. Untungnya di salah satu tepian danau terdapat mata air panas bernama Aik Kalak. Sehingga tanpa perlu menunggu teman saya mengajak, saya berinisiatif mengajak mereka duluan. Dalam waktu dua jam sesudahnya (terpaksa diakhiri karena hari sudah gelap), saya berendam air panas Aik Kalak. Semua dendam, lelah, putus asa, dan penderitaan selama menanjak dan menurun terbayarkan sudah.

Sebagaimana pendakian-pendakian lainnya, saya biasanya selalu membawa buku ke gunung. Sebuah kemewahan hidup luar biasa saat membaca sebuah buku dalam pangkuan yang mendamaikan dan pelukan yang menyejukkan dari gunung. Di Rinjani, saya membawa buku The Sea, The Sea dari Iris Murdoch. Jujur saja, saya sedikit kecele saat memilihnya, haha. Novel ini adalah novel filsafat yang cukup berat untuk dibaca di sebuah gunung. Tetapi, sambil bersantai di Segara Anak melepas lelah, saya membaca buku ini sementara separuh betis terbenam di air danau yang sejuk ditemani alunan saxophone dari John Coltrane yang diambil dari album Live at the Village Vanguard Again!. Yeah, mind officially blown.

Ah… Ya, kemewahan dalam hidup begitu sesederhana, sekecil, dan sesahaja itu. Dan ini alasan kenapa saya tak akan berhenti mendaki selama kondisi mengizinkan. Dalam kata-kata Iris,

One of the secrets of a happy life is continuous small treats, and if some of these can be inexpensive and quickly procured so much the better.
― Iris Murdoch, The Sea, the Sea

Advertisements

12 thoughts on “Gunung Rinjani, Juni 2015

    • Hi Inzanami,

      Trek Rinjani yang panjang dan terjal memerlukan stamina prima. Dan tidak disarankan untuk pendakian singkat (2 hari 1 malam), minimal 3 hari 2 malam (itupun kalau kamu udah punya pengalaman hiking yg lumayan). Singkatnya, Rinjani kurang cocok untuk pendaki pemula.

      Beberapa titik pendakian sangat ekstrem dg keterjalan yg luar biasa dan berbahaya. Pasti kamu pernah dengar berita seorang turis asal Thailand yang meninggal karena terjatuh pas hiking lewat jalur Senaru baru-baru ini.

      Asal kamu hati-hati, kondisi fit prima (barang bawaan saya sarankan dibawain sama porter), kamu bisa kok mendaki Rinjani. Rinjani harus dikunjungi. Gak akan nyesel.

      Like

  1. Pingback: Terbaik dan Terburuk di 2015 | melquiades caravan

  2. Pingback: Gunung Nglanggeran, Januari 2016 | melquiades caravan

  3. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1] | melquiades caravan

  4. Pingback: Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2] | melquiades caravan

  5. Pingback: Kumpulan Tulisan | melquiades caravan

  6. Pingback: Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3] | melquiadescaravan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s