Andes Mountains [bag. 1]

Plenty of feeling, plenty of kisses, plenty of love boom from a multicolored jukebox and in the back, behind the smoke, the noise, the solid smell of food and liquor, the dancing swarms of flies, there is a punctured wall—stones, shacks, a strip of river, the leaden sky—and an ample woman bathed in sweat manipulates pots and pans surrounded by the sputter of a grill
― Mario Vargas LlosaConversation in the Cathedral

Peru. Perkenalan saya dengan Peru dimulai jauh sebelum saya memahami konsep geografi, jarak, dan hal-hal teknis seperti suku bangsa dan perbedaan benua. Adalah serial komik Tintin yang mengenalkan saya pada eksotisme Peru (dan juga negara-negara lain yang dia kunjungi dalam petualangan-petualangannya). Pada salah satu seri petualangannya yang berjudul Prisoners of the Sun, Tintin dan kawan-kawan mengawali petualangannya di kota tepi laut Callao di bagian barat Peru untuk kemudian berlanjut ke rimba tropis di jantung pegunungan Andes di mana kuil-kuil misterius dengan berbagai pintu rahasia mengantarkan mereka pada ruangan yang berisi mumi yang dikutuk dan penuh harta karun. Setiap membaca Tintin, biasanya saya ditemani buku atlas dan saya akan segera mencari lokasi yang disebutkan di komik dalam peta yang disajikan sambil menebak-nebak seberapa jauh lokasi yang disebutkan dengan kota di mana saya tinggal saat itu. Dalam pikiran sempit saya kala itu, saya tak dapat membayangkan akan sejauh apa rumah saya dari Peru kecuali menebak-nebak tak pasti perlu waktu berhari-hari untuk bisa ke sana dengan biaya yang tak murah (tabungan saya di celengan tak akan pernah mencapai angka total biaya yang dibutuhkan seberapapun keras saya menabung). Semakin bertambah usia, dengan realita muram yang semakin tergambar nyata, mimpi untuk mengunjungi Peru terasa semakin mengabur karena gambaran jauhnya jarak yang harus ditempuh dan besarnya biaya yang dibutuhkan. Maka, ketika akhirnya saya benar-benar menginjak tanah di lokasi yang sama dengan Tintin mengawali petualangannya di Callao, udaranya terasa sangat familiar (udara yang sudah saya mimpikan dan bayangkan sejak zaman sekolah dasar), perasaan merinding itu begitu terasa mulai dari saya mendarat di kedatangan hingga kepulangan saya setelahnya.

*****

Perasaan tak nyaman ‘sesuatu yang salah sedang terjadi’ sudah meraja dalam benak saya jauh sebelum pesawat saya mendarat di Jorge Chávez International Airport. Hal ini disebabkan karena pesawat saya lepas landas dari bandara asal dua jam lebih lama daripada yang dijadwalkan. Ini bisa menjadi masalah serius karena saya memiliki tiket penerbangan lanjutan setelahnya yang berjeda 4 jam. Jeda empat jam untuk pesawat lanjutan saya pikir mestinya jadwal yang aman–estimasi alokasi waktu untuk urusan imigrasi dan bagasi. Tetapi ketika jarum jam menunjukan waktu dimana semestinya saya sudah mendarat di Lima, namun saya masih di pesawat dan waktu mendarat masih satu setengah jam lagi, perasaan tak nyaman dan gelisah terjadi. Tak hanya saya tentu saja. Saya lihat para penumpang di belakang dan sebelah saya juga dari beberapa jam lalu sibuk mengecek jam tangan mereka. Tayangan video di pesawat yang meski banyak tayangan menarik dan belum saya tonton, tak sanggup mengusir gelebah yang semakin bertambah tiap menitnya.

Ketika akhirnya pesawat mendarat–dua jam lebih lama daripada jadwal–penumpang yang sebagain besar isinya turis, bersorak kegirangan sehingga teriakan nyaring mengisi ruang pesawat, sebagai ungkapan syukur dan lega ketika akhirnya pesawat Airbus A350 mendarat mulus di Jorge Chávez International Airport. Sikap norak para penumpang ini dimaklumi para petugas awak kabin–toh para petugas juga sudah lelah dengan gerutuan penumpang mengenai keterlambatan, sehingga mereka pun ikut serta bertepuk tangan. Meski saat seorang penumpang berusaha membuka kotak kabin untuk mengambil tasnya, si pramugari dengan sigap melarangnya karena pesawat belum benar-benar berhenti, masih melaju di landasan taxi. Sikap terburu-buru ini mewakili kondisi saya, saya harus segera ambil bagasi untuk mengejar pesawat lanjutan.

Karena saya duduk di bagian depan pesawat, saya bisa turun lebih dulu daripada teman-teman saya yang duduk di bagian belakang pesawat. Segera setelah lampu tanda pengaman sabuk boleh dilepas, saya segera berdiri dan melesat lari keluar pesawat menuju bagian imigrasi di bandara. Saya pikir saya akan berjumpa dengan teman-teman saya nanti saja setelah melewati pintu imigrasi. Namun sensasi jeri langsung datang ketika melihat betapa panjangnya antrean pengumpang dari pesawat-pesawat sebelumnya–saya yakin saya termasuk sepuluh orang pertama yang sampai ke bagian imigrasi dari pesawat saya. Antrean yang begitu panjang terasa lambat bergerak karena banyaknya meja imigrasi yang tutup menjelang malam hari. Ketika giliran saya datang, waktu antrean sudah shampir satu jam dan teman-teman saya ada jauh di belakang antrean. Melalui pesan percakapan, saya izin kepada teman-teman saya untuk duluan ke bagian pengambilan bagasi sekaligus mengamankan barang-barang kami. Dengan waktu pemberangkatan pesawat berikutnya yang semakin menipis, kami harus mengatur strategi memangkas waktu. Begitu saya mendapatkan cap visa, saya segera berlari menuju ‘mimpi buruk ketiga’.

‘Kesialan’ atas keterlambatan pemberangkatan pesawat dan antrean super panjang di bagian imigrasi ternyata masih berlanjut di bagian pengambilan bagasi. Saya pikir antrean imigrasi sudah cukup lama sehingga mestinya bagasi sudah diturunkan semua dan tersedia. Nyatanya begitu saya sampai, belum ada satupun barang dari total ratusan tas penumpang melaju di conveyor belt. Wajah panik penumpang lain yang sama-sama memiliki tiket terusan seperti saya, tampak di mana-mana. Setelah menunggu hampir setengah jam (teman saya akhirnya bergabung dan cemberut begitu mengetahui bagasi belum turun), akhirnya bagasi datang dan kami langsung melesat lari menuju gerbang pemberangkatan maskapai berikutnya.

Ketika saya sampai di pintu pemberangkatan, jam menunjukan bahwa masih ada waktu 15 menit sebelum pesawat terusan saya dari Lima ke Cuzco lepas landas. Jelas bagasi sudah ditutup, maka saya langsung menuju gerbang pemberangkatan. Penjaga langsung menghadang kami dan mengatakan kami tak bisa masuk. Saya segera menjelaskan situasi keterlambatan tersebut tetapi petugas bersikukuh tidak mengizinkan kami terbang. Argumen panjang saya (dan juga kemudian menyusul penumpang-penumpang lain yang nasibnya sama) hanya dijawab enteng, ‘itu masalah kamu, bukan masalah kami‘ yang membuat bola mata saya bergulir ke atas. Dia malah menyarankan kami ke meja maskapai sebelumnya untuk mengajukan komplain. Di meja check-in maskapai sebelumnya, sudah ada puluhan penumpang lain yang protes dan teriak-teriak sementara si petugas yang kewalahan segera membereskan berkas lalu dengan tergesa-gesa bilang jadwal berjaga dia sudah habis dan bergegas pulang… Teriakan puluhan penumpang yang protes bersahut-sahutan terdengar.

Dengan segala sumpah serapah sebagai ungkapan kekesalan yang tak tertahankan, saya dan teman-teman saya mundur dari meja check-in dan berusaha mencari kantor perwakilan maskapai untuk melakukan protes–jadwal keberangkatan pesawat saya sudah terlewati alias tiket kami hangus begitu saja. Merasa mengalami nasib malang yang sama, saya berkenalan dengan 4 turis perempuan dari Perancis, dan seorang warga Bolivia–ada 4 turis lain, tetapi karena terkendala bahasa, mereka memisahkan diri. Bersama kelima orang kenalan baru ini, kami harus menerjang meja birokrasi dan akses bandara yang berbelit-belit dan menyulitkan. Hampir satu jam, kami dilempar-lempar antara meja-meja mulai dari meja maskapai sampai informasi. Lelah dan jetlag teman saya minta izin istirahat. Sementara 5 kenalan baru saya entah gimana caranya, malah dikuntit orang yang mengaku dari bagian informasi turis dan menjanjikan masalah pengembalian tiket. Orang ini memang berasal dari meja informasi bandara, tetapi gayanya yang cenderung ‘fishy‘ karena mengajak kami ke kantor maskapai di luar bandara, membuat saya malas dan curiga untuk tidak mengikuti saran dia. Dengan alasan menunggu teman saya yang ke toilet, saya memutuskan berpisah sementara 5 kenalan baru saya (orang Perancis dan Bolivia) malah terus mengikuti si orang informasi tadi. Dalam bahasa Perancis patah-patah saya berujar berkali-kali ke kenalan baru saya itu, “Tolong hati-hati! Jangan mau kena jebakan“. Kelima kenalan saya itu berjalan keluar bandara, sementara saya dan teman saya memutuskan tetap di bandara dan berusaha berfikir jernih untuk menentukan langkah berikutnya.

*****

Dengan batalnya saya menaiki pesawat terakhir malam itu ke antara Lima-Cuzco, artinya saya harus rela kehilangan sewa taxi Cuzco – Ollantaytambo (kota terakhir sebelum menuju situs purbakala Machu Picchu), penginapan malam di Ollantaytambo, tiket kereta api Ollantaytambo-Machu Picchu, dan tiket masuk wisata Machu Picchu. Total semua pengeluaran ini yang menguap begitu saja dalam jumlah cukup signifikan membuat rasa lelah saya melakukan perjalanan jauh bertambah secara drastis. Setelah minum air dan bekal roti, saya dan teman-teman saya berkumpul. Bagaimanapun kami harus sampai ke Machu Picchu, maka kami segera mencari tiket pesawat Lima-Cuzco untuk hari berikutnya karena pesawat untuk hari itu sudah tidak ada. Harga tiket pesawat di Amerika Selatan yang cenderung lebih mahal daripada kebanyakan harga tiket pesawat di kawasan lain membuat keputusan membeli tiket baru terasa berat.

Kami harus sedikit bernafas lega ketika menemukan adanya pesawat rute Lima-Cuzco penerbangan pertama besoknya jam 4 pagi–sambil berharap semoga tiket masuk wisata Machu Picchu terselamatkan atau setidaknya kereta pulang dari Machu Picchu jam 6 sore. Tanpa pikir panjang kami segera pesan tiket tersebut sambil menutup mata atas harga yang tertampilkan di layar ponsel. Setelah tiket terbeli dan langsung saat itu juga web-check in, saya merasa lapar dan mengajak teman-teman saya untuk mencari makan di dalam bandara dan memutuskan untuk menginap di bandara karena jadwal pesawat sangat pagi sementara waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Saat sedang makan malam–menu yang saya pilih adalah vegetable pizza karena hanya menu ini saja yang tidak menggunakan daging di seantero penjuru food court bandara. Saat saya sedang mencicipi satu slice pizza, dari arah belakang muncul rombongan lima orang kenalan baru si orang Perancis dan Bolivia tadi. Mengingat mereka sudah keluar area bandara dan ternyata kembali lagi untuk makan malam di tempat yang sama dengan saya, saya sedikit terkejut dan mengajak mengobrol mereka. Ketika saya mengatakan jika saya mendapatkan harga tiket sekian ratus dolar untuk penerbangan besok pagi, mendadak muka mereka langsung lesi serta kaget yang diiringi dengan nada lemah mengatakan jika mereka mendapatkan harga 4x lipat dari harga yang saya dapatkan. Pun jika saya mendapatkan penerbangan pagi buta, mereka baru berangkat sore. Ada banyak waktu terbuang. Ketimbang mengeluarkan kata-kata simpatik yang akan gagal, saya hanya memberikan mereka senyum lemah penyemangat dan tak mau mengejar percakapan lebih lanjut menanyakan pada mereka bagaimana mereka sampai pada ‘kesialan’ beruntun. Toh saya sudah memperingatkan mereka tentang petugas bandara yang mengajak keluar bandara untuk membeli tiket baru. Setelah selesai makan, saya segera berpamitan kepada mereka dan mencari area bandara yang cocok untuk bermalam.

*****

Waktu sudah hampir tengah malam. Rasa lelah sudah menyapu rasa kesal karena keterlambatan dan hilangnya uang pemesanan transportasi dan akomodasi. Karena saya belum mengantuk, saya menyempatkan untuk mengirimkan keluhan pada akun media sosial si maskapai lalu dilanjutkan dengan membaca buku menunggu kantuk datang setelah sebelumnya cuci muka dan sikat gigi di toilet bandara.

Semakin mendekati tengah malam, penumpang yang datang semakin berkurang namun bandara semakin penuh karena para backpacker–yang sama-sama punya mimpi mengunjungi Machu Picchu seperti saya–berdatangan dan bermalam juga di bandara. Sulit menemukan kursi kosong sehingga saya harus duduk terpisah dengan teman-teman saya. Duduk menghadap area kedatangan, saya mulai membaca buku sastra Conversation in the Cathedral karya Mario Vargas Llosa* (penulis pemenang Nobel Sastra 2010 berkebangsaan Peru). Membaca karya pemenang Nobel di negara kelahiran penulisnya, membuat gairah membaca saya naik drastis karena adanya sensasi menggelitik dan penasaran menggolak seperti saat saya membaca buku Independent People karya Halldór Laxness di Iceland saat saya berkunjung ke sana

Membaca buku Llosa langsung di negaranya, seolah membuat mimpi masa kecil jadi kenyataan. Saat pembacaan saya baru sampai 4 halaman, entah mengapa saya malah berhenti membaca, yang tadinya berniat untuk minum air, malah menjadi semacam perenungan. Bacaan Llosa saya semakin memudar dan sosok Tintin semakin menguat… Saya baru menyadari jika bagian bandara Jorge Chávez International Airport (nama Jorge Chávez adalah pahlawan dunia penerbangan Peru, orang pertama yang berhasil melintasi Pegunungan Alpen di Eropa dengan pesawat) ternyata tidak berada persis di ibukota Peru, namun di kota tepian Lima yang bernama Callao. Saya membaca tulisan ‘Callao’ di salah satu layar televisi. Mungkin kurang lebih seperti posisi bandara Soetta yang tidak persis ada di ibukota Jakarta tetapi di Tangerang. Penemuan bahwa Callao dan bukan Lima yang menjadi lokasi bandara Jorge Chávez, tetiba meletupkan ingatan saya pada Tintin. Callao ada titik awal petualangan Tintin di Peru.

Peru. Perkenalan saya dengan Peru dimulai jauh sebelum saya memahami konsep geografi, jarak, dan hal-hal teknis seperti suku bangsa dan perbedaan benua. Adalah serial komik Tintin yang mengenalkan saya pada eksotisme Peru (dan juga negara-negara lain yang dia kunjungi dalam petualangan-petualangannya). Pada salah satu seri petualangannya yang berjudul Prisoners of the Sun, Tintin dan kawan-kawan mengawali petualangannya di kota tepi laut Callao di bagian barat Peru untuk kemudian berlanjut ke rimba tropis di jantung pegunungan Andes di mana kuil-kuil misterius dengan berbagai pintu rahasia mengantarkan mereka pada ruangan yang berisi mumi yang dikutuk dan penuh harta karun. Setiap membaca Tintin, biasanya saya ditemani buku atlas dan saya akan segera mencari lokasi yang disebutkan di komik dalam peta yang disajikan sambil menebak-nebak seberapa jauh lokasi yang disebutkan dengan kota di mana saya tinggal saat itu. Dalam pikiran sempit saya kala itu, saya tak dapat membayangkan akan sejauh apa rumah saya dari Peru kecuali menebak-nebak tak pasti perlu waktu berhari-hari untuk bisa ke sana dengan biaya yang tak murah (tabungan saya di celengan tak akan pernah mencapai angka total biaya yang dibutuhkan seberapapun keras saya menabung). Semakin bertambah usia, dengan realita muram yang semakin tergambar nyata, mimpi untuk mengunjungi Peru terasa semakin mengabur karena gambaran jauhnya jarak yang harus ditempuh dan besarnya biaya yang dibutuhkan. Maka, ketika akhirnya saya benar-benar menginjak tanah di lokasi yang sama dengan Tintin mengawali petualangannya di Callao, udaranya terasa sangat familiar (udara yang sudah saya mimpikan dan bayangkan sejak zaman sekolah dasar), perasaan merinding itu begitu terasa mulai dari saya mendarat di kedatangan hingga kepulangan saya setelahnya.

*****

Perenungan saya kurang lebih berlangsung selama sejam, lalu dilanjutkan tidur-tidur singkat (yang tak bisa pulas karena berisik), saya terbangun jam 3 dini hari. Saya segera membangunkan teman-teman saya agar bersiap dan berkemas karena pesawat kami berangkat jam 4 dini hari. Tak perlu waktu lama kami sudah masuk ke bagian check-in, menaruh barang di counter bagasi, lalu ke area lounge untuk mencari sarapan (saya ngemil snack saja jadinya). Ketika panggilan pesawat datang, hari masih gelap. Kami akhirnya meninggalkan Callao menuju kota Cuzco. Hampir semua turis yang naik pesawat adalah para turis seperti saya dilihat dari barang bawaannya.

Cuzco adalah ibukota kerajaan kuno Inca, namun karena kami sampai pagi dan harus segera menuju Ollantaytambo demi menyelamatkan tiket masuk Machu Picchu, kami tak sempat berjalan-jalan keliling kota yang banyak peninggalan kuil khas Inca tersebut. Di bagian pengambilan bagasi bandara Cuzco, ada meja khusus wadah khusus daun koka kering dipajang untuk diambil turis yang baru datang. Menjulang di ketinggian 3400 meter di atas permukaan laut, Cuzco yang tipis oksigen dapat membuat turis yang tak siaga diserang sindrom AMS. Berdasarkan pengalaman buruk di Himalaya tahun lalu, saya sudah jauh-jauh hari mengonsumsi obat anti AMS sehingga saya tak perlu mengambil daun koka. Betul, daun koka yang dimaksud adalah daun yang berasal dari nama tanaman yang digunakan untuk diekstraksi menjadi cocaine–zat narkotika yang dilarang keras di mana-mana. Namun, konsumsi daun koka di Andes sudah menjadi kebiasaan tradisional (mulai dari pendeta-pendeta Inca untuk keperluan upacara adat hingga turis-turis yang datang ke Andes untuk meredakan gejala AMS). Daun koka (baik dikunyah langsung maupun diseduh teh) memiliki kandungan rendah zat cocaine, untuk kandungan yang sama pada narkotika cocaine perlu ekstraksi banyak dan melewati proses dan reaksi kimiawi tertentu. Teman saya dengan nyengir jahil mengambil sejumput daun koka kering di wadah dan dia berencana menyeduh koka tersebut nantinya meski dia membawa obat anti AMS sendiri. Dasar.

Begitu keluar bandara kami segera mencari taxi (opsi bus lebih murah, tetapi karena jadwal tertentu, kami memilih taxi) untuk mengantar ke Ollantaytambo. Perjalanan menuju Ollantaytambo memakan waktu sekitar dua jam, melewati jalanan berdebu membelah pegunungan Andes yang berkelok-kelok. Posisi Cuzco yang tinggi begitu terasa karena nafas saya tetiba memendek dan lebih cepat daripada biasanya. Karena kami sampai Cuzco masih cukup pagi, jalanan yang dilalui terasa sepi dan jarang mobil. Sekitar 40 menit perjalanan, si supir dalam bahasa Inggris patah-patah mengatakan jika kami sudah sampai di Urubamba Valley (atau lebih dikenal sebagai The Sacred Valley) dan menganjurkan kami melihat-lihat sebelum melanjutkan perjalanan ke Ollantaytambo.

20190416_065301
Hari yang masih pagi, kabut gunung masih pekat, dan turis masih sangat sedikit dan lenggang. Lembah Urubamba terletak di belakang bangunan

Lembah Urubamba adalah sebuah lembah dalam dimana Sungai Urubamba mengalir diapit dua pegunungan membentuk lembah berbentuk huruf “U” yang subur. Sejak zaman Inca lembah ini memegang posisi sentral baik untuk kehidupan ekonomi maupun sosio-religi. Dalam mitologi Inca, lembah ini adalah lokasi Pachamama (Dewi Bumi) melahirkan manusia pertama. Lembah Urubamba sendiri memanjang lebih dari 100 km dimana lokasi-lokasi arkeologi penting Inca ditemukan. Machu Picchu yang legendaris hanya satu dari sekian situs arkeologi sepanjang lembah subur ini. Beberapa spot terkenal lainnya antara lain Pisac (terkenal sebagai observatorium kuno Inca), Sacsayhuamán (benteng terbuat dari batuan karbonat), Tambomachay, Maras, Moray, Ollantaytambo, dan sebagainya. Di era sekarang, di Lembah Urubamba masih dijumpai mayoritas penduduk berbahasa Quechua (bahasa asli Peru sebelum didominasi bahasa Spanyol).

Dari salah satu tebing tempat mobil kami berhenti, terhampar lembah permai yang begitu dalam, sementara pegunungan biru dengan kabut dan awan-awan menutupi bagian tudung es di puncak beberapa gunung. Angin dingin pagi kencang menghembus kuat membuat kabut datang cepat menutupi bagian lembah sehingga saya tak bisa berfoto-foto lama di sana karena pemandangan mencekam tertutupi kabut tebal. Tak sampai 15 menit, karena pemandangan tertutup rapat, kami memutuskan kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.

20190416_065115
Secuil Lembah Urubamba legendaris yang saya kunjungi. Melihat banyaknya pemukiman dan info jika banyaknya situs-situs purbakala sepanjang tepi aliran sungai, membuat saya penasaran dan ingin menjelajah trekking dari ujung ke ujung lembah

Dan, di tempat parkir, saya akhirnya berjumpa dengan llama pertama saya di Amerika Selatan! Llama, hewan hybrid aneh antara unta dan kuda, menjadi ikon mamalia besar Andes. Bulunya yang tebal adalah hasil adaptasi dan kompromi dengan lingkungan pegunungan yang beriklim keras. Warna bulunya yang beragam (antara cokelat, putih, abu-abu, bahkan hitam) seperti kuda membuat llama selalu tampak lucu untuk difoto. Tentu saja saya tak menunggu lama untuk berfoto-foto dengannya. Kebetulan salah satu llama paling besar malah yang paling jinak sehingga saya bebas berfoto sambil memeluknya.

20190416_065320
Llama, hewan mamalia unik khas Andes yang terkenal suka meludah (namun tidak menggigit) untuk menunjukan dominasi terhadap llama lain atau saat merasa terancam. Di buku Prisoners of the Sun, ada banyak adegan Kapten Haddock diludahi llama berkali-kali. Karenanya saya harus berhati-hati mendekati llama ini untuk berfoto bersama

*****

Setengah jam dari Lembah Urubamba, jalanan makin menyempit dan semakin rusak–tanda-tanda jika jalannya menuju tempat terpencil. Melalui ladang-ladang jagung dan labu berdebu, pemukiman terserak semakin langka, tercerai-beraikan oleh bebatuan Andes yang keras (nama batuan ‘andesit‘ berasal dari kata pegunungan Andes). Jalanan semakin berkelok mengikuti arus sungai, hingga akhirnya saya sampai di sebuah kota kecil yang menjadi tujuan saya, Ollantaytambo.

Ollantaytambo adalah sebuah kota kecil terakhir yang menjadi salah satu hot spot wisatawan sebelum menuju Machu Picchu. Sebagian besar pemukiman di sana beralih fungsi menjadi tempat penginapan wisatawan, mulai dari yang mahal hingga tipe hostel. Lorong-lorong jalanannya sempit dan dilapisi bebatuan. Saya segera menyerahkan tulisan alamat hotel tempat menginap (yang seharusnya kami datang ke sana malam sebelumnya) kepada supir taxi. Untungnya penginapan kami letaknya tak jauh dari pusat kota (berupa alun-alun kecil yang merangkap terminal dan pasar dengan banyak tempat makan di pinggirnya). Hanya lima menit berkendara dari alun-alun, taxi mengantarkan kami ke penginapan yang dimaksud. Di salah satu kelokan menuju penginapan, saya melihat sebuah bukit terjal yang berupa reruntuhan kuil-kuil dan pemukiman kuno suku Inca. Posisinya yang melampar terjal mengikuti kemiringan kontur bukit membuat kaki saya gatal ingin mendaki dan menjelajahi. Tapi tentu saja, ada prioritas lain yang harus saya lakukan.

Begitu sampai penginapan, kami segera menitipkan tas dan tanpa menunggu waktu lama segera memanggil tuktuk (semacam bajai), untuk mengantarkan kami ke statiun kereta api Ollantaytambo. Dengan muka sepolos dan sepasrah mungkin, kami berbicara pada petugas menanyakan apakah mungkin jika tiket kami yang harusnya berangkat jam 6 pagi tetap berlaku (saat itu sudah pukul 10 pagi), yang tentu saja oleh si petugas ditolak dan disarankan membeli tiket baru. Artinya saya harus membeli dua kali tiket kereta Peru Rail–harga tiketnya yang ratusan dollar untuk 2 jam perjalanan, dan jika dihitung per kilometer menjadi tiket kereta termahal yang pernah saya beli.

20190416_095136
Tak ada jalur jalan raya antara kota kecil Ollantaytambo menuju Machu Picchu. Meski tersedia jalur trekking panjang sepanjang rel kereta, namun jarak 40 km terlalu jauh. Sedangkan kondisi kami saat itu tanpa persiapan cukup. Maka opsi kereta mahal menjadi satu-satunya pilihan tersedia

Kereta api jurusan Ollantaytambo menuju Aguas Calientes (pintu gerbang dan pemukiman kecil sebelum Machu Picchu) sebetulnya dilayani tiga perusahaan kereta api berbeda, yakni Peru Rail, Inca Rail, dan Machu Picchu Train. Harga ketiganya sama saja tak ada beda, hanya berbeda perusahaan pengelola saja. Pada puncak musim liburan, tiket kereta tersebut cepat habis dan harus dipesan secara daring, maka kami cukup beruntung dengan adanya tiket tersisa untuk pemberangkatan berikutnya. Saya tak bisa membayangkan jika kami ternyata kehabisan tiket kereta. Perjalanan menuju Machu Picchu dengan begitu banyaknya biaya keluar akan terhenti di Ollantaytambo begitu saja.

Pemberangkatan berikutnya adalah jam 11 siang, masih ada waktu sejam sehingga kami memutuskan mencari sarapan yang super telat. Banyak warung-warung kecil di sekitaran stasiun yang menjual makanan tradisional khas Peru–yang cukup membuat saya terkejut ternyata menunya mirip-mirip menu masakan Indonesia. Menu-menu semacam gulai daging (tapi terbuat dari daging llama, ayam, dan guinea pig), bakso, soto, bahkan nasi goreng. Saya memilih menu omelet karena minimnya menu sayuran. Saya sempat menggoda teman saya apakah dia berani makan menu guinea pig yang dia balas dengan delikan. Sangat sulit membayangkan hewan seimut itu dimakan sebagai menu daging harian. Guinea pig bagi bangsa Peru adalah sumber protein penting seperti halnya ayam bagi bangsa Indonesia.

Dengan tiket kereta sudah di tangan dan tak ada ketergesaan lagi, kami menjadi rileks dan mulai melontarkan candaan yang menderas. Jika malam sebelumnya kami diliputi kekesalan dan kecemasan, pagi itu kami diliputi optimisme dan rasa penasaran. Apakah Machu Picchu yang akan kami tuju memang sedahsyat yang diberitakan dan digembar-gemborkan sehingga kami harus mengorbankan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya sedemikian banyak? Rasa penasaran yang semakin tumbuh dan berkembang tiap detiknya.

Pemandangan sekeliling stasiun yang dilingkupi pegunungan bebatuan cokelat dan pohon-pohon hijau cerah, aroma garam dan rempah yang bergulung-gulung terbawa angin dan melarut di udara sepanjang jalan menuju stasiun, musik yang menyiarkan lagu-lagu pop berbahasa Spanyol dari café-café yang lamat-lamat terdengar, para turis yang bercengkerama  sambil mengunyah makanan dan mengisi perut, pekikan para penjual asongan souvenir-souvenir seperti tenunan dan gantungan kunci yang bersahutan, para koki yang sibuk berkonsentrasi dengan wajan dan bahan masakan di meja-meja masakan… Asap rokok, uap kopi, debu jalanan, kabut dingin pegunungan bercampur dengan gangsi masakan menciptakan aroma yang terasa akrab dan membuai. Dan kutipan buku Conversation in the Cathedral karya Llosa yang saya baca di bandara terngiang jelas saat saya menyaksikan dan merasakan pemandangan psychedelic ini,

…melimpahnya perasaan, ciuman, luapan cinta dari mesin jukebox warna-warni, dan di bagian belakang, dibalik asap, bunyi gaduh, aroma makanan dan minuman keras, kawanan lalat yang sedang menari, terdapat dinding berlubang— tampak bebatuan, gubuk-gubuk, sungai, langit kelam — dan seorang wanita yang bermandikan keringat memainkan panci dan wajan yang diselimuti oleh dengung panggangan…

20190416_092155
Salah satu warung makan di sekitar stasiun Ollantaytambo menyajikan menu makanan dalam bahasa Spanyol. Tak perlu Google Translate untuk bisa menebak arti menu yang disajikan karena beberapa kata tampak familiar dan bisa ditebak maknanya

 

(bersambung)

 

Catatan tambahan:

*      = Membicarakan sastra Amerika Latin (terutama karya sastra dari penulis-penulis berbahasa Spanyol di Amerika Tengah dan Amerika Selatan), selalu identik dengan genre realisme magis. Itu artinya, nama Gabriel García Márquez akan disebut pertama kali karena nama Gabo (panggilan akrab bagi Márquez) bak monolit raksasa yang bayangan panjangnya menciptakan pengaruh luar biasa bagi penulis-penulis setelahnya. Namun tentu saja Gabo bukanlah dominator satu-satunya. Gerakan Latin American Boom (gerakan sastra Amerika Latin di tahun 1960-1970an) melahirkan sastrawan fenomenal Julio Cortázar (Argentina), Carlos Fuentes (Meksiko), dan tentu saja Mario Vargas Llosa (Peru, Nobelis Sastra 2010) selain Gabo (Colombia, Nobelis Sastra 1972). Tentu saja selain Latin American Boom, ada juga gerakan-gerakan lain yang menciptakan jejak sastra lain yang tak kalah berpengaruh seperti Miguel Ángel Asturias (Guatemala, Nobelis Sastra 1967), Pablo Neruda (Chile, Nobelis Sastra 1971), hingga Jorge Luis Borges (Argentina) yang bisa dikatakan menemukan genre sastra baru yang karena namanya tak pernah dipanggil oleh panitia Nobel dianggap sebagai salah satu blunder terbesar Nobel Sastra.

Kedahsyatan novel One Hundred Years of Solitude karya Gabo memang tak tertandingi. Hingga kini, novel ini termasuk satu dari (hanya) lima novel tebal (>400 halaman) yang saya baca sekali duduk. Saya mabuk oleh gaya narasi Gabo yang menghipnotis. Kepopuleran karya fantastis Gabo ini sering membuat orang keliru bahwa semua karya Amerika Latin selalu bergenre realisme magis. Padahal belum tentu begitu. Contoh paling nyata adalah monolit raksasa lainnya seperti Mario Vargas Llosa, yang bukunya berjudul Conversation in the Cathedral saya baca di perjalanan Amerika Latin ini. Karya Llosa jauh dari kata magis, malah sebaliknya terlampau realistis (kritikus menyebut karya Llosa sebagai hyperrealis). Karena karya-karya Llosa terlampau realistis, beberapa film adaptasi dari novelnya selalu dicaci maki karena malah menjadi film melodrama ‘membosankan’. Karya Gabo dan Llosa bisa dibayangkan sebagai dua sisi mata uang berseberangan. Gabo yang memuat kejadian mistis dan supernatural, Llosa menulis kejadian lumrah dan normal.

Uniknya, sisi ‘berseberangan’ ini tak hanya dari produk sastra saja tetapi juga dari sisi pandangan politik. Gabo cenderung kiri sehingga mendukung otoriterian Fidel Castro, sementara Llosa mengubah haluan politiknya menjadi kanan dan selalu menyinyiri Castro. Dan tentu saja ‘rivalitas’ dari Gabo vs Llosa yang paling termasyhur sekaligus paling misterius adalah kisah Gabo yang ditinju Llosa saat mereka berjumpa di Meksiko tahun 1976. Di luar sebuah bioksop, Llosa meninju mata kiri Gabo sampai berdarah dan meninggalkan lebam besar (foto Gabo lebam menjadi sangat ikonik). Perkelahian dua penulis besar ini menjadi momen final persahabatan mereka dan keduanya tak pernah bicara lagi setelahnya. Sampai meninggalnya Gabo di tahun 2014, kedua penulis ini selalu bungkam saat ditanya apa motif perkelahian mereka sehingga menimbulkan spekulasi dan gosip liar di antara fans pembacanya yang kadang membuat kubu sendiri dan berseberangan sebagaimana penulisnya.

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s