Andes Mountains [bag. 1]

Plenty of feeling, plenty of kisses, plenty of love boom from a multicolored jukebox and in the back, behind the smoke, the noise, the solid smell of food and liquor, the dancing swarms of flies, there is a punctured wall—stones, shacks, a strip of river, the leaden sky—and an ample woman bathed in sweat manipulates pots and pans surrounded by the sputter of a grill
― Mario Vargas LlosaConversation in the Cathedral

Peru. Perkenalan saya dengan Peru dimulai jauh sebelum saya memahami konsep geografi, jarak, dan hal-hal teknis seperti suku bangsa dan perbedaan benua. Adalah serial komik Tintin yang mengenalkan saya pada eksotisme Peru (dan juga negara-negara lain yang dia kunjungi dalam petualangan-petualangannya). Pada salah satu seri petualangannya yang berjudul Prisoners of the Sun, Tintin dan kawan-kawan mengawali petualangannya di kota tepi laut Callao di bagian barat Peru untuk kemudian berlanjut ke rimba tropis di jantung pegunungan Andes di mana kuil-kuil misterius dengan berbagai pintu rahasia mengantarkan mereka pada ruangan yang berisi mumi yang dikutuk dan penuh harta karun. Setiap membaca Tintin, biasanya saya ditemani buku atlas dan saya akan segera mencari lokasi yang disebutkan di komik dalam peta yang disajikan sambil menebak-nebak seberapa jauh lokasi yang disebutkan dengan kota di mana saya tinggal saat itu. Dalam pikiran sempit saya kala itu, saya tak dapat membayangkan akan sejauh apa rumah saya dari Peru kecuali menebak-nebak tak pasti perlu waktu berhari-hari untuk bisa ke sana dengan biaya yang tak murah (tabungan saya di celengan tak akan pernah mencapai angka total biaya yang dibutuhkan seberapapun keras saya menabung). Semakin bertambah usia, dengan realita muram yang semakin tergambar nyata, mimpi untuk mengunjungi Peru terasa semakin mengabur karena gambaran jauhnya jarak yang harus ditempuh dan besarnya biaya yang dibutuhkan. Maka, ketika akhirnya saya benar-benar menginjak tanah di lokasi yang sama dengan Tintin mengawali petualangannya di Callao, udaranya terasa sangat familiar (udara yang sudah saya mimpikan dan bayangkan sejak zaman sekolah dasar), perasaan merinding itu begitu terasa mulai dari saya mendarat di kedatangan hingga kepulangan saya setelahnya. Continue reading “Andes Mountains [bag. 1]”

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

“The most remarkable thing about a man’s dreams is that they will all come true; this has always been the case, though no one would care to admit it. And a peculiarity of man’s behaviour is that he is not in the least surprised when his dreams come true; it is as if he expected nothing else. The goal to be reached and the determination to reach it are brother and sister, and slumber in the same heart.”
― Halldór Laxness, Independent People

Ketika saya membeli buku Independent People karya Halldór Laxness enam tahun lalu di loakan buku bekas trotoar Jalan Dewi Sartika Bandung* tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa saya akan membaca buku ini di negara tempat sang penulisnya lahir, Iceland. Saya membelinya berbarengan dengan buku berbahasa Inggris bekas lainnya seperti Cold Mountain karya Charles Frazier yang dibeli karena bukunya sudah diadaptasi menjadi film yang membuat saya banyak tidak puas dan memutuskan untuk membaca sendiri bukunya, serta dua buah buku terjemahan Agatha Christie. Kecuali buku Agatha Christie, yang buku berbahasa Inggris, Independent People dan Cold Mountain, tentu saja tidak dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Tumpukan buku yang datang semakin menggunung sehingga membuatnya semakin kalah prioritas. Apalagi nama “Halldór Laxness” terasa asing sehingga semakin membuat saya menunda-nunda untuk membacanya alias tedorong semakin ke dasar timbunan buku-entah-dibaca-kapan dalam gunungan tumpukan buku saya. Bagaimanapun, saya pikir, dari 250 juta penduduk Indonesia, tak sampai 1000 orang pernah mendengar nama “Laxness” apalagi membaca sendiri buku karyanya. Saat saya mengkonfrontasikan kepada teman saya yang maniak baca pun apakah dia pernah mendengar nama “Halldór Laxness”, dia kehilangan petunjuk. Pun saat saya membeli bukunya, saya belum mengenal nama Laxness saat itu, hanya embel-embel “Winner of the Nobel Prize in Literature” di jilid depannya yang membuat saya tergerak melirik-lirik sekilas isi bukunya dan memutuskan mencoba untuk membeli. Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]”