Karakoram-Himalaya Mountains [bag.4]

“When you feel homesick,’ he said, ‘just look up. Because the moon is the same wherever you go.”
Donna Tartt, The Goldfinch

Sehari sebelumnya, saya menghabiskan waktu seharian untuk perjalanan dari kota Srinagar ke kota Kargil, melewati jalanan di lereng Himalaya yang kering kerontang dengan puncak-puncak tajam dan jurang menganga dalam dengan keindahan dan keajaiban yang mencekam. Pada hari berikutnya–dan juga hari-hari selanjutnya, saya menghabiskan waktu lebih banyak lagi di jalanan. Hal ini disebabkan karena tujuan yang akan saya datangi saling berjauhan di mana untuk menuju satu tempat memakan waktu seharian perjalanan. Dan seperti kata pameo yang sering digaung-gaungkan di buku-buku motivasi pengembangan diri: Proses lebih penting ketimbang tujuan. Perjalanan saya ke jantung Himalaya dan Karakoram membuktikan kebenaran pameo tsersebut. Menghabiskan waktu berhari-hari di jalanan Himalaya-Karakoram, mungkin adalah cara terbaik untuk menikmati keindahannya, ketimbang diam di tempat di satu tujuan.

*****

Saya sedang mendengarkan aransemen Revolutionary Étude dari Frédéric Chopin, ketika teman saya mengajak untuk sarapan di hotel kota Kargil. Udara dini harinya lebih dingin daripada yang saya perkirakan dan aplikasi ramalan cuaca sepertinya memberikan angka sedikit lebih tinggi daripada seharusnya, membuat niat jalan pagi-pagi saya batalkan dan lebih memilih bergelung di kasur sambil membaca The Goldfinch. Setelah sarapan, kami berkemas dan tak menunda-nunda waktu lagi untuk segera berangkat menuju kota Leh (ibukota Ladakh). Si supir memberitahu jika perjalanan ke Leh akan lebih lama lagi ketimbang dari Srinagar ke Kargil, meski jarak Kargil-Leh secara garis lurus lebih pendek namun memutar-mutari lereng pegunungan Himalaya sehingga memakan waktu lebih lama. Meninggalkan kawasan kota Kargil membuat saya merasa sedih untuk alasan yang tak spesifik. Mungkin jalan-jalan di sore hari sebelumnya membuat saya merasa iba pada kota ini dan saya hanya mampir tanpa bisa berbuat banyak untuknya.

Langit sangat bersih hari itu. Langit biru yang amat kontras dengan pegunungan dan bebatuan cokelat membuat pemukiman yang terserak di sela lereng curam sekitar sungai tampil begitu mencolok. Beberapa bangunan yang tak dicat, dibuat dari lumpur yang dikeringkan, nampak seperti bebatuan berbentuk kubus dilihat dari kejauhan. Dengan pemandangan dahsyat hari-hari sebelumnya, membuat saya bertanya-tanya, apakah perjalanan hari itu akan mengejutkan dan memukau saya kembali? Jawabannya tentu saja ya. Himalaya-Karakoram adalah kompleks pegunungan rumit dan amat sangat besar*. Ada banyak rahasia dan pesona di tiap kelokannya.

IMG_8288
Udara tipis dan kering membuat hawa sudah menjadi panas meski baru pukul delapan pagi. Tapi saat ada angin semilir melintas, ketinggian topografi membawa angin dingin yang merontokkan tulang. Pemukiman seperti ini terserak di jalanan menuju kota Leh, di setiap pojokan sungai yang mengandung cukup tanah yang bisa ditanami untuk pertanian karena sisanya adalah bebatuan keras yang sukar ditembus akar tanaman

*****

Hari itu, secara resmi kami memasuki kawasan pegunungan Karakoram (lihat catatan kaki) dan masuk ke kawasan Ladakh. Sebagaimana yang saya tulis di bagian dua rangkaian tulisan ini, Ladakh adalah bagian dari India lain yang ‘aneh dan unik’. Provinsi Jammu & Kashmir terbelah secara etnis dan sosio-kultur menjadi tiga kawasan; Kashmir yang muslim, Jammu yang Hindu, dan Ladakh yang Buddha (tepatnya Tibetan Buddhism). Kalau tak ada pemisah politik dan batas negara India-China, Ladakh dan Tibet adalah hal yang sama dan satu kesatuan, itu sebabnya Ladakh kadang disebut sebagai The Little Tibet. Karenanya sejak perjalanan meninggalkan kota Kargil, pemukiman yang saya temui memiliki pemandangan sedikit berbeda. Biasanya ada monastry/kuil sekaligus tempat belajar agama Buddha yang bercat putih dan Mani Wheel (atau kadang disebut prayer wheel)–silinder berwarna keemasan atau merah yang biasanya diputar para penganut Buddha Tibet ketika mereka berdoa.

Perjalanan saya belum berlangsung sejam ketika mobil dihentikan di desa kecil bernama Mulbekh. Ada sebuah kuil mungil yang terkenal karena ada patung Buddha Maitreya raksasa yang dipahat di tebing bukit batu belakang kuil. Mulbekh Gompa dikenal sebagai kuil ziarah persinggahan antara Kargil dan Leh, terletak di sebuah desa kecil dan terpencil. Saya rasa pemukiman sebelum dan setelah Mulbekh berada cukup jauh terpisah. Namun meski masih pagi, sudah banyak turis berkerumun untuk berfoto dan sebagian berdoa. Patung Buddha raksasanya (setinggi 9 meter) dipahat di bukit batuan granit keras. Tak jelas kapan patung Buddha ini dibangun, beberapa pendapat menaksir umurnya sekitar 800-1200 tahun. Namun yang cukup disayangkan adalah pemandangan mengarah ke patung terhalang oleh sebuah kuil di depan patung. Tanpa kejelian (terutama jika melaju dari arah barat dari Kargil menuju Leh), akan sulit menemukan patung besar ini dari pinggir jalan sekalipun.

IMG_8183
Sebuah Mani Wheel (roda doa) yang terletak di depan kuil di Mulbekh. Seperti kebanyakan mani wheel, kebanyakan dicat dengan corak warna merah atau keemasan. Di atas kanopi dipasang bendera doa (Lung ta atau prayer flags), yang menjadi ikon ritual terkenal lainnya dalam tradisi Tibetan Buddhism

Saya tak bisa berlama-lama di Mulbekh karena si supir memberitahu jika perjalanan harus dilanjutkan. Kuilnya yang kecil juga tak banyak bagian yang bisa dijelajahi. Perjalanan kami lanjutkan menuju tujuan berikutnya ke Lamayuru Monastery. Pada hari sebelumnya, kami melewati Zoji La Pass, jalan raya tertinggi antara Kashmir dan Kargil. Maka pada perjalanan antara kota Kargil dan kota Leh, kami melewati jalur Fotu La Pass, jalan tertinggi antara Kashmir dan Leh. Lebih tinggi sekitar 500 meter dari Zoji La, Fotu La menjulang di atas kawasan bebukitan nan kering kerontang. Lanskap kering ini (hujan sepertinya sudah lama tak terjadi di kawasan ini) tampak tak ditumbuhi apapun bahkan sekedar rumput. Begitu saya keluar mobil, udara kering, panas, dan hampa langsung mengurung saya membuat tak nyaman. Ketinggiannya yang di atas 4000 meter dari permukaan laut membuat udara terasa kosong saat dihirup. Lanskap kering ini, akan menjadi tempat ideal untuk syuting film fiksi ilmiah di planet alien.

Di sekeliling Fotu La, tampak gunung-gunung kering berpuncak tajam–di musim dingin pastinya tertutup salju putih dan musim panas telah mencairkan es-es tersebut untuk memahatnya menjadi puncak-puncak tajam dan terjal. Sejauh mata memandang, hanya ada kekosongan. Bahkan burung-burung elang yang kadang tampak seperti saat di Zoji La, di Fotu La tak kelihatan sama sekali. Mangsa-mangsa mereka terlalu kesulitan untuk menggapai tempat setinggi dan sekosong ini. Hanya angin yang kadang menyemilir menjadi penanda bahwa kekosongan di tempat itu tak berarti kesunyian belaka.

20180820_104638
Di pinggir tugu penanda Fotu La Pass (secara keliru ditulis dalam ejaan salah Fatula pada monumen marka), terdapat menara relay komunikasi dan stasiun pencatat cuaca. Kain lung ta dipasang sebagai azimat agar tak ada kecelakaan di lokasi tersebut–rumah sakit lokasinya jauh sekali dari lokasi ini

*****

Perjalanan hari-hari sebelumnya di mana saya menembus jantung Himalaya kembali dilanjutkan pada hari itu. Lanskap Himalaya semakin aneh karena ketinggian dan lokasi yang semakin menjorok ke bagian lebih dalam dari pegunungan membuat iklim minor di sana berbeda dengan kawasan Himalaya sebelumnya yang saya lewati. Lebih kering dan kerontang, tetumbuhan lebih jarang dijumpai. Bebatuan semakin kecokelatan terbakar dan sungai yang mengalir terasa semakin dalam tak terjangkau nun jauh di bawah jurang sana.

Waktu hampir tengah hari ketika kami sampai ke Lamayuru Monastery, sebuah kuil bercat putih yang berdiri di puncak bukit bebatuan di mana bukitnya sendiri berada di sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan. Konon kuil ini sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Lamayuru merupakan salah satu kuil sekaligus tempat pendikan calon bikhu terbesar dan tertua di Ladakh. Mengunjungi kuil ini serasa berjalan ke masa silam dimana waktu tak bergerak sejak ratusan berlalu. Kecuali para turis, bangunan hingga pakaian yang dikenakan para bikhu rasanya tak banyak berubah. Di salah satu ruang berdoa, puluhan bikhu (mulai dari yang tua hingga bocah), berdoa dengan khusyu. Beberapa turis asing (dan juga kemudian saya), menyempatkan duduk samadi dan ikutan bermeditasi. Saya tak bisa merapal doa dalam bahasa Tibet atau Ladakh sebagaimana doa-doa yang dipanjatkan para bikhu itu, tetapi suasana khidmat segera merasuki diri dan pikiran saya sedemikian rupa sehingga kata-kata dan mantra tak lagi bermasalah, larut dalam kesyahduan dan keintiman pada suatu entitas yang tak terjabarkan oleh kata-kata.

Saya tak sadar berapa lama saya bermeditasi ketika seorang teman saya mencolek saya dan mengajak untuk beranjak. Kami harus melanjutkan perjalanan dan juga makan siang–saya akhirnya menyadari kalau perut saya sudah lapar dan heran kenapa saat bermeditasi saya tak merasakannnya. Saya lalu beranjak, berfoto-foto sebentar di sekitar area monastery, mampir ke toko souvenir monastery yang dijaga seorang kakek-kakek yang super ramah. Meski dia tak bisa berbahasa Inggris, dengan sangat antusias dia menerangkan segala benda ‘aneh’ yang dijual meski jelas komunikasi kami tak akan tersambung dan terfahami. Dalam kondisi dialog yang tak tersambung itu, anehnya saya dan si kakek banyak sekali tertawa lepas. Bukan karena kelucuan tetapi ketika kendala bahasa membatasi, isyarat universal seperti tertawa sanggup menyatukan dan menghubungkan kami berdua. Saya memutuskan membeli tempelan magnet dan ramuan aneh yang sepertinya campuran rempah untuk parfum sebelum berpamitan dengannya.

20180820_114759
Mural berwarna cerah menghiasi dinding aula besar (disebut Dukhang) di monastery Lamayuru. Meski tambahan mural ini relatif baru (mural direnovasi di tahun ’70-an), tetapi sebagaimana kondisi bangunan di area monastery, semuanya tampak tua dan eksotik

Kami makan siang di mobil karena tak ada tempat makan (dan pemukiman) selepas Lamayuru. Tak jauh dari Lamayuru, sekitar setengah jam perjalanan, si supir menghentikan mobil. Kami dihentikan di sebuah tempat yang aneh dan berbeda dari bagian Himalaya lain sebelumnya. Orang-orang menyebut kawasan ini sebagai daratan bulan (moon land), karena lanskap keringnya menyajikan panorama steril vegetasi seperti gambar permukaan bulan di buku sekolahan. Pemandangan di sana mirip foto-foto yang diambil oleh rover Spirit dan Opportunity di planet Mars, lanskap kering dengan warna monoton tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Hawa menyengat yang melingkupi saya ketika turun dari kendaraan seolah semakin menegaskan jika tanah yang saya injak tak ada lagi di planet bumi. Angin kencang yang hadir secara menerus telah mengikis tanah dan memangkas bebatuan sedemikian rupa sehingga tak ada vegetasi yang bisa bertahan cukup kuat untuk menancapkan akarnya.

IMG_8980
Tanpa ada tanda-tanda hujan pernah mampir ke daerah ini, landmark yang bisa dilihat adalah gunung-gunung dan bebatuan kering sejauh mata memandang

Selepas dari Lamayuru, tetiba seorang teman saya mengalami kondisi pusing-pusing hebat. Kondisi jalanan yang berliku-liku dan ketinggian yang bertambah membuat dia terkena serangan AMS (acute mountain sickness, penyakit yang menyerang di ketinggian karena kadar oksigen rendah). Idealnya, selama 3 hari sebelum pergi ke Ladakh, kami seharusnya rutin minum obat anti AMS sehari sekali. Meski kami membawa pil tsb, tak ada dari kami yang meminumnya. Haha. Semakin lama kondisi teman saya semakin memburuk sehingga kami mau tak mau harus mencari rumah sakit terdekat. Sayangnya tak ada pemukiman cukup dekat yang memiliki fasilitas kesehatan selepas Lamayuru. Kami harus membawa teman saya tsb satu jam lagi berkendara agar bisa mencapai rumah sakit terdekat.

Begitu mencapai Khaltse Hospital, teman saya segera dilarikan ke bagian gawat darurat untuk mendapatkan penanganan segera. Rumah sakitnya sendiri hanya berupa bangunan dua tingkat dengan kamar-kamar pasien di lantai 2 sementara ruang perawatan dan pemeriksaan semuanya di lantai 1. Saya yang awalnya mau menumpang ke toilet sambil menunggu teman saya dirawat, langsung membatalkannya begitu melihat kondisi toilet yang sangat jorok. Saya tak habis pikir bagaimana bisa toilet di sebuah fasilitas medis dan berlokasi tepat di pinggir Sungai Indus, memiliki fasilitas toilet dan air yang amat buruk. Melihat kondisi pasien lain yang dirawat dalam kondisi tak higienis (kalau tak dikatakan jorok) membuat saya mengelus dada. Dokter-dokter yang merawat mereka pun kebanyakan masih sangat muda (dokter-dokter yang ditempatkan pemerintah India di kawasan super terpencil seperti ini pastinya dipilih yang masih muda dan ‘siap untuk dikorbankan’).

Untungnya kondisi teman saya tak begitu parah. Dia hanya diberikan pil anti AMS (yang sebetulnya dia bawa sendiri tapi belum diminum) dan selama satu jam mendapatkan asupan oksigen segar dari tabung oksigen. Meski teman saya tersebut sudah siap-siap dengan syarat-syarat asuransi, dia dibebaskan dari pembayaran karena semua fasilitas di sana diberikan percuma bagi warga dan turis yang malang. Kebaikan ini sebetulnya menjadi ironi karena pemerintah negara India sengaja memberikan fasilitas kesehatan gratis sebagai upaya mengambil hati warga di sana agar tidak memberontak dan melakukan tindakan separatis seperti tetangganya di Kashmir.

20180820_182602
Sambil menunggu teman saya menghirup terapi oksigen selama sejam, saya berjalan-jalan di sekitar rumah sakit yang dikelilingi gunung kecokelatan seperti ini

*****

Setelah terapi oksigen dilakukan selama sejam, teman saya dirasa cukup pulih dan kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Antara kelelahan dan terbius, saya rasa saya terantuk-antuk tidur di mobil selama hampir dua jam berikutnya ketika si supir menghentikan kembali mobilnya. Perjalanan super jauh dengan lajur jalan berkelok-kelok mengikuti kontur pegunungan membuat si supir kelelahan dan juga ikutan mengantuk. Kami menepi di sebuah kampung kecil satu-satunya yang kami jumpai dalam dua jam terakhir. Tanpa perlu menunggu waktu lama sejak turun dari mobil, kami segera merapat menuju sebuah toko untuk membeli minuman chai. Dari seorang mamang-mamang tukang gorengan, kami membeli gorengan khas India, yang artinya segala jenis bahan makanan dikasih tepung dan digoreng sehingga ketika sudah matang, saya kadang kesulitan menebak bahan apa yang digunakan. Tak lupa, saya membeli es krim tentu saja. Udara menjelang sore mulai menyejuk semakin sempurna saat ditemani es krim vanilla.

20180820_174133
Persinggahan yang kami jumpai tampaknya tak diniatkan sebagai pemukiman penduduk permanen. Selain deretan toko ini dan toko-toko di seberangnya, tak ada lagi pemukiman lain di sekitar area tersebut

Setelah dirasa badan kembali cukup segar, perjalanan kami lanjutkan lagi menuju ke arah kota Leh. Si supir mengatakan jika perjalanan menuju Leh masih beberapa jam lagi. Artinya masih lama. Huft. Setelah istirahat sebentar yang sangat menyegarkan, kami masuk kembali ke dalam mobil dalam keadaan ceria. Mengeluarkan lelucon dan semangat untuk foto-foto, sebagai selingan kejemuan pemandangan gunung bebatuan yang tampaknya tak ada habisnya. Si supir pun yang sudah lebih ceria, kembali memutar lagu berbahasa Hindi favoritnya dan teman saya yang duduk paling depan di pinggir supir ikutan bergoyang-goyang mengikuti irama. Saya melanjutkan pembacaan The Goldfinch.

Semakin mendekat menuju kota Leh jalanan semakin meninggi. Gunung-gunung berselimutkan es di puncaknya semakin sering terlihat meski sudah masuk musim panas, di mana di bagian pegunungan yang kami lewati hari-hari sebelumnya sudah banyak yang mencair. Kamp-kamp militer mulai muncul dan semakin semarak, selalu ada tiap sekian kilometer. Kami melewati bukit Magnetic Hill (gunung yang memiliki fenomena ilusi optik dimana kendaraan bisa seolah mendaki sendiri meski mesin dimatikan) namun tak berhenti mencobanya karena hari sudah menunjukan tanda-tanda keremangan sementara kota Leh masih belum ada tanda-tanda akan dicapai dalam waktu dekat.

Ketika akhirnya kami sampai di kota Leh, langit sudah menjadi gelap sepenuhnya. Meski kami melewati daerah Main Bazaar–alun-alun sekaligus pasar pusat belanja oleh-oleh di Leh, kami tak berniat turun sambil memutuskan untuk ke sana beberapa hari lagi setelah kami menghabiskan sisa hari di Ladakh. Begitu sampai ke penginapan, kami segera makan malam. Lokasi bazaar tidak jauh dari penginapan, tetapi karena kami akan melanjutkan perjalanan esok sepagi mungkin karena seperti hari-hari sebelumnya perjalanan kami masih sangat jauh. Sebelum berpisah ke kamar masing-masing, kami berpamitan dengan si supir yang telah menemani hari-hari kami di Kashmir dan mengantar kami sehingga sampai ke Ladakh.

IMG_8507
Sore di salah satu tikungan di jalan menuju Kota Leh di Ladakh. Meski langit masih biru, jalanan dan lembah sudah mulai meremang karena tak terjangkau cahaya matahari rendah yang tertutup gunung-gunung tinggi

*****

Selepas sarapan di penginapan kota Leh, kami memasukan tas-tas ke mobil dan segera berkenalan dengan supir baru yang akan menemani kami di sisa perjalanan di Ladakh. Berbeda dengan supir sebelumnya si orang Kashmir yang lebih komunikatif–tepatnya nekat dan berani mengajak bercanda dan berkomunikasi meski berbahasa Inggris patah-patah, supir baru adalah seorang pemalu dengan kemampuan bahasa Inggris lebih buruk lagi bahkan untuk memahami kalimat-kalimat sederhana. Ketika kami berkenalan, kami segera menyadari jika perjalanan kami berikutnya akan sedikit lebih “garing” karena supir baru akan lebih banyak diam. Pergantian supir ini sepertinya sengaja untuk mengakomodir ‘bagi-bagi rejeki’ antara warga Kashir dan Ladakh atas kedatangan turis di wilayah mereka.

Karena perjalanan kami akan semakin meninggi ke daerah-daerah dengan ketinggian di antara 4000 sampai 6000 meter di atas muka air laut, kami minum obat anti AMS sebelum memulai perjalanan–juga pelajaran dari teman saya yang sempat dirawat di rumah sakit hari sebelumnya. Karena khawatir obat AMS yang dibawa dari Indonesia kurang ampuh, kami sengaja membeli obat baru di tengah kota Leh–yang sebetulnya sama saja namun dengan harga yang sangat murah. Kota Leh yang tak besar-besar amat langsung ditinggalkan setelah setengah jam berkendara dari lokasi penginapan. Kami memasuki area dan lanskap baru yang lebih aneh, lebih indah, dan juga lebih berbahaya.

Begitu keluar kota Leh, kamera kami tak henti-hentinya memotret dan selalu dalam kondisi siaga untuk berfoto. Jalan melingkar dan meliuk-liuk mengikuti lenggokan pegunungan, menciptakan pemandangan lapang menuju jurang-jurang dalam dan curam, sementara nun jauh di seberang ada gunung-gunung yang puncaknya ditudungi es abadi, tidak mencair bahkan di musim panas sekalipun.

20180821_111626
Begitu meninggalkan kota Leh, kami memulai perjalanan panjang (lagi) melalui pinggir pegunungan bersalju. Jika biasanya gunung-gunung es kami lihat dari kejauhan, hari itu kami mendaki dan melewati badan gunungnya

Kami banyak sekali berhenti untuk mengambil foto. Hampir di tiap tikungan (yang artinya banyak sekali karena jalannya ber-zigzag  naik secara perlahan ke puncak gunung) kami berfoto-foto dan kadang minta mobil dihentikan agar kami bisa turun. Pengendara lain yang melihat tingkah kami kadang tergoda ikutan turun sehingga terjadi antrian di jalan (jalannya kecil sekali, agar bisa dilewati secara dua arah harus pelan-pelan berselisihan dan mustahil untuk mendahului). Kami cepat-cepat naik selesai berfoto-foto, dan meninggalkan antrian panjang di belakang. Begitu terus secara beberapa kali. Haha.

Jalanan di Zoji La beberapa hari sebelumnya yang kami lewati sering didaulat sebagai jalan paling berbahaya di dunia karena jalan sempit diapit jurang dan tebing curam, namun rute jalan antara Leh dan Nubra Valley (tujuan kami berikutnya) tak kalah mengerikannya dengan jalan di Zoji La. Tebing curam dengan batu-batu raksasa yang mudah rompal (kadang kami mendengar suara gemuruh batu jatuh), membatasi sebuah jalan super sempit sementara ngarai super dalam membentang dan menghampar dalam kedalaman yang tak bisa saya perkirakan seberapa dalam saking jauhnya. Karena seringnya rubuh batuan lerengnya, kami sering antri menunggu kendaraan berat melakukan pembersihan jalan dari jatuhan bebatuan raksasa. Saya tak bisa membayangkan jika saat batuan rubuh, ada mobil di bawah sedang melintas. Di jalan ini bahaya menjadi berlipat ganda, antara rubuhan tebing dan ancaman jurang di pinggirnya.

20180821_113444
Pemandangan seperti ini, mobil mengular mengantri menunggu kendaraan berat membersihkan dan mendorong jatuhan bebatuan raksasa yang menghalangi jalan, membuat mobil saya antri dan menunggu cukup lama

Perjalanan kami semakin lama semakin tinggi, sudah melewati angka 5000 meter. Kami mulai kesulitan bernafas dengan nyaman karena oksigen menipis terus. Nafas terasa pendek dan terengah-engah sehingga kami mengurangi candaan yang bisa mengundang tawa. Secara kontras, kami melihat para pekerja (yang asli orang sana) bekerja fisik berat dengan leluasa tanpa terlihat kesusahan terengah-engah. Mereka tentu saja sudah beradaptasi dengan baik untuk tinggal di kawasan yang  begitu tinggi. Udara tipis juga membuat panas terasa terik lebih dari biasanya karena mengurangi pembauran panas dan cahaya. Saya hanya bisa mengucapkan secara perlahan terima kasih dan doa agar para pekerja tersebut diberikan kekuatan dan kesehatan selalu.

20180821_114956
Sekelompok pekerja wanita sedang bersitirahat makan siang di tepi jurang dalam di pinggir jalan. Sementara pekerja pria memecah dan mengangkat bebatuan besar, para pekerja wanita merapihkan bebatuan kecil agar jalanan di puncak gunung-gunung ini tetap rata dan nyaman dilalui

*****

Sekitar pukul 11 siang, si supir menghentikan mobil di sebuah puncak gunung. Sudah banyak mobil terparkir di sana. Kami akhirnya sampai di Khardung La, salah satu jalan legendaris di Ladakh yang pernah dinobatkan sebagai jalan tertinggi di dunia sebelum di tahun 2017 dilampaui oleh Umlingta Top yang lebih tinggi 400-an meter dari Khardung La. Meski rekor Khardung La sudah terpatahkan, tetapi Khardung La tetap yang paling ramai karena menjadi akses utama menuju tempat-tempat wisata terkenal di Ladakh yang akan kami datangi kemudian. Karenanya ketika saya sampai di Khardung La, sudah banyak mobil turis-turis lain yang berhenti dan berfoto-foto di sana.

Ketika saya keluar mobil, udara benar-benar terasa ringan dan hampa. Saya harus bernafas lebih cepat dan lebih dalam karena setiap tarikan nafas terasa kosong tak menghirup apa-apa. Meski sudah mengonsumsi pil anti AMS, tetapi serangan AMS tetap terasa (yang tentu saja memang akan begitu karena kami baru meminumnya beberapa jam lalu, haha). Saya merasa pusing bahkan untuk melangkah saja menjadi pelan-pelan dan akan memanfaatkan pegangan jika tersedia. Teman saya bahkan ada yang muntah-muntah. Namun dengan kondisi fisik kepayahan tersebut, saya tetap terpukau oleh keindahan puncak Khardung La. Angin kencang yang berhembus, tak membawa apapun selain rasa dingin yang menggigit. Dalamnya lembah dan ngarai menimbulkan gema dan senandung aneh yang tak pernah saya dengar sebelumnya, sementara bebatuan yang jumlahnya amat berlimpah kadang menciptakan formasi aneh-aneh yang tererosi membentuk siluet-siluet liar yang gampang diasosiasikan sebagai penampakan bagi pikiran-pikiran kreatif dan imajinatif.

20180821_115717
Khardung La, pernah dinobatkan sebagai jalan raya tertinggi di dunia, berada pada ketinggian begitu tinggi sampai-sampai es di puncak gunung masih terlihat seperti pada gambar ini

Kondisi teman saya kembali memburuk sehingga saya tak bisa berlama-lama di Khardung La–toh saya juga tak mau ambil resiko karena hidung saya juga mulai mimisan, pembuluh darah pecah karena tekanan udara luar begitu rendah tak sebanding dengan tekanan pembuluh darah di hidung. Maka ketika si supir memberikan komando agar kami kembali masuk (ketidakmampuan berbahasa Inggris membuatnya mengandalkan gerak tubuh), kami menurut meski masih ingin berfoto-foto lebih lama.

Perjalanan menuruni Khardung La tetap tak semudah saat mendakinya. Jalanan menjadi semakin sempit dan perbaikan jalan lebih banyak daripada sebelumnya. Jalanan semakin melingkar-lingkar mengitari pegunungan, yang sepertinya memang dibuat secara sengaja agar membantu para turis beradaptasi pada ketinggian secara perlahan demi mengurangi serangan AMS. Akhirnya dua jam berikutnya kami berhenti di sebuah lembah yang dialiri sungai. Sungai Shyok, salah satu sumber mata air dari sungai Indus dan menjadi pemisah antara kompleks pegunungan Himalaya dan Karakoram (cek catatan kaki), mengalir begitu deras dan bergemuruh karena memang lahir dari mata air es pegunungan yang mencair.

Di tepi Sungai Shyok, ada beberapa kedai makanan dan kami menepi di sana untuk makan siang. Meski kondisi AMS masih terasa dan membuat kondisi tubuh malas untuk makan, tetapi kami harus memaksakan diri ketimbang semakin parah. Saya memesan mie rebus dan teh hangat manis (saya pastikan berkali-kali ke si penjaga jika saya ingin teh biasa, bukan teh chai yang jadi standar mereka). Secara tak terduga, saya makan lahap sehingga jadi yang pertama selesai makan. Sambil menunggu teman lain selesai, saya izin ke toilet di belakang kedai yang ternyata cuma berupa lubang melompong tanpa ada air (tradisi mereka sepertinya mencegah mereka mengotori sungai besar yang ada tak jauh darinya), membuat saya membatalkan niat untuk ke toilet begitu tahu kondisinya seperti itu. Namun kekecewaan saya segera tergantikan kekaguman begitu melihat lembah permai hijau dimana beberapa yak liar merumput di tepian sungai. Segera saja saya berfoto-foto dan memberi tahu teman-teman saya jika ada gerombolan yak liar yang jinak di tepian sungai.

IMG_8753
Sebagai hewan pemalu dan sukar untuk didekati, saya cukup beruntung berhasil mendekati yak ini. Meski tanduknya sangat tajam, yak jarang menggunakannya terlebih untuk menyerang manusia. Seperti alam pegunungan dan manusia Ladakh sendiri, yak adalah hewan yang damai dan tenang

*****

Meninggalkan Khardung La dalam kondisi kepala masih pusing sisa AMS, kami melanjutkan perjalanan dalam kondisi diam tak banyak bercanda. Meski pemandangan berikut-berikutnya tak kalah dahsyat dengan hari-hari sebelumnya, tetapi sedikit dari kami yang tergerak untuk memotret foto pemadangan dari kendaraan. Si supir baru yang lebih banyak diam memutar lagu-lagu berbahasa Ladakh yang selalu bernada muram dari irama dan nada yang lambat membuat saya sedikit terbuai untuk memejamkan mata. Kepala pening AMS ditambah jalanan yang berliku-liku semakin membuat kepala saya terasa memberat, namun karena tak bisa ditidurkan semakin menjadi-jadi pusingnya di tiap jamnya. Antara posisi setengah sadar dan tertidur si supir kembali menepikan kendaraannya sambil menunjuk sebuah monastery di atas bukit. Kami telah samai di salah satu tujuan perhentian, Diskit Monastery.

Terletak di atas ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut, Diskit Monastery terkenal sebagai monastery tertua di Lembah Nubra yang legendaris, diduga sudah didirikan sejak enam ratus tahun lampau. Monastery di Diskit sangat ikonik karena memiliki ikon patung Buddha Maitreya raksasa setinggi 30 meter. Patung Buddha ini dibangun dengan cat keemasan dan warna-warni sehingga tampak mencolok dan kontras dibandingkan dengan kondisi lanskap bebatuan dan pegunungan salju di latar belakangnya.

20180821_160305
Patung Buddha di Diskit Monastery membelakangi gunung batu dan es, menghadap ke Lembah Nubra, seolah memberikan berkah bagi kawasan hijau yang sangat terbatas keberadaanya di kawasan kering penuh bebatuan di sana

Karena posisinya di lereng pegunungan tinggi, udara di sekitar Monastery sangat segar dan sejuk. Langsung menjadi obat mujarab untuk mengenyahkan serangan AMS yang menimpa saya. Pun teman-teman saya, sehingga kami kembali ceria dan menghabiskan waktu cukup lama di sana untuk berfoto-foto. Di toko souvenir sekitar monastery, saya membeli cendera mata kertas doa dan secara tak perlu berpikir dua kali, langsung mengambil buku The Snow Leopard karya Peter Matthiessen yang sudah lama saya idam-idamkan untuk dicari. Buku ini berkisah tentang pencarian Matthiessen atas hewan elusif tersebut sekaligus sebagai pelarian dari rasa dukanya setelah ditinggal istri tercinta.

Dari ketinggian monastery Diskit, pemandangannya luar biasa indah, terutama jika saya melihat ke arah lembah, Lembah Nubra yang sangat fenomenal dengan keindahan dan kemagisan alamnya, serta keunikan budayanya yang tak ditemukan di tempat lain di seluruh Himalaya. Lembah Nubra adalah lembah panjang yang diapit pegunungan Karakoram dan Himalaya. Di tengah lembah mengalir Sungai Nubra (sebagai bagian dari anak Sungai Shyok). Yang membedakan lembah ini dari kebanyakan lembah lainnya adalah adanya topologi kontras antara pegunungan tinggi curam bersalju yang mengelilingi lembah hijau permai di mana warga setempat memiliki kebudayaan unik, namun tak jauh di sana juga ada padang pasir gersang luas dimana unta-unta liar khas Himalaya berkeliaran (sekarang dijadikan tunggangan untuk turis). Lembah hijau, gurun pasir kuning, bebatuan gunung cokelat dengan puncak es putih di belakang. Tak banyak tempat di dunia yang memiliki kombinasi langka seperti ini.

Maka, begitu melihat keindahan Lembah Nubra, kami kemudian meminta si supir untuk segera turun dan menuju lembah. Kebetulan kami akan menginap di sana. Saking semangatnya, kami meminta si supir untuk mengebut yang tentu saja tak bisa dikabulkan karena meski jalannya sepi tetapi kondisi jalan batu dengan jurang terjal membuat ngebut kendaraan adalah sesuatu yang harus dihindari.

20180821_190326
Lembah Nubra menjadi tujuan turis utama di Ladakh karena adanya padang pasir di daerah pegunungan Himalaya yang selama ini diasosiasikan sebagai daerah basah dan dingin. Unta-unta tunggangan ditawarkan bagi turis yang ingin menjelajahi padang pasir luas yang mengekor panjang mengikuti alur sungai

Begitu sampai di lembah, kami tak langsung mencari titik para turis berkumpul, tetapi memilih ke penginapan untuk menaruh tas barang sekaligus mandi yang sangat saya idam-idamkan sejak lama sekali. Air gunung es yang dingin di tengah kawasan lembah kering membuat acara mandi berlangsung lama sekali saking asyik dan segarnya. Saya sampai diketuk pintunya oleh teman saya saking lamanya mandi–hal yang biasanya tak pernah terjadi pada saya sebelumnya. Haha.

Maka, begitu kami selesai berkemas dan berbenah, kami langsung menuju kawasan wisata lembah dimana turis-turis lain sudah banyak berkumpul dan senja sudah mau mulai turun. Pemandangan di lembah yang kontras antara hijau pohon-kuning gurun-cokelat bebatuan-putih es saat dilihat dalam kondisi sore terasa magis dan menghipnotis semakin lengkap oleh semburat cahaya mentari senja. Ketimbang ikut naik tur unta, saya lebih memilih duduk-duduk santai menikmati senja yang menghipnotis itu. Di bawah naungan langit petang Lembah Nubra, pikiran saya berkelana dan menjelajah melintasi gunung-gunung tinggi di sekitarnya.

20180821_185720
Seekor anak unta liar memilih merumput menyendiri di penghujung hari di Lembah Nubra. Seperti halnya anak unta ini, saya memilih memisahkan diri dari teman-teman saya, menikmati kemagisan senja secara sendiri untuk meresapi kesyahduan petang yang menggoda

*****

Di Lembah Nubra malam turun dengan lebih cepat. Meski langit masih merah, tetapi cahaya matahari yang terhalang pegunungan tinggi tak menyentuh dasar lembah sehingga suasana gelap di lembah bergulir cepat dan tak terantisipasi oleh saya sebelumnya. Terpaksa saya jalan terantuk-antuk sambil menebak-nebak dimana lokasi parkir mobil sementara teman-teman saya yang lain sudah menunggu. Ketika kami sudah bergabung, si supir dengan kalimat terbata-bata menanyakan apakah kami akan mengunjungi atraksi seni sebelum pulang ke penginapan. Kami langsung menyetujuinya, karena kan belum tentu ada kesempatan kedua bagi kami untuk datang lagi ke sana. Kami diantar menuju sebuah tenda besar dimana dari kejauhan musik tradisional terdengar dimainkan.

Beberapa pengunjung sudah duduk hampir memenuhi kursi yang disediakan dalam tenda besar tertutup itu–kami harus membayar tiket masuk. Karena datang cukup belakangan, kami mendapat duduk di barisan kursi ketiga dari depan. Untungnya atraksi belum dimulai. Tak lama setelah kami duduk, di bagian depan dua orang laki-laki yang masing-masing memegang semacam mandolin dan kendang mulai memainkan instrumen mereka. Lalu disusul sekelompok perempuan yang keluar dalam formasi berbaris berdiri ke depan memperkenalkan diri mereka masing-masing, lalu kemudian dilanjutkan dengan menari tradisional sambil menyanyi dalam bahasa Ladakh.

Tentu saja saya tak bisa memahami apa makna lirik lagu mereka, tetapi kemudian setelah tarian pertama usai diceritakan jika lirik tadi bermakna ucapan dan doa kegembiraan atas hasil panen yang berlimpah. Dalam tari-tarian yang dilakukan hampir 5x pergantian, saya menikmati atraksi yang disajikan. Agar tidak bosan, di salah satu sesi para penari mengajak tetamu yang hadir untuk menari bersama di depan. Teman-teman saya kompak menunjuk saya yang tentu saja saya tolak mentah-mentah. Haha. Dengan alasan saya akan membuatkan video tentang mereka yang menari, saya bisa selamat dari paksaan agar menari. Haha

IMG_9159
Dalam pakaian tradisional (mereka menyebutnya sebagai pakaian pengantin), para perempuan Ladakh ini menari sambil bernyanyi yang paduan musik dan suara nyanyiannya sangat unik sekaligus menghibur

Malam benar-benar telah gelap sempurna ketika saya keluar dari tenda. Berjalan menuju mobil parkiran, saya dapat menyaksikan betapa Lembah Nubra yang luas itu telah sepenuhnya kelam dan sunyi. Bulan kuarsa menyembul dari balik puncak gunung berbentuk segitiga bergerigi. Dan dalam gelap dan senyap, muncul kedamaian yang menentramkan. Setelah sekian lama berkeliling Himalaya dan Karakoram, untuk pertama kalinya saya teringat akan rumah. Seperti kutipan dalam buku The Goldfinch di awal tulisan, jika kita rindu akan pulang ke rumah, maka menatap bulan akan mengobati kerinduan tersebut, karena itu adalah bulan yang sama yang kita lihat saat masih ada di rumah.

20180820_114101
Buku The Goldfinch sebagai peneman saya mengunjungi Ladakh, adalah buku sempurna untuk perjalanan panjang dan lama

 

(bersambung)

 

Catatan tambahan:

    = Apa yang disebut sebagai pegunungan Himalaya, sesungguhnya berupa kompleks pegunungan lebar dan rumit. Batas-batasnya tak benar-benar jelas, karena melampar dari Myanmar di ujung timur, membentuk sebagian besar kawasan negara Bhutan dan Nepal, menjadi batas alam India dan China-Tibet, melanjut ke arah barat sampai Pakistan, Afghanistan, dan Tajikistan. Dengan luasnya kompleks pegunungan ini, pembagian regional dan penamaan menjadi banyak dan rumit. Untuk keseluruhan kawasan yang melewati negara-negara yang disebutkan sebelumnya, biasanya disebut sebagai The Great Himalaya. Sementara di regional, nama yang digunakan belum tentu selalu Himalaya. Mungkin ada yang pernah mendengar nama pegunungan Karakoram dan Hindukush. Sebetulnya dua nama pegunungan ini termasuk dalam rangkaian Great Himalaya. Pegunungan Karakoram biasanya diberikan untuk bagian dari Himalaya yang ada di sebelah barat hulu sungai Indus di kawasan Punjab, Kashmir, dan Ladakh. Karakoram ada di bagian barat Great Himalaya. Sementara nama pegunungan Hindukush disematkan untuk bagian Himalaya yang ada di sebelah selatan sungai Gilgit di Kashmir, di sebelah barat daya Great Himalaya.

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

4 thoughts on “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.4]”

  1. “Sambil menunggu teman lain selesai, saya izin ke toilet di belakang kedai yang ternyata cuma berupa lubang melompong tanpa ada air…..”

    Ini maksudnya seperti jumblengan begitu ya? Err kamu tahu jumblengan?.

    Like

  2. Saat mencari foto toilet di Shyok River, saya menemukan salah satunya situs ini http://www.jantreksandtravels.com/CommitmentsSRL.html https://www.dailyexcelsior.com/unique-toilets-ladakh/
    selain karena ecotourism sepertinya di sana juga harus hemat karena susah air.
    Dan setelah menonton video ini https://m.youtube.com/watch?v=E1iopH-HOlk memang bisa dibilang mirip dengan jumblengan sih.
    Dry toilet sudah banyak yang mulai diganti dengan flush toilet, jadi seharusnya kamu mencoba memakainya sebelum hilang dari peredaran tau. :/

    Apa aku menjawab pertanyaanku sendiri lagi? Pfftt. 😌

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s