Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading

The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

Why did he kill the girl, and why did they kill him after that?
―Ana Torrent, El espíritu de la colmena (1973)

Selepas menonton film The Little Prince (Mark Osborne, 2015), saya mendiskusikan dengan teman-teman saya, mengenai film-film dengan tema kepolosan anak kecil yang begitu rapuh namun berharga hingga akhirnya dihancurkan oleh realitas kehidupan yang pedih nan keras. Di dunia dimana hal-hal ideal telah lama musnah, film-film (ataupun karya sastra) seperti ini menjadi pengingat kita bahwa mimpi dan imajinasi adalah hal yang amat langka dan gampang menguap seiring bertambahnya usia dan kegiatan yang bernama “menikmati hidup”. Apa sih nikmatnya hidup jika rutinitas dan ambisi menghempaskan kemurnian mimpi imajinasi? Continue reading

Cain (José Saramago)

doubt is the privilege of those who have lived a long time,
― José Saramago, Cain

Saya pertama kali mengenal nama Saramago, pemenang Nobel Sastra 1998, dari novel Blindness dan tak perlu usaha keras untuk langsung jatuh cinta dengannya. Saramago adalah sebuah contoh paling nyata dan paling terang bagaimana sebuah keberanian (atau malah kenekatan) dipadukan dengan kepiawaian bercerita dan kejeniusan menyusun kata, bisa menjadi sebuah mahakarya literasi tak tertandingi. Dan novel Cain ini, bisa menjadi salah satu contoh kisah keberanian ini.

13318584

Continue reading