Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3]

“It’s funny how the colours of the real world only seem really real when you viddy them on the screen.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

* ‘viddy’ is a Nadsat slang for ‘see’, Nadsat is a false language spoken by teenager in A Clockwork Orange

Kami menyebutnya sebagai “Minuman Kemenangan”. Tak ada yang spesial sesungguhnya. Biasanya yang disebut sebagai Minuman Kemenangan berupa minuman sereal, susu, bandrek, atau beberapa teman saya memilih kopi sachetan. Adapun penyebutan yang terkesan norak, alay, dan eksesif tersebut disebabkan karena kami meminumnya hanya saat mendaki gunung, tepatnya di pos terakhir perkemahan sebelum menaklukan puncak. Dengan segala kepayahan setelah pendakian seharian, istirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian esok dini harinya sangat diperlukan. Saat istirahat rileks dipenuhi canda tawa (atau caci maki meledek teman) itulah Minuman Kemenangan disajikan. Meski tak ada kesepakatan tegas di antara kami, tetapi gelar Minuman Kemenangan hanya disematkan untuk minuman di momen itu saja. Di saat-saat lain, misal berkumpul biasa di pos-pos pendakian lain, tak ada yang menyebut-nyebut “Minuman Kemenangan” meski yang disajikan sama saja. Minuman Kemenangan hanya disajikan saat kami sudah berjuang susah payah, menikmati setiap tetes keringat pendakian seharian, melepas segala kelelahan dengan kegembiraan, meresapi setiap kenikmatan kebersamaan sekecil-kecilnya, dan mensyukuri setiap anugerah keselamatan hidup yang mengiringi. Di Ambon, untuk pertama kalinya, setelah berjuang dan menikmati snorkeling seharian di Pantai Ora, kami harus mematahkan “kesepakatan” tersebut. Kami menegak “Minuman Kemenangan” lain, dalam bentuk yang… well… tak saya duga sebelumnya. Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2]

“Welly, welly, welly, welly, welly, welly, well. To what do I owe the extreme pleasure of this surprising visit?”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Sekawanan ikan kakak tua—saya belum pernah melihat kawanan ikan kakak tua sebanyak ini sebelumnya—berenang melintasi sampan yang kami tumpangi. Warna hijau kebiruan cemerlang mereka semakin tertegaskan dalam kejernihan air yang bening bak gelas kualitas terbaik. Kurang dari sepuluh detik, saya langsung menyambar snorkel, kamera kedap air dan lompat ke laut untuk mengabadikan penampakan langka ini. Teman-teman saya melakukan hal serupa. Setelah melompat ke air, saya menengok kiri kanan untuk melihat kemana kawanan ikan tersebut pergi, suara deburan lompatan kami pasti mengagetkan mereka. Saat menengok kiri kanan itulah saya menyadari sesuatu yang buruk akan datang. Seketika saya menyadari kesalahan fatal yang telah kami lakukan. Bahkan sebelum saya sempat berteriak memperingatkan teman-teman saya, sesuatu yang amat saya takutkan datang menyambar mereka dalam tempo nyaris sekejap saking cepatnya. Saya bahkan tak sempat memikirkan nasib teman-teman saya, karena tepat pada detik berikutnya hal yang sama terjadi pada saya. Detik-detik berikutnya hanya ada kegelapan yang pekat, rasa ngeri yang mencengkeram amat erat, dan bayangan tentang hal-hal buruk yang amat sangat dekat… Dan penyesalan… selalu datang terlambat… Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

“Oh, it was wonder of wonders. And then, a bird of like rarest spun heavenmetal, or like silvery wine flowing in a spaceship, gravity all nonsense now, came the violin solo above all the other strings, and those strings were like a cage of silk round my bed. Then flute and oboe bored, like worms of like platinum, into the thick thick toffee gold and silver. I was in such bliss, my brothers.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Kamu tahu apa yang dimaksud dengan frasa “intipati keindahan dan kenikmatan dunia”? Setiap orang punya versinya masing-masing tentu saja, tapi saya rasa tak banyak yang bisa mengalahkan ini: membaca buku bagus seperti A Clockwork Orange* karya Anthony Burgess ditemani melodi enigmatik Fantaisie-Impromptu** dari Chopin, duduk di ayunan dengan kaki telanjang di pasir pantai hangat dengan angin mengalir selembut kapas memeluk, air laut jernih semurni embun pertama dini hari dan ombak sejinak bayi yang terlelap tidur. Percayalah, tak ada yang lebih melenakan selain bersantai saat menunggu senja di pantai, well, nama tempatnya memang begitu populer dengan puji-pujian tak berkesudahan tentangnya, Pantai Ora di tepian Taman Nasional Manusela, Pulau Seram. Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

IN the midway of this our mortal life,
I found me in a gloomy wood, astray
Gone from the path direct: and e’en to tell,
It were no easy task, how savage wild
That forest, how robust and rough its growth,
Which to remember only, my dismay
Renews, in bitterness not far from death.
― Dante Alighieri, Inferno: Canto I

Ketika turun dari puncak Tambora, ketika menelusuri dan menapaki kembali jejak-jejak pendakian hari sebelumnya, entah mengapa saya teringat pada bait-bait pembuka puisi Inferno*-nya Dante. Kalimat-kalimat pembuka prosa liris terdahsyat di dunia ini dibuka dalam kalimat-kalimat yang mengandung ketakutan, kebingungan, dan kecemasan. Di paruh usia kehidupan fana ini, kudapati diriku berada di hutan gelap, tersesat. Meninggalkan jalan yang telah ditunjuk dan diarahkan. Bukan perkara yang mudah, oh betapa liar dan buasnya. Hutan itu, yang tegap dan gabas tumbuhnya. Yang kuingat hanyalah kecemasan. Terbaharui, dalam kegetiran yang tak jauh dari kematian. Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]

Perhaps in the world’s destruction it would be possible at last to see how it was made. Oceans, mountains. The ponderous counterspectacle of things ceasing to be. The sweeping waste, hydroptic and coldly secular. The silence.
― Cormac McCarthy, The Road

Saya berdiri di puncak yang sekaligus tepi sebuah jurang tajam. Di antara bayang-bayang sisa dini hari, bagian-bagian dataran di kaki gunung terlihat memantulkan cahaya sisa purnama dan lampu jalanan di kejauhan, dan segerombol pepohonan di tepi lereng selatan gunung membentuk kerumunan formasi bergerombol yang aneh. Pepohonan berbatang kecoklatan dengan bintik-bintik putih bagai penderita kusta mengintip di tepian jalur pendakian yang kami lewati. Jamur dan lumut berjurai-jurai di bebatuan bagaikan juluran lengan gurita yang murka. Udara menggelegak mengalir deras di antara bebatuan di puncak jurang yang berlumut dan beraroma amis seperti laut. Ada bau tipis abu purba yang terserak diantara sela bebatuan, sisa dan saksi amarah gunung di masa lampau, terlarut oleh embun yang berkerumun di pucuk dedaunan berbentuk jarum dan ada aroma sulfur yang tercium berselang-seling saat angin lewat dengan silih berganti. Di antara lipatan-lipatan angin yang datang bergulung-gulung, tercium aroma laut samar yang dibawa angin lembah dan diperangkap hutan beserta aroma semua ikannya, semua karangnya, semua pasirnya, semua arusnya, semua kedalamannya, semua gemuruhnya, semua kesunyiannya, dan semua misterinya. Aroma eksotik yang memabukkan ini membuat saya mencium udara dengan sangat perlahan seolah kesempatan seperti ini tak bisa terulang. Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]

He walked out in the gray light and stood and he saw for a brief moment the absolute truth of the world. The cold relentless circling of the intestate earth. Darkness implacable. The blind dogs of the sun in their running. The crushing black vacuum of the universe. And somewhere two hunted animals trembling like ground-foxes in their cover. Borrowed time and borrowed world and borrowed eyes with which to sorrow it.
― Cormac McCarthy, The Road

Sains terpurba dan agama tertua lahir di bawah langit malam*. Pasti akan sangat berbeda sekali rupa langit malam di masa ratusan ribu tahun lampau dibanding saat ini. Leluhur jauh kita, menghabiskan malam-malam tergelap sebelum api dan pencahayaan buatan tercipta, di malam tak berbulan, mengamati puluhan ribu bintang tampak di dasar kegelapan langit malam. Bintang tercerlang berurutan diberi nama, bintang berdekatan diberi garis khayalan dan bentuk-bentuk abstrak diasosiasikan dengan sosok-sosok makhluk-makhluk supernatural, hingga aneka konstelasi terbentuk dan legenda mitos pun diciptakan. Ketakjuban akan keindahannya menciptakan rasa penasaran untuk melakukan pengukuran dan perhitungan, maka sains purba pun lahir. Kekaguman akan keluasannya menciptakan rasa ketakutan dan pengharapan, maka penyembahan agama awal pun lahir. Continue reading

Gunung Nglanggeran, Januari 2016

Sometimes you have to travel a long way to find what is near
― Paulo Coelho, Aleph

Saya selalu membayangkan kota Yogyakarta sebagai bocah SD kelas 2; imut, polos, sopan, tak ada cela dalam berperilaku, penurut pada perintah orang tua, dan manis tanpa banyak tingkah polah yang mencemaskan. Kadang saya merasa sedikit terenyuh ketika melihat kota ini yang terlihat sangat pemalu. Kesantunan dan keteguhannya memegang adat menjadikan kota ini benar-benar istimewa. Hal inilah yang membuat saya selalu menyambut gembira setiap kunjungan kembali ke kota ini dengan keistimewaan yang tak bisa saya temukan saat kunjungan ke kota lain (hanya Bukittinggi dan Solo mungkin yang menjadi saingan kuat). Setidaknya, dalam perjalanan terakhir saya yang belum lama sebelumnya ke kota ini, kesan tersebut masih tertancap kuat. Tapi, apa yang terjadi dalam perjalanan kali ini, mengobrak-abrik gambaran kepolosan kota ini. Ada banyak hal yang selama ini belum saya lihat, membuat ide saya tentang kota ini terusik. Namun sebagaimana diduga, tak ada kekecewaan yang saya rasakan. Sisi lain Yogya yang saya rasakan justru menjadikan kota ini sebagai kota yang manusiawi. Kota ini sudah beranjak remaja. Meski masih penurut, tetapi kadang dia bisa bengal jika diusik. Meski polos dan pemalu kadang sering degil dan ugal-ugalan. Dan itu yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan kota ini. Continue reading