Andes Mountains [bag. 1]

Plenty of feeling, plenty of kisses, plenty of love boom from a multicolored jukebox and in the back, behind the smoke, the noise, the solid smell of food and liquor, the dancing swarms of flies, there is a punctured wall—stones, shacks, a strip of river, the leaden sky—and an ample woman bathed in sweat manipulates pots and pans surrounded by the sputter of a grill
― Mario Vargas LlosaConversation in the Cathedral

Peru. Perkenalan saya dengan Peru dimulai jauh sebelum saya memahami konsep geografi, jarak, dan hal-hal teknis seperti suku bangsa dan perbedaan benua. Adalah serial komik Tintin yang mengenalkan saya pada eksotisme Peru (dan juga negara-negara lain yang dia kunjungi dalam petualangan-petualangannya). Pada salah satu seri petualangannya yang berjudul Prisoners of the Sun, Tintin dan kawan-kawan mengawali petualangannya di kota tepi laut Callao di bagian barat Peru untuk kemudian berlanjut ke rimba tropis di jantung pegunungan Andes di mana kuil-kuil misterius dengan berbagai pintu rahasia mengantarkan mereka pada ruangan yang berisi mumi yang dikutuk dan penuh harta karun. Setiap membaca Tintin, biasanya saya ditemani buku atlas dan saya akan segera mencari lokasi yang disebutkan di komik dalam peta yang disajikan sambil menebak-nebak seberapa jauh lokasi yang disebutkan dengan kota di mana saya tinggal saat itu. Dalam pikiran sempit saya kala itu, saya tak dapat membayangkan akan sejauh apa rumah saya dari Peru kecuali menebak-nebak tak pasti perlu waktu berhari-hari untuk bisa ke sana dengan biaya yang tak murah (tabungan saya di celengan tak akan pernah mencapai angka total biaya yang dibutuhkan seberapapun keras saya menabung). Semakin bertambah usia, dengan realita muram yang semakin tergambar nyata, mimpi untuk mengunjungi Peru terasa semakin mengabur karena gambaran jauhnya jarak yang harus ditempuh dan besarnya biaya yang dibutuhkan. Maka, ketika akhirnya saya benar-benar menginjak tanah di lokasi yang sama dengan Tintin mengawali petualangannya di Callao, udaranya terasa sangat familiar (udara yang sudah saya mimpikan dan bayangkan sejak zaman sekolah dasar), perasaan merinding itu begitu terasa mulai dari saya mendarat di kedatangan hingga kepulangan saya setelahnya. Continue reading “Andes Mountains [bag. 1]”

Karakoram-Himalaya Mountains [bag.5]

“You can look at a picture for a week and never think of it again. You can also look at a picture for a second and think of it all your life.”
― Donna TarttThe Goldfinch

Karena kamar tidur saya terpisah berada di lantai 1 yang harus keluar dulu untuk mencapainya, begitu keluar dari ruangan berkumpul lantai 2, saya menuruni tangga dan berjalan menyusuri parit kecil di tepi penginapan. Di desa yang lokasinya ada di jantung Himalaya ini, listrik hanya menyala dari jam 8 sampai 11 malam saja tiap harinya. Meski saat saya keluar itu listrik sudah mati, langit musim panas yang bersih tanpa awan membuat bulan kuarsa yang belum bundar sempurna membagikan cukup terangnya sehingga saya dapat berjalan tanpa perlu menyalakan lampu senter. Bahkan air parit yang bersumber dari lelehan es di puncak gunung dan amat jernih secara samar-samar berkilap memantulkan cahaya bulan redup. Saat saya mengalihkan pandangan pada gunung batu tinggi yang puncaknya ditutupi es putih (andai malam itu purnama, es di pucak gunung mungkin akan bersinar), melampaui ladang buckwheat yang siap dipanen, menghampar naik turun mengikuti kontur topografi yang miskin kawasan datar, menyambung terus sampai akhirnya dibatasi oleh sungai deras yang sayup-sayup terdengar gemuruhnya. Bintang-bintang berwarna perak semarak di langit membuat saya bertanya-tanya kapan terakhir kali saya melihat langit segemerlap dan sebanyak itu. Saya mematung hampir sepuluh menit sampai lamat-lamat angin Himalaya yang dingin mengusap lembut leher saya, memberi nasihat lirih jika saya tak bisa berlama-lama berdiri di luar sana jika tak ingin masuk angin. Ah, siapa yang tak terpesona oleh malam hening dan magis seperti itu? Sebelum saya menutup pintu, saya mengintip ke ladang-ladang buckwheat yang hening, mengharap dan memastikan apakah ada peri-peri dan pegasus malu-malu yang akhirnya akan keluar dari persembunyiannya, tergoda oleh aroma dan suasana malam yang kedamaian dan ketenangannya begitu menyihir? Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.5]”

Karakoram-Himalaya Mountains [bag.4]

“When you feel homesick,’ he said, ‘just look up. Because the moon is the same wherever you go.”
Donna Tartt, The Goldfinch

Sehari sebelumnya, saya menghabiskan waktu seharian untuk perjalanan dari kota Srinagar ke kota Kargil, melewati jalanan di lereng Himalaya yang kering kerontang dengan puncak-puncak tajam dan jurang menganga dalam dengan keindahan dan keajaiban yang mencekam. Pada hari berikutnya–dan juga hari-hari selanjutnya, saya menghabiskan waktu lebih banyak lagi di jalanan. Hal ini disebabkan karena tujuan yang akan saya datangi saling berjauhan di mana untuk menuju satu tempat memakan waktu seharian perjalanan. Dan seperti kata pameo yang sering digaung-gaungkan di buku-buku motivasi pengembangan diri: Proses lebih penting ketimbang tujuan. Perjalanan saya ke jantung Himalaya dan Karakoram membuktikan kebenaran pameo tsersebut. Menghabiskan waktu berhari-hari di jalanan Himalaya-Karakoram, mungkin adalah cara terbaik untuk menikmati keindahannya, ketimbang diam di tempat di satu tujuan. Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.4]”

Karakoram-Himalaya Mountains [bag.3]

“A great sorrow, and one that I am only beginning to understand: we don’t get to choose our own hearts. We can’t make ourselves want what’s good for us or what’s good for other people. We don’t get to choose the people we are.”
Donna Tartt, The Goldfinch

Terlalu mudah untuk ditebak, dan mestinya kamu sudah berpikir demikian jua. Alasan saya langsung setuju ikut ajakan perjalanan ke Kashmir tanpa berpikir dua kali adalah (sebagian besar) karena terpengaruh dari lagu Kashmir karya Led Zeppelin. Kashmir adalah lagu yang yang megah. Ketukan pertama nadanya yang epik dan kolosal sudah pasti akan membuat kamu ingin berteriak ‘whooaa-whoaaa-whoaaa’. Nada pembukaan lagunya memang sering dijadikan soundtrack pembukaan event yang kolosal. Tapi lagu Kashmir jauh lebih dari itu. Harmonisasi drum, gitar, bass, dan mollotron-nya menciptakan efek menghentak yang sensual, kesan etniknya terasa menonjol dan tak bisa ditemukan di lagu hard-rock lainnya. Bahas musikalisasinya sendiri akan jadi tulisan panjang, belum ditambah makna liriknya yang enigmatik, multitafsir, dan nyaris prophetic, menjadikan lagu Kashmir sebuah landmark besar dalam garis waktu musik dunia. Yep, lagu Kashmir adalah lagu resmi pengiringan perjalanan saya selama di Kashmir. Dalam dua hari, saya telah cukup banyak menyaksikan keindahan pemandangan di Kashmir. Tapi hari-hari berikutnya ternyata lebih dahsyat dari pada itu. Puncak-puncak es di gunung mahatinggi, amukan sungai-sungai liar, tebing bebatuan yang rasanya tak pernah ada orang yang menyentuhnya sejak ia diciptakan karena terhalang jurang-jurang dalam, bahkan gurun gersang di ketinggian. Lanskap surealis yang mengingatkan saya pada foto-foto daratan Mars di film-film fiksi ilmiah. Menyaksikan pemandangan abstrak seperti itu ditemani lagu Kashmir telah menjadi salah satu ekstasi tertinggi sepanjang saya menghirup udara di bumi ini. Saya memutar ulang lagu Kashmir terus menerus di Kashmir, dan sambil kamu meneruskan pembacaan tulisan ini, tak ada salahnya kamu memutar juga lagunya di bawah. Haha.

Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.3]”

Karakoram-Himalaya Mountains [bag.2]

“Stay away from the ones you love too much. Those are the ones who will kill you.” 
― Donna TarttThe Goldfinch

Ketika saya memutuskan untuk ikut perjalanan mengelilingi kawasan Himalaya-Karakoram ini, yang awalnya hanya diniatkan sebagai perjalanan road-trip tanpa ada kegiatan fisik berarti, tak terlintas di pikiran saya jika ada hari di mana kami akan melakukan perjalanan trekking melintasi hutan hampir setengah harian. Dan saya rasa memang teman-teman saya lain pun tak ada yang menduganya. Maka, teman-teman saya ada yang ‘salah kostum’ hari itu. Alih-alih memakai sepatu outdoor, dia malah memakai sandal dan pakaian semarak. Tak akan ada yang menduga jika perjalanan yang akan kami tempuh adalah perjalanan melalui jalanan setapak berbatu, menerabas semak belukar, menanjaki bukit terjal, atau melampaui tanah basah yang melesak. Bahkan si pemandu pun tak mengetahuinya, haha. Dasar. Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.2]”

Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]

“I had the epiphany that laughter was light, and light was laughter, and that this was the secret of the universe.”
― Donna Tartt, The Goldfinch

Kata “paradise” dalam bahasa Inggris (atau “firdaus” dalam bahasa Indonesia), memiliki akar kata dari bahasa Avesta (Iran Kuno) pairidaēza yang bermakna taman berdinding/berpagar/tertutup. Dalam konteks keagamaan, istilah tersebut memang diasosiasikan sebagai hunian eksklusif dengan pemandangan menawan dan kenikmatan tertinggi bagi mereka yang telah melewati fasa hidup fana di dunia setelah melakukan kebaikan-kebaikan yang disyaratkan dalam aturan agama tersebut, sehingga hanya mereka yang terpilih yang berhak memasukinnya. Sepanjang sejarah, taman-taman yang dibangun di kawasan Timur Tengah (mulai dari taman-taman historis yang telah musnah seperti Taman Tergantung Babilonia, hingga taman-taman dinasti Islam) mengikuti pakem tersebut, taman-taman istana dan publik mereka dibuat dan dilindungi dengan benteng-benteng sehingga untuk memasukinya harus melalui pintu-pintu tertentu saja yang dikawal penjaga. Begitulah, perjalanan saya menjelajahi pegunungan Karakoram dan Himalaya yang lalu sesungguhnya adalah perjalanan mengunjungi taman-taman firdaus, baik dalam pengertian spesifik berupa taman berbenteng, maupun taman firdaus dalam makna luas; saya menjelajahi tempat-tempat dengan keindahan luar biasa–saya sering kali kesulitan mendeskripsikan detail keindahannya–yang dipagari oleh gunung-gunung mahatinggi menjulang menusuk langit, yang acap kali untuk memasuki kawasannya, saya harus meminta izin pada penjaga bersenjata. Saya pikir saya telah banyak menyaksikan tempat-tempat surgawi sepanjang petualangan dan pendakian gunung-gunung yang telah saya lalui selama ini. Tapi perjalanan ke Karakoram dan Himalaya, memberikan pemahaman baru bagi saya dalam memahami ‘keindahan surga firdaus‘ yang tak saya duga sebelumnya.

Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]”

Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]

But the fool on the hill
Sees the sun going down
And the eyes in his head
See the world spinning round

― The Beatles, The Fool on the Hill

Jika saya menjadi seorang Julie Andrews maka saya sudah pasti menari-nari, melompat-lompat, bahkan berguling-guling sambil menyanyikan lagu seperti yang dia lakukan di film klasik fenomenal The Sound of Music (1965). Tentu saja saya tak melakukan itu semua karena akan tampak konyol jika dilihat orang lain, haha, meski saya tetap melakukan guling-guling di atas rumputnya sih. Di sini, udara terasa ringan. Tak beraroma, tak ada rasa panas atau dingin, tanpa ada kelembapan, tak mengandung butiran apapun murni seperti habis disuling. Tak ada beban sama sekali saat menghirupnya, membuat saya menghirup udara begitu perlahan tanpa ada ketergesaan. What a wonderful air! What a wonderful air! What a wonderful air! Saya mengucapkan mantra ini berkali-kali dengan mata terpejam sambil mengambil nafas dengan indera berusaha mengecap segala rasa di sekitar. Ah, siapa sangka jika tak jauh dari bukit permai dengan padang rumput hijau membentang luas ini, terdapat bayang-bayang kisah masa lalu yang kelam dan pedih. Bagian Peak District National Park yang saya datangi memang tak hanya menyajikan panorama memukau, tetapi juga keping sejarah masa lampau yang penuh kejayaan dan kemuraman. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]”