Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4]

The peace in nature fills his mind with calm and cheer, the bright green grass under his feet awakens a sense of beauty, almost of reverence. In the fragrance that is borne so sweetly to his nostrils, in the quietude that broods so blissfully around him, there is comfort and rest. The hillsides, the dingles, the waterfalls, and the mountains are all friends of his childhood, and never to be forgotten.”
― Halldór Laxness, Independent People

Syahdan, satu millenium yang lampau, para penjelajah laut bangsa Viking dari tanah Skandinavia di Eropa Utara* menjelajah lautan beku untuk mencari tanah pengharapan baru. Konflik dan perebutan lahan di Skandinavia membuat bangsa Viking nekat menjelajahi lautan beku dengan kapal seadanya ke arah barat (arah utara sudah pasti mustahil karena laut Artika sukar untuk ditembus dengan teknologi masa itu). Maka, mungkin di musim panas, akhirnya para pelaut bangsa Viking menemukan pulau besar yang udaranya cukup hangat dengan padang rumput hijau membentang sepanjang lembah-lembahnya, sekilas mirip dengan tanah Skandinavia yang mereka tinggalkan. Para penjelajah pioneer ini sadar bahwa pulau baru ini akan menggoda para pelaut Viking berikutnya untuk datang ke sana dan akan menimbulkan konflik perebutan lahan seperti di negeri Skandinavia asalnya. Maka para penjelajah pioneer ini menamakan pula baru itu sebagai “Ísland” atau “Iceland“, dengan harapan nama “tanah es” cukup untuk membuat para penjelajah berikutnya menghindari dan mengabaikan penemuan pulau baru yang sebenarnya hijau itu. Sementara itu, terpicu atas penemuan pulau besar itu membuat para penjelajah Viking semakin semangat untuk meneruskan pencarian pulau baru. Kegigihan menghantarkan mereka untuk berlabuh di pantai timur pulau yang lebih besar dan lebih raksasa, namun sayang sepenuh pulaunya ditumpuki es. Meski sepenuhnya pulau ini diisi es, penjelajah Viking menamakannya sebagai “Grønland” atau “Greenland“. Nama “tanah hijau” digunakan agar orang yang menyusul memilih menetap di Greenland yang penuh es ketimbang Iceland yang hijau. Maka, begitulah cerita asal-usul nama dan penemuan Greenland yang penuh es bertukar nama dengan Iceland yang hijau. Cerita yang cenderung jenaka ini menyebar di buku-buku sekolah dan bacaan, bahkan masuk dalam cerita di brosur wisata yang saya temukan di Reykjavik. Namun, tentu saja, cerita ini penuh dusta–atau setidaknya, tidak sepenuhnya benar. Mengapa kita lebih mudah mempercayai hal-hal yang tidak benar, mengapa cerita yang tidak benar begitu digemari?** Continue reading

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]

“Presently the small of coffee began to fill the room. This was morning’s hallowed moment. In such a fragrance the perversity of the world is forgotten, and the soul is inspired with faith in the future…”
― Halldór Laxness, Independent People

Pagi saya hari itu diawali persis sesuai kutipan buku Independent People di atas; Segera, cecahan harumnya kopi mulai mengisi ruangan. Momen kudus di pagi hari. Dengan semerbak aroma kopi, kebengisan dunia terlupakan, dan jiwa dipulihkan oleh iman kepada pengharapan masa depan… Aroma kopi di pagi hari kadang memang bisa membawa dampak sedahsyat itu. Gangsi biji kopi itulah yang langsung menyambut saya ketika saya sampai ke ruang makan pada pagi hari di penginapan rumah pertanian Steinsholt tempat kami menginap. Uap kopi panas tampak mengepul dari cangkir di meja makan depan teman saya sementara aromanya sudah menyebar ke seisi ruangan ketika saya masuk. Bulir-bulir debu yang terkena cahaya matahari pagi dari jendela raksasa di pinggir meja makan, berkilau dan memantul saat beradu dengan uap kopi. Tarian momentum hukum kinematika berpadu dengan hukum-hukum optika fisika menciptakan pemandangan berpijar yang menari-nari liar seolah kopi yang ada di meja adalah minuman ramuan sihir yang ada di kartun-kartun TV saat sang penyihir menebar mantra kepada eliksir misteriusnya. Saya memang gampang sekali terpukau oleh hal-hal sesederhana seperti ini. Melihat saya terpesona takjub menatap hanya cangkir kopi seolah itu ramuan ajaib betulan, seorang petugas penginapan dengan sigap mendekati saya dan menanyakan apakah saya ingin kopi juga, yang langsung saya jawab tanggap dengan anggukan mantap, “Yes! Yes! Yes! Without sugar, please…Continue reading

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 2]

“Shortly afterwards it started raining, very innocently at first, but the sky was packed tight with cloud and gradually the drops grew bigger and heavier, until it was autumn’s dismal rain that was falling—rain that seemed to fill the entire world with its leaden beat, rain suggestive in its dreariness of everlasting waterfalls between the planets, rain that thatched the heavens with drabness and brooded oppressively over the whole countryside, like a disease, strong in the power of its flat, unvarying monotony, its smothering heaviness, its cold, unrelenting cruelty. Smoothly, smoothly it fell, over the whole shire, over the fallen marsh grass, over the troubled lake, the iron-grey gravel flats, the sombre mountain above the croft, smudging out every prospect. And the heavy, hopeless, interminable beat wormed its way into every crevice in the house, lay like a pad of cotton wool over the ears, and embraced everything, both near and far, in its compass, like an unromantic story from life itself that has no rhythm and no crescendo, no climax, but which is nevertheless overwhelming in its scope, terrifying in its significance. And at the bottom of this unfathomed ocean of teeming rain sat the little house and its one neurotic woman.”
― Halldór Laxness, Independent People

Saya terbangun dari tidur dalam kondisi ganar. Dan ini pasti disebabkan oleh langitnya. Ketika saya tanpa sadar mulai tertidur, mungkin antara pukul 10 dan 11 malam, langit yang melingkupi kota Grundarfjörður masih terlihat calak. Saya tak sempat melihat warna jingga senja atau keremangan gelap malam. Pun saat saya terbangun jam 2 pagi, langit sudah terang dengan awan kelabu pucat berjejalan di tiap penjurunya. Membuat saya bertanya-tanya, apakah memang langit pernah mengalami kegelapan malam selama saya tertidur atau tetap dalam kondisi serupa, karena terang langit tak ada bedanya antara sebelum dan sesudah saya tertidur. Sedikit riset di internet, memberitahukan bahwa memang sempat ada kegelapan malam meski itu sesaat hanya sekitar 3 jam saja. Continue reading

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

“The most remarkable thing about a man’s dreams is that they will all come true; this has always been the case, though no one would care to admit it. And a peculiarity of man’s behaviour is that he is not in the least surprised when his dreams come true; it is as if he expected nothing else. The goal to be reached and the determination to reach it are brother and sister, and slumber in the same heart.”
― Halldór Laxness, Independent People

Ketika saya membeli buku Independent People karya Halldór Laxness enam tahun lalu di loakan buku bekas trotoar Jalan Dewi Sartika Bandung* tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa saya akan membaca buku ini di negara tempat sang penulisnya lahir, Iceland. Saya membelinya berbarengan dengan buku berbahasa Inggris bekas lainnya seperti Cold Mountain karya Charles Frazier yang dibeli karena bukunya sudah diadaptasi menjadi film yang membuat saya banyak tidak puas dan memutuskan untuk membaca sendiri bukunya, serta dua buah buku terjemahan Agatha Christie. Kecuali buku Agatha Christie, yang buku berbahasa Inggris, Independent People dan Cold Mountain, tentu saja tidak dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Tumpukan buku yang datang semakin menggunung sehingga membuatnya semakin kalah prioritas. Apalagi nama “Halldór Laxness” terasa asing sehingga semakin membuat saya menunda-nunda untuk membacanya alias tedorong semakin ke dasar timbunan buku-entah-dibaca-kapan dalam gunungan tumpukan buku saya. Bagaimanapun, saya pikir, dari 250 juta penduduk Indonesia, tak sampai 1000 orang pernah mendengar nama “Laxness” apalagi membaca sendiri buku karyanya. Saat saya mengkonfrontasikan kepada teman saya yang maniak baca pun apakah dia pernah mendengar nama “Halldór Laxness”, dia kehilangan petunjuk. Pun saat saya membeli bukunya, saya belum mengenal nama Laxness saat itu, hanya embel-embel “Winner of the Nobel Prize in Literature” di jilid depannya yang membuat saya tergerak melirik-lirik sekilas isi bukunya dan memutuskan mencoba untuk membeli. Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 3]

“It’s funny how the colours of the real world only seem really real when you viddy them on the screen.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

* ‘viddy’ is a Nadsat slang for ‘see’, Nadsat is a false language spoken by teenager in A Clockwork Orange

Kami menyebutnya sebagai “Minuman Kemenangan”. Tak ada yang spesial sesungguhnya. Biasanya yang disebut sebagai Minuman Kemenangan berupa minuman sereal, susu, bandrek, atau beberapa teman saya memilih kopi sachetan. Adapun penyebutan yang terkesan norak, alay, dan eksesif tersebut disebabkan karena kami meminumnya hanya saat mendaki gunung, tepatnya di pos terakhir perkemahan sebelum menaklukan puncak. Dengan segala kepayahan setelah pendakian seharian, istirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian esok dini harinya sangat diperlukan. Saat istirahat rileks dipenuhi canda tawa (atau caci maki meledek teman) itulah Minuman Kemenangan disajikan. Meski tak ada kesepakatan tegas di antara kami, tetapi gelar Minuman Kemenangan hanya disematkan untuk minuman di momen itu saja. Di saat-saat lain, misal berkumpul biasa di pos-pos pendakian lain, tak ada yang menyebut-nyebut “Minuman Kemenangan” meski yang disajikan sama saja. Minuman Kemenangan hanya disajikan saat kami sudah berjuang susah payah, menikmati setiap tetes keringat pendakian seharian, melepas segala kelelahan dengan kegembiraan, meresapi setiap kenikmatan kebersamaan sekecil-kecilnya, dan mensyukuri setiap anugerah keselamatan hidup yang mengiringi. Di Ambon, untuk pertama kalinya, setelah berjuang dan menikmati snorkeling seharian di Pantai Ora, kami harus mematahkan “kesepakatan” tersebut. Kami menegak “Minuman Kemenangan” lain, dalam bentuk yang… well… tak saya duga sebelumnya. Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 2]

“Welly, welly, welly, welly, welly, welly, well. To what do I owe the extreme pleasure of this surprising visit?”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Sekawanan ikan kakak tua—saya belum pernah melihat kawanan ikan kakak tua sebanyak ini sebelumnya—berenang melintasi sampan yang kami tumpangi. Warna hijau kebiruan cemerlang mereka semakin tertegaskan dalam kejernihan air yang bening bak gelas kualitas terbaik. Kurang dari sepuluh detik, saya langsung menyambar snorkel, kamera kedap air dan lompat ke laut untuk mengabadikan penampakan langka ini. Teman-teman saya melakukan hal serupa. Setelah melompat ke air, saya menengok kiri kanan untuk melihat kemana kawanan ikan tersebut pergi, suara deburan lompatan kami pasti mengagetkan mereka. Saat menengok kiri kanan itulah saya menyadari sesuatu yang buruk akan datang. Seketika saya menyadari kesalahan fatal yang telah kami lakukan. Bahkan sebelum saya sempat berteriak memperingatkan teman-teman saya, sesuatu yang amat saya takutkan datang menyambar mereka dalam tempo nyaris sekejap saking cepatnya. Saya bahkan tak sempat memikirkan nasib teman-teman saya, karena tepat pada detik berikutnya hal yang sama terjadi pada saya. Detik-detik berikutnya hanya ada kegelapan yang pekat, rasa ngeri yang mencengkeram amat erat, dan bayangan tentang hal-hal buruk yang amat sangat dekat… Dan penyesalan… selalu datang terlambat… Continue reading

Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

“Oh, it was wonder of wonders. And then, a bird of like rarest spun heavenmetal, or like silvery wine flowing in a spaceship, gravity all nonsense now, came the violin solo above all the other strings, and those strings were like a cage of silk round my bed. Then flute and oboe bored, like worms of like platinum, into the thick thick toffee gold and silver. I was in such bliss, my brothers.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Kamu tahu apa yang dimaksud dengan frasa “intipati keindahan dan kenikmatan dunia”? Setiap orang punya versinya masing-masing tentu saja, tapi saya rasa tak banyak yang bisa mengalahkan ini: membaca buku bagus seperti A Clockwork Orange* karya Anthony Burgess ditemani melodi enigmatik Fantaisie-Impromptu** dari Chopin, duduk di ayunan dengan kaki telanjang di pasir pantai hangat dengan angin mengalir selembut kapas memeluk, air laut jernih semurni embun pertama dini hari dan ombak sejinak bayi yang terlelap tidur. Percayalah, tak ada yang lebih melenakan selain bersantai saat menunggu senja di pantai, well, nama tempatnya memang begitu populer dengan puji-pujian tak berkesudahan tentangnya, Pantai Ora di tepian Taman Nasional Manusela, Pulau Seram. Continue reading