Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

IN the midway of this our mortal life,
I found me in a gloomy wood, astray
Gone from the path direct: and e’en to tell,
It were no easy task, how savage wild
That forest, how robust and rough its growth,
Which to remember only, my dismay
Renews, in bitterness not far from death.
― Dante Alighieri, Inferno: Canto I

Ketika turun dari puncak Tambora, ketika menelusuri dan menapaki kembali jejak-jejak pendakian hari sebelumnya, entah mengapa saya teringat pada bait-bait pembuka puisi Inferno*-nya Dante. Kalimat-kalimat pembuka prosa liris terdahsyat di dunia ini dibuka dalam kalimat-kalimat yang mengandung ketakutan, kebingungan, dan kecemasan. Di paruh usia kehidupan fana ini, kudapati diriku berada di hutan gelap, tersesat. Meninggalkan jalan yang telah ditunjuk dan diarahkan. Bukan perkara yang mudah, oh betapa liar dan buasnya. Hutan itu, yang tegap dan gabas tumbuhnya. Yang kuingat hanyalah kecemasan. Terbaharui, dalam kegetiran yang tak jauh dari kematian. Continue reading

Advertisements

Gunung Burangrang, Januari 2015

Mengandalkan citra live satelit cuaca, minggu kedua Januari lalu saya nekat hiking ke Burangrang meski sudah masuk musim penghujan. Tidak sepenuhnya akurat–cuaca lokal seperti hujan gunung memang tidak ditampilkan dalam citra satelit tsb–akhirnya saya mengalami juga hujan lebat di tengah gunung. Terakhir kehujanan kayaknya pas camping zaman SMA. Untungnya hujannya tidak lama, cuma sekitar 2 jam-an dan siang-siang sehingga tidak mengganggu waktu tidur waktu malam. Tapi lumayan lebat juga sih.

Karena Burangrang merupakan gunung yang suka dipakai latihan oleh TNI, perizinan mendaki ke sana agak sulit terutama kalau sedang dipakai latihan oleh mereka. Syukurnya kemarin sedang tidak digunakan latihan. Hanya ditanya-tanya sedikit mengenai tujuan dan rute pendakian saja.

Rute pendakian ada dua, lewat perkebunan (yang lebih singkat) dan lewat air terjung Layung (yang lebih memutar). Rombongan saya mengambil alternatif kedua (karena berangkat pagi sehingga perkiraan waktunya cukup sampai puncak sebelum malam).

Karena musim hujan, medan yang ditempuh cukup sulit, dedaunan yang licin dan lapisan mudcake yang gampang sekali bikin kepleset jika tak waspada. Jadi, meski rutenya tidak terlalu panjang, tetapi karena medan yang kurang kondusif sedikit keteteran juga sih. Tak mengejutkan jika beberapa spot ada epitaph-epitaph (batu penanda bahwa seseorang pernah meninggal di tempat tsb). Melihat epitaph di tengah gunung, selalu membuat saya merinding. Bukan dalam artian takut, tetapi lebih ke arah ‘sedih’.

Continue reading