Gunung Slamet (Februari 2018)

“Life is made up of sobs, sniffles, and smiles, with sniffles predominating.”
O. Henry, The Gift of the Magi

Adalah suatu hal yang tak bisa diduga kedatangannya. Daun-daun rimbun menapis cahaya matahari sehingga suasana hutan meremang meski jam masih menunjukan pukul empat sore. Angin semakin lama bertiup semakin lemah sehingga kegerahan semakin meraja dan keringat semakin bercucuran. Ketukan-ketukan lembut pada dedaunan yang ritmis terdengar di kejauhan di belakang kami, yang nadanya naik turun riuh rendah bahkan kadang menghilang. Sebelum saya dapat mengantisipasinya, hujan deras turun dalam hening. Bagi seorang pendaki, hujan bisa menjadi tantangan sendiri. Sebelum baju saya menjadi kuyup, saya segera mengeluarkan jas hujan yang sengaja saya tempatkan di kantong terdekat dan paling mudah diraih. Pendaki-pendaki lain yang tak siap, terlihat semakin kuyup sambil berusaha mencari pohon teduh untuk mengeluarkan jas hujannya. Beberapa orang terdengar menggerutu, sebagian cemberut, yang lainnya pasrah dengan senyum kecut. Namun bagi saya, hujan di gunung saat sore hari adalah sebuah janji. Janji bahwa kelak, saat hujan sudah berhenti dan kegelapan rimba sudah sempurna, akan tersibak misteri terbaiknya.  Continue reading “Gunung Slamet (Februari 2018)”

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4]

The peace in nature fills his mind with calm and cheer, the bright green grass under his feet awakens a sense of beauty, almost of reverence. In the fragrance that is borne so sweetly to his nostrils, in the quietude that broods so blissfully around him, there is comfort and rest. The hillsides, the dingles, the waterfalls, and the mountains are all friends of his childhood, and never to be forgotten.”
― Halldór Laxness, Independent People

Syahdan, satu millenium yang lampau, para penjelajah laut bangsa Viking dari tanah Skandinavia di Eropa Utara* menjelajah lautan beku untuk mencari tanah pengharapan baru. Konflik dan perebutan lahan di Skandinavia membuat bangsa Viking nekat menjelajahi lautan beku dengan kapal seadanya ke arah barat (arah utara sudah pasti mustahil karena laut Arktika sukar untuk ditembus dengan teknologi masa itu). Maka, mungkin di musim panas, akhirnya para pelaut bangsa Viking menemukan pulau besar yang udaranya cukup hangat dengan padang rumput hijau membentang sepanjang lembah-lembahnya, sekilas mirip dengan tanah Skandinavia yang mereka tinggalkan. Para penjelajah pioneer ini sadar bahwa pulau baru ini akan menggoda para pelaut Viking berikutnya untuk datang ke sana dan akan menimbulkan konflik perebutan lahan seperti di negeri Skandinavia asalnya. Maka para penjelajah pioneer ini menamakan pula baru itu sebagai “Ísland” atau “Iceland“, dengan harapan nama “tanah es” cukup untuk membuat para penjelajah berikutnya menghindari dan mengabaikan penemuan pulau baru yang sebenarnya hijau itu. Sementara itu, terpicu atas penemuan pulau besar itu membuat para penjelajah Viking semakin semangat untuk meneruskan pencarian pulau baru. Kegigihan menghantarkan mereka untuk berlabuh di pantai timur pulau yang lebih besar dan lebih raksasa, namun sayang sepenuh pulaunya ditumpuki es. Meski sepenuhnya pulau ini diisi es, penjelajah Viking menamakannya sebagai “Grønland” atau “Greenland“. Nama “tanah hijau” digunakan agar orang yang menyusul memilih menetap di Greenland yang penuh es ketimbang Iceland yang hijau. Maka, begitulah cerita asal-usul nama dan penemuan Greenland yang penuh es bertukar nama dengan Iceland yang hijau. Cerita yang cenderung jenaka ini menyebar di buku-buku sekolah dan bacaan, bahkan masuk dalam cerita di brosur wisata yang saya temukan di Reykjavik. Namun, tentu saja, cerita ini penuh dusta–atau setidaknya, tidak sepenuhnya benar. Mengapa kita lebih mudah mempercayai hal-hal yang tidak benar, mengapa cerita yang tidak benar begitu digemari?** Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4]”

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

IN the midway of this our mortal life,
I found me in a gloomy wood, astray
Gone from the path direct: and e’en to tell,
It were no easy task, how savage wild
That forest, how robust and rough its growth,
Which to remember only, my dismay
Renews, in bitterness not far from death.
― Dante Alighieri, Inferno: Canto I

Ketika turun dari puncak Tambora, ketika menelusuri dan menapaki kembali jejak-jejak pendakian hari sebelumnya, entah mengapa saya teringat pada bait-bait pembuka puisi Inferno*-nya Dante. Kalimat-kalimat pembuka prosa liris terdahsyat di dunia ini dibuka dalam kalimat-kalimat yang mengandung ketakutan, kebingungan, dan kecemasan. Di paruh usia kehidupan fana ini, kudapati diriku berada di hutan gelap, tersesat. Meninggalkan jalan yang telah ditunjuk dan diarahkan. Bukan perkara yang mudah, oh betapa liar dan buasnya. Hutan itu, yang tegap dan gabas tumbuhnya. Yang kuingat hanyalah kecemasan. Terbaharui, dalam kegetiran yang tak jauh dari kematian. Continue reading “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]”

Gunung Burangrang, Januari 2015

Mengandalkan citra live satelit cuaca, minggu kedua Januari lalu saya nekat hiking ke Burangrang meski sudah masuk musim penghujan. Tidak sepenuhnya akurat–cuaca lokal seperti hujan gunung memang tidak ditampilkan dalam citra satelit tsb–akhirnya saya mengalami juga hujan lebat di tengah gunung. Terakhir kehujanan kayaknya pas camping zaman SMA. Untungnya hujannya tidak lama, cuma sekitar 2 jam-an dan siang-siang sehingga tidak mengganggu waktu tidur waktu malam. Tapi lumayan lebat juga sih.

Karena Burangrang merupakan gunung yang suka dipakai latihan oleh TNI, perizinan mendaki ke sana agak sulit terutama kalau sedang dipakai latihan oleh mereka. Syukurnya kemarin sedang tidak digunakan latihan. Hanya ditanya-tanya sedikit mengenai tujuan dan rute pendakian saja.

Rute pendakian ada dua, lewat perkebunan (yang lebih singkat) dan lewat air terjung Layung (yang lebih memutar). Rombongan saya mengambil alternatif kedua (karena berangkat pagi sehingga perkiraan waktunya cukup sampai puncak sebelum malam).

Karena musim hujan, medan yang ditempuh cukup sulit, dedaunan yang licin dan lapisan mudcake yang gampang sekali bikin kepleset jika tak waspada. Jadi, meski rutenya tidak terlalu panjang, tetapi karena medan yang kurang kondusif sedikit keteteran juga sih. Tak mengejutkan jika beberapa spot ada epitaph-epitaph (batu penanda bahwa seseorang pernah meninggal di tempat tsb). Melihat epitaph di tengah gunung, selalu membuat saya merinding. Bukan dalam artian takut, tetapi lebih ke arah ‘sedih’.

Continue reading “Gunung Burangrang, Januari 2015”