Terbaik dan Terburuk di 2019

“Could it be because it reminds us that we are alive, of our mortality, of our individual souls- which, after all, we are too afraid to surrender but yet make us feel more miserable than any other thing? But isn’t it also pain that often makes us most aware of self? It is a terrible thing to learn as a child that one is a being separate from the world, that no one and no thing hurts along with one’s burned tongues and skinned knees, that one’s aches and pains are all one’s own. Even more terrible, as we grow old, to learn that no person, no matter how beloved, can ever truly understand us. Our own selves make us most unhappy, and that’s why we’re so anxious to lose them, don’t you think?”
― Donna Tartt, The Secret History

Butte-Montmartre, Paris. Saya terbangun jam 2 dini hari oleh dingin yang tetiba menyelusup karena saya lalai mengenakan kaos kaki sebelum tidur. Tapi bagaimanapun bukan sekedar hawa dingin yang membuat saya terbangun. Sebelumnya saya memang tak bisa tidur nyenyak karena terbangunkan oleh mimpi-mimpi rambang yang saya tak ingat persis apa saja, campur aduk antara bayangan sosok samar, selebihnya sesuatu yang tak jelas namun sangat mengganggu dan membuat saya terbangun dalam kondisi lelah. Tidur yang jauh dari kata lelap tersebut, memang bukan satu malam itu saja, tapi melewati malam berminggu-minggu sebelumnya. Siklus tidur kacau dan tak biasa ini memang bersumber pada hal-hal yang menjadikan tahun 2019 sebagai salah satu tahun terberat yang pernah saya jalani. Namun, sebagaimana halnya tahun-tahun lain yang telah terlalui, tentu saja tak ada juga hal-hal baik yang terjadi. Merefleksikan apa yang telah saya jalani sepanjang tahun 2019, menjadikan tahun 2019 sebagai tahun teraneh dimana mimpi terbaik dan terburuk saya terjadi di saat bersamaan. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2019”

Terbaik dan Terburuk di 2018

“I think that most of us feel like something is missing from our lives. And I wondered then if Knight’s journey was to seek it. But life isn’t about searching endlessly to find what’s missing. It’s about learning to live with the missing parts.”
Michael Finkel, The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit

Siklus kembali bergulir. 365 hari bukanlah waktu yang sebentar, banyak hal yang bisa dan telah saya lakukan sepanjangnya. Tak semuanya berisi suka cita tentunya. Dari ke-365 hari terlewat itu, sebagian tentu saja terasa berat dijalani dulunya, tetapi sekarang saat ditinjau kembali, malah terasa menggelikan dan sepele. Well, seperti biasa, saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman saya sepanjang tahun 2018 yang lalu lewat pembacaan buku, penyaksian film, dan pendakian gunung.

Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2018”

Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2016”

Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])

Selama bertahun-tahun, tidak pernah saya pertanyakan penjelasan sejarah yang mereka sampaikan. Saya juga tidak banyak memikirkan peristiwa 1965-66. Bagi saya, semuanya terasa seperti cerita-cerita usang dari masa lalu…
Tahun yang Tak Pernah Berakhir, hal. 25

Menjelang hari peringatan G30S yang lalu, halaman utama lini massa media sosial saya dipenuhi oleh berbagai artikel yang membahas peristiwa ini. Larut dalam keriuhan, saya memutuskan membaca buku yang membahas topik tersebut. Saya memilih untuk membaca buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, sebuah kumpulan essai sejarah mengenai kesaksian para penyintas korban peristiwa 1965. Saya membaca buku ini dalam format digital tentu saja (buku-buku yang ‘vulgar’ namun jujur menceritakan kengerian 1965, sangat sulit ditemukan di pasaran dalam bentuk kopian cetak asli. Terlebih untuk buku lain karya pengarangnya, John Rossa yang bertanggung jawab sebagai editor, dilarang beredar oleh Kejagung). Buku ini, yang merupakan kumpulan kesaksian dan kisah para penyintas korban 1965, langsung mengingatkan saya pada salah satu penyesalan terbesar saya di masa kanak-kanak lalu.

Continue reading “Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])”

Infinite Jest (David Foster Wallace)

“Mary had a little lamb, its fleece electrostatic
And everywhere Mary went, the lights became erratic.”
― David Foster Wallace, Infinite Jest

SO. F*CKING. LONG. DAVID.

GODDAMMITT. Just read the first 200 pages, when I realized, I didn’t have any idea what the book t about. Thy mercy, O LORD, help me. Continue reading “Infinite Jest (David Foster Wallace)”

Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari)

Novel ini mengingatkan saya pada banyak elemen di novel War and Peace-nya Leo Tolstoy. Sayangnya, Inteligensi Embun Pagi tidak berhasil membuat saya terpikat seperti halnya karya Leo Tolstoy tersebut. Continue reading “Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari)”

Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2015”

The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

Why did he kill the girl, and why did they kill him after that?
―Ana Torrent, El espíritu de la colmena (1973)

Selepas menonton film The Little Prince (Mark Osborne, 2015), saya mendiskusikan dengan teman-teman saya, mengenai film-film dengan tema kepolosan anak kecil yang begitu rapuh namun berharga hingga akhirnya dihancurkan oleh realitas kehidupan yang pedih nan keras. Di dunia dimana hal-hal ideal telah lama musnah, film-film (ataupun karya sastra) seperti ini menjadi pengingat kita bahwa mimpi dan imajinasi adalah hal yang amat langka dan gampang menguap seiring bertambahnya usia dan kegiatan yang bernama “menikmati hidup”. Apa sih nikmatnya hidup jika rutinitas dan ambisi menghempaskan kemurnian mimpi imajinasi? Continue reading “The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)”

Cain (José Saramago)

doubt is the privilege of those who have lived a long time,
― José Saramago, Cain

Saya pertama kali mengenal nama Saramago, pemenang Nobel Sastra 1998, dari novel Blindness dan tak perlu usaha keras untuk langsung jatuh cinta dengannya. Saramago adalah sebuah contoh paling nyata dan paling terang bagaimana sebuah keberanian (atau malah kenekatan) dipadukan dengan kepiawaian bercerita dan kejeniusan menyusun kata, bisa menjadi sebuah mahakarya literasi tak tertandingi. Dan novel Cain ini, bisa menjadi salah satu contoh kisah keberanian ini.

 

13318584
Apakah Cain sesungguhnya adalah seorang “Kesatria Iman”?

 

Continue reading “Cain (José Saramago)”

Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)

Saya jarang menonton film India. Jadi banyak film India yang mencengangkan terlewat begitu saja dari radar andai tidak diberitahukan oleh kawan-kawan dari forum diskusi. Saya hampir melewatkan film Ship of Theseus (2013) begitu saja padahal film ini menjadi film terfavorit saya di tahun 2013 lalu. Pun Supermen of Malegaon, saya harus tertunda selama 7 tahun untuk menyaksikan film luar biasa ini.

 

images-111664
Mungkin ini yang akan saya minta dari Super-Man jika bertemu, meminta dia menggoreng kerupuk dan gorengan dengan mata lasernya

 

Jika ada pepatah jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, maka pepatah untuk film ini adalah jangan menilai sebuah film dari posternya. Ya, posternya norak banget. Karena nyatanya film ini bercerita tentang pembuatan film yang norak juga. Tapi ada sesuatu lain yang sangat menghujam dalam saat menyaksikan film ini. Film ini, mungkin salah satu film paling menghentak yang saya saksikan sepanjang tahun ini. Continue reading “Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)”