Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading

Advertisements

Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])

Selama bertahun-tahun, tidak pernah saya pertanyakan penjelasan sejarah yang mereka sampaikan. Saya juga tidak banyak memikirkan peristiwa 1965-66. Bagi saya, semuanya terasa seperti cerita-cerita usang dari masa lalu…
Tahun yang Tak Pernah Berakhir, hal. 25

Menjelang hari peringatan G30S yang lalu, halaman utama lini massa media sosial saya dipenuhi oleh berbagai artikel yang membahas peristiwa ini. Larut dalam keriuhan, saya memutuskan membaca buku yang membahas topik tersebut. Saya memilih untuk membaca buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, sebuah kumpulan essai sejarah mengenai kesaksian para penyintas korban peristiwa 1965. Saya membaca buku ini dalam format digital tentu saja (buku-buku yang ‘vulgar’ namun jujur menceritakan kengerian 1965, sangat sulit ditemukan di pasaran dalam bentuk kopian cetak asli. Terlebih untuk buku lain karya pengarangnya, John Rossa yang bertanggung jawab sebagai editor, dilarang beredar oleh Kejagung). Buku ini, yang merupakan kumpulan kesaksian dan kisah para penyintas korban 1965, langsung mengingatkan saya pada salah satu penyesalan terbesar saya di masa kanak-kanak lalu.

Continue reading

Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading

The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

Why did he kill the girl, and why did they kill him after that?
―Ana Torrent, El espíritu de la colmena (1973)

Selepas menonton film The Little Prince (Mark Osborne, 2015), saya mendiskusikan dengan teman-teman saya, mengenai film-film dengan tema kepolosan anak kecil yang begitu rapuh namun berharga hingga akhirnya dihancurkan oleh realitas kehidupan yang pedih nan keras. Di dunia dimana hal-hal ideal telah lama musnah, film-film (ataupun karya sastra) seperti ini menjadi pengingat kita bahwa mimpi dan imajinasi adalah hal yang amat langka dan gampang menguap seiring bertambahnya usia dan kegiatan yang bernama “menikmati hidup”. Apa sih nikmatnya hidup jika rutinitas dan ambisi menghempaskan kemurnian mimpi imajinasi? Continue reading

Cain (José Saramago)

doubt is the privilege of those who have lived a long time,
― José Saramago, Cain

Saya pertama kali mengenal nama Saramago, pemenang Nobel Sastra 1998, dari novel Blindness dan tak perlu usaha keras untuk langsung jatuh cinta dengannya. Saramago adalah sebuah contoh paling nyata dan paling terang bagaimana sebuah keberanian (atau malah kenekatan) dipadukan dengan kepiawaian bercerita dan kejeniusan menyusun kata, bisa menjadi sebuah mahakarya literasi tak tertandingi. Dan novel Cain ini, bisa menjadi salah satu contoh kisah keberanian ini.

 

13318584

Apakah Cain sesungguhnya adalah seorang “Kesatria Iman”?

 

Continue reading