Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

“Oh, it was wonder of wonders. And then, a bird of like rarest spun heavenmetal, or like silvery wine flowing in a spaceship, gravity all nonsense now, came the violin solo above all the other strings, and those strings were like a cage of silk round my bed. Then flute and oboe bored, like worms of like platinum, into the thick thick toffee gold and silver. I was in such bliss, my brothers.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Kamu tahu apa yang dimaksud dengan frasa “intipati keindahan dan kenikmatan dunia”? Setiap orang punya versinya masing-masing tentu saja, tapi saya rasa tak banyak yang bisa mengalahkan ini: membaca buku bagus seperti A Clockwork Orange* karya Anthony Burgess ditemani melodi enigmatik Fantaisie-Impromptu** dari Chopin, duduk di ayunan dengan kaki telanjang di pasir pantai hangat dengan angin mengalir selembut kapas memeluk, air laut jernih semurni embun pertama dini hari dan ombak sejinak bayi yang terlelap tidur. Percayalah, tak ada yang lebih melenakan selain bersantai saat menunggu senja di pantai, well, nama tempatnya memang begitu populer dengan puji-pujian tak berkesudahan tentangnya, Pantai Ora di tepian Taman Nasional Manusela, Pulau Seram. Continue reading

Advertisements