Terbaik dan Terburuk di 2019

“Could it be because it reminds us that we are alive, of our mortality, of our individual souls- which, after all, we are too afraid to surrender but yet make us feel more miserable than any other thing? But isn’t it also pain that often makes us most aware of self? It is a terrible thing to learn as a child that one is a being separate from the world, that no one and no thing hurts along with one’s burned tongues and skinned knees, that one’s aches and pains are all one’s own. Even more terrible, as we grow old, to learn that no person, no matter how beloved, can ever truly understand us. Our own selves make us most unhappy, and that’s why we’re so anxious to lose them, don’t you think?”
― Donna Tartt, The Secret History

Butte-Montmartre, Paris. Saya terbangun jam 2 dini hari oleh dingin yang tetiba menyelusup karena saya lalai mengenakan kaos kaki sebelum tidur. Tapi bagaimanapun bukan sekedar hawa dingin yang membuat saya terbangun. Sebelumnya saya memang tak bisa tidur nyenyak karena terbangunkan oleh mimpi-mimpi rambang yang saya tak ingat persis apa saja, campur aduk antara bayangan sosok samar, selebihnya sesuatu yang tak jelas namun sangat mengganggu dan membuat saya terbangun dalam kondisi lelah. Tidur yang jauh dari kata lelap tersebut, memang bukan satu malam itu saja, tapi melewati malam berminggu-minggu sebelumnya. Siklus tidur kacau dan tak biasa ini memang bersumber pada hal-hal yang menjadikan tahun 2019 sebagai salah satu tahun terberat yang pernah saya jalani. Namun, sebagaimana halnya tahun-tahun lain yang telah terlalui, tentu saja tak ada juga hal-hal baik yang terjadi. Merefleksikan apa yang telah saya jalani sepanjang tahun 2019, menjadikan tahun 2019 sebagai tahun teraneh dimana mimpi terbaik dan terburuk saya terjadi di saat bersamaan.

Karena tak bisa lagi kembali tertidur, saya memutuskan keluar ruangan–niat membaca buku di dalam ruangan terasa tak kondusif sehingga saya memutuskan mencari café yang buka sampai larut malam–pembenaran mencari kudapan sih, haha. Dari aplikasi daring, café yang buka selarut itu jaraknya sekitar dua blok dari lokasi saya. Ditemani musik klasik karya Debussy–musik apalagi yang diperkenankan untuk diperdengarkan di Paris selain Debussy?–saya berjalan menuju café yang ternyata toko roti yang sekaligus menyediakan kopi dan olahan pasta. Saya memesan espresso dan pain perdu, lalu memilih duduk di kursi paling belakang. Meski hanya ada 3 pengunjung lain, saya memilih kursi yang membelakangi orang-orang. Sambil melanjutkan membaca Le Père Goriot dari Balzac dan mendengarkan musik Prélude à l’après-midi d’un faune dari Debussy, saya menunggu kedatangan pesanan saya. Dan tentu saja, upaya pembacaan buku saya gagal total. Sesuatu yang menggelisahkan, hal sama yang membuat saya tak bisa tidur lelap di malam-malam sebelumnya*. Saya tenggelam dalam perenungan dan lamunan tentang hal-hal pedih yang saya alami di tahun 2019. Ekspresi muka saya pasti tak enak dipandang sama sekali, karena saat si pelayan yang mengantar pesanan ke meja saya, dia mengerutkan kening, tatapan cemas khawatir dan bertanya ragu, ‘Ça va?’  yang saya jawab sangat pendek dengan senyum dipaksakan, ‘Ça va bien’.

*****

Sekian periode sebelumnya sebelum saya terdampar di Paris tersebut, saya mengunjungi seseorang di rumah sakit. Ini adalah pertemuan saya dan dia setelah sekian bulan. Awalnya saya dan dia tentu saja berhubungan dekat. Dengannya, saya terlibat banyak aktivitas, mulai dari nonton film, pergi liburan, bertukar buku bacaan, hingga melakukan aksi sosial bersama. Dengannya, saya saling menukar janji dan mimpi–dalam salah satu pertaruhan jenaka, saya dan dia saling meminta agar salah seorang diantara kami harus menjadi menteri pendidikan. Realita muram yang kami hadapi langsung saat mengunjungi sekolah di kawasan marjinal dan/atau terisolir membuat kami gregetan betapa niat untuk memajukan pendidikan bagi anak penerus nasib bangsa tak sekedar bisa diselesaikan dengan perubahan kurikulum belaka. Ada banyak malam yang kami lewati–dia dan saya adalah seorang penutur dan pendengar kawakan, sehingga obrolan harus dihentikan kalau tidak akan keterusan sampai pagi–dimana diisi dengan niat dan rencana upaya kami untuk mengubah dunia.

Hingga suatu malam, malam suram yang berbadai kencang, dia menghubungi saya via WA meminta sebuah bantuan. Tak ada gelagat sesuatu, sebelumnya kami bercanda-canda, saya mengiyakan bantuan yang dia minta tersebut dan menjanjikan kami untuk bertemu bergosip bersama di minggu berikutnya. Ketika minggu depannya datang, undangan perjanjian ketemuan tersebut tak pernah datang (dan juga minggu-minggu berikutnya), sementara saya juga disibukkan dengan kegiatan tertentu. Namun tepat di hari yang dijanjikan untuk awalnya ketemuan, dia keluar dari semua grup WA yang ada saya bersamanya termasuk grup-grup kerelawanan aksi sosial dimana dia biasanya sangat aktif memberikan bantuan maupun gagasan. Saya tak mencurigai sesuatu (mungkin ponselnya ganti nomor)–toh di grup-grup lain yang tak ada sayanya, dia masih aktif. Dan semuanya terjadi begitu cepat dan samar.

Saya yang memang tipikal orang yang tak ingin mengusik privasi seseorang, tak menghubungi dia kembali–toh hubungan kami baik-baik saja sebelumnya dan saya memberikan bantuan yang diminta dengan senang hati. Saya yang juga disibukkan oleh hal lain tak memaksa melakukan kontak. Hingga berbulan-bulan berikutnya tak saling mendengar kabar, saya dikabari jika dia sedang dirawat di rumah sakit. Hari itu juga saya langsung mendatangi rumah sakit tempat dia dirawat.

Apa yang saya kenang dari dia sebelumnya–seorang yang punya hati begitu lapang, tempat kawan-kawan lain mengeluh, seorang yang teramat antusias yang punya banyak mimpi dan tenaga yang seolah tak pernah habis untuk melakukan aksi nyata secara tanggap dan cekatan–tak saya jumpai lagi padanya saat itu. Mata berkilat-kilat jenaka itu, tergantikan mata sayu dan lelah, bibir yang biasanya begitu cekatan melontarkan candaan dan bahan pembicaraan menjadi begitu pucat. Bahkan tanpa perlu menjabat tangan, saya menyadari jika tangan yang biasanya selalu sigap membantu menjadi begitu kering dan tipis. Ketika saya akhirnya bersalaman dengan dia, dugaan saya benar, tak tersisa lagi ada daging di lengannya. Bola mata saya mendadak pedas seolah kemasukan cabai.

Dalam sisa tenaganya, dia tersenyum dan meminta maaf kepada saya–hal yang tak perlu karena saya pikir tak ada diantara kami yang bersalah dan membuat satu sama lainnya terluka. Dia yang awalnya canggung ketemu saya, perlahan memperoleh semangatnya begitu saya menggodainya, ‘kalau kamu sakit, siapa yang akan jadi menteri pendidikan?‘ Meski suster mengisyaratkan waktu kunjugan habis, dia memohon agar saya tetap ada di sana untuk beberapa saat lagi. Untuk menghiburnya, saya bernostalgia menceritakan ulah konyol kami saat melakukan aksi sosial di sebuah tempat terpencil. Dia tertawa lepas mendengarnya. Saya juga mengabarinya jika dalam beberapa hari mendatang saya akan berpergian ke luar negeri. Sedikit berbeda dengan kepergian saya sebelumnya, yang ini akan sedikit lebih lama sehingga saya meminta izin jika saya akan mengunjungi dia lagi setelah saya kembali dari luar negeri–dan tak lupa saya ‘mengutuk’ dia agar sudah sehat saat saya kembali. Sebelum saya berpamitan pulang, dia yang balik menggodai saya, ‘kalau kamu pergi, siapa yang akan jadi menteri pendidikan?‘. Kami masih tertawa sampai saya menutup pintu kamarnya.

Dua hari berikutnya, saat saya sedang mempersiapkan bahan materi untuk menjadi pembicara dalam 20 menit berikutnya, notifikasi pesan WA bertubi-tubi masuk ke ponsel saya. Aneka kabar dan pertanyaan masuk kepada saya untuk mengkonfirmasi jika orang tersebut meninggal pagi itu. Seketika saya mendadak linglung. Ketika giliran presentasi saya dimulai, saya sama sekali tak ingat sama sekali apa yang saya presentasikan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terhadap materi saya dari para audiens, saya jawab sekenanya. Yang saya ingat adalah begitu waktu giliran saya habis, saya langsung nyaris berlari mencari taxi menuju area pemakaman. Saat saya datang, telat tentunya karena macet, pemakaman sudah penuh dengan para pelayat. Dia orang yang sangat baik, begitu banyak kawan-kawannya rela datang jauh-jauh menyempatkan hadir di acara pemakamannya. Itu termasuk momen rekor saya mengeluarkan air mata terbanyak, yang berlanjut hingga malamnya. Ketika saya akhirnya pergi ke luar negeri pada hari berikutnya, perjalanan selama di pesawat hingga sampai di tujuan, tidur saya diisi banyak penyesalan dan kegetiran.

After the torchlight red on sweaty faces
After the frosty silence in the gardens
After the agony in stony places
The shouting and the crying
Prison and palace and reverberation
Of thunder of spring over distant mountains
He who was living is now dead
We who were living are now dying
With a little patience
T. S. Eliot -- The Waste Land

*****

Di suatu hari lainnya, pesawat yang mengantarkan saya ke sebuah kota baru mendarat belum dua jam berselang. Saya bahkan belum membongkar seluruhnya tas barang-barang saya, baru sempat makan malam yang terlambat dan berencana mau mandi terlebih dahulu ketika ponsel saya berbunyi. Ketika membaca nama yang muncul di layar panggilan, seketika perasaan tak nyaman meraja di hati saya. Perasaan tak nyaman yang muncul jika sesuatu yang buruk akan terjadi dan kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi tersebut. Pada deringan kedua–setelah saya berusaha menahan nafas sesaat sebelum mengangkat telpon–akhirnya saya mengatakan ‘halo?!‘. Dan memang demikianlah, terjadi sesuai dugaan saya.

Saya pikir saya berhenti bernafas ketika si penelepon mengabarkan dengan suara terbata-bata apa yang sesungguhnya terjadi, karena begitu dia berhenti berbicara untuk mendengar balasan saya, ada jeda hening cukup panjang dan saya merasa sesak nafas. Setelah menghirup udara panjang, dengan tak banyak lagi tenaga untuk berbicara, saya berbicara begitu lemah karena tak mau suara serak saya karena pengaruh lelehan air dari kelenjar lakrimaris terdengar oleh si penelpon, ‘Tolong, izinkan saya datang ke pemakaman… Tunggui saya… Sekarang saya masih di luar kota, penerbangan malam terakhir sudah lewat… Saya akan berusaha mencari tiket pertama besok pagi juga… Tolong tunggui saya… Tolong…‘ Sisa percakapan berikutnya tak saya dengar dan tak saya ingat lagi karena entah siapa yang memulai, hingga telepon ditutup, hanya ada suara sedu sedan yang terdengar di antara kami.

Sisa malam, setelah saya akhirnya mendapatkan tiket penerbangan pertama esok harinya jam 4 pagi, saya habiskan dalam cenungan yang melelahkan. Sama sekali tak bisa ditidurkan, ketika alarm berbunyi jam 2 pagi, saya segera bersiap memesan taxi. Mata saya pasti dalam kondisi buruk sekali karena ketika saya melihat sekilas ke cermin, saya merasa prihatin dengan tampilan sosok di sana. Saya mempertimbangkan apakah saya perlu memakai kacamata hitam, tetapi akan sangat aneh sekali dilihat orang-orang nantinya karena memakai kacamata hitam jam 2 dini hari. Saya masuk ke taxi dengan hanya mengenakan kacamata biasa saja dan mendapati ternyata menghadapi supir ceriwis yang terus berbicara untuk mengusir rasa kantuknya. Dengan respon saya yang pasif dan menjawab sekenanya, si supir melihat saya sekilas dari kaca depan mobil lalu mengatakan lirih, ‘maaf…’ yang saya jawab dengan anggukan ringan. Kami melaju dalam hening dan dinginnya udara dini hari di sisa perjalanan. Begitu saya akhirnya duduk di kursi pesawat, saya mengenakan penutup mata bukan karena ingin tidur tak terganggu, tetapi untuk membunyikan mata saya dari pandangan orang di sebelah saya yang mungkin saja penasaran dan menyelidik.

Jauh sebelumnya, saya memang sudah memberikan pesan jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada seseorang, saya minta dikabari. Saat saya akhirnya sampai di rumah duka, lara dan sesal yang sudah ditahan malam sebelumnya akhirnya bobol juga. Beberapa orang yang mengenal saya akhirnya memeluk saya tanpa mengatakan apapun–kadang, dalam duka yang begitu dalam, kata-kata penghiburan adalah hal yang sia-sia. Tindakan sederhana seperti pelukan dukungan jauh lebih berguna. Sudah hampir 7 tahun berlalu sejak terakhir kami berkomunikasi dengan riang–hari-hari dimana kami saling memberikan begitu banyak doa dan harapan. Ketika komunikasi praktis terputus, saya kadang masih mendengar kabar orang tsb lewat perantara orang ketiga. Lokasi yang jauh terpisah serta kesibukan saya sendiri, nyaris memudarkan kenangan saya tentangnya. Pada momen-momen tertentu, misal lewat pembacaan buku atau penyaksian film, saya mendadak teringat orang tersebut dan spontan mengucapkan semacam ikrar jika saya mestinya melakukan upaya komunikasi lagi dengannya. Dan kata-kata, terlalu mudah untuk menguap dan hilang luruh dalam pergantian masa.

If the lost word is lost, if the spent word is spent
If the unheard, unspoken
Word is unspoken, unheard;
Still is the unspoken word, the Word unheard,
The Word without a word, the Word within
The world and for the world;
And the light shone in darkness and
Against the Word the unstilled world still whirled
About the centre of the silent Word.
T. S. Eliot -- Ash-Wednesday
*****

Film-film Mengesankan 2019

Agnes Varda, mungkin sutradara perempuan terbesar sepanjang masa, meninggal di usia 90 tahun di bulan Maret tahun 2019. Kematiannya yang mengejutkan membuat minggu-minggu pertama saya di bulan April dihabiskan dengan menonton ulang film-filmnya sebagai upaya saya mengenang sutradara luar biasa ini. Setidaknya ada 18 film dari dia yang saya tonton secara maraton. Menonton secara bertahap film-filmnya dari mulai film La Pointe Courte (1954) sampai dengan film Visages Villages (2017) merupakan upaya yang mencenungkan–transisi dari film-film yang diisi oleh semangat serta patah hati oleh kehidupan hingga upaya kontemplasi memaknai hidup. Masa karir panjang Varda memang sangat panjang. Hingga akhirnya ketika film dia yang terakhir dirilis, Varda par Agnès (2019)–sebuah upaya rekoleksi kenangan dan memoir Varda sebagai orang perfilman–terasa sebagai film yang menyentuh dan menghipnotis. Apakah Varda mendapat firasat jika film dia terakhir adalah mesti film yang sekaligus merangkum jalan hidupnya?

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini saya tak menyertakan kategori film terburuk. Terlalu banyak hal menyedihkan terjadi, tak perlu ditambahkan dengan hal mengecewakan, kan? Haha. Sebagai gantinya, saya membuat kategori film dokumenter. Dengan banyaknya hal-hal buruk terjadi di tahun ini, tak perlu ditambahi hal-hal buruk lain yang mengundang makian dan cecaran, haha.

10 Film Dokumenter 2019 Terbaik

10. The Disappearance Of My Mother (Beniamino Barrese, USA)
Ketika seseorang menetapkan keputusan untuk mengisolasi diri dari kehidupan dunia, apa yang akan dilakukan orang-orang terkasihnya? Ketika keputusan personal seseorang ikut menyentuh nilai-nilai kemanusiaan secara universal, hasilnya sangat lembut dan mengetuk.

9. The Brink (Alison Klayman, USA) + Hail Satan? (Penny Lane, USA)
Berita politik-agama sehari-hari sudah menjenuhkan sebagian orang dan mungkin menghindari menonton film dokumenter dengan topik tersebut. Namun Klayman dan Lane, membawa dua topik ini dengan cara jenaka dan tak membosankan.

8. Charlie Says (Mary Harron, USA) + Midnight Family (Luke Lorentzen, USA)
Pembunuhan oleh kelompok cult Charles Manson bukan hanya sekedar tindakan kriminal terhadap tokoh terkenal belaka, tetapi sebuah jejak sejarah tebal yang mengakhiri sebuah era dan budaya. Mary Harron membawakan cerita tentang pembunuhan sensasional ini (yang pastinya sudah banyak diulas di berbagai buku/film/majalah/koran dengan ribuan versi hingga konspirasi) dengan tetap segar. Sementara Luke Lorentzen menarasikan sebuah kejahatan lokal dan subtil yang tak disadari kebanyakan dan mencoba diabaikan, namun tak terhindarkan.

7. American Factory (Julia Reichert and Steven Bognar, USA)
Ketika hubungan politik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan China semakin tajam dan menganga, para pekerja pabrik Amerika di sebuah perusahaan China menggantungkan harapan dan mimpi pada sesuatu yang rapuh dan bergejolak. Bagaimana dampak politik antar negara menggerus dan mengancam kehidupan orang-orang kecil tak berdaya, dipertaruhkan karena ego kepala negara.

6. Rolling Thunder Revue: A Bob Dylan Story by Martin Scorsese (Martin Scorsese, USA)
Ketika salah satu legenda hidup musisi terbesar di dunia dibuatkan film dokumenternya oleh salah satu sutradara terbesar saat ini, maka sudah pasti filmnya wajib ditonton, kan?

5. Apollo 11 (Todd Douglas Miller, USA)
Ketika saya masih kecil dan masa liburan sekolah, kakek mengajak saya menjagai ladang jagung dari serangan babi hutan. Sambil menunggu ubi bakar matang, saya berbaring menghadap langit beralaskan paha kakek saya. Terbuai oleh pemandangan langit musim kemarau yang menggetarkan, saya berusaha khusyu mendengarkan cerita kakek tentang rasi bintang-bintang dan benda langit malam (yang tentu saja selalu saya sela untuk membandingkannya dengan buku-buku sains yang saya baca). Dalam salah satu cerita, kakek menceritakan bagaimana dia di bulan Juli 1969, saat akhirnya Apollo mendarat di bulan (pukul 3.17 dini hari waktu Indonesia bagian barat), bersama rekan-rekannya, kakek menatap rembulan malam sambil mendengarkan pengumuman radio yang memberitakan manusia akhirnya berhasil meninggalkan jejak kaki di sana untuk pertama kalinya.

Pendaratan manusia di bulan adalah pencapaian terbesar manusia sebagai spesies di bumi yang hingga kini sulit dicarikan tandingannya. Upaya monumental ini meski dilakukan atas nama Amerika Serikat, tetapi merupakan upaya kolektif dan kumulatif manusia dalam hal sains dan teknologi segala masa. Di tahun 1969, ketika kondisi politik dan ekonomi Indonesia masih bergejolak, pengumuman pendaratan manusia di bulan yang didengar kakek saya pasti sangat mengegarkan. Bulan yang jauh di langit sana, yang selama ribuan tahun dianggap sebagai tempat yang tak akan pernah bisa dikunjungi manusia serta menjadi objek mitos dan legenda lokasi tempat tinggal dewa, akhirnya diinjak manusia. Di tahun 2019 adalah perayaan ke-50 tahun pendaratan manusia di bulan. Dalam rangka perayaan setengah abad prestasi akbar ini, saya menonton dan membaca banyak sekali artikel yang berkaitan dengannya, termasuk menonton film Apollo 11 karya Todd Douglas Miller yang sukses merekam perjuangan dan semangat misi Apollo 11 dengan begitu hidup dan nostalgia. Dan selama penyaksian film ini, saya selalu teringat malam berbintang itu, ketika kakek saya mendongeng pengalamannya mendengar berita pendaratan manusia di bulan. 

30th Anniversary of Apollo 11 Moon Mission
Edwin Aldrin (atau akrab dipanggil Buzz) menghadap Apollo Lunar Module yang mengantarkan para astronot pemberani ini mendarat ke permukaan bulan (sumber)

4. Varda by Agnès (Agnès Varda, France)
Film memoir ini secara sempurna merupakan mengintisarikan perjalanan karir sekaligus perpisahan Varda pada dunia sinema selamanya. Ketika film berakhir, saya merasa sedih karena tak akan lagi menyaksikan karya-karya Varda kembali.

3. One Child Nation (Nanfu Wang and Jialing Zhang, USA)
Film ini sudah pasti tak akan diputar di China daratan. Ketika kebijakan 1 anak 1 keluarga diterapkan di sana di awal tahun 1980an (dan akhirnya dihentikan di tahun 2015), tak akan bisa dibayangkan bagaimana dampaknya bagi ratusan juta orang di China. Film ini menelusuri jejak luka selama 30 tahun yang menghasilkan konsekuensi mengejutkan bagaimana kebijakan negara berdampak pada kehidupan rakyat kecilnya.

2. The Edge of Democracy (Petra Costa Beniamino Barrese, Brazil)
Film yang merunut jejak politik modern di Brazil (negara terbesar di Amerika Selatan dalam hal area dan penduduk) yang ruwet sebagaimana politik negara dunia ketiga lainnya, dengan sabar mendedah kehidupan politik yang korup dan berujung pada kulminasi kemenangan partai politik Alliance for Brazil. Ketika rakyat sudah jenuh dan muak dengan pemerintahan lama, mereka mencari harapan baru pada partai baru. Dan, sebagaimana yang telah saya diskusikan mengenai hal ini di tahun lalu, demokrasi putus asa ini akhirnya berujung pada kehadiran demagog baru: Jair Bolsonaro. Hasil dramatis ini sampai sekarang membuat saya ngeri karena kasus serupa bisa saja terjadi di Indonesia–nyaris. 

1. Honeyland (Tamara Kotevska & Ljubomir Stefanov, Macedonia) + 63 Up (Michael Apted, UK)
Apakah film-film hebat selalu bercerita tentang tokoh-tokoh besar dan terkenal? Tentu saja tidak. Dalam Honeyland, tokoh yang dipotret adalah petani lebah nun jauh di pegunungan terpencil di Macedonia. Narasi Kotevska dan Stefanov yang liris benar-benar menyentuh, bagaimana profesi marjinal seperti ini harus tertatih di tengah gempuran budaya kapitalisme dan globalisasi. Setelah film berakhir, kita akan bertanya-tanya bagaimana nasib si pengepul madu selanjutnya.

Sementara dalam 63 Up, tokoh-tokohnya adalah orang-orang biasa yang diikuti perubahan nasibnya setiap 7 tahun sekali (63 Up adalah sebuah dokumenter serial bagian dari Up Series, dimana sejak umur 7 tahun anak-anak ditanya mengenai mimpi-mimpinya). Lalu setiap 7 tahun sekali (7, 14, 21, 28, 35, 49, 56, dan sekarang 63) dihadirkan perkembangannya bakal menjadi apa. Hasilnya membuat saya merinding. Saat kecil, kita pasti punya mimpi dan cita-cita hebat dan mahal (astronot, dokter, presiden, dan hal lain) namun belum tentu semuanya terwujud. Setiap 7 tahun sekali, orang-orang dalam objek film ini diingatkan tentang mimpi mereka–yang tak jarang punah seiring bertambahnya usia. Ketika jalan nasib berbelok dan berputar, hasilnya selalu tak terduga.

 

20 Film 2019 Terbaik

Dalam dunia yang berlari cepat, dunia kadang tak peduli dengan masalah personal individu. Ketika segalanya menjadi tergesa-gesa dan gegap gempita penuh sorak-sorai (atau rengekan karena nestapa bencana), hal-hal kecil seperti film-film anti-mainstream kadang bisa menawarkan sebuah oase yang hening dan menenangkan. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, saya banyak menengok kembali film-film lama untuk menyaksikan apa yang bisa ditawarkan sinema ketika mereka tak terlalu diburu oleh target penjualan yang menyodorkan pemasaran yang berisik. Ketika saya menonton film The Tree of Wooden Clogs / L’Albero degli zoccoli (Ermanno Olmi, 1978) saya benar-benar tak bisa mengantisipasi jika nasib yang menimpa karakter-karakternya akan membuat saya begitu tersentuh begitu dalam. Atau film The Color of Pomegranates / Tsvet granata (Sergei Parajanov, 1969) yang sangat puitis dan magis, sulit dicari film di zaman sekarang yang bisa seperti ini. Tentu saja ada banyak film-film lama lainnya. Total saya menonton film lama (sebelum era 2000-an) sekitar 80-an film.

Sementara itu, untuk film-film 2019 yang saya tonton, saya mencoba merangkumkan apa saja film-film terbaik menurut saya. Bisa diduga, sebagaimana halnya tahun lalu, film-film blockbuster akan luput dari daftar ini.

20. A Hidden Life (Terrence Malick, USA)
Menonton film-film Malick adalah seperti menjalani sebuah ziarah dan doa. Bahkan di film yang bertema perang pun, kita bisa menemukan–aneh memang–kekhusyuan.

19. The Lighthouse (Robert Eggers, USA)
Seperti kembali ke era kejayaan film-film hitam putih dan bisu (dialog di film ini cukup minim), teror dan mimpi dicampuradukkan sedemikian rupa sehingga tak hanya karakter film-filmnya yang terhantui, tetapi penonton juga.

18. Fireflies (Bani Khoshnoudi, Mexico)
Seorang pria yang berusaha kabur dari persekusi negara Iran dan mengungsi lewat kapal kargo, malah terdampar di Mexico karena kapal yang dia naiki salah tujuan. Keluar dari mulut harimau masuk ke mulut singa adalah peribahasa tepat bagaimana kesulitan dan frustasi yang dialami olehnya juga mempengaruhi para penontonnya.

17. Midsommar (Ari Aster, USA)
Apakah mungkin menampilkan teror dan horor di tengah terik siang bolong yang terang benderang? Ketika hampir semua film horor disajikan dalam kondisi gelap malam atau remang-remang, Aster malah menyajikan tontonan horor dalam suasana berwarna dan terang benderang. Hasilnya adalah tontonan yang aneh tanpa kehilangan momen menegangkan dan menyeramkan.

16. Parasite (Bong Joon-ho, South Korea) + The Last Black Man in San Francisco (Joe Talbot, USA)
Kedua film ini adalah contoh sangat baik bagaimana film sebagai media penyampaian ide dan pesan dieksekusi secara maksimal segala potensinya dengan hanya sedikit celah bagi penonton untuk mengkrititisi–yang tentu saja tak banyak berarti.

15. Ash Is Purest White (Jia Zhangke, China) + The Wild Goose Lake (Diao Yinan, China)
Dua film ini, yang sama-sama merekam jejak dunia bawah tanah mafia dan kriminal, tak seperti film-film kriminal lainnya yang gegap gempita dan berisik, malah disajikan secara hening dan lembut. Seperti aliran sungai yang tenang dan mengalir ke lautan, ketika kredit akhir dari film ini keluar, para penonton akan menyadari bahwa kisah sesungguhnya baru saja dimulai.

Long_Days_Journey_04_PP
Saat si tokoh utama di film Long Day’s Journey Into Night kembali ke desa kelahiran, kenangan, nostalgia, dan hasrat tak terkubur seiring waktu tetap bangkit dan menghantui dia dalam konsekuensi tak terduga

14. Long Day’s Journey Into Night (Bi Gan, China)
Dari durasi dua jam lebihnya, satu jam terakhir benar-benar sebuah mahakarya tak bercacat.

13. I Lost My Body (Jérémy Clapin, France)
Begitu banyak hal berlalu dan pergi dari kehidupan kita–apakah akan ada hal-hal yang datang sebagai penggantinya?

12. The Irishman (Martin Scorsese, USA)
Scorsese menyajikan kisah mafia dalam gaya tragicomedy Shakespearean dalam durasi yang cukup panjang namun tetap membuat betah untuk ditonton.

11. I Do Not Care If We Go Down in History as Barbarians (Radu Jude, Romania)
Jude, yang film Aferim!-nya yang aneh juga saya sukai, kembali menyajikan film ganjil lainnya tentang topik sensitif, pembantaian hampir 100,000 orang Yahudi oleh pemerintahan negara tempat si sutradara tinggal; Romania.

10. Pain and Glory (Pedro Almodóvar, Spain)
Di usia paruh baya, kita pastinya akan melakukan hal serupa yang dilakukan si tokoh utama: mengenang apa saja segala kegetiran dan kejayaan yang pernah dialami dalam hidup.

9. Atlantics (Mati Diop, France/Senegal)
Terlalu banyak misteri yang tak terduga, selain para penonton harus pasrah dan mengagumi kenyataan bahwa film luar biasa ini adalah film panjang pertama yang dibuat oleh sang sutradara.

8. Synonyms (Nadav Lapid, Israel/France)
Tidak semua orang akan menyukai film ini. Narasi dan penokohannya, yang sekilas tampak clumsy, sesungguhnya adalah perwujudan dari kondisi gila bagaimana perang dapat menimbulkan trauma mendalam bagi orang-orang.

7. Beanpole (Kantemir Balagov, Russia)
Ini adalah kisah bagaimana seseorang yang tak berdaya dan bukan siapa-siapa berupaya mengais-ngais secercah harapan diantara kegilaan dan carut-marut perang.

6. Bait (Mark Jenkin, UK)
Inilah kenapa kita harus menonton film-film independen. Cukup dengan premis cerita sederhana, kita disajikan sebuah mahakarya yang berkelok, yang tak seperti film berbiaya besar yang buatan cetakan mesin, tetapi dipoles dengan dedikasi dan ketelatenan tak henti oleh tangan berbakat.

5. Portrait of a Lady on Fire (Céline Sciamma, France)
Menggabungkan sisi sensual, melankolis, serta romantis dalam drama intens yang lembut dan… membakar.

4. The Tree (André Gil Mata, Portugal/Bosnia and Herzegovina)
Dari narasi super singkat: Seorang anak mengambil air di sungai, mungkin tak bisa dibuatkan sebuah plot cerita yang menarik dan pelik. Tapi  Di tangan Mata, plot yang sekilas tampak membosankan ini malah menajdi cerita yang membelit dan berpilin. Bagi fans film-film Andrei Tarkovsky, Béla Tarr, atau rekan sejawat senegaranya Pedro Costa (yang filmnya tampil juga di daftar ini), film Mata ini benar-benar sebuah anugerah besar.

3. Birds of Passage (Ciro Guerra & Cristina Gallego, Colombia) + Monos (Alejandro Landes, Colombia)
Tahun ini adalah tahun kemenangan besar bagi negara Colombia. Meski politik negaranya sedang tergoncang di tahun 2019 kemarin, tetapi kreativitas di bidang sinema termasuk dalam puncak kejayaan. Bird of Passage yang mencampuradukkan surrealisme magis dalam kisah mafia unik, dan Monos yang seperti hybrid ala Apocalypse Now dan Lord of the Flies, adalah kisah alegoris yang menghentak dan tajam.

2. Vitalina Varela (Pedro Costa, Portugal)
Costa Yang Agung, benar-benar melakukan effort yang sangat minimalis dalam menghasilkan karya minimalis dengan hasil super maksimalis. Mengkombinasikan mimpi buruk dan kisah sendu, sering kali saya berujar secara spontan pada tokoh utama, ‘Please, be tough!’

1. An Elephant Sitting Still (Hu Bo, China)
Ini adalah film pertama dan terakhir dari Hu Bo–dia bunuh diri tak lama setelah filmnya selesai di usia 29 tahun. Inilah mengapa saat menonton filmnya saya mencari jejak depresi, putus asa, kesendirian, kesepian, keterasingan, dan penderitaan yang coba dia samarkan pada karyanya–dan saya menemukan segalanya hampir di tiap adegan filmnya. Andai Hu Bo masih hidup, dia akan menjadi sutradar besar di masa depan. Andai… 

*****

Hal yang membuat masygul di tahun 2019 ini adalah banyak hal terjadi sesuai dengan kekhawatiran saya di tahun 2018 lalu. Tahun 2019 adalah tahun yang bergejolak bising dan rusuh. Dimulai dari tensi yang meledak-ledak menjelang, sesaat dan setelah pemilu presiden (ketika hari pencoblosan, saya yang sedang tak berada di Indonesia benar-benar merasakan kedamaian tak terperi), dilanjutkan demonstrasi massif yang menewaskan pendemo secara tragis dan kita mungkin tak akan pernah mendapati pengusutan dan memperoleh keadilan terhadap korban. Ketika demo-demo damai berujung kekerasan di berbagai belahan dunia lain seperti Hongkong, Kashmir, Lebanon, Chile, Columbia, Irak, dan berbagai tempat lain yang sedang memperjuangkan masa depannya, saya tak pernah membayangkan jika kejadian serupa akan terjadi di Indonesia. Ini benar-benar sesuatu yang tak terbayangkan bagi saya bahwa demokrasi yang sedang dijalani ternodai oleh kepentingan segelintir orang yang begitu laten dan berkuasa, sehingga kematian orang-orang tak bersalah ini hanya akan dianggap sebagai riak tabel statistik biasa.

Sementara itu, isu-isu lebih besar seperti climate change, mendapatkan publikasi besar di tahun ini–menandakan isu ini semakin besar dan kritis. Majalah-majalah seperti TIME, The Economist, The New Yorker, dan National Geographic (sebagian dari majalah yang rutin saya baca) secara serentak mengeluarkan isu khusus tentang climate change dan dampaknya bagi dunia. Demonstrasi serentak dari hampir segala penjuru dunia dilakukan untuk mendesak agar para politikus melakukan aksi nyata bagi lingkungan. Tak hanya orang dewasa, anak-anak yang turun serta ke jalan berdemo terasa menyentuh saya–bagaimana mereka sudah punya kesadaran jika masa depan yang mereka perjuangkan adalah untuk mereka sendiri di masa mendatang. Namun, ya apalagi yang bisa kita harapkan, Indonesia secara ironis sebagai negeri yang bakal mengalami dampak besar dari perubahan iklim, malah terjerembab menjadi negara dengan jumlah penyangkal isu climate change terbesar di dunia.

Namun tentu saja tahun 2019 juga bukan melulu masalah demonstrasi dan kekerasan. Beberapa perayaan seperti peringatan hari lahir Leonardo da Vinci ke-500 yang saya datangi di salah satu tempat membawa sebuah angin segar karena saya bisa mempelajari kisah hidup Da Vinci yang luar biasa jenius secara lebih dekat–salah satu buku yang saya baca tahun ini tentu saja tentang Da Vinci. Di tahun ini juga, beberapa karya saya akhirnya dipublikasikan sehingga saya cukup sering berpergian ke berbagai tempat secara gratis, haha. Ya begitulah, tahun 2019 adalah tahun yang semarak dan berwarna. Ada momen saya terperosok begitu dalam, namun ada juga momen ‘bangkit’ yang membuat saya berpikir bahwa hidup masih layak untuk dinikmati.

*****

Buku-buku Mengesankan 2019

Dengan terjadinya berbagai ‘drama’, bisa diduga pembacaan buku saya lebih lambat daripada tahun sebelum-sebelumnya. Tahun 2019 saya hanya membaca 200 buku lebih sedikit, berkurang drastis ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Dari jumlah yang sedikit ini, saya akan coba pilihkan beberapa bacaan yang saya anggap menarik.

Di tahun ini, saya banyak sekali membaca buku studi kritis agama, buku-buku yang mencoba mendedah doktrin agama dari segi historisitas dan tafsir–tentu saja buku-buku yang saya baca tak terbatas dari satu agama saja. Mempelajari agama-agama dan evolusi sejarah serta tafsir ajaran keagamaan bisa menjadi salah satu jendela untuk melihat dan memahami mengapa berbagai hal bisa terjadi di dunia. Sejarah dunia, yang tak luput dari motivasi-motivasi menyebarkan ajaran agama atau pemerintahan berdasarkan ajaran agama, bisa difahami dan ditelusuri dari sejarah agama yang ada.

Untuk bacaan buku sains ringan, saya merekomendasikan buku Strange Harvests: The Hidden Histories of Seven Natural Objects karya Edward Posnett. Menarasikan bagaimana 7 objek konsumsi diperoleh (salah satunya adalah kopi luwak) membuat saya mendapatkan pengetahuan baru dan menarik bagaimana benda-benda yang terkenal mahal ini memang harganya tinggi karena proses untuk memperolehnya sangat sulit. Sementara buku Mama’s Last Hug: Animal Emotions and What They Tell Us about Ourselves karya Frans de Waal akan mengajari kita bahwa apa yang manusia dapati dari anugerah evolusi (kesadaran, kecerdasan, empati, dan sebagainya) adalah warisan dari jalur evolusi dan kita harus belajar menggunakannya dengan bijak dengan bercermin pada hewan-hewan yang (secara mengejutkan) juga memiliki hal-hal serupa meski dalam kadar berbeda.

51kmp8J8CgL._AC._SR360,460
Membaca buku politik-sejarah-antropologi mungkin terdengar membosankan. Tetapi di tangan Diamond, narasi rumit nasib sebuah negara diceritakan dengan begitu asyik seolah didongengi

Buku Origins: How Earth’s History Shaped Human History karya Lewis Dartnell adalah buku yang membuka wawasan luas bagaimana kita sebagai manusia, dari hanya sekian persen komponen bumi, lahir dan tumbuh dengan sangat bergantung pada bumi. Alih-alih frasa ‘manusia mengubah bumi‘, buku ini menjelaskan dengan amat sangat baik bahwa justru bumi lah yang mengubah takdir manusia. Adapun buku Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis karya Jared Diamond mengajak kita untuk memahami ‘mengapa sih dunia saat ini kacau balau’ dan beberapa negara justru bisa melewati bagian kekacauan ini sementara negara lain tidak bisa, dari sudut pandang sejarah dan antropologi. Lebih menarik lagi, salah satu negara yang dibahas adalah Indonesia–dan kita bisa menentukan sendiri, Indonesia ada di posisi mana, negara berhasil lolos dari kemelut atau tidak.

Adapun untuk buku-buku sejarah, saya merekomendasikan buku Caliphate: The History of an Idea karya Hugh KennedyThe Arabs: A History karya Eugene Rogan, dan The Life and Legend of the Sultan Saladin karya Jonathan Phillips. Ketiga buku ini memiliki kesamaan karena membahas kekhalifahan Islam dari sejak berdiri hingga keruntuhannya. Jangan khawatir membaca buku yang mirip-mirip terdengar jenuh, masing-masing penulis buku ini menawarkan persepsi dan argumen baru yang tak hanya segar tetapi juga menantang. Tentu saja disajikan dengan sederet fakta yang kadang terlewat (atau sengaja diabaikan) oleh penulis lain.

Bagaimana dengan buku fiksi?

Pertama, saya pilihkan buku Native Son karya Richard Wright yang meski kita sudah memasuki millenium ketiga, isu-isu rasialisme masih tetap bercokol, maka buku-buku semacam karya Wright ini perlu dibaca. Buku A Special Providence karya Richard Yates (mungkin karyanya yang lain Revolutionary Road lebih kamu kenal) tentang drama domestik keluarga sangat seru untuk disimak–dan dijadikan bahan pelajaran.

Buku klasik dari Honoré de Balzac yang berjudul Old Goriot sangat seru dibaca serta memberikan penjelasan terang mengapa Balzac sering dianggap sebagai salah satu penulis terbesar yang pernah hidup. Dan untuk tahun ini saya juga membaca buku karya Donna Tartt lain yang berjudul The Secret History. Sebagaimana buku Tartt lain The Goldfinch yang saya baca di Himalaya tahun lalu, The Secret History yang lebih kaya dari segi ide, sebetulnya meledeki saya karena pengetahuan Yunani Kuno saya sudah berkarat. Banyaknya idiom dan alegori Yunani Kuno yang disajikan di buku ini mau tak mau memaksa saya untuk googling dan baca-baca dahulu agar faham konteks yang dibahas di dalam novel ini.

Dan tentu saja, bacaan rutin saya tiap tahun puisi The Waste Land karya T.S. Eliot tak lupa saya baca juga di tahun ini, haha. Setiap membaca ulang puisi unik ini, saya seolah mendapatkan tafsir baru dan berbeda.

Oh well, sedangkan untuk kategori buku yang terbaik diantara terbaik di tahun ini, tentu saja, saya memilih buku Conversation in the Cathedral karya Mario Vargas Llosa. Saya membaca buku ini (dan meski tebal 600-an halaman, saya tamatkan dalam tempo 5 hari di sela-sela pendakian dan pesawat) langsung di Peru. Mulai dari perjalanan menuju Machu Picchu hingga berakhir di kota Arequipa tempat lahir si penulis pemenang Nobel Sastra 2010, setiap pembacaan halaman buku ini saya merasakan nafas orang-orang Peru serta langsung membandingkannya dengan orang-orang langsung yang saya temui. Dengan pendekatan hyperrealism, narasi-narasi Llosa begitu realistis dan hidup. Biasanya kita mendapati di novel lain ‘kayaknya kalau di dunia nyata, gak mungkin deh ada orang monolog dan ngomong begitu‘, di novel Llosa hal tersebut tak akan dijumpai. Begitu nyata, begitu hidup, begitu terang. Llosa adalah seorang master narasi.

*****

Sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan terbaik-terburuk tahun-tahun sebelumnya, mungkin kalian menyadari juga mengapa saya belum membahas masalah pendakian gunung. Oh, jangan khawatir. Haha. Ya, sebagaimana diduga kembali, saya melakukan kegiatan naik gunung tahun 2019 begitu intens lebih dari 12x dalam setahun (meski tak rutin tiap bulan). Namun ada masa saya mendaki begitu lama sampai seminggu full. Dengan segala hal yang saya alami sebagaimana yang saya ceritakan di awal-awal tulisan ini, saya butuh semacam pelepasan tekanan dan hanya gunung yang bisa memberikannya. Dikombinasikan antara berbagai hal yang saya alami, janji kebebasan gunung yang kerap ia berikan, maka saya mendaki gunung tak hanya di Indonesia tetapi juga hingga ujung dunia di belahan bumi selatan.

In the mountains, there you feel free
I read, much of the night, and go south in the winter
T. S. Eliot -- The Waste Land

 

Catatan tambahan:

         = Alasan kenapa manusia tidur tak sepenuhnya bisa dijelaskan dan masih menjadi misteri. Ada hipotesis bahwa dulu makhluk hidup tidur sebagai salah satu upaya ‘tiarap dan pura-pura mati’ agar lolos dari pemangsa yang berkeliaran. Meski ada korelasi positif jika orang yang tidur 6-8 jam sehari cenderung hidup lebih lama, tetapi tidur berlebihan juga memicu masalah medis seperti jantung dan diabetes. Sebaliknya, kurang tidur juga berkolerasi dengan masalah jantung, kegemukan, depresi bahkan kerusakan otak. Tampak kontradiktif, tetapi ada laporan beberapa orang di dunia ini mengaku tak pernah tidur sama sekali dan terlihat baik-baik saja. Bagaimana jika kita yang ‘normal’ berhenti tidur sama sekali?

Hal pertama yang akan terjadi adalah sistem mesolimbic akan terstimulasi dan dopamin terproduksi sehingga akan menghasilkan ekstra energi, motivasi, positivitas. Namun jangan terlalu senang. Meski terdengar menggoda, otak malah mulai ‘mematikan’ fungsi perencanaan dan pengambilan keputusan sehingga malah berakibat pada tindakan impulsif. Begitu lelah mulai datang, daya tanggap menurun serta fungsi persepsi dan kognitif berkurang drastis. Jika dipaksakan sampai dua hari tak tidur, tubuh kehilangan kemampuan mengolah glukosa secara benar dan sistem imun berhenti bekerja dengan baik. Pada beberapa kasus, 3 hari tanpa tidur akan memicu halusinasi. Terdengar menakutkan? Secara paradoks, penelitian-penelitian yang dilakukan pada orang yang dipaksa tak tidur sama sekali, secara mengherankan malah menghasilkan hasil lain. Ketika lebih dari 3 hari dipaksa tak tidur, orang-orang tsb akan mulai terbiasa dan hingga saat ini dari berbagai penelitian yang ada, dilaporkan jika tak ada dampak serius medis jangka panjang bagi orang-orang yang tak tidur sama sekali selama berhari-hari. Membingungkan? Secara singkat, kekurangan tidur mungkin tak membunuh dengan cepat tetapi jika kurang tidur secara kontinu akan  memberikan efek negatif pada tubuh.

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

5 thoughts on “Terbaik dan Terburuk di 2019”

  1. Setiap awal tahun aku selalu penasaran sama tulisan terbaik & terburuk ala Qui ini 😀 dan selalu saja takjub dengan daftar tontonan dan bacaannya yang unik dan jauh dari “radar” temen-temenku yang (ngakunya) pecinta film dan buku.

    Oke, aku udah nandain beberapa film buat ditonton. Semoga dapet dan bisa ngerasain keseruan yang sama.

    Like

    1. Haha. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Postingan ‘Terbaik & Terburuk’ ini memang diniatkan untuk berbagi info media (bacaan/tontonan) yg mungkin belum banyak dikenal–plus merangkap tempat curhat, haha.

      Well, beberapa film/buku yg ditampilkan mestinya tak sepenuhnya asing sih. Film-film semacam Parasite atau Midsommar meski berupa film independen tapi sempat merasakan hype dan masuk jaur distribusi mainstream (ditayangkan di bioskop lokal). Pun beberapa judul lainnya.

      Sekali lagi, selamat berburu. Selamat menonton. Selamat membaca. Selamat awal tahun baru!

      Salam,

      Q

      Like

  2. Menarik banget reviewan tahunannya, dan selalu menginspirasi dan mengingatkan betapa sedikit sekali yang saya tahu tentang buku dan film 😀
    semoga tahun kali ini lebih banyak tawanya yaa… ditunggu selalu reviewan di tahun-tahun yang akan datang 🙂

    Like

    1. Haha. Thank you for the kind words. Semoga doa baik kembali ke Mbaknya juga. Selamat menjalani tahun yang baru, dengan tontonn dan bacaan baru yang lebih beragam dan bermanfaat.

      Salam,

      Q

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s