Gunung Rakutak, Mei 2015

“You are about to begin reading Italo Calvino’s new novel, If on a winter’s night a traveler. Relax. Concentrate. Dispel every other thought. Let the world around you fade”
―Italo Calvino, If on a winter’s night a traveler

Kalimat pembuka buku If on a winter’s night a traveler sebegitu kerennya sampai-sampai saat kami sedang rebahan di puncak gunung karena kelelahan mendaki, saya memanggil teman saya yang sama-sama suka baca untuk membaca kalimat di atas. Saat saya meminta komentarnya, dia menjawab pendek, “Aneh. Tapi keren sih.” Dan saya rasa seluruh cerita pendakian gunung Rakutak kemarin bisa dirangkum seperti komentar teman saya tersebut. Ditambahkan dengan kata “kejutan”. Continue reading

Quanology: Evolution & You (John Khoury)

“Seen in the light of evolution, biology is, perhaps, intellectually the most satisfying and inspiring science. Without that light it becomes a pile of sundry facts — some of them interesting or curious but making no meaningful picture as a whole.”
—Theodosius Dobzhansky, Nothing in Biology Makes Sense Except in the Light of Evolution

Quanology: Evolution & You

Quanology: Evolution & You book cover

This book reminds me of Dobzhansky’s brilliant classic essay, Nothing in Biology Makes Sense Except in the Light of Evolution (1973)*. Dobzhansky clearly and beautifully stated that evolution is not only just a scientific theory that applied in biology field, but also a ‘light’ that give us new insights of our life meaning and its place in universe. It implied to not only scientific method but also philosophical method to understand our life’s meaning. You can interpret it as physical or spiritual perspective. No matter what your belief is, atheism or religion, evolution will give you an elegant way to look at life.

Continue reading

Gunung Gede-Pangrango, April 2015

Winter kept us warm, covering
Earth in forgetful snow, feeding
A little life with dried tubers.
― T.S. Eliot, The Waste Land

Musim dingin hangatkan kita, selimuti. Pendakian ke Gede-Pangrango April lalu, memiliki catatan sendiri dalam timeline pendakian saya. Pendakian tersebut adalah pendakian ke-35000 meter saya (akumulasi tinggi gunung-gunung yang telah didaki), pendakian pertama yang benar-benar tepat terjadi di hari lahir saya, dan juga mungkin salah satu pendakian terberat saya sejauh ini.

Pendakian tsb nyaris bisa dikatakan sebagai sebuah kenekatan atau malah bisa dikatakan nyaris sebuah kegilaan. Kami mendaki dua puncak sekaligus, plus dilakukan saat musim penghujan. Pendakian dua puncak sekaligus bisa dikategorikan sebagai kegilaan, dan mendaki gunung yang terkenal sadis dalam rute dan jalur yang sulit, bisa dikatakan sebagai sebuah upaya bunuh diri. Dan untuk efek hiperbolis dan dramatis, hal ini dilakukan di musim penghujan.

Yeah, saya sendiri sedikit menyesal saat mendakinya, haha. Untung saja peralatan tenda/logistik diangkut porter, sehingga mengurangi beban derita secara drastis. Tetapi tetap saja, medan yang berat membuat tim kami babak belur. Jatuh bangun, dalam arti kiasan maupun harfiah.

Continue reading