Terbaik dan Terburuk di 2017

“How often do we tell our own life story? How often do we adjust, embellish, make sly cuts? And the longer life goes on, the fewer are those around to challenge our account, to remind us that our life is not our life, merely the story we have told about our life. Told to others, but—mainly—to ourselves.”
― Julian Barnes, The Sense of an Ending

Tahun 2017 bisa dikatakan sebagai tahun terburuk sepanjang karir saya sebagai seorang pembaca buku, penonton film, dan pendaki gunung. Atau malah, dilihat dari sisi lain, salah satu yang terbaik? Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2017”

Advertisements

Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2016”

Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2015”

The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

Why did he kill the girl, and why did they kill him after that?
―Ana Torrent, El espíritu de la colmena (1973)

Selepas menonton film The Little Prince (Mark Osborne, 2015), saya mendiskusikan dengan teman-teman saya, mengenai film-film dengan tema kepolosan anak kecil yang begitu rapuh namun berharga hingga akhirnya dihancurkan oleh realitas kehidupan yang pedih nan keras. Di dunia dimana hal-hal ideal telah lama musnah, film-film (ataupun karya sastra) seperti ini menjadi pengingat kita bahwa mimpi dan imajinasi adalah hal yang amat langka dan gampang menguap seiring bertambahnya usia dan kegiatan yang bernama “menikmati hidup”. Apa sih nikmatnya hidup jika rutinitas dan ambisi menghempaskan kemurnian mimpi imajinasi? Continue reading “The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)”

Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)

Saya jarang menonton film India. Jadi banyak film India yang mencengangkan terlewat begitu saja dari radar andai tidak diberitahukan oleh kawan-kawan dari forum diskusi. Saya hampir melewatkan film Ship of Theseus (2013) begitu saja padahal film ini menjadi film terfavorit saya di tahun 2013 lalu. Pun Supermen of Malegaon, saya harus tertunda selama 7 tahun untuk menyaksikan film luar biasa ini.

 

images-111664
Mungkin ini yang akan saya minta dari Super-Man jika bertemu, meminta dia menggoreng kerupuk dan gorengan dengan mata lasernya

 

Jika ada pepatah jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, maka pepatah untuk film ini adalah jangan menilai sebuah film dari posternya. Ya, posternya norak banget. Karena nyatanya film ini bercerita tentang pembuatan film yang norak juga. Tapi ada sesuatu lain yang sangat menghujam dalam saat menyaksikan film ini. Film ini, mungkin salah satu film paling menghentak yang saya saksikan sepanjang tahun ini. Continue reading “Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)”