Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading

Advertisements

Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading

The Spirit of the Beehive (Víctor Erice, 1973, Spanyol)

Why did he kill the girl, and why did they kill him after that?
―Ana Torrent, El espíritu de la colmena (1973)

Selepas menonton film The Little Prince (Mark Osborne, 2015), saya mendiskusikan dengan teman-teman saya, mengenai film-film dengan tema kepolosan anak kecil yang begitu rapuh namun berharga hingga akhirnya dihancurkan oleh realitas kehidupan yang pedih nan keras. Di dunia dimana hal-hal ideal telah lama musnah, film-film (ataupun karya sastra) seperti ini menjadi pengingat kita bahwa mimpi dan imajinasi adalah hal yang amat langka dan gampang menguap seiring bertambahnya usia dan kegiatan yang bernama “menikmati hidup”. Apa sih nikmatnya hidup jika rutinitas dan ambisi menghempaskan kemurnian mimpi imajinasi? Continue reading

Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)

Saya jarang menonton film India. Jadi banyak film India yang mencengangkan terlewat begitu saja dari radar andai tidak diberitahukan oleh kawan-kawan dari forum diskusi. Saya hampir melewatkan film Ship of Theseus (2013) begitu saja padahal film ini menjadi film terfavorit saya di tahun 2013 lalu. Pun Supermen of Malegaon, saya harus tertunda selama 7 tahun untuk menyaksikan film luar biasa ini.

images-111664

Jika ada pepatah jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, maka pepatah untuk film ini adalah jangan menilai sebuah film dari posternya. Ya, posternya norak banget. Karena nyatanya film ini bercerita tentang pembuatan film yang norak juga. Tapi ada sesuatu lain yang sangat menghujam dalam saat menyaksikan film ini. Film ini, mungkin salah satu film paling menghentak yang saya saksikan sepanjang tahun ini. Continue reading