Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]

Perhaps in the world’s destruction it would be possible at last to see how it was made. Oceans, mountains. The ponderous counterspectacle of things ceasing to be. The sweeping waste, hydroptic and coldly secular. The silence.
― Cormac McCarthy, The Road

Saya berdiri di puncak yang sekaligus tepi sebuah jurang tajam. Di antara bayang-bayang sisa dini hari, bagian-bagian dataran di kaki gunung terlihat memantulkan cahaya sisa purnama dan lampu jalanan di kejauhan, dan segerombol pepohonan di tepi lereng selatan gunung membentuk kerumunan formasi bergerombol yang aneh. Pepohonan berbatang kecoklatan dengan bintik-bintik putih bagai penderita kusta mengintip di tepian jalur pendakian yang kami lewati. Jamur dan lumut berjurai-jurai di bebatuan bagaikan juluran lengan gurita yang murka. Udara menggelegak mengalir deras di antara bebatuan di puncak jurang yang berlumut dan beraroma amis seperti laut. Ada bau tipis abu purba yang terserak diantara sela bebatuan, sisa dan saksi amarah gunung di masa lampau, terlarut oleh embun yang berkerumun di pucuk dedaunan berbentuk jarum dan ada aroma sulfur yang tercium berselang-seling saat angin lewat dengan silih berganti. Di antara lipatan-lipatan angin yang datang bergulung-gulung, tercium aroma laut samar yang dibawa angin lembah dan diperangkap hutan beserta aroma semua ikannya, semua karangnya, semua pasirnya, semua arusnya, semua kedalamannya, semua gemuruhnya, semua kesunyiannya, dan semua misterinya. Aroma eksotik yang memabukkan ini membuat saya mencium udara dengan sangat perlahan seolah kesempatan seperti ini tak bisa terulang. Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]

He walked out in the gray light and stood and he saw for a brief moment the absolute truth of the world. The cold relentless circling of the intestate earth. Darkness implacable. The blind dogs of the sun in their running. The crushing black vacuum of the universe. And somewhere two hunted animals trembling like ground-foxes in their cover. Borrowed time and borrowed world and borrowed eyes with which to sorrow it.
― Cormac McCarthy, The Road

Sains terpurba dan agama tertua lahir di bawah langit malam*. Pasti akan sangat berbeda sekali rupa langit malam di masa ratusan ribu tahun lampau dibanding saat ini. Leluhur jauh kita, menghabiskan malam-malam tergelap sebelum api dan pencahayaan buatan tercipta, di malam tak berbulan, mengamati puluhan ribu bintang tampak di dasar kegelapan langit malam. Bintang tercerlang berurutan diberi nama, bintang berdekatan diberi garis khayalan dan bentuk-bentuk abstrak diasosiasikan dengan sosok-sosok makhluk-makhluk supernatural, hingga aneka konstelasi terbentuk dan legenda mitos pun diciptakan. Ketakjuban akan keindahannya menciptakan rasa penasaran untuk melakukan pengukuran dan perhitungan, maka sains purba pun lahir. Kekaguman akan keluasannya menciptakan rasa ketakutan dan pengharapan, maka penyembahan agama awal pun lahir. Continue reading

Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading

Gunung Rinjani, Juni 2015

Tell him to seek the stars and he will kill himself with climbing.
― Charles Bukowski, The Roominghouse Madrigals

Sebagai salah satu gunung tujuan pendakian populer dengan publikasi blog dan review yang berjibun, saya sudah mendapat gambaran lengkap medannya yang berat sehingga awalnya sedikit bikin ogah naik ke Rinjani dalam waktu dekat―dengan tiga pendakian sebelumnya yang di luar dugaan, jelas pendakian berikutnya ingin sedikit yang lebih rileks, haha. Tetapi, siapapun yang sudah ke Rinjani akan tahu, ada magnet raksasa di puncaknya. Magnet yang akan menarik orang-orang pecinta gunung dari seluruh penjuru dunia untuk menjejak puncaknya (untuk hal ini saya tidak hiperbolis, mayoritas pendaki adalah warga asing. WNI tak sampai seperlimanya). Dengan sedikit bujuk rayu teman saya, saya langsung luluh menyetujui pendakian ini. Jadilah saya seperti amuba, terbelah antara sedikit menyesal (karena tahu akan menjalani trek yang lumayan dahsyat) dan tertarik untuk menjelajah lagi pelosok Rinjani yang eksotik.

Jika kamu hanya punya satu kesempatan sekali seumur hidup mendaki gunung, saya sarankan untuk mendaki Rinjani. Percaya deh, gunung ini cantik banget. Setelah ngotot-ngototan dengan teman saya, kami memutuskan untuk menjelajah seluruh tempat wisata Rinjani. Tak hanya jalur pendakian standar (Senaru-Puncak-Sembalun-Danau Segara Anak) tetapi juga pelosok-pelosoknya seperti Gua Susu, Air Terjun Tiu Kelep, dll. Dan asal tahu saja, setiap medan untuk menuju tempat-tempat tersebut sama sekali gak mudah. Terjal, ekstrem, jauh dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi selalu terbayarkan dengan kedahsyatan dan keindahannya. Continue reading