Karakoram-Himalaya Mountains [bag.5]

“You can look at a picture for a week and never think of it again. You can also look at a picture for a second and think of it all your life.”
― Donna TarttThe Goldfinch

Karena kamar tidur saya terpisah berada di lantai 1 yang harus keluar dulu untuk mencapainya, begitu keluar dari ruangan berkumpul lantai 2, saya menuruni tangga dan berjalan menyusuri parit kecil di tepi penginapan. Di desa yang lokasinya ada di jantung Himalaya ini, listrik hanya menyala dari jam 8 sampai 11 malam saja tiap harinya. Meski saat saya keluar itu listrik sudah mati, langit musim panas yang bersih tanpa awan membuat bulan kuarsa yang belum bundar sempurna membagikan cukup terangnya sehingga saya dapat berjalan tanpa perlu menyalakan lampu senter. Bahkan air parit yang bersumber dari lelehan es di puncak gunung dan amat jernih secara samar-samar berkilap memantulkan cahaya bulan redup. Saat saya mengalihkan pandangan pada gunung batu tinggi yang puncaknya ditutupi es putih (andai malam itu purnama, es di pucak gunung mungkin akan bersinar), melampaui ladang buckwheat yang siap dipanen, menghampar naik turun mengikuti kontur topografi yang miskin kawasan datar, menyambung terus sampai akhirnya dibatasi oleh sungai deras yang sayup-sayup terdengar gemuruhnya. Bintang-bintang berwarna perak semarak di langit membuat saya bertanya-tanya kapan terakhir kali saya melihat langit segemerlap dan sebanyak itu. Saya mematung hampir sepuluh menit sampai lamat-lamat angin Himalaya yang dingin mengusap lembut leher saya, memberi nasihat lirih jika saya tak bisa berlama-lama berdiri di luar sana jika tak ingin masuk angin. Ah, siapa yang tak terpesona oleh malam hening dan magis seperti itu? Sebelum saya menutup pintu, saya mengintip ke ladang-ladang buckwheat yang hening, mengharap dan memastikan apakah ada peri-peri dan pegasus malu-malu yang akhirnya akan keluar dari persembunyiannya, tergoda oleh aroma dan suasana malam yang kedamaian dan ketenangannya begitu menyihir?

*****

Hundar, desa yang menjadi tempat persinggahan kami di Lembah Nubra, adalah pemukiman kecil di mana rumah-rumah warga disewakan untuk penginapan turis yang mampir. Biasanya rumah pertanian ini terdiri dari dua bagian utama, rumah besar yang terdiri dari kamar-kamar untuk disewakan dan bangunan lebih kecil merangkap dapur dan kamar sempit tempat pemilik rumah jika ‘terusir’ dari bangunan besar oleh turis dan mungkin tidur berdempetan selama ada turis yang menumpang. Pun rumah yang kami inapi malam itu. Meski saya ingin sekali bercengkrama dengan warga setempat, tetapi keterbatasan bahasa dan celah budaya membuat mereka menjadi sangat pemalu. Begitu saya memergoki mereka keluar rumah, baik anak-anak maupun ibu mereka langsung buru-buru tergesa-gesa masuk ke bangunan kecil. Meski kadang jika sudah telanjur keluar, saya hanya pasang senyum lebar, mereka akhirnya berani tersenyum dan mengangguk juga.

Kelelahan di perjalanan panjang selama berhari-hari, saya tidur pulas. Musim panas dan posisi Desa Hundar yang unik di ketinggian di atas 3500 meter tetapi terperangkap dalam iklim mikro gurun, menjadikan malam di Hundar tak sedingin yang saya kira sebelumnya. Ketika sudah terbangun, teman-teman yang lain sedang berkemas-kemas. Seperti biasa, kami akan menghabiskan waktu lagi di jalan sehingga berkemas sepagi mungkin. Menu sarapan yang disajikan tuan rumah masih sama seperti malam sebelumnya, roti canai, dal, dan yang membuat kami kapok semalaman karena nekat mencoba: pickles. Menyiasati iklim dan tanah Hundar yang terbatas bisa ditanami, masyarakat di sana membuat olahan pickles dengan aroma dan rasa yang luar biasa kuat menyengat, melebihi yang biasanya pernah saya konsumsi. Setelah minum air dua gelas pun, sensasi amonia pickles-nya masih menempel di lidah, tentu saja saya tak mau ambil resiko mencicipinya kembali apalagi untuk sarapan.

20180822_054456
Penginapan di Hundar mengular mengikuti lembah sempit yang dikurung pegunungan berbatu tajam puncaknya. Musim panas sedang berada di puncaknya, hanya beberapa tanaman berbunga yang masih bertahan

*****

Meninggalkan Lembah Nubra yang hijau, hanya beberapa menit kemudian kami melalui daerah bebatuan kering kerontang sebagaimana perjalanan di hari sebelumnya. Hanya saja pada hari itu saya menyusuri Sungai Shyok (salah satu anak hulu utama Sungai Indus). Menelusuri mata air utama Sungai Indus, artinya perjalanan saya akan langsung menuju jantung utama pegunungan Karakoram yang ada di daerah perbatasan konflik India-Pakistan-China sekaligus. Deras dan liarnya aliran Sungai Shyok seolah menjadi ironi sendiri jika amukan liar dan derasnya air sungai adalah sebuah perlambang ketegangan politik yang terjadi di sana.

Sepanjang perjalanan menuju Turtuk Village (yang menjadi destinasi berikutnya), kami melewati banyak sekali pos penjagaan–saya kesulitan menghitung jumlahnya saking banyaknya–di mana para penjaga menghentikan mobil kami lalu memeriksa passport, visa, dan internal permit surat jalan wisata yang dikeluarkan agen wisata (jadi lupakanlah ide untuk go show backpakcer mandiri). Tulisan besar-besar larangan memotret di sekitar pos-pos penjagaan dengan para penjaga yang bertampang terlampau serius membuat saya mengurungkan niat untuk memotret pos-pos penjaga ini–tak seperti saat saya di Srinagar yang masih ‘nekat’ untuk memotret, di jalan menuju Turtuk dengan jalan super sepi–kadang hanya mobil kami sebagai satu-satunya yang melaju dan tak pernah bersisian dengan mobil lain selama berjam-jam, saya tak mau berspekulasi dan ambil resiko lebih banyak.

Perjalanan menuju Turtuk sebetulnya tipikal dengan perjalanan saya hari-hari sebelumnya. Jalanan berkelok mengikuti lenggokan pegunungan menimbulkan sensasi ganjil antara penasaran ingin melongok melihat pemandangan keluar sekaligus berupaya menahan diri tak menengok jalan lama-lama karena jalanan yang selalu berkelok tiap beberapa menit sekali malah mengocok menu sarapan di perut dan sensasi vertigo menjadi terpicu. Sementara amukan liar di jurang Sungai Shyok begitu mengintimadasi membuat beberapa teman saya kadang mengucapkan doa lirih berharap agar mobil kami tak jatuh dan terseret ke sana. Meski es-es di puncak gunung menipis karena musim panas, tetapi derasnya air malah tetap liar. Pasokan es sepanjang gunung yang dilewati cukup memberikan limpahan sungai untuk terus bergejolak sepanjang alirannya. Warna air keruhnya dilihat dari kejauhan bak susu cokelat yang terlalu lama dibiarkan di atas perapian–senantiasa bergolak liar dan apapun yang jatuh ke dalamnya kecil kemungkinan untuk selamat.

Sebagaimana hari-hari sebelumnya, untuk mengisi waktu luang dan mengalihkan perhatian dari pemandangan yang memicu vertigo, teman perjalanan saya yang merangkap seorang geolog mulai mendongeng tentang proses geologi pegunungan Himalaya. Orang ini memang suka histeris berteriak jika melihat penampakan bebatuan yang dia rasa unik dan menarik–yang tentu saja itu artinya ada di semua pelosok Himalaya. Haha. Himalaya adalah laboratorium alam raksasa yang akan menggugah dan menambah rasa ingin tahu bagi mereka yang mengulik ilmu kebumian. Saya sebagai satu-satunya orang di rombongan yang antusias dan mau mendengarkan dongeng kisah jutaan tahun ini* mendapatkan kuliah geologi gratis selama perjalanan ke Himalaya ini, haha.

20180820_125036
Bebatuan cokelat hadir secara bertumpuk. Lapisan bebatuan seperti gambar di atas mengarah pada satu simpulan yang mungkin tak terbayangkan zaman sekarang; pada masa puluhan hingga ratusan juta tahun lalu, tempat yang sekarang ada pada ketinggian 4000-8000 meter lebih ini pernah terendam di bawah muka air laut…

*****

Desa Turtuk yang menjadi tujuan saya benar-benar terletak di jantung Himalaya sekaligus menjadi pusat perebutan wilayah kekuasaan tiga negara raksasa. Desa ini berlokasi di titik tiga pertemuan negara India-China-Pakistan. Meski secara resmi desa ini dikuasai India, tetapi desa ini selama bertahun-tahun sebelumnya ada di bawah kekuasaan Pakistan. Baru pada saat perang India-Pakistan tahun 1971, India berhasil merebut desa strategis ini. Karena itu, meski masih masuk kawasan Ladakh, tetapi Desa Turtuk didominasi penduduk beragama Islam berbeda dengan kawasan Ladakh lain seperti kota Leh yang didominasi Buddha. Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari provinsi Gilgit-Baltistan di Pakistan.

Dengan posisinya yang sangat strategis, India menganggap desa ini harus dibentengi banyak sekali tentara. Perjalanan menuju Turtuk, seperti yang saya ceritakan di atas, sama sekali tak mudah. Kami harus melapor berkali-kali kepada petugas bersenjata lengkap. Sepanjang jalan kami menjumpai banyak kamp-kamp militer di mana peleton tentara bersiaga selalu–di kawasan super kering dan tak ada vegetasi tumbuh pun kamp-kamp ini berdiri. Meski awalnya saya dibuat heran, bagaimana mungkin kawasan yang dijaga ketat militer ini diizinkan untuk dimasuki turis. Mungkin kah ini termasuk sebagai upaya promosi dan legitimasi pemerintah India untuk mengatakan, ‘kawasan ini milih negara kami loh!‘ Uniknya, turis-turis yang datang ke Turtuk malah kebanyakan turis asing. Turis berkewarganegaraan India sendiri (terutama yang ‘bertampang India’) malah sedikit yang datang. Mungkin mereka ‘segan’ dan takut warga melampiaskan sesuatu kepada mereka? Kami hanya bisa menebak-nebak.

20180822_110533
Kawasan kering kerontang seperti ini dipagari yang menandakan bahwa kawasan ini termasuk kawasan kamp militer dengan para peleton tentara bersiaga (saya tentu saja tak mau ambil resiko memotret yang ada bangunannya). Sepanjang pagar kawat, ditulisi banyak kata-kata mutiara dan petuah seperti yang tercantum di sini, ‘Wilderness is not a luxury, but a necessity of the human spirit‘. Saya setuju.

Setelah melalui perjalanan berkelok-kelok menelusuri Sungai Shyok, lewat tengah hari, akhirnya kami sampai di desa Turtuk. Meski berada di ketinggian >3000 meter, tetapi begitu saya turun dari mobil, cuacanya sangat menyengat panas. Musim panas yang sedang berada di puncaknya berpadu dengan tipisnya udara membuat panas matahari menembus atmosfer secara bebas. Melihat sungai es di tepi desa yang jernih menggelegak, membuat saya tergoda untuk mencemplungan diri segera. Tapi dari warnanya serta minimnya ikan di sana membuat saya dapat menebak akan seberapa dinginnya sungai tersebut sehingga membatalkan niat mencemplungkan diri ke sungai. Sambil mengangkut tas keluar dari mobil, dengan bahasa Inggris terpatah-patah, si supir menunjuk-nunjuk gunung tinggi di seberang sungai, ‘Siachen… Siachen… China…‘ lalu ke arah hulu hilir sungai, ‘Pakistan… Pakistan‘. Tahulah saya bahwa yang dimaksud si supir adalah di seberang sungai artinya kami sudah memasuki kawasan China dengan Glasier Siachen yang termasyhur itu (aliran sungai es terpanjang kedua di luar Antartika, dan tertinggi di dunia), Siachen sendiri tak jelas siapa pemiliknya karena baik India maupun China sama-sama mengklaim mereka pemilik kawasan itu. Sementara di arah hilir sungai di barat Turtuk, sudah masuk kawasan Pakistan.

Begitu kami masuk ke gerbang desa, ternyata sedang ada perayaan agama Islam di desa tersebut sehingga banyak anak-anak yang berpakaian bagus (dan didominasi warna merah) berkeliaran ke sana kemari membawa bungkusan kembang gula. Tak ada penginapan khusus ala hotel membuat kami menginap di rumah warga dengan membayar uang sewa dan makan sebagai balas jasa. Meski cuaca sangat terik, anehnya Desa Turtuk yang berupa desa di bukit-bukit terasa sejuk. Hal ini disebabkan adanya parti-parit yang sengaja dibuat banyak sekali dan memisahkan rumah antar warga bak jejaring laba-laba. Air sungai yang langsung dari lelehan air es membuat kelembapan udara Turtuk menjadi sangat sejuk. Hampir setiap rumah juga memiliki pepohonan aprikot yang rimbun sehingga terik yang terasa saat keluar mobil, langsung meluruh dalam kesejukan tiada tara. Teman saya berujar berkali-kali, ‘Wah, kita bakal betah di sini‘. Dia benar.

20180823_165807
Sebagaimana yang tampak pada peta digambar manual ini, lokasi Turtuk tepat di pertemuan 3 kekuatan geopolitik kuat: China-India-Pakistan. Bagian yang digarisi masih berupa klaim negara masing-masing dan memicu konflik tak terselesaikan. Timur antara China-India, barat antara India-Pakistan

Karena sedang ada perayaan agama, kami dijamu makanan radisional di sana; gulai kambing dengan nasi dari beras basmati. Dari kejauhan aromanya sudah menggoda lidah dan perut kami yang kelaparan. Saya dan seorang teman yang tak makan daging harus puas cukup dengan makan nasi diguyur kuah kambing dan potongan tomat saja. Haha. Udara sejuk yang persuasif dan perut kenyang membuat kami langsung memutuskan tidur sore sebentar apalagi kami sudah menempuh perjalanan panjang melelahkan. Saya tak tahu sudah berapa lama tertidur, ketika sudah bangun matahari sudah merendah di balik gunung tinggi, kami memutuskan untuk berjalan-jalan keliling Desa Turtuk.

Sambil bersiap-siap menunggu teman yang lain bersiap-siap, saya duduk di gazebo depan penginapan. Dari arah pintu kamar ternyata muncul seorang pria yang merupakan tamu lain dan bukan bagian rombongan kami. Dari gelagatnya, dia adalah seorang solo traveler, hal yang cukup membuat saya terkejut karena dia berhasil sampai ke Turtuk seorang diri (meski dari tampangnya, pastilah dia warga negara India sehingga mungkin bisa mencari informasi lebih baik). Dia sepertinya baru bangun tidur siang juga. Teman saya berbisik pelan, ‘kayaknya si Mas itu pengen diajak ngobrol deh. Sana temani dia!‘ karena tampangnya yang menatap terus kami. ‘Hello, bisa berbahasa Inggris?‘ saya memberanikan menyapa dia. Dia langsung menangguk antusias dan saya langsung terlibat percakapan super panjang dengannya. Haha.

Seperti halnya saat saya berjumpa dengan si A di Nishat Bagh, atau dengan si B di Kargil War Memorial Museum, atau dengan empat pemuda di Baisaran, pertemuan dan percakapan saya dengan si N (sebut saja namanya begitu) menjadi sangat liar dan merembet kemana-mana termasuk isu sensitif politik dan agama. Haha. Karena si N ini menginap di lokasi yang sama, saya bisa mengobrol dengan dia lama dan intens sekali, melebihi yang saya obrolkan dengan si A. Si N yang lumayan fasih berbahasa Inggris (tetapi tak sebaik si A), pernah melakukan perjalanan keluar negeri sehingga dia berfikir lebih liberal dan terbuka dari si A. Dengannya, saya bisa mendiskusikan banyak hal sampai jauh ke melesak ke dalam saat membahas topik super sensitif.

Perkenalan saya dengan si N terjeda karena teman-teman saya sudah siap semua. Dipandu si supir dan tuan rumah, kami diajak keliling Desa Turtuk untuk diperlihatkan kehidupan sehari-hari warga setempat serta beberapa tempat yang dianggap menarik. Keterbatasan bahasa Inggris yang dimiliki si tuan rumah dan si supir sedikit tertolong karena si N menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris ucapan si tuan rumah yang juga terbata-bata bahasa Hindi-nya (bahasa nasional India). Penduduk Turtuk berbahasa Balti, sementara si supir berbahasa Ladakhi. Jadi memang ada terjemahan bertingkat berkali-kali. Haha.

Desa Turtuk yang terletak di lembah sempit Pegunungan Karakoram, mendapat sejumput tanah lapukan batu dan endapan lumpur Sungai Shyok sehingga ada beberapa petak lahan untuk bertani di tengah bebatuan keras sana. Karena lahan pertanian terbatas, ukuran pemukiman tersebut tak besar. Saya menjumpai sedikit sekali para pemuda/pemudi (mungkin mereka merantau ke kota). Lahan terbatas membuat jarak antara rumah juga merapat, antara rumah dipisahkan oleh jalan setapak sempit yang hanya cukup dilalui dua orang, sementara rumah-rumah bersisian berhimpit dan saling menumpuk sehingga kadang membentuk lorong-lorong. Menyusuri jalan-jalan di Turtuk mau tak mau membuat saya membayangkan jika saya sedang menyusuri labirin Knossos.

20180822_175501
Balti Heritage House And Museum, adalah rumah tua terletak di gang sempit (sulit mendapatkan foto utuh bentuk rumahnya), menyimpan banyak artefak dan perkakas tradisional yang biasanya digunakan warga Turtuk untuk keseharian mereka

Setelah melewati banyak gang sempit (saya ragu jika saya bisa menemukan jalan kembali ke penginapan), akhirnya kami sampai di Balti Heritage House and Museum, sebuah ‘museum’ merangkap rumah pribadi di mana berbagai perkakasa dan kerajinan tradisional dipajang. Tiap barang dilabeli tulisan berbahasa Inggris dan si pemilik rumah yang sudah tua (usianya mendekati 70 tahun) menerangkan dengan tabah dalam bahasa Balti barang-barang apa saja yang dipajang di sana (tentu saja si kakek menceritakan ke tuan rumah penginapan kami, lalu si pemilik penginapan memberi tahu ke si N, dan si N akan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris kepada kami). Mulai dari aneka perkakas seperti periuk dan belanga, hingga aneka tenunan dipajang dan ditempatkan di masing-masing ruang sebagaimana mereka ditempatkan sehari-hari (alat masak di dapur, pakaian di lemari, dst).

DSCF2035
Dengan semangat, si kakek sekaligus pemilik museum, menjelaskan secara rinci hampir semua barang yang dipajang. Langkanya turis mengunjungi Turtuk karena akses yang jauh dan alasan keamanan, membuat setiap turis yang berkunjung ke sana dijamu secara sangat antusias

Tak terasa hampir sejam lebih kami diajak berkeliling dan melihat-lihat koleksi museum yang sebetulnya tak besar. Semangat si kakek penjaga yang menjelaskan nyaris per tiap barang, menulari saya untuk ikut merespon dan menanyakan detail barang-barang tersebut. Tak setiap hari ada turis yang mampir ke tempatnya. Jadi antusiasme saya dan si kakek bersambut. Saya sering disikut teman saya untuk menahan pertanyaan agar tidak kelamaan. Haha. Sebelum berpamitan, keluarga pemilik museum muncul memperkenalkan diri mereka masing-masing. Ada cucu perempuan si kakek yang masih di usia sekolah (yang laki-laki sebagaimana bisa ditebak, pergi merantau ke kota). Dan sebuah kejutan kecil, si kakek membuka sebuah ruangan sempit di mana seorang nenek yang pastinya jauh lebih tua daripada si kakek, sedang duduk menenun kain. Matanya sudah rabun, dan untuk berdiri harus dipapah dua orang. Kami meminta agar mereka jangan repot-repot mengganggunya. Dengan pandangan super terbatas, si nenek yang pendengarannya juga mulai berkurang, malah tersenyum antusias menyambut kami (sebuah selingan dari kegiatan monotonnya duduk seharian di tempat yang sempit selama sekian puluh tahun). Ketika kami bersalaman berpamitan, si nenek mendadak mencium kepala saya (yang tidak ia lakukan kepada teman saya lainnya). Saya mendadak merinding seketika dan merasa hangat di saat bersamaan–dan bertahan sangat lama setelahnya.

20180822_181651
Nenek tua ini adalah ibu dari si kakek yang memandu kami di museum. Berdasarkan klaim, usianya saat saya mengunjunginya adalah 103 tahun. Usia panjang si nenek menegaskan bahwa dia memang berasal dari Turtuk, kata yang bermakna ‘orang-orang tua yang hidup dalam waktu lama

*****

Selain mengunjungi museum, agendakami  sore itu memang berkeliling melihat desa. Kami juga melihat ladang pertanian yang ditanami tanaman buckwheat–meski kadang dianggap sejenis gandum sesuai namanya, buckwheat (Fagopyrum esculentum) bukanlah jenis tanaman biji-bijian. Malah sejenis perdu berbunga, dimana biji bunga dikeringkan dan digerus menjadi tepung yang kemudian diolah menjadi roti-rotian untuk dikonsumsi. Hanya buckwheat yang bisa bertahan di tempat sekering dan sedingin Karakoram/Himalaya. Di pekarangan belakang rumah-rumah, biasanya digunakan sebagai kandang ternak unggas dan keledai (atau kambing yang lebih sedikit). Satu hal yang membuat saya kagum adalah manajemen sanitasi mereka yang dibuat hati-hati di mana sampai sampah kotoran domestik dialirkan sedemikian rupa agar jangan sampai mencemari parit yang mengairi di desa. Parit yang mengalir di sekitar rumah tetap terjaga kebersihannya baik di bagian hulu desa maupun yang ada di ujung, dan digunakan warga untuk mencuci piring dan bahan masakan.

Ketika kami kembali ke penginapan, hari sudah gelap sehingga kami segera mandi untuk kemudian dilanjutkan makan malam. Lokasi makan malam dilakukan di tempat terbuka di gazebo tempat saya menunggu tadi. Si N yang sudah berbaur dan berkenalan dengan semua teman saya, tak sungkan untuk duduk bersama dan bercengkrama. Karena lokasi duduknya tepat persis di pinggir saya, itu artinya dia harus siap “diinterogasi” oleh saya. Haha. Dari banyak hal, si N mengingatkan saya pada si A saat saya masih di Srinagar. Pembeda paling nyata adalah jika si A tipe anak-manis-taat-orang tua, maka si N lebih bebas mandiri. Awal diskusi diawali dengan bagaimana dia yang berasal dari penganut Hindu ‘berani’ berkunjung ke Turtuk (bagaimanapun ada kesan ‘sentimen’. Warga Turtuk yang sepenuhnya muslim menyimpan kesan jika mereka ‘lebih senang’ bergabung dengan Pakistan ketimbang dianeksasi oleh India). Si N mengiyakan pernyataan saya tersebut dan mengaku kesulitan mencari teman perjalanan ke Turtuk–keluarganya bahkan melarang–tapi dia nekat berkunjung sendiri ke Turtuk.

Dari sana, diskusi tentu saja mengalir liar ke topik mana-mana dan membahas isu sensitif nasional mengenai politik, agama, krisis identitas, hingga hal-hal personal. Tentu akan menjadi tantangan bagi saya untuk menyibak banyak hal dari orang baru saat perkenalan. Haha. Ada banyak hal yang kami bicarakan–yang karena topiknya menjadi sangat serius dan sensitif akhirnya hanya tinggal saya dan si N saya yang terlibat, teman saya yang lain membentuk pembicaraan lain yang ‘ringan’. Dalam salah satu obrolan, saya bertanya pada si N, mengapa populasi India begitu membludak dengan laju yang terus berpacu (China sendiri sudah mulai melambat) sehingga dalam beberapa tahun lagi akan menyalip China sebagai negara berpopulasi terbanyak. Apakah tak ada upaya pemerintah mengontrol populasi seperti KB dan semacamnya. Jawaban si N mau tak mau membuat saya nyengir getir.

Menurut si N, ada kompetisi tak resmi antara warga Hindu dan Muslim untuk ‘menjadi tuan rumah di negara India’. Konflik antara kedua agama ini memang meruncing akhir-akhir ini, terlebih menjelang pemilu dimana para politikus tak malu-malu menjual isu agama untuk mencari simpati dengan mengorbankan toleransi. Warga muslim yang ‘minoritas’ (minoritas untuk standar India artinya sekitar 170 juta orang lebih) merasa ‘ditindas’ kemudian merencanakan dan meningkatkan jumlah populasi untuk menyaingi  960 juta lebih warga Hindu. Sebaliknya warga Hindu yang merasa ketakutan dengan peningkatan populasi Muslim yang pesat (hanya 40 dekade lagi, India akan menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mengalahkan Indonesia) tentu berupaya menjaga dominasinya. Kompetisi ‘unik’ ini membuat laju pertumbuhan populasi India memang melaju tak terkendali dan dalam tren stabil cepat melampaui banyak negara lainnya. ‘It sucks’, kata si N dengan mimik serius yang saya tanggapi dengan cengiran kikuk. ‘semoga tahun depan visa saya disetujui, saya ingin jadi warga negara Canada,’ tandasnya. Si N memutuskan untuk pindah kewarganegaraan meski ditentang keluarganya.

20180822_165556
Ladang buckwheat mengisi petak lahan sempit di tepi bantaran Sungai Shyok. Deru aliran keras sungai yang berbuih melaju perlambang jika sesuatu yang bergejolak dalam diam juga sedang terjadi di kawasan sana. Semoga tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan dan ketentraman senantiasa menyertai tempat indah ini

Pembicaraan dengan si N diteruskan meski makan malam sudah selesai dilakukan. Karena hawa semakin dingin (konduktivitas batuan gunung yang tinggi membuat kawasan tersebut cepat panas di siang hari, dan cepat dingin di malam hari), membuat kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan dengan si N di dalam ruangan. Sebelum kami berkumpul di ruangan tengah di bagian bangunan kamar lantai dua, saya pergi dulu ke kamar saya untuk mengisi daya ponsel saya. Di Turtuk listrik hanya menyala dari jam 8 malam sampai jam 11 malam saja setiap harinya. Saya tak membayangkan bagaimana di musim dingin dengan kondisi tak ada listrik warga menjaga kehangatan di dalam rumahnya karena tak mungkin ada penghangat ruangan elektrik. Di sisi lain, minimnya listrik di Turtuk membuat tradisi warga di sana tak berubah banyak dalam sekian dekade terakhir.

Ketika kami sudah berkumpul kembali di ruang tengah memanfaatkan momen listrik yang masih menyala, kami bermain kartu remi. Salah seorang dari kami mengusulkan jika yang kalah harus dicoreti mukanya oleh bedak. Hampir semua orang pernah dicoreti mukanya termasuk si N. Hanya saya yang masih bersih, dan saya mencium aroma persengkokolan di antara mereka agar muka saya yang kena coretan bedak–tentu saja tak akan semudah itu membuat saya kalah, haha. Antara ejekan, umpatan, candaan, hardikan, hingga tawa lepas mengiringi permainan kami selalu. Ketika permainan sedang panas-panasnya (artinya ejekan dan umpatan membaur menjadi satu dan sulit dibedakan), listrik terputus yang menandakan sudah pukul jam 11 malam. Mau tak mau, permainan harus diakhiri. Kamar saya yang berada di bagian bangunan berbeda membuat saya harus keluar rumah dalam kondisi gelap-gelapan (ponsel masih diisi ulang di kamar). Awalnya saya ragu apakah saya bisa sampai ke kamar di kondisi gelap sempurna itu dengan selamat. Namun, begitu saya membuka pintu, saya malah terkesiap. Sesuatu yang elusif membuat saya tertegun dalam waktu cukup lama.

Karena kamar tidur saya terpisah berada di lantai 1 yang harus keluar dulu untuk mencapainya, begitu keluar dari ruangan berkumpul lantai 2, saya menuruni tangga dan berjalan menyusuri parit kecil di tepi penginapan. Di desa yang lokasinya ada di jantung Himalaya ini, listrik hanya menyala dari jam 8 sampai 11 malam saja tiap harinya. Meski saat saya keluar itu listrik sudah mati, langit musim panas yang bersih tanpa awan membuat bulan kuarsa yang belum bundar sempurna membagikan cukup terangnya sehingga saya dapat berjalan tanpa perlu menyalakan lampu senter. Bahkan air parit yang bersumber dari lelehan es di puncak gunung dan amat jernih secara samar-samar berkilap memantulkan cahaya bulan redup. Saat saya mengalihkan pandangan pada gunung batu tinggi yang puncaknya ditutupi es putih (andai malam itu purnama, es di pucak gunung mungkin akan bersinar), melampaui ladang buckwheat yang siap dipanen, menghampar naik turun mengikuti kontur topografi yang miskin kawasan datar, menyambung terus sampai akhirnya dibatasi oleh sungai deras yang sayup-sayup terdengar gemuruhnya. Bintang-bintang berwarna perak semarak di langit membuat saya bertanya-tanya kapan terakhir kali saya melihat langit segemerlap dan sebanyak itu. Saya mematung hampir sepuluh menit sampai lamat-lamat angin Himalaya yang dingin mengusap lembut leher saya, memberi nasihat lirih jika saya tak bisa berlama-lama berdiri di luar sana jika tak ingin masuk angin. Ah, siapa yang tak terpesona oleh malam hening dan magis seperti itu? Sebelum saya menutup pintu, saya mengintip ke ladang-ladang buckwheat yang hening, mengharap dan memastikan apakah ada peri-peri dan pegasus malu-malu yang akhirnya akan keluar dari persembunyiannya, tergoda oleh aroma dan suasana malam yang kedamaian dan ketenangannya begitu menyihir?

*****

Pada rencana awalnya, kami mengagendakan jika hanya satu malam saja kami akan bermalam di Turtuk. Namun dengan kedamaian desanya yang tak terdeskripsikan, membuat kami kerasan tinggal di sana dan memutuskan untuk menginap satu malam lagi. Karenanya, esok paginya kami bisa bebas bangun lebih siangan daripada hari-hari sebelumnya. Sarapan kami berupa roti dari tepung buckweath yang ditemani oleh dal dan susu kambing. Serta tentu saja sari minuman aprikot. Turtuk dikenal sebagai salah satu pusat budidaya tanaman buah aprikot. Hampir semua rumah ditanami aprikot di halamannya sehingga kami bisa makan aprikot sepuasnya. Rasa aprikot yang manis segar sangat cocok dinikmati di kawasan panas di sana. Ada pohon aprikot di dekat jendela kamar saya, sehingga saya selalu mengambil buah itu dan mengkonsumsinya setiap masuk kamar.

Karena si pemilik rumah harus bekerja di ladang dan si supir ingin bersitirahat, setelah sarapan kami memutuskan jalan keliling desa secara mandiri. Kami berencana pergi ke jeram yang ada di hulu desa. Ala petualang anak-anak di Lima Sekawan, kami menelusuri sungai ke arah hulu selama hampir satu jam (kami tak perlu membawa bekal minuman karena tinggal menyiduk langsung dari sungai). Sepanjang jalan kami kadang bertemu anak-anak dan saya membagikan cokelat atau permen untuk mereka. Karena merasa ada waktu luang, kami berjalan dengan santai dan bermain air sepuasanya di jeram. Kami baru kembali ke penginapan menjelang waktu makan siang.

20180822_174841
Bangunan sekolah dasar di Turtuk. Hal yang cukup membuat saya heran adalah ada 3 bangunan SD di desa yang sekecil itu (jalan dari ujung ke ujung tak sampai 15 menit). Hanya ada satu bangunan SMP dan tak terlihat ada bangunan lain untuk sekolah lanjutan lebih atasnya

Kami makan siang di sebuah café yang buka di sana. Saya memilih menu chow mein (semacam mie goreng) sayur dan minuman teh mint dingin. Begitu yang disajikan ternyata segelas air dingin yang ditambahi daun peppermint yang dipetik langsung dari semak di belakang kursi saya, teman saya cekikikan dan mengejek jika saya akan menghemat sekian rupee jika minta gelas saja lalu mengambil air dari selokan yang tak jauh berada di depan café dan memetik daunnya sendiri. Haha. Ada 4 orang bule selain kami yang sedang menikmati makan siang di café yang tak besar itu. Selepas makan siang dengan perut kenyang, sedikit kelelahan karena sudah berjalan-jalan selama hampir dua jam menuju jeram, kami memutuskan untuk sedikit tidur siang sebelum nanti sore si pemilik penginapan berjanji akan mengantar kami berjalan-jalan kembali keliling desa.

Dengan banyaknya lorong bak labirin, keliling Desa Turtuk kembali mengejutkan saya dengan banyaknya hal yang menarik dan belum sempat untuk dilihat. Sorenya, kami melakukan perjalanan kedua keliling desa. Setelah melewati sekian kelokan yang saya sukar runtuti, kami berhenti di tumpukan bebatuan yang disebut Natural Cold Storage. Para penduduk di sekitar Ladakh memang terkenal sejak dulu kala telah mengembangkan teknik pendinginan alami yang mungkin telah ada sejak ribuan tahun lampau. Konon ketika Genghis Khan ingin menyerbu kawasan Karakoram, dia terhenti karena adanya tembok es tinggi menghalangi pasukan berkudanya untuk menembus jantung Karakoram. Kisah ini mungkin tak sepenuhnya benar, tapi teknik membuat glacier buatan telah dikenal di sana sejak lama sekali. Orang-orang Ladakhi pada musim dingin menumpuk es sedemikian rupa sehingga tumpukan es ini tetap bertahan tidak meleleh banyak bahkan di puncak musim panas.

Dengan memanfaatkan pengetahuan hidrologi aliran air bawah tanah di bawah glacier, mereka mempelajari daerah mana saja kawasan temperatur dingin mengalir, lalu membentuk gua-gua yang berfungsi sebagai kulkas alami. Di Turtuk, banyak bangunan batu yang dibentuk di bawah sungai dan secara mengejutkan, temperaturnya benar-benar dingin, bahkan nafas saya berembun padahal hanya selangkah keluar hawa musim panas luar biasa menyengat.

20180822_182449
‘Kulkas’ alami ini berupa ceruk yang dibentuk dari tumpukan bebatuan. Warga biasanya memanfaatkan untuk menyimpan stok makanan dari mulai daging hingga sayuran. Sementara musim panas yang menyengat kuat, temperatur di dalam ruangan ini jatuh menyerupai kondisi mesin pendingin yang biasa ada di rumahan. Sebuah teknik yang sederhana sekaligus jenius

Setelah melihat kulkas alami, kami melanjutkan perjalanan ke tepi luar desa. Di sebuah bukit tinggi, terdapat semacam gazebo yang dijadikan tempat pengamatan untuk melihat Gunung K2–gunung tertinggi kedua di dunia setelah Everest, sekaligus gunung tertinggi di kawasan Karakoram. Melihat menjulangnya gunung tersebut dengan akses yang sukar dijajal, saya merasa tak heran jika gunung ini menjadi salah satu gunung paling sedikit didaki di dunia dan paling mematikan (luar biasa ekstrem, seperempat pendaki meninggal). Si N yang mengetahui saya suka naik gunung menggodai saya, ‘Kamu gak mau coba naik ke sana?‘ yang saya jawab dengan cengiran, ‘Saya tahu limitasi saya. K2 jelas tak akan pernah masuk dalam daftar pendakian saya seumur hidup, haha.‘ K2 sendiri masuk rangkaian Karakoram dan secara administrasi masuk wilayah Pakistan. Si N berdasarkan petunjuk si pemilik penginapan menunjuk bagian sungai Shyok di mana pos penjaga perbatasan India-Pakistan berada. Sangat dekat lokasinya dari Turtuk.

20180822_170858
K2, gunung tertinggi kedua di dunia, menjulang curam (di latar belakang sebeah kanan), membuat saya menyadari bahwa saya tak akan pernah sampai menginjakan kaki di puncaknya karena kecuaraman serta bahayanya

Turtuk yang sebelumnya dikuasai Pakistan lalu dianeksasi India di tahun 1971, membuat kawasan di sana secara kultural budaya lebih dekat dengan Pakistan ketimbang India. Di sana banyak sekali peninggalan bangunan mesjid kecil yang berumur tua. Tak jauh dari pos pengamatan K2, ada sebuah mesjid kecil serupa yang menurut klaim si pemilik penginapan, berusia lebih dari 300 tahun. Sayangnya lokasinya yang terpencil di ujung desa membuat bangunan tersebut tak lagi digunakan sehingga kondisinya menjadi tak terawat. Meski, masih menurut si pemilik penginapan, kadang ada orang-orang yang beribadah di sana saat mampir.

20180822_172306
Mesjid tak bernama ini, mestinya menjadi cagar budaya karena usia dan nilai historisisnya. Meski tak lagi digunakan, beberapa warga kadang datang untuk membersihkan lokasi di bagian dalam mesjid. merawat bangunan tua adalah merawat kenangan, sekaligus merawat sejarah yang lebih jauh lagi merawat identitas dan jati diri

Tak jauh dari mesjid, kami berjumpa dua orang turis asing. Saya beranikan diri menyapa mereka dan mereka memperkenalkan diri sebagai orang Israel. Meski perjalanan mereka ke Turtuk memang diatur oleh agen, tetapi selepas Turtuk mereka akan melanjutkan ke Kashmir secara mandiri (berlawanan dengan rute saya). Maka saya memberikan satu dua saran serta rekomendasi penginapan mana yang sebaiknya ditempati oleh mereka. Pasangan tua ini, pensiunan guru keduanya, sangat antusias mendaengar penjelasan saya sehingga jika tak ada hambatan waktu, mungkin saya akan mengikuti perjalanan mereka untuk memastikan mereka aman di tanah yang tak pasti ini.

Kami tak bisa berlama-lama karena si pemandu mengajak kami ke tujuan berikutnya. Maka kami pun melangkah kembali ke arah pemukiman desa. Semakin lama saya berjalan, semakin terasa betapa sepinya desa ini. Ketidakhadiran anak-anak remaja (mayoritas dihuni pasangan tua dan anak-anak usia sekolah dasar hingga balita), membuat desa yang meski padat pemukiman tetapi terasa lengang. Di salah satu tikungan, kami berjumpa dengan empat anak laki-laki yang sedang duduk-duduk. Melihat tamu asing, mereka malu-malu hendak lari namun kami cegah sambil ajak tertawa-tawa. Dengan memanfaatkan jasa si N, kami mencoba berbincang dengan mereka mengenai nama, usia, hingga kegiatan sekolah. Tingkah kikuk mereka baru mulai cair ketika saya mulai mengeluarkan cokelat sebagai kenang-kenangan. Dasar bocah. Haha.

DSCF2002
Selama bermalam dua kali di Turtuk, saya jarang mendapati anak-anak perempuan duduk-duduk di luar rumah. Hanya anak-anak laki-laki (pun jumlahnya tak banyak) yang masih saya dapati bermain di luar rumah. Anak-anak ini yag awalnya malu-malu, setelah dengan hadiah cokelat, akhirnya mau dan berani difoto bersama dengan kami

*****

Karena waktu senja masih cukup lama, si pemilik penginapan memutuskan jika kami akan mengunjungi Royal Palace, alias rumah besar bekas bangsawan setempat. Kembali jalan menuju sana adalah labirin berkelok-kelok sehingga ketika teman saya tertinggal di belakang karena keasyikan memoto sesuatu, kami kadang kesulitan mengumpulkan kembali dan ada yang salah belok gang. Setelah jalan lebih lambat dan meminta saling jaga jarak, akhirnya kami sampai di rumah bangsawan yang dimaksud.

“Istana” yang dimaksud memang ukurannya lebih besar daripada kebanyakan rumah di Turtuk. Beberapa tiang dan dindingnya juga diukir dengan hiasan bermotif bunga. Pun pintu gerbangnya yang terbuat dari daun pintu besar dengan plat besi besar melintang sebagai gembok. Si bangsawan yang umurnya sudah tua menyambut kami dan memperkenalkan diri sebagai ‘Raja Turtuk’. Bahasa Inggrisnya yang cukup lancar membuat  kami bisa langsung berkomunikasi dengan dia tanpa perlu bantuan si N. Seperti si kakek di museum, sang raja Turtuk sangat antusias sekali memberikan keterangan untuk setiap bagian ruangan di istananya–beberapa bagian bangunan yang terbuat dari kayu, tampak sudah lapuk. Selama memberikan keterangan, dia selalu membawa tongkat gading dan kacamata hitam meski kondisi di dalam rumahnya remang-remang.

Dengan gaya nostalgia mengenang masa-masa yang telah lama berlalu, si raja menerangkan kisah leluhurnya bagaimana sampai mereka menemukan dan bermukim di Turtuk. Di sebuah bagian dinding tingkat kedua ‘istana’, terdapat bagan silsilah keluarganya yang jika dirunut ke belakang berasal dari raja lokal di kawasan Asia Tengah ratusan tahun silam dengan catatan sampai hampir 30 generasi. Ketika saya menanyakan padanya kenapa rumah sebesar itu sepi, dia menjawab jika hanya anak-anak perempuannya saja yang bertahan di Turtuk. Anak-anak lelakinya dia tugaskan untuk berkuliah di Pakistan. Antusiasme si kakek menulari kami sehingga kami menghabiskan waktu di sana lebih lama daripada rencana semula. Sebelum berpamitan, si raja meminta kami berfoto bersamanya (padahal biasanya kami yang meminta berfoto dengan warga setempat). Setelah memberikan sumbangan alakadarnya, kami berpamitan padanya dan meneruskan perjalanan mencari bagian lain dari desa Turtuk yang dianggap menarik.

DSCF2352
Raja Turtuk yang tampil eksentrik ini sangat antusias menerangkan sejarah leluhurnya yang menjadi pelopor dan bagian tak terpisahkan dari desa magis tersebut

Karena kami akan meninggalkan Turtuk keesokan pagi, kami masih ingin mencari tempat lain di Turtuk yang sekiranya menarik. Dari peta tulisan tangan di istana, ditunjukan bahwa masih ada tempat lain yang belum kami kunjungi yakni ‘pantai’. Tentu saja di atas ketinggian lebih dari 3000 meter seperti Turtuk, pantai yang dimaksud bukanlah pantai tepi laut, tetapi sebuah pelataran landai cukup luas dimana Sungai Shyok menepi dan meninggalkan jejak sapuan pasir dan kerakal sepanjang bantarannya. Karena amukan Sungai Shyok tetap sekencang biasanya, kami tak ada yang berani melangkah mendekati aliran sungai. Setelah berfoto-foto sebentar di pasir cokelatnya, kami memutuskan kembali ke penginapan. Tak jauh dari pantai tersebut, terletak papan pengumuman peringatan jika tak jauh darinya ada pos perbatasan India-Pakistan yang pastinya dijaga tentara bersenjata lengkap. Saya tak mau ambil resiko mencari di mana lokasi pos yang dimaksud.

Kami diberi tahu jika kami akan meninggalkan Desa Turtuk pagi sekali demi mengejar tujuan berikutnya yang masih jauh. Rencana kami yang ternyata menambah waktu menginap di Turtuk menjadi dua malam dari rencana satu malam, membuat jarak kami ke destinasi hari berikutnya menjadi semakin menjauh. Karenanya untuk mengejar waktu agar tak kemalaman tibanya, kami harus meninggalkan Turtuk sebelum subuh. Oleh sebab itu, selekas makan malam kami tak berkumpul main kartu atau mengobrol seperti sebelumnya. Kami berkemas-kemas mumpung lampu masih menyala (saat kami bangun dan berangkat esok harinya, listrik sudah dimatikan berjam-jam sebelumnya).

Saya baru menyadari sesuatu yang terasa aneh di langit Turtuk saat saya duduk-duduk di gazebo menunggu giliran kamar mandi. Saat sedang duduk dan membaca buku The Goldfinch, tetiba terdengar bersahut-sahutan di kejauhan suara azan Maghrib. Lalu hanya berselang beberapa menit berikutnya, kegelapan langit malam nyaris sempurna membutakan padahal seharusnya di musim panas seperti itu, malam bisa bertahan lebih lama. Saya tak merasakan kehadiran senja dengan langit menyala oranyenya. Lalu saya mengorek kenangan saya di pagi tadi jika saya juga tak melihat matahari terbit beserta semburat fajarnya. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk mengetahui alasannya. Dikelilingi gunung-gunung tinggi menjulang, Turtuk menyembunyikan diri dari horizon. Matahari tak pernah terbit dan terbenam menghasilkan jejak oranye membakarnya, karena terhalang oleh gunung. Ketika matahari datang dan pergi dari langit Turtuk, hari sudah dan masih terang. Saya mengandai-andai, bagaimana rasanya jika warga yang lahir dan tak pernah meninggalkan Turtuk bisa hidup tanpa pernah mengenali keindahan fajar yang menggugah dan kehangatan senja yang menenangkan. Konsep waktu bagi mereka akan menjadi sangat aneh.

20180824_070705
Sebuah sisa bangunan reruntuhan di Turtuk menyisakan bagian dinding bertuliskan Arab seperti ini. Di bagian belakang tembok ini (tak tampak di foto) ada beberapa jejak peluru yang membuat saya tak mau berspekulasi tentang apa yang pernah terjadi di sana

*****

Kami meninggalkan Turtuk benar-benar dalam kondisi gelap gulita. Dengan memanfaatkan penerangan headlamp atau cahaya ponsel, kami menuruni gang-gang labirin Turtuk yang di beberapa bagian sangat curam dan licin sehingga harus berjalan dengan sangat hati-hati. Karena hari masih sangat gelap, kami tak sempat berpamitan dengan istri si pemilik penginapan beserta anak-anaknya yang lucu menggemaskan. Selama setengah jam pertama, pemandangan kami terbatasi oleh gelap dan si supir pun harus mengendarai mobilnya dengan hati-hati karena jalanan berada persis di tubir Sungai Shyok. Dan seperti biasa, untuk 8 jam berikutnya, kami akan habiskan waktu di jalan.

Tujuan kami berikutnya adalah danau Pangong Tso, sebuah danau di tengah pegunungan Himalaya yang terbelah secara politik antara India dan Tibet. Perjalanan menuju danau di ketinggian sekitar 4300 meter di atas muka laut ini saat ditempuh dari arah Turtuk menjadi tantangan tersendiri. Jalanan yang lebih banyak off-road rusak tak beraspal serta berkelok-kelok membuat kami membatalkan niat ingin meneruskan tidur yang terjeda. Berbeda dengan Turtuk, danau Pangong Tso adalah tujuan wisata populer. Karena pernah dijadikan syuting film 3 Idiots (2009) yang fenomenal, Pangong Tso tetiba menjadi tujuan wisata populer bagi warga India yang sebelumnya tak mengenal lokasi danau yang tersembunyi ini. Meski banjirnya wisatawan penasaran ini harus dibayar dengan harga mahal. Membludaknya turis secara mendadak tanpa kesiapan fasilitas membuat ekosistem Pangong Tso sempat terguncang dengan kerusakan yang sangat serius.

Antara setengah terkantuk-kantuk tertidur kelelahan yang senantiasa terganggu rusaknya jalanan, setelah hampir 8 jam lebih, kami akhirnya sampai di danau Pangong Tso. Lokasi danau ini benar-benar tersembunyi sempurna di balik gunung-gunung tinggi (lebih dari 6000 meter) sehingga tak heran jika danau ini sepenuhnya tak dikenal oleh warga India sendiri sebelum film 3 Idiots keluar. Satu hal yang saya syukuri adalah karena pemerintah Ladakh memahami sepenuhnya jika kerusakan ekosistem dapat membunuh pariwisata sendiri. Pemerintah Ladakh kemudian membenahi dan membersihkan danau dari sampah. Ketika saya sampai di Pangong Tso, nyaris tak menemukan ceceran sampah. Tak sepenuhnya perawan sebagaimana sebelum film 3 Idiots keluar tentu saja, namun jelas upaya perbaikan besar-besaran ini patut diapresiasi (sekarang penginapan hanya diizinkan di tenda-tenda berbayar atau bangunan permanen yang telah disediakan, sehingga limbah domestik lebih terkontrol).

DSCF2513
Poster film 3 Idiots di tepian danau Pangong Tso. Banyak poster, dudukan kursi, hingga scooter yang disewakan untuk meniru adegan di film populer ini termasuk toko-toko cenderamata yang menjual gantungan kunci hingga CD lagu soundtrack film tersebut

Karena ketinggiannya yang lumayan esktrem, Pangong Tso kering dan lebih dingin daripada yang saya perkirakan. Ketika matahari sudah mulai turun ke balik gunung di pukul 4 sore, temperatur turun drastis sehingga kami segera berhamburan mencari baju hangat dan tebal. Danau yang dikelilingi gunung-gunung tinggi membawa turun angin gunung yang kadang membuat tengkuk bergidik saking dinginnya. Meski langit sore masih cerah dan musim panas sedang ada di puncaknya, saya sudah mengenakan sarung tangan, kupluk, dan syal tebal untuk menghadang udara dingin angin gunung yang menggetarkan. Tentu saja hampir semua turis melakukan hal serupa, jadi tak perlu ada rasa malu dan sungkan. Haha.

Air danau Pangong Tso sedikit asin karena menjadi tujuan akhir sungai-sungai sekitar bermuara. Tak adanya keluaran membuat garam-garam terlarut menumpuk dan terjebak membuat danau ini menjadi asin meski bersumber dari air es di gunung. Air danaunya luar biasa dingin membuat saya sedikit menyesal ketika ingin bersantai dengan membaca buku sambil merendam kaki di pinggir danau. Haha. Saya sampai mengadakan pertaruhan dengan teman saya, apakah mereka juga berani melepaskan sepatu dan mencelupkan kaki ke air danau yang tampak tenang ini, tak ada teman saya yang berani. Cukup membasuh tangan saja, rasa dingin di tangan bertahan lama sekali.

20180824_175451_007
Menjelang sore, langit musim panas masih cerah dan terang. Dinginnya air tak tertebak oleh ketenangan danau dari foto ini

*****

Saya menginap di tenda besar yang disewakan berisi dua kasur–ada tenda yang berisi dua kasur, satu kasur, atau yang lebih murah berupa tenda barak dengan beberapa kasur. Semakin mendekati sore udara semakin jatuh terjun bebas, rencana jalan-jalan keliling danau dibatalkan sesegera mungkin dan lebih memilih tidur-tiduran sambil membaca buku di kasur untuk menunggu menu makan malam disajikan. Makan malam baru disajikan jam delapan malam, di tenda besar terpisah dari tenda tidur di mana meja-meja sudah ditata tempat para tamu duduk dan makan. Sambil menunggu makan malam tersaji lengkap, kami mengalihkan perhatian dari dinginnya udara dengan bermain kartu–tentu saja tanpa hukuman coret-coret muka karena malu dilihat turis lain. Haha. Menu makan malamnya sendiri ternyata sangat enak. Ada aneka sup hangat, roti-rotian, dan minum-minuman hangat saya cobai hampir semuanya kecuali yang dicampur daging. Entah karena dingin atau lapar, saya makan cukup banyak malam itu.

Keluar tenda makan menuju tenda kamar, langit gelap sepenuhnya. Meski bulan mendekati purnama yang terpotong separuhnya oleh puncak pegunungan Himalaya bersinar terang, bintang-bintang yang terserak di langit bersinar cukup cemerlang melawan terangnya rembulan karena dibantu oleh bersihnya polusi cahaya dan udara. Pada kondisi yang lebih normal, mungkin saya akan terpaku lama menatap langit malam. Tetapi dengan angin gunung yang semakin kencang dan dingin setiap bertambah waktunya, saya hanya menatap sebentar. Saya baru mengenali beberapa rasi populer seperti Scorpion dan Ursa Major sebelum akhirnya menyerah kedinginan dan masuk tenda.

20180825_070818
Tenda-tenda penginapan (tipe yang saya inapi berbentuk kerucut) didirikan di tepi danau. Meski ada beberapa bangunan permanen, tetapi kebanyakan penginapan berupa tenda non-permanen dengan tujuan meniminalisir dampaknya terhadap kehidupan liar di sekitar danau

Ketika saya terbangun jam 5 pagi, hari masih gelap. Saya mengajak teman saya apakah dia mau melihat sunrise, dia langsung menggeleng kepala dan merengut karena udara dingin di luar tenda sudah pasti membuat tak nyaman. Hanya karena rasa pensaran, saya nekat keluar tenda setengah jam kemudian demi melihat sunrise di tepi Pangong Tso. Sudah bisa saya tebak jika akan sangat sedikit turis lain yang cukup penasaran melihat matahari terbit dengan mengorbankan kehangatan selimut di tenda. Saya berjalan ke tepi danau dan tak berani duduk di bebatuan karena sudah pasti sangat dingin.

Sambil menunggu matahari muncul, saya berjalan ke sana kemari menyusuri tepian danau untuk mengurangi dingin. Ketika langit akhirnya perlahan menerang, saya berdiri cukup lama menunggu bulatan matahari keluar namun tak pernah muncul. Pangong Tso terlampau tinggi di mana horizonnya terhalangi pegunungan tinggi sehingga matahari tertutupi pegunungan. Berdiri selama hampir satu jam sampai langit benar-benar terang bak siang, bulatan matahari tak pernah bisa saya lihat.

20180825_055143
Matahari terbit tak sepenuhnya keluar ke langit. Gunung-gunung yang terlampau tinggi menyembunyikan keindahan matahari terbit dan hanya menyisakan berkas-berkas silau di balik gunung

*****

Setelah sarapan, kami segera berkemas untuk meninggalkan Pangong Tso. Meski pemandangan di sana memang mengesankan, tetapi karena sewa tenda sangat mahal dan juga luar biasa dingin, maka cukup satu malam saja kami putuskan tinggal di sana. Haha. Meninggalkan Pangong Tso artinya kami harus berkendara kembali sangat jauh menuju kota Leh, di mana kami sudah memesan tiket untuk pesawat meninggalkan Ladakh keesokan harinya. Perjalanan pulang ke Leh jelas bukan jalan singkat. Kami akan menghabiskan sebagian hari kami kembali di jalanan.

Di sekitar area Pangong Tso, terdapat semacam kawasan datar di mana sungai mengairi membentuk semacam padang rumput basah. Sangat kontras dengan kondisi sekitarnya yang kering kerontang bebatuan, kawasan ini kaya akan kehidupan liar dimana yak, kambing liar, hingga kuda eksotis khas Tibet yang disebut kiang (Equus kiang) berkembang biak dengan bebas. Di masa-masa lampau sebelum ada intervensi manusia, mungkin snow leopard (Panthera uncia) yang setengah mitos saking langkanya itu juga berada di sana.

20180824_141623
Hewan mamalia perumput berkumpul di tengah padang rumput setengah rawa. Hari masih pagi, mereka berkumpul dalam jumlah banyak sementara saat sore hari sebelumnya saat saya melewati tempat sama, rombongan hewan ini muncul dalam jumlah lebih sedikit

Saya awalnya pesimis jika hanya akan bisa melihat hewan-hewan liar itu dari kejauhan saja. Namun siapa duga ketika melihat-lihat bebatuan di pinggir jalan, ada hewan marmut himalaya (Marmota himalayana) yang sedang berdiri mematung begitu saja di pinggir jalan. Saya beserta teman-teman saya segera meminta agar mobil dihentikan. Entah apa yang sedang dilakukan si marmut, hewan ini diam mematung begitu saja berdiri di dekat liang sarangnya yang dia gali di bawah bebatuan. Saya melarang teman saya untuk menyentuh hewan itu tentu saja, tetapi saat saya dan dia mendekati dalam jarak begitu dekat sehingga hanya dengan menjulurkan tangan saya yakin bisa membelainya, si marmut tetap bergeming pada posisi serupa. Kami tentu saja tak menyia-siakan kesempatan itu untuk membuat swafoto. Bahkan ketika kami pergi dan mobil menjauh, si marmut masih dalam kondisi serupa.

20180825_091611
Marmut himalaya ini tetap bergeming dalam waktu lama ketika kami mendekatinya. Saya pikir dia sedang waspada menjaga kawanannya agar aman dari elang, tetapi malah tidak waspada dengan kehadiran manusia. Jangkan kabur, melirik kami saja tidak

*****

Karena kami sudah sarapan di Pangong Tso, mobil kami bisa melaju tanpa berhenti menepi mencari sarapan. Jalanan menuju Leh tak kalah seram dan curamnya dengan jalan-jalan di hari-hari sebelumnya. Dan karena lokasinya di perbatasan China, jumlah tentara yang berjaga tak kalah banyaknya dengan perjalanan menuju Turtuk atau saat di Kashmir. Di tempat yang bahkan tak mungkin menyediakan sumber daya memadai untuk bertahan hidup, ternyata ditempati barak-barak tentara (meski berupa tenda-tenda non permanen). Jalanan sempit curamnya membuat mobil kami harus terpaksa antre mengalah dengan iring-iringan kendaraan militer.

Supir baru kami di Ladakh berbeda dengan supir kami di Kashmir. Supir kami di Kahsmir yang pembawaanya ceria dan nekat berkomunikasi dengan kami meski bahasa Inggrisnya tak bagus kadang mempunyai pembawaan yang berani dan nekat. Saat ada iring-iringan mobil militer dimana mobil-mobil lain akan menepi memberi jalan, si supir malah mengebut dan menerobos yang kadang membuat saya waswas. Sebagai warga Kashmir, sepertinya tindakan itu ia lakukan sebagai ungkapan protes dan kemarahan atas kehadiran militer India di Kashmir. Sementara itu, supir kami selama di Ladakh meski kemampuan menyetirnya luar biasa piawai, tetapi lebih memilih antre ikut antrian di belakang iring-iringan mobil milter ketimbang mendahului. Karena merasa tak bisa berbahasa Inggris, dia lebih memilih diam. Setiap pertanyaan atau permintaan kami (misal untuk berhenti di jalan karena ada rekan yang tak tahan ingin kencing) harus dilakukan dalam bahasa isyarat tubuh.

20180825_090351
Lanskap kering dan dingin menuju Leh. Gambar ini menjelaskan dengan tepat situasi yang saya alami selama di Ladakh. Angin kering kencang sekaligus dingin secara paradoks malah membuat hawa panas saat siang hari sehingga banyak bagian tak bervegetasi

Untuk mengatasi kebosanan dan kemonotonan selama di jalan (yang sangat harus dihindari, tiap belokan selalu ada peringatan menyalakan klakson atau himbauan berhenti menyetir jika mengantuk) si supir Kashmir akan memutar lagu-lagu berbahasa Hindi dan Kashmir yang kadang masih mau mengalah dengan kami untuk memutar lagu-lagu berbahasa Inggris. Sementara si supir Ladakh yang menurut teman saya ‘dingin bagaikan kulkas’ karena jarang tersenyum langsung kepada kami saat kami mengajaknya berkomunikasi, hanya mau memutar lagu-lagu berbahasa Ladakhi terus menerus. Atau lebih spesifiknya, memutar lagu dari satu album yang sama terus menerus.

Salah satu lagu berjudul “Juley”–atau lagu lain dengan judul lain tetapi mengulangulang kata ini sekian ratus kali (diambil dari kata unik asal Ladakh yang bisa bermakna banyak, mulai dari ‘iya’, ‘mantap’, ‘keren’, ‘salam’, dsb) begitu sering diputar-putar sehingga kami sampai hafal lirik-liriknya. Niat awal kami yang menyanyikan lagu tsb sebagai sindiran halus minta diputar lagu lain, malah dia tanggapi sebagai ‘wah, kalian sangat suka dengan lagu ini ya‘, dan dia akan menagggapinya dengan mengeraskan volume. Itulah sebabnya konsentrasi saya membaca buku di kendaraan sedikit terhambat karenanya, haha.

20180825_092025
Rombongan liar yak, yang kadang membuat mobil kami kesulitan maju saat berpapasan di jalan sempit bersisian jurang, membuat kami tak berani menyalakan klakson ketimbang dia panik dan menubruk mobil. Hanya kesabaran yang dibutuhkan untuk bisa mengiringi makhluk tenang dan bersahaja ini

Perjalanan kami yang masih didominasi pegunungan kering bersalju terasa semakin menanjak sejak meninggalkan Pangong Tso. dan benar saja, kami melintasi salah satu Pass yang sangat tinggi lagi yakni Chang La Pass yang ada pada ketinggain lebih dari 5300 meter. Berbeda dengan saat kami melintasi Khardung La yang meski lebih tinggi sedikit, saat melintasi Chang La (jalan yang dapat dilalui mobil tertinggi kedua di dunia) ini kondisi kami lebih sehat dan bugar karena sudah beradaptasi dengan baik.

Sudah bisa ditebak, kami berfoto-foto sepuasanya di sana. Haha.

20180825_110722
Barak-barak militer di Chang La (di sebelah kanan foto), dengan puncak es yang nyaris sejajar saking tingginya. Saya tentu saja berjalan mendekatinya

*****

Meski sudah pukul 2 siang, si supir tak menghentikan kami di tempat makan. Ketika kami meminta konfirmasinya, dengan bahasa Inggris terpatah-patah, dia mengatakan bahwa dia akan mengajak kami makan siang di rumahnya dengan jamuan tradisional. Pantas sejak pagi dia terus menelpon seseorang di lokasi-lokasi yang kira-kira ada sinyal (mungkin anggota keluarganya dengan perintah untuk memasak sesuatu). Ajakan traktir gratisan ini membuat kami terkejut (dan senang tentu saja). Teman saya yang menjulukinya sebagai ‘si kulkas’ buru-buru meralat. Haha. Ketika kami memasuki pemukiman pinggiran kota Leh, mobil dibelokkan ke sebuah desa kecil yang jalanannya rindang dan sejuk karena dialiri selokan berair jernih. Yang lebih mengejutkan kami, satu keluarganya sudah berdiri siap menyambut kami di rumahnya (satu adik perempuan, istri dan anak balita, ibu mertua, dan kakak ipar perempuan beserta satu anaknya).

Untungnya si adik perempuan (yang usianya hampir sama dengan usia saya), cukup faham berbahasa Inggris ketimbang kakaknya si supir tadi. Melalui dia lah kami berkenalan dan berkomunikasi dengan keluarga ini. Menurut dia, rombongan kami adalah yang pertama sejauh ini yang diundang kakaknya sebagai tamu pribadi untuk dijamu makan siang karena kami adalah tamu paling sopan dan paling menyenangkan hatinya selama menjadi supir pengantar turis di Ladakh (profesi yang mestinya sudah ia jalanai bertahun-tahun). Sanjungan ini malah membuat kami kikuk dan cengengesan karena merasa jauh dari penggambaran si kakak. Haha.

Makan siangnya sendiri ternyata sangat enak, ayam bumbu dan nasi briyani (saya cukup puas makan nasi dan sayuran saja) dimasak dengan resep bumbu tradisional terasa sangat nikmat (menurut pengakuan teman saya) sampai-sampai kami makan nyaris sapu bersih dan menyeduk nasi berkali-kali. Kehangatan keluarga ini yang meski terkendala bahasa tetap antusias mencoba berkomunikasi dengan kami membuat acara makan siang terasa lebih nikmat (saya pikir itulah makan siang terenak yang saya alami selama di Ladakh). Saat berada di tengah keluarganya sendiri, si supir bisa tertawa lepas bebas, hal yang jarang kami temui selama perjalanan berhari-hari sebelumnya dengan dia.

Selepas makan siang, si supir tampak lebih ‘rileks’ berkomunikasi dengan kami dan lebih berani mengajak kami mengobrol meski tetap terbata-bata. Menjelang sore, sebelum ke penginapan, kami diajaknya berkeliling pusat kota Ladakh. Di Leh Market, di mana alun-alun dikelilingi toko-toko cendera mata dan tempat turis-turis berkumpul kami menghabiskan sisa hari itu untuk membeli oleh-oleh. Saya tentu saja membeli buku (lagi) di sebuah toko buku, manisan buah kering, tenunan tradisional, dan tak ketinggalan, tak tanggung-tanggung satu kilogram bongkahan batu garam himalaya. Haha.

Tak jauh dari Leh Market, di atas bukit, berdiri Leh Palace yang ikonik. Istana bangsawan yang didirikan lima ratus tahun lebih lampau ini dibuat dengan gaya sama persis dengan Potala Palace di Lhasa Tibet dengan ukuran yang lebih kecil. Julukan “The Little Tibet” untuk Ladakh memang sangat sesuai tak hanya dari segi ukuran geografi dan kedekatan budaya, tetapi juga dari sisi yang lebih harfiah yakni ukuran istananya.

20180825_165021
Pemandangan kota Leh tua dari istana Leh Palace. Bangunan dari batu bata dan lumpur dengan gang-gang sempit dan berliku-liku. Gunung-gunung batu dan es mengelilingi kota Leh yang membentuk ceruk mangkuk. Karenanya, mungkin terdengar menggelikan, meski ada pada ketinggian lebih dari 3000 meter, Leh kadang diterpa banjir.

*****

Ladakh, dengan segala pesona, budaya, panorama, lanskap, hingga orang-orangnya, telah menimbulkan kesan begitu mendalam bagi saya selama menjelajahi pelosok-pelosoknya. Untuk menyebutkan bagian Ladakh mana yang Indah, artinya saya harus berdiri diam lalu memutarkan badan sambil mengarahkan telunjuk ke segala arah. Angin, es, hujan, sungai telah mengubah lanskap Ladakh selama jutaan tahun menjadi sesuatu yang tak mudah bisa ditemukan di bagian planet bumi lainnya.

Lebih lanjut lagi, perjalanan ke Ladakh juga memberi saya pengalaman baru dan berbeda. Mengunjungi pusat konflik dan perebutan tiga negara sekaligus, memberikan dampak terasa tak hanya bagi warganya sendiri tetapi juga kepada para turis yang mengunjunginya. Dari ekpresi muka hingga ‘hawa’ yang ditemui di pusat kerumunan warganya, saya melihat mata-mata gelisah sekaligus penuh harap dan doa. Harapan untuk hidup tenang dan damai tak hanya untuk mereka sendiri tetapi generasi-generasi selanjutnya.

20180824_153449
“You can look at a picture for a week and never think of it again. You can also look at a picture for a second and think of it all your life”. Kutipan dari buku The Goldfinch ini sangat tepat disematkan pada setiap bagian Ladakh yang saya saksikan

 

Catatan tambahan:

*      = Kompleks pegunungan Himalaya, seperti halnya kondisi ketegangan geopolitik yang melingkupinya zaman sekarang, lahir dengan kekerasan dan benturan kekuatan mahabesar. Seperti diketahui, dahulu kala sebelum 170 juta tahun lalu, semua daratan di bumi bersatu membentuk satu benua raksasa bernama Pangea. Ketika benua tunggal itu terbelah menjadi dua benua lain yakni Lurasia (yang membentuk Eropa, Asia, Amerika Utara modern) dan Gondwana (yang membentuk Antartika, Afrika, Australia, Amerika Selatan modern), belahan antara Gondwana dan Laurasia membentuk Samudera Atlantik seperti sekarang. Lebih lanjut lagi, Gondwana (seperti halnya Laurasia) kemudian terpecah lagi menjadi benua-benua yang saya sebutkan sebelumnya. Salah satu pecahan Gondwana yang lebih kecil yakni yang membentuk India, terbelah dari Australia dan Antartika sekitar 70 juta tahun lalu mengembara sendirian di lautan yang menjadi Samudera Hindia sekarang. Pecahan ini kemudian terbelah lagi dengan pecahan kecil merapat ke Afrika membentuk Madagaskar dan pecahan besar menumbuk daratan raksasa Asia sekitar 50 juta tahun lalu. Kawasan yang menjadi lokasi tubrukan India dan Asia ini membentuk rajutan berkerut yang menjadi kawasan The Great Himalaya sekarang. Karena itu, zaman sekarang masih bisa ditemukan fosil kerang lautan di ketingggian 8000 meter Himalaya karena dulunya kawasan ini berada di lautan dan ketika menumbuk, terangkat membentuk gunung-gunung tinggi.

Perjalanan saya selama di Himalaya-Karakoram, bisa dengan jelas menyaksikan bukti-bukti tumbukan ini. Seperti pada foto di atas-atas, adanya batuan berlapis menandakan jika batu ini merupakan batuan endapan di laut dalam, di mana ‘lumpur’ lautan mengeras selama jutaan tahun terangkat ke permukaan saat proses tumbukan. Jenis batuan beku seperti granite, diorite, dan gabbro terserak di lereng-lereng pegunungannya menandakan bahwa dulu pada saat terjadi pada proses tumbukan memicu aktivitas vulkanisme, zona lemah antara dua tumbukan lempeng India dan Asia disisipi magma dari bawah bumi yang kemudian membeku karena terpapar udara luar. Jenis batuan ketiga yakni batuan metamorfik seperti marl, dolomite, dan greywacke yang biasanya merupakan hasil rombakan batuan endapan atau batuan beku yang berubah karena mendapatkan paparan suhu dan tekanan tinggi (titik pertemuan daratan Asia dan India yang saling menekan menciptakan tekanan dan suhu tinggi). Batuan metamorfik yang biasanya berjenis quartz dan slate biasanya berupa ‘kristal’ berwarna atau transparan membuat pecahan-pecahan batuan ini yang ada di sepanjang jalan terlihat menarik untuk ‘dikoleksi’ dibawa pulang sebagai souvenir.

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

4 thoughts on “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.5]”

  1. Nyesel banget dulu datang di musim yang salah jadi gak bisa ke Pangong Tso. Aku gak kapok ke India, dan semoga ada kesempatan balik lagi ke sana biar bisa liat tempat yang Qui pamerin fotonya di sini secara langsung. Foto ladang buckwheat itu juara banget.

    Liked by 1 person

    1. Ah…

      India itu berisik, kotor, macet, tapi full of life. Tanah lahir Gandhi, Budha, Hinduism dg sejarah rumit. Tempat dimana gunung es, gurun, pantai, benteng-benteng tua, istana-istana megah dan kolosal, kuil penuh tikus dan monyet, festival-festival yg berjuta-juta orang hadiri dan joget-joget di jalan. A beautiful mess.

      Yep. India harus dikunjungi berkali-kali. Saya gak pernah bosen dengan India. Kecuali makanannya yg bikin diare. Haha

      Like

        1. Dal dan roti masih bisa lah. Sisa dari itu mending beli makanan bungkusan, hehe, atau yang masih hangat. Bumbu yang terlalu kuat juga gak masuk ke lidah saya yang cenderung tipikal rasa bersahaja.

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s