Terbaik dan Terburuk di 2018

“I think that most of us feel like something is missing from our lives. And I wondered then if Knight’s journey was to seek it. But life isn’t about searching endlessly to find what’s missing. It’s about learning to live with the missing parts.”
Michael Finkel, The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit

Siklus kembali bergulir. 365 hari bukanlah waktu yang sebentar, banyak hal yang bisa dan telah saya lakukan sepanjangnya. Tak semuanya berisi suka cita tentunya. Dari ke-365 hari terlewat itu, sebagian tentu saja terasa berat dijalani dulunya, tetapi sekarang saat ditinjau kembali, malah terasa menggelikan dan sepele. Well, seperti biasa, saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman saya sepanjang tahun 2018 yang lalu lewat pembacaan buku, penyaksian film, dan pendakian gunung.

Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2018”

Advertisements

Gunung Sindoro, Januari 2018

“What is the good of your stars and trees, your sunrise and the wind, if they do not enter into our daily lives? They have never entered into mine, but into yours, we thought–Haven’t we all to struggle against life’s daily greyness, against pettiness, against mechanical cheerfulness, against suspicion? I struggle by remembering my friends; others I have known by remembering some place–some beloved place or tree–we thought you one of these.”
― E.M. Forster, Howards End

Ketika saya masih SD (mungkin kelas 5 SD, saya tak ingat persis), salah satu tontonan favorit saya adalah acara-acara petualangan di kanal Discovery. Dalam sebuah episode yang mengisahkan para petualang yang mengalami cedera saat melakukan olahraga ekstrem di alam liar, tayangan tsb (sayang saya lupa judul serialnya) berulang kali menyorot tulisan besar yang ada di papan peringatan di kawasan Rocky Mountains yang terjal-terjal namun berpemandangan menawan yang bertuliskan “Mountains doesn’t care!” Kelak bertahun-tahun kemudian di masa SMA, ketika saya memulai mencoba bertualang  dengan berkemah di hutan dan gunung, saya mulai memahami apa makna dari frasa dan peringatan itu secara sesungguhnya. Kita bisa berikrar, mendeklamasikan, atau membual bahwa kita mencintai gunung. Tapi kenyataannya gunung tak mencintai kita. Gunung tak pernah peduli baju apa yang kita kenakan atau bekal yang kita bawa. Tapi jika memakai baju dan bekal ala kadarnya, “hukuman” dari gunung bisa begitu fatal mengerikan. Atau saat kita bertindak ceroboh tak mengikuti aturan, tak ada toleransi yang diberikan oleh gunung. Gunung punya jiwa, semangat, pesona, keindahan dan juga kebrutalannya sendiri. Kesenangan dan keselamatan kita tak menjadi perhatiannya. Ketika seorang pendaki mengabaikan kenyataan ini dimana dia melakukan kesenangan tanpa memerdulikan keselamatan, bersiaplah menghadapi resiko mengerikan. Saat pendakian ke Sindoro lah, saya masih mendapati perilaku pendaki gegabah itu, dalam konsekuensi yang begitu buruk. Mungkin ini adalah salah satu “kecelakaan” terburuk yang pernah saya hadapi secara langsung saat mendaki dalam 10 pendakian gunung terakhir. Continue reading “Gunung Sindoro, Januari 2018”

Terbaik dan Terburuk di 2017

“How often do we tell our own life story? How often do we adjust, embellish, make sly cuts? And the longer life goes on, the fewer are those around to challenge our account, to remind us that our life is not our life, merely the story we have told about our life. Told to others, but—mainly—to ourselves.”
― Julian Barnes, The Sense of an Ending

Tahun 2017 bisa dikatakan sebagai tahun terburuk sepanjang karir saya sebagai seorang pembaca buku, penonton film, dan pendaki gunung. Atau malah, dilihat dari sisi lain, salah satu yang terbaik? Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2017”