Karakoram-Himalaya Mountains [bag.2]

“Stay away from the ones you love too much. Those are the ones who will kill you.” 
― Donna TarttThe Goldfinch

Ketika saya memutuskan untuk ikut perjalanan mengelilingi kawasan Himalaya-Karakoram ini, yang awalnya hanya diniatkan sebagai perjalanan road-trip tanpa ada kegiatan fisik berarti, tak terlintas di pikiran saya jika ada hari di mana kami akan melakukan perjalanan trekking melintasi hutan hampir setengah harian. Dan saya rasa memang teman-teman saya lain pun tak ada yang menduganya. Maka, teman-teman saya ada yang ‘salah kostum’ hari itu. Alih-alih memakai sepatu outdoor, dia malah memakai sandal dan pakaian semarak. Tak akan ada yang menduga jika perjalanan yang akan kami tempuh adalah perjalanan melalui jalanan setapak berbatu, menerabas semak belukar, menanjaki bukit terjal, atau melampaui tanah basah yang melesak. Bahkan si pemandu pun tak mengetahuinya, haha. Dasar. Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.2]”

Advertisements

Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]

“I had the epiphany that laughter was light, and light was laughter, and that this was the secret of the universe.”
― Donna Tartt, The Goldfinch

Kata “paradise” dalam bahasa Inggris (atau “firdaus” dalam bahasa Indonesia), memiliki akar kata dari bahasa Avesta (Iran Kuno) pairidaēza yang bermakna taman berdinding/berpagar/tertutup. Dalam konteks keagamaan, istilah tersebut memang diasosiasikan sebagai hunian eksklusif dengan pemandangan menawan dan kenikmatan tertinggi bagi mereka yang telah melewati fasa hidup fana di dunia setelah melakukan kebaikan-kebaikan yang disyaratkan dalam aturan agama tersebut, sehingga hanya mereka yang terpilih yang berhak memasukinnya. Sepanjang sejarah, taman-taman yang dibangun di kawasan Timur Tengah (mulai dari taman-taman historis yang telah musnah seperti Taman Tergantung Babilonia, hingga taman-taman dinasti Islam) mengikuti pakem tersebut, taman-taman istana dan publik mereka dibuat dan dilindungi dengan benteng-benteng sehingga untuk memasukinya harus melalui pintu-pintu tertentu saja yang dikawal penjaga. Begitulah, perjalanan saya menjelajahi pegunungan Karakoram dan Himalaya yang lalu sesungguhnya adalah perjalanan mengunjungi taman-taman firdaus, baik dalam pengertian spesifik berupa taman berbenteng, maupun taman firdaus dalam makna luas; saya menjelajahi tempat-tempat dengan keindahan luar biasa–saya sering kali kesulitan mendeskripsikan detail keindahannya–yang dipagari oleh gunung-gunung mahatinggi menjulang menusuk langit, yang acap kali untuk memasuki kawasannya, saya harus meminta izin pada penjaga bersenjata. Saya pikir saya telah banyak menyaksikan tempat-tempat surgawi sepanjang petualangan dan pendakian gunung-gunung yang telah saya lalui selama ini. Tapi perjalanan ke Karakoram dan Himalaya, memberikan pemahaman baru bagi saya dalam memahami ‘keindahan surga firdaus‘ yang tak saya duga sebelumnya.

Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]”