Gunung Slamet, Februari 2018

“Life is made up of sobs, sniffles, and smiles, with sniffles predominating.”
O. Henry, The Gift of the Magi

Adalah suatu hal yang tak bisa diduga kedatangannya. Daun-daun rimbun menapis cahaya matahari sehingga suasana hutan meremang meski jam masih menunjukan pukul empat sore. Angin semakin lama bertiup semakin lemah sehingga kegerahan semakin meraja dan keringat semakin bercucuran. Ketukan-ketukan lembut pada dedaunan yang ritmis terdengar di kejauhan di belakang kami, yang nadanya naik turun riuh rendah bahkan kadang menghilang. Sebelum saya dapat mengantisipasinya, hujan deras turun dalam hening. Bagi seorang pendaki, hujan bisa menjadi tantangan sendiri. Sebelum baju saya menjadi kuyup, saya segera mengeluarkan jas hujan yang sengaja saya tempatkan di kantong terdekat dan paling mudah diraih. Pendaki-pendaki lain yang tak siap, terlihat semakin kuyup sambil berusaha mencari pohon teduh untuk mengeluarkan jas hujannya. Beberapa orang terdengar menggerutu, sebagian cemberut, yang lainnya pasrah dengan senyum kecut. Namun bagi saya, hujan di gunung saat sore hari adalah sebuah janji. Janji bahwa kelak, saat hujan sudah berhenti dan kegelapan rimba sudah sempurna, akan tersibak misteri terbaiknya.  Continue reading “Gunung Slamet, Februari 2018”

Advertisements

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

IN the midway of this our mortal life,
I found me in a gloomy wood, astray
Gone from the path direct: and e’en to tell,
It were no easy task, how savage wild
That forest, how robust and rough its growth,
Which to remember only, my dismay
Renews, in bitterness not far from death.
― Dante Alighieri, Inferno: Canto I

Ketika turun dari puncak Tambora, ketika menelusuri dan menapaki kembali jejak-jejak pendakian hari sebelumnya, entah mengapa saya teringat pada bait-bait pembuka puisi Inferno*-nya Dante. Kalimat-kalimat pembuka prosa liris terdahsyat di dunia ini dibuka dalam kalimat-kalimat yang mengandung ketakutan, kebingungan, dan kecemasan. Di paruh usia kehidupan fana ini, kudapati diriku berada di hutan gelap, tersesat. Meninggalkan jalan yang telah ditunjuk dan diarahkan. Bukan perkara yang mudah, oh betapa liar dan buasnya. Hutan itu, yang tegap dan gabas tumbuhnya. Yang kuingat hanyalah kecemasan. Terbaharui, dalam kegetiran yang tak jauh dari kematian. Continue reading “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]”

Gunung Burangrang, Januari 2015

Mengandalkan citra live satelit cuaca, minggu kedua Januari lalu saya nekat hiking ke Burangrang meski sudah masuk musim penghujan. Tidak sepenuhnya akurat–cuaca lokal seperti hujan gunung memang tidak ditampilkan dalam citra satelit tsb–akhirnya saya mengalami juga hujan lebat di tengah gunung. Terakhir kehujanan kayaknya pas camping zaman SMA. Untungnya hujannya tidak lama, cuma sekitar 2 jam-an dan siang-siang sehingga tidak mengganggu waktu tidur waktu malam. Tapi lumayan lebat juga sih.

Karena Burangrang merupakan gunung yang suka dipakai latihan oleh TNI, perizinan mendaki ke sana agak sulit terutama kalau sedang dipakai latihan oleh mereka. Syukurnya kemarin sedang tidak digunakan latihan. Hanya ditanya-tanya sedikit mengenai tujuan dan rute pendakian saja.

Rute pendakian ada dua, lewat perkebunan (yang lebih singkat) dan lewat air terjung Layung (yang lebih memutar). Rombongan saya mengambil alternatif kedua (karena berangkat pagi sehingga perkiraan waktunya cukup sampai puncak sebelum malam).

Karena musim hujan, medan yang ditempuh cukup sulit, dedaunan yang licin dan lapisan mudcake yang gampang sekali bikin kepleset jika tak waspada. Jadi, meski rutenya tidak terlalu panjang, tetapi karena medan yang kurang kondusif sedikit keteteran juga sih. Tak mengejutkan jika beberapa spot ada epitaph-epitaph (batu penanda bahwa seseorang pernah meninggal di tempat tsb). Melihat epitaph di tengah gunung, selalu membuat saya merinding. Bukan dalam artian takut, tetapi lebih ke arah ‘sedih’.

Continue reading “Gunung Burangrang, Januari 2015”