Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])

Selama bertahun-tahun, tidak pernah saya pertanyakan penjelasan sejarah yang mereka sampaikan. Saya juga tidak banyak memikirkan peristiwa 1965-66. Bagi saya, semuanya terasa seperti cerita-cerita usang dari masa lalu…
Tahun yang Tak Pernah Berakhir, hal. 25

Menjelang hari peringatan G30S yang lalu, halaman utama lini massa media sosial saya dipenuhi oleh berbagai artikel yang membahas peristiwa ini. Larut dalam keriuhan, saya memutuskan membaca buku yang membahas topik tersebut. Saya memilih untuk membaca buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, sebuah kumpulan essai sejarah mengenai kesaksian para penyintas korban peristiwa 1965. Saya membaca buku ini dalam format digital tentu saja (buku-buku yang ‘vulgar’ namun jujur menceritakan kengerian 1965, sangat sulit ditemukan di pasaran dalam bentuk kopian cetak asli. Terlebih untuk buku ini, buku John Rossa lain yang bertanggung jawab sebagai editor, dilarang beredar oleh Kejagung). Buku ini, yang merupakan kumpulan kesaksian dan kisah para penyintas korban 1965, langsung mengingatkan saya pada salah satu penyesalan terbesar saya di masa kanak-kanak lalu.

Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 3]

IN the midway of this our mortal life,
I found me in a gloomy wood, astray
Gone from the path direct: and e’en to tell,
It were no easy task, how savage wild
That forest, how robust and rough its growth,
Which to remember only, my dismay
Renews, in bitterness not far from death.
― Dante Alighieri, Inferno: Canto I

Ketika turun dari puncak Tambora, ketika menelusuri dan menapaki kembali jejak-jejak pendakian hari sebelumnya, entah mengapa saya teringat pada bait-bait pembuka puisi Inferno*-nya Dante. Kalimat-kalimat pembuka prosa liris terdahsyat di dunia ini dibuka dalam kalimat-kalimat yang mengandung ketakutan, kebingungan, dan kecemasan. Di paruh usia kehidupan fana ini, kudapati diriku berada di hutan gelap, tersesat. Meninggalkan jalan yang telah ditunjuk dan diarahkan. Bukan perkara yang mudah, oh betapa liar dan buasnya. Hutan itu, yang tegap dan gabas tumbuhnya. Yang kuingat hanyalah kecemasan. Terbaharui, dalam kegetiran yang tak jauh dari kematian. Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]

Perhaps in the world’s destruction it would be possible at last to see how it was made. Oceans, mountains. The ponderous counterspectacle of things ceasing to be. The sweeping waste, hydroptic and coldly secular. The silence.
― Cormac McCarthy, The Road

Saya berdiri di puncak yang sekaligus tepi sebuah jurang tajam. Di antara bayang-bayang sisa dini hari, bagian-bagian dataran di kaki gunung terlihat memantulkan cahaya sisa purnama dan lampu jalanan di kejauhan, dan segerombol pepohonan di tepi lereng selatan gunung membentuk kerumunan formasi bergerombol yang aneh. Pepohonan berbatang kecoklatan dengan bintik-bintik putih bagai penderita kusta mengintip di tepian jalur pendakian yang kami lewati. Jamur dan lumut berjurai-jurai di bebatuan bagaikan juluran lengan gurita yang murka. Udara menggelegak mengalir deras di antara bebatuan di puncak jurang yang berlumut dan beraroma amis seperti laut. Ada bau tipis abu purba yang terserak diantara sela bebatuan, sisa dan saksi amarah gunung di masa lampau, terlarut oleh embun yang berkerumun di pucuk dedaunan berbentuk jarum dan ada aroma sulfur yang tercium berselang-seling saat angin lewat dengan silih berganti. Di antara lipatan-lipatan angin yang datang bergulung-gulung, tercium aroma laut samar yang dibawa angin lembah dan diperangkap hutan beserta aroma semua ikannya, semua karangnya, semua pasirnya, semua arusnya, semua kedalamannya, semua gemuruhnya, semua kesunyiannya, dan semua misterinya. Aroma eksotik yang memabukkan ini membuat saya mencium udara dengan sangat perlahan seolah kesempatan seperti ini tak bisa terulang. Continue reading

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]

He walked out in the gray light and stood and he saw for a brief moment the absolute truth of the world. The cold relentless circling of the intestate earth. Darkness implacable. The blind dogs of the sun in their running. The crushing black vacuum of the universe. And somewhere two hunted animals trembling like ground-foxes in their cover. Borrowed time and borrowed world and borrowed eyes with which to sorrow it.
― Cormac McCarthy, The Road

Sains terpurba dan agama tertua lahir di bawah langit malam*. Pasti akan sangat berbeda sekali rupa langit malam di masa ratusan ribu tahun lampau dibanding saat ini. Leluhur jauh kita, menghabiskan malam-malam tergelap sebelum api dan pencahayaan buatan tercipta, di malam tak berbulan, mengamati puluhan ribu bintang tampak di dasar kegelapan langit malam. Bintang tercerlang berurutan diberi nama, bintang berdekatan diberi garis khayalan dan bentuk-bentuk abstrak diasosiasikan dengan sosok-sosok makhluk-makhluk supernatural, hingga aneka konstelasi terbentuk dan legenda mitos pun diciptakan. Ketakjuban akan keindahannya menciptakan rasa penasaran untuk melakukan pengukuran dan perhitungan, maka sains purba pun lahir. Kekaguman akan keluasannya menciptakan rasa ketakutan dan pengharapan, maka penyembahan agama awal pun lahir. Continue reading

Gunung Nglanggeran, Januari 2016

Sometimes you have to travel a long way to find what is near
― Paulo Coelho, Aleph

Saya selalu membayangkan kota Yogyakarta sebagai bocah SD kelas 2; imut, polos, sopan, tak ada cela dalam berperilaku, penurut pada perintah orang tua, dan manis tanpa banyak tingkah polah yang mencemaskan. Kadang saya merasa sedikit terenyuh ketika melihat kota ini yang terlihat sangat pemalu. Kesantunan dan keteguhannya memegang adat menjadikan kota ini benar-benar istimewa. Hal inilah yang membuat saya selalu menyambut gembira setiap kunjungan kembali ke kota ini dengan keistimewaan yang tak bisa saya temukan saat kunjungan ke kota lain (hanya Bukittinggi dan Solo mungkin yang menjadi saingan kuat). Setidaknya, dalam perjalanan terakhir saya yang belum lama sebelumnya ke kota ini, kesan tersebut masih tertancap kuat. Tapi, apa yang terjadi dalam perjalanan kali ini, mengobrak-abrik gambaran kepolosan kota ini. Ada banyak hal yang selama ini belum saya lihat, membuat ide saya tentang kota ini terusik. Namun sebagaimana diduga, tak ada kekecewaan yang saya rasakan. Sisi lain Yogya yang saya rasakan justru menjadikan kota ini sebagai kota yang manusiawi. Kota ini sudah beranjak remaja. Meski masih penurut, tetapi kadang dia bisa bengal jika diusik. Meski polos dan pemalu kadang sering degil dan ugal-ugalan. Dan itu yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan kota ini. Continue reading