Gunung Merbabu, September 2015 [bag. 1]

“Her soul glowed, and the fire died away again in solitude…”
― Ivan Turgenev, On the Eve

Tak terbersit secuil pun rasa sok-sokan atau kepongahan yang ingin saya sampaikan, tapi saya harus mengatakan ini, terakhir kali lebih dari 5 tahun yang lewat, saya tidak pernah menggunakan kereta kelas ekonomi terlebih untuk tujuan jauh luar kota. Bukan saja karena (dulu) cerita horor teman-teman saya yang harus berdiri selama lebih dari 8 jam dari Bandung menuju Yogyakarta dalam kondisi berdesak-desakan, tetapi juga kriminalitas yang telah menjadi buah bibir dan mengintai siapapun yang terlalai. Namun zaman telah berubah. Tergoda dengan ulasan-ulasan yang mengatakan bahwa pelayanan kereta ekonomi sudah jauh lebih baik (sebenarnya ini sudah saya rasakan saat mampir ke stasiun-stasiun kereta), akhirnya saya memutuskan untuk mencoba. Dan jujur saja, perjalanan perdana setelah hiatus dalam waktu yang tak bisa saya ingat kapan persis terakhir kalinya, perjalanan dengan kereta ekonomi Jakarta-Yogya tsb membuat saya sangat terkesan. Namun, hal-hal yang hilang (atas nama perbaikan) membuat saya sedikit masygul. Kenangan terakhir yang saya ingat dari perjalanan kereta yang usianya seolah lebih dari berabad-abad lampau itu, tentang kesemrawutannya yang “Indonesia banget” telah hilang. Seperti pot bunga di tanah pemakaman, tujuannya mungkin baik, tapi tetap menimbulkan kesan salah tempat, saya merindukan kesemrawutan itu lagi. Ada kerinduan ganjil yang tak semestinya. Continue reading

Advertisements

Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]

“The wild animals seemed less predatory to him than people he had known.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Dalam perjalanan di bumi Flores, saya belajar bahwa konsep surga dan neraka, adalah sebuah fakta yang begitu nyata dalam manifestasi dualisme yang tak terpisahkan, seperti bayi dempet kembar siam yang berbagi organ vital sama. Tak terpisahkan, keduanya akan senantiasa bertautan. Flores, dengan keindahan alam yang meledak-ledak di setiap jengkal tanahnya, adalah sebuah representasi keindahan surga di bumi yang terbaik, namun masyarakatnya berada dalam kemiskinan yang putus asa dan mencemaskan. Penilaian saya mungkin terlalu dini dan naif. Kunjungan saya singkat dan diri saya adalah sebagai orang asing, tetapi di mata saya, Flores adalah gambaran surga dan neraka yang sangat kentara dan tidak bisa dikelabui. Continue reading