Terbaik dan Terburuk di 2018

“I think that most of us feel like something is missing from our lives. And I wondered then if Knight’s journey was to seek it. But life isn’t about searching endlessly to find what’s missing. It’s about learning to live with the missing parts.”
Michael Finkel, The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit

Siklus kembali bergulir. 365 hari bukanlah waktu yang sebentar, banyak hal yang bisa dan telah saya lakukan sepanjangnya. Tak semuanya berisi suka cita tentunya. Dari ke-365 hari terlewat itu, sebagian tentu saja terasa berat dijalani dulunya, tetapi sekarang saat ditinjau kembali, malah terasa menggelikan dan sepele. Well, seperti biasa, saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman saya sepanjang tahun 2018 yang lalu lewat pembacaan buku, penyaksian film, dan pendakian gunung.

Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2018”

Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2016”

Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])

Selama bertahun-tahun, tidak pernah saya pertanyakan penjelasan sejarah yang mereka sampaikan. Saya juga tidak banyak memikirkan peristiwa 1965-66. Bagi saya, semuanya terasa seperti cerita-cerita usang dari masa lalu…
Tahun yang Tak Pernah Berakhir, hal. 25

Menjelang hari peringatan G30S yang lalu, halaman utama lini massa media sosial saya dipenuhi oleh berbagai artikel yang membahas peristiwa ini. Larut dalam keriuhan, saya memutuskan membaca buku yang membahas topik tersebut. Saya memilih untuk membaca buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, sebuah kumpulan essai sejarah mengenai kesaksian para penyintas korban peristiwa 1965. Saya membaca buku ini dalam format digital tentu saja (buku-buku yang ‘vulgar’ namun jujur menceritakan kengerian 1965, sangat sulit ditemukan di pasaran dalam bentuk kopian cetak asli. Terlebih untuk buku lain karya pengarangnya, John Rossa yang bertanggung jawab sebagai editor, dilarang beredar oleh Kejagung). Buku ini, yang merupakan kumpulan kesaksian dan kisah para penyintas korban 1965, langsung mengingatkan saya pada salah satu penyesalan terbesar saya di masa kanak-kanak lalu.

Continue reading “Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (John Roosa [Ed.])”

Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari)

Novel ini mengingatkan saya pada banyak elemen di novel War and Peace-nya Leo Tolstoy. Sayangnya, Inteligensi Embun Pagi tidak berhasil membuat saya terpikat seperti halnya karya Leo Tolstoy tersebut. Continue reading “Inteligensi Embun Pagi (Dee Lestari)”

Terbaik dan Terburuk di 2015

“If one wanted to depict the whole thing graphically, every episode, with its climax, would require a three-dimensional, or, rather, no model: every experience is unrepeatable. What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.”
― Italo Calvino, If on a Winter’s Night a Traveler

200 buku. 305 film. 18 serial TV. Ok, sesi curhat dimulai. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2015”