Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]

“Presently the small of coffee began to fill the room. This was morning’s hallowed moment. In such a fragrance the perversity of the world is forgotten, and the soul is inspired with faith in the future…”
― Halldór Laxness, Independent People

Pagi saya hari itu diawali persis sesuai kutipan buku Independent People di atas; Segera, cecahan harumnya kopi mulai mengisi ruangan. Momen kudus di pagi hari. Dengan semerbak aroma kopi, kebengisan dunia terlupakan, dan jiwa dipulihkan oleh iman kepada pengharapan masa depan… Aroma kopi di pagi hari kadang memang bisa membawa dampak sedahsyat itu. Gangsi biji kopi itulah yang langsung menyambut saya ketika saya sampai ke ruang makan pada pagi hari di penginapan rumah pertanian Steinsholt tempat kami menginap. Uap kopi panas tampak mengepul dari cangkir di meja makan depan teman saya sementara aromanya sudah menyebar ke seisi ruangan ketika saya masuk. Bulir-bulir debu yang terkena cahaya matahari pagi dari jendela raksasa di pinggir meja makan, berkilau dan memantul saat beradu dengan uap kopi. Tarian momentum hukum kinematika berpadu dengan hukum-hukum optika fisika menciptakan pemandangan berpijar yang menari-nari liar seolah kopi yang ada di meja adalah minuman ramuan sihir yang ada di kartun-kartun TV saat sang penyihir menebar mantra kepada eliksir misteriusnya. Saya memang gampang sekali terpukau oleh hal-hal sesederhana seperti ini. Melihat saya terpesona takjub menatap hanya cangkir kopi seolah itu ramuan ajaib betulan, seorang petugas penginapan dengan sigap mendekati saya dan menanyakan apakah saya ingin kopi juga, yang langsung saya jawab tanggap dengan anggukan mantap, “Yes! Yes! Yes! Without sugar, please…Continue reading

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 2]

“Shortly afterwards it started raining, very innocently at first, but the sky was packed tight with cloud and gradually the drops grew bigger and heavier, until it was autumn’s dismal rain that was falling—rain that seemed to fill the entire world with its leaden beat, rain suggestive in its dreariness of everlasting waterfalls between the planets, rain that thatched the heavens with drabness and brooded oppressively over the whole countryside, like a disease, strong in the power of its flat, unvarying monotony, its smothering heaviness, its cold, unrelenting cruelty. Smoothly, smoothly it fell, over the whole shire, over the fallen marsh grass, over the troubled lake, the iron-grey gravel flats, the sombre mountain above the croft, smudging out every prospect. And the heavy, hopeless, interminable beat wormed its way into every crevice in the house, lay like a pad of cotton wool over the ears, and embraced everything, both near and far, in its compass, like an unromantic story from life itself that has no rhythm and no crescendo, no climax, but which is nevertheless overwhelming in its scope, terrifying in its significance. And at the bottom of this unfathomed ocean of teeming rain sat the little house and its one neurotic woman.”
― Halldór Laxness, Independent People

Saya terbangun dari tidur dalam kondisi ganar. Dan ini pasti disebabkan oleh langitnya. Ketika saya tanpa sadar mulai tertidur, mungkin antara pukul 10 dan 11 malam, langit yang melingkupi kota Grundarfjörður masih terlihat calak. Saya tak sempat melihat warna jingga senja atau keremangan gelap malam. Pun saat saya terbangun jam 2 pagi, langit sudah terang dengan awan kelabu pucat berjejalan di tiap penjurunya. Membuat saya bertanya-tanya, apakah memang langit pernah mengalami kegelapan malam selama saya tertidur atau tetap dalam kondisi serupa, karena terang langit tak ada bedanya antara sebelum dan sesudah saya tertidur. Sedikit riset di internet, memberitahukan bahwa memang sempat ada kegelapan malam meski itu sesaat hanya sekitar 3 jam saja. Continue reading

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

“The most remarkable thing about a man’s dreams is that they will all come true; this has always been the case, though no one would care to admit it. And a peculiarity of man’s behaviour is that he is not in the least surprised when his dreams come true; it is as if he expected nothing else. The goal to be reached and the determination to reach it are brother and sister, and slumber in the same heart.”
― Halldór Laxness, Independent People

Ketika saya membeli buku Independent People karya Halldór Laxness enam tahun lalu di loakan buku bekas trotoar Jalan Dewi Sartika Bandung* tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa saya akan membaca buku ini di negara tempat sang penulisnya lahir, Iceland. Saya membelinya berbarengan dengan buku berbahasa Inggris bekas lainnya seperti Cold Mountain karya Charles Frazier yang dibeli karena bukunya sudah diadaptasi menjadi film yang membuat saya banyak tidak puas dan memutuskan untuk membaca sendiri bukunya, serta dua buah buku terjemahan Agatha Christie. Kecuali buku Agatha Christie, yang buku berbahasa Inggris, Independent People dan Cold Mountain, tentu saja tidak dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Tumpukan buku yang datang semakin menggunung sehingga membuatnya semakin kalah prioritas. Apalagi nama “Halldór Laxness” terasa asing sehingga semakin membuat saya menunda-nunda untuk membacanya alias tedorong semakin ke dasar timbunan buku-entah-dibaca-kapan dalam gunungan tumpukan buku saya. Bagaimanapun, saya pikir, dari 250 juta penduduk Indonesia, tak sampai 1000 orang pernah mendengar nama “Laxness” apalagi membaca sendiri buku karyanya. Saat saya mengkonfrontasikan kepada teman saya yang maniak baca pun apakah dia pernah mendengar nama “Halldór Laxness”, dia kehilangan petunjuk. Pun saat saya membeli bukunya, saya belum mengenal nama Laxness saat itu, hanya embel-embel “Winner of the Nobel Prize in Literature” di jilid depannya yang membuat saya tergerak melirik-lirik sekilas isi bukunya dan memutuskan mencoba untuk membeli. Continue reading