Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]

He walked out in the gray light and stood and he saw for a brief moment the absolute truth of the world. The cold relentless circling of the intestate earth. Darkness implacable. The blind dogs of the sun in their running. The crushing black vacuum of the universe. And somewhere two hunted animals trembling like ground-foxes in their cover. Borrowed time and borrowed world and borrowed eyes with which to sorrow it.
― Cormac McCarthy, The Road

Sains terpurba dan agama tertua lahir di bawah langit malam*. Pasti akan sangat berbeda sekali rupa langit malam di masa ratusan ribu tahun lampau dibanding saat ini. Leluhur jauh kita, menghabiskan malam-malam tergelap sebelum api dan pencahayaan buatan tercipta, di malam tak berbulan, mengamati puluhan ribu bintang tampak di dasar kegelapan langit malam. Bintang tercerlang berurutan diberi nama, bintang berdekatan diberi garis khayalan dan bentuk-bentuk abstrak diasosiasikan dengan sosok-sosok makhluk-makhluk supernatural, hingga aneka konstelasi terbentuk dan legenda mitos pun diciptakan. Ketakjuban akan keindahannya menciptakan rasa penasaran untuk melakukan pengukuran dan perhitungan, maka sains purba pun lahir. Kekaguman akan keluasannya menciptakan rasa ketakutan dan pengharapan, maka penyembahan agama awal pun lahir. Continue reading “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 1]”

Advertisements

Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1]

“He lay down beside the fawn. He put one arm across its neck. It did not seem to him that he could ever be lonely again.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Oke, saya melakukan sedikit kebohongan di sini. Meski judul tulisan ini memakai dua nama gunung sekaligus, tetapi saya tidak mendaki kedua puncaknya. “Sedikit”, karena pada nyatanya saya memang mendaki selama hampir 5 jam untuk mencapai sebuah tempat yang diapit kedua gunung tsb. Sebuah tempat yang mengingatkan saya bahwa saya seolah pulang kembali ke rumah meski saat itu saya sedang jauh dari kampung halaman. Nyaman, tenteram, damai, sejuk, dan tentu saja indah, rumah itu bernama “Wae Rebo”. Continue reading “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1]”