Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]

But the fool on the hill
Sees the sun going down
And the eyes in his head
See the world spinning round

― The Beatles, The Fool on the Hill

Jika saya menjadi seorang Julie Andrews maka saya sudah pasti menari-nari, melompat-lompat, bahkan berguling-guling sambil menyanyikan lagu seperti yang dia lakukan di film klasik fenomenal The Sound of Music (1965). Tentu saja saya tak melakukan itu semua karena akan tampak konyol jika dilihat orang lain, haha, meski saya tetap melakukan guling-guling di atas rumputnya sih. Di sini, udara terasa ringan. Tak beraroma, tak ada rasa panas atau dingin, tanpa ada kelembapan, tak mengandung butiran apapun murni seperti habis disuling. Tak ada beban sama sekali saat menghirupnya, membuat saya menghirup udara begitu perlahan tanpa ada ketergesaan. What a wonderful air! What a wonderful air! What a wonderful air! Saya mengucapkan mantra ini berkali-kali dengan mata terpejam sambil mengambil nafas dengan indera berusaha mengecap segala rasa di sekitar. Ah, siapa sangka jika tak jauh dari bukit permai dengan padang rumput hijau membentang luas ini, terdapat bayang-bayang kisah masa lalu yang kelam dan pedih. Bagian Peak District National Park yang saya datangi memang tak hanya menyajikan panorama memukau, tetapi juga keping sejarah masa lampau yang penuh kejayaan dan kemuraman. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]”

Advertisements

Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]

“The wild animals seemed less predatory to him than people he had known.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Dalam perjalanan di bumi Flores, saya belajar bahwa konsep surga dan neraka, adalah sebuah fakta yang begitu nyata dalam manifestasi dualisme yang tak terpisahkan, seperti bayi dempet kembar siam yang berbagi organ vital sama. Tak terpisahkan, keduanya akan senantiasa bertautan. Flores, dengan keindahan alam yang meledak-ledak di setiap jengkal tanahnya, adalah sebuah representasi keindahan surga di bumi yang terbaik, namun masyarakatnya berada dalam kemiskinan yang putus asa dan mencemaskan. Penilaian saya mungkin terlalu dini dan naif. Kunjungan saya singkat dan diri saya adalah sebagai orang asing, tetapi di mata saya, Flores adalah gambaran surga dan neraka yang sangat kentara dan tidak bisa dikelabui. Continue reading “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]”