Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 2]

“At Ongcor [Angkor], there are …ruins of such grandeur… that, at the first view, one is filled with profound admiration, and cannot but ask what has become of this powerful race, so civilized, so enlightened, the authors of these gigantic works?”

—Henri Mouhot, Travels in the Central Parts of Indo-China (Siam), Cambodia, and Laos During the Years 1858, 1859, and 1860

Perjalanan saya ke Kamboja adalah perjalanan untuk belajar mengenai penerimaan. Penerimaan bahwa apa yang kita miliki tidak sedahsyat yang kita kira–ada langit di atas langit, penerimaan bahwa keragaman sosial-budaya-historis tiap negara adalah unik, penerimaan bahwa sifat dasar manusia tak bisa ditentukan baik dan jahat semata, penerimaan bahwa dengan mengunjungi tempat lain akan memperluas cakrawala pemahaman kita untuk mengerti makna eksistensi kita. Meskipun itu harus dilakukan dengan cara yang menghentak, kadang.  Continue reading

Advertisements

Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]

“Why they are doing this, Pa?” Kim asks.
“because they are destroyers of things.”
―Loung Ung, First They Killed My Father p. 27

Pendakian ke Phnom Aoral bagi saya bukan sebuah pendakian biasa sebagaimana yang selama ini saya jalani. Pendakian ke gunung tsb adalah sebuah upaya relokasi kenangan dan trauma. Bahkan di tempat sesenyap dan seterpencil ini, jejak berdarah kekejaman Khmer Merah yang sudah berumur 40 tahun masih menjangkau dan tercium jelas. Nama Pol Pot dan genosida memang sudah bak keping koin dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Dan, entah mengapa, dengan segala luka dan jejak dosa di sana, mengingatkan saya pada rumah tempat tinggal saya, Indonesia. Indonesia, punya luka dan dosa yang sama dengan Kamboja. Dan keduanya, berusaha melupakan aib lama itu dengan malu dan enggan, dianggap seolah tak pernah ada, dan tak pernah mengaku dan meminta maaf kepada para korban. Continue reading