Gunung Sumbing, Maret 2018

“If you are pitched into misery, remember that your days on this earth are counted and you might as well make the best of those you have left.”
Yann Martel, Beatrice and Virgil

Dalam setiap pendakian gunung, selain pemandangan indah atau keheningan hutan, kamu juga mendapatkan pengamatan paling “vulgar” dari sifat-sifat manusia. Dalam kondisi tertekan, kelelahan, dan kepayahan serta kondisi medan pendakian yang berat atau hujan lebat yang membuat tak nyaman, kamu bisa melihat sisi lain dari kawan-kawan sependakian kamu yang selama ini tak kamu lihat. Seseorang yang suka mengeluarkan lelucon konyol, bisa jadi seorang pembentak pada kondisi tertekan tersebut. Seseorang yang sebelumnya dianggap ramah malah bisa menjadi seorang pemaki. Pada pendakian Gunung Sumbing, saya menjumpai hal tersebut di rombongan lain yang nyaris akan saling berkelahi antara sesama anggota rombongan karena seorang anggota mereka (yang bersikap sok pemimpin) tetiba menjadi bersikap sok tahu, suka menyuruh, gemar membentak, serta mengumpat dengan kata-kata yang begitu kasar nan kotor sehingga membuat saya mencari korek kapas untuk membersihkan telinga saya dari aneka kata-kata kotor yang terlanjur masuk. Untungnya teman-teman rombongan pendakian saya adalah orang-orang asyik sehingga saat melihat cekcok rombongan lain membuat saya begitu banyak bersyukur. Pendakian bukanlah sekedar upaya untuk melihat pemandangan belaka, tetapi juga upaya untuk mengamati sifat-sifat dasar manusia, dari yang terbaik hingga yang terburuk. Continue reading “Gunung Sumbing, Maret 2018”

Advertisements

Gunung Sindoro, Januari 2018

“What is the good of your stars and trees, your sunrise and the wind, if they do not enter into our daily lives? They have never entered into mine, but into yours, we thought–Haven’t we all to struggle against life’s daily greyness, against pettiness, against mechanical cheerfulness, against suspicion? I struggle by remembering my friends; others I have known by remembering some place–some beloved place or tree–we thought you one of these.”
― E.M. Forster, Howards End

Ketika saya masih SD (mungkin kelas 5 SD, saya tak ingat persis), salah satu tontonan favorit saya adalah acara-acara petualangan di kanal Discovery. Dalam sebuah episode yang mengisahkan para petualang yang mengalami cedera saat melakukan olahraga ekstrem di alam liar, tayangan tsb (sayang saya lupa judul serialnya) berulang kali menyorot tulisan besar yang ada di papan peringatan di kawasan Rocky Mountains yang terjal-terjal namun berpemandangan menawan yang bertuliskan “Mountains doesn’t care!” Kelak bertahun-tahun kemudian di masa SMA, ketika saya memulai mencoba bertualang  dengan berkemah di hutan dan gunung, saya mulai memahami apa makna dari frasa dan peringatan itu secara sesungguhnya. Kita bisa berikrar, mendeklamasikan, atau membual bahwa kita mencintai gunung. Tapi kenyataannya gunung tak mencintai kita. Gunung tak pernah peduli baju apa yang kita kenakan atau bekal yang kita bawa. Tapi jika memakai baju dan bekal ala kadarnya, “hukuman” dari gunung bisa begitu fatal mengerikan. Atau saat kita bertindak ceroboh tak mengikuti aturan, tak ada toleransi yang diberikan oleh gunung. Gunung punya jiwa, semangat, pesona, keindahan dan juga kebrutalannya sendiri. Kesenangan dan keselamatan kita tak menjadi perhatiannya. Ketika seorang pendaki mengabaikan kenyataan ini dimana dia melakukan kesenangan tanpa memerdulikan keselamatan, bersiaplah menghadapi resiko mengerikan. Saat pendakian ke Sindoro lah, saya masih mendapati perilaku pendaki gegabah itu, dalam konsekuensi yang begitu buruk. Mungkin ini adalah salah satu “kecelakaan” terburuk yang pernah saya hadapi secara langsung saat mendaki dalam 10 pendakian gunung terakhir. Continue reading “Gunung Sindoro, Januari 2018”