Pantai Ora, Pulau Seram, November 2016 [bag. 1]

“Oh, it was wonder of wonders. And then, a bird of like rarest spun heavenmetal, or like silvery wine flowing in a spaceship, gravity all nonsense now, came the violin solo above all the other strings, and those strings were like a cage of silk round my bed. Then flute and oboe bored, like worms of like platinum, into the thick thick toffee gold and silver. I was in such bliss, my brothers.”
― Anthony Burgess, A Clockwork Orange

Kamu tahu apa yang dimaksud dengan frasa “intipati keindahan dan kenikmatan dunia”? Setiap orang punya versinya masing-masing tentu saja, tapi saya rasa tak banyak yang bisa mengalahkan ini: membaca buku bagus seperti A Clockwork Orange* karya Anthony Burgess ditemani melodi enigmatik Fantaisie-Impromptu** dari Chopin, duduk di ayunan dengan kaki telanjang di pasir pantai hangat dengan angin mengalir selembut kapas memeluk, air laut jernih semurni embun pertama dini hari dan ombak sejinak bayi yang terlelap tidur. Percayalah, tak ada yang lebih melenakan selain bersantai saat menunggu senja di pantai, well, nama tempatnya memang begitu populer dengan puji-pujian tak berkesudahan tentangnya, Pantai Ora di tepian Taman Nasional Manusela, Pulau Seram. Continue reading

Gunung Gamalama, Maret 2015

Jujur saja, perjalanan saya ke Maluku Utara yang lalu adalah perjalanan paling tidak siap yang pernah saya jalanin. Haha. Pegal-pegal bekas hiking Lawu belum reda, harus sudah mulai hiking lagi. Yang parah adalah, tas keril eks-Lawu belum dibongkar sampai sore keberangkatan, sementara jam 8 saya harus sudah sampai bandara. Alhasil, ketika saya berkemas-kemas dan mengambil satu judul buku untuk dibawa liburan, saya tak melihat judul buku yang dibawa, langsung dimasukkan saja.

Jadi, bayangkan, saat di ruang lounge bandara dan saya mengeluarkan buku berjudul Religion for Atheists: A Non-believer’s Guide to the Uses of Religion karya Alain de Botton, teman-teman saya pada tarik nafas dalam dan memancarkan pandangan tuduhan you-must-be-fun-at-party sementara saya hanya bisa menatap pasrah minta maaf dengan pandangan memelas emangnya-saya-keliatan-mau-bawa-buku-ginian-buat-liburan? Alhasil, buku tsb hanya bisa terbaca belasan halaman saja saat menunggu di lounge bandara. Saat di Maluku, saya sendiri sudah lupa kalau saya pernah membawa buku tsb, haha. Continue reading