Gunung Gamalama, Maret 2015

Jujur saja, perjalanan saya ke Maluku Utara yang lalu adalah perjalanan paling tidak siap yang pernah saya jalanin. Haha. Pegal-pegal bekas hiking Lawu belum reda, harus sudah mulai hiking lagi. Yang parah adalah, tas keril eks-Lawu belum dibongkar sampai sore keberangkatan, sementara jam 8 saya harus sudah sampai bandara. Alhasil, ketika saya berkemas-kemas dan mengambil satu judul buku untuk dibawa liburan, saya tak melihat judul buku yang dibawa, langsung dimasukkan saja.

Jadi, bayangkan, saat di ruang lounge bandara dan saya mengeluarkan buku berjudul Religion for Atheists: A Non-believer’s Guide to the Uses of Religion karya Alain de Botton, teman-teman saya pada tarik nafas dalam dan memancarkan pandangan tuduhan you-must-be-fun-at-party sementara saya hanya bisa menatap pasrah minta maaf dengan pandangan memelas emangnya-saya-keliatan-mau-bawa-buku-ginian-buat-liburan? Alhasil, buku tsb hanya bisa terbaca belasan halaman saja saat menunggu di lounge bandara. Saat di Maluku, saya sendiri sudah lupa kalau saya pernah membawa buku tsb, haha. Continue reading “Gunung Gamalama, Maret 2015”

Advertisements