Karakoram-Himalaya Mountains [bag.3]

“A great sorrow, and one that I am only beginning to understand: we don’t get to choose our own hearts. We can’t make ourselves want what’s good for us or what’s good for other people. We don’t get to choose the people we are.”
Donna Tartt, The Goldfinch

Terlalu mudah untuk ditebak, dan mestinya kamu sudah berpikir demikian jua. Alasan saya langsung setuju ikut ajakan perjalanan ke Kashmir tanpa berpikir dua kali adalah (sebagian besar) karena terpengaruh dari lagu Kashmir karya Led Zeppelin. Kashmir adalah lagu yang yang megah. Ketukan pertama nadanya yang epik dan kolosal sudah pasti akan membuat kamu ingin berteriak ‘whooaa-whoaaa-whoaaa’. Nada pembukaan lagunya memang sering dijadikan soundtrack pembukaan event yang kolosal. Tapi lagu Kashmir jauh lebih dari itu. Harmonisasi drum, gitar, bass, dan mollotron-nya menciptakan efek menghentak yang sensual, kesan etniknya terasa menonjol dan tak bisa ditemukan di lagu hard-rock lainnya. Bahas musikalisasinya sendiri akan jadi tulisan panjang, belum ditambah makna liriknya yang enigmatik, multitafsir, dan nyaris prophetic, menjadikan lagu Kashmir sebuah landmark besar dalam garis waktu musik dunia. Yep, lagu Kashmir adalah lagu resmi pengiringan perjalanan saya selama di Kashmir. Dalam dua hari, saya telah cukup banyak menyaksikan keindahan pemandangan di Kashmir. Tapi hari-hari berikutnya ternyata lebih dahsyat dari pada itu. Puncak-puncak es di gunung mahatinggi, amukan sungai-sungai liar, tebing bebatuan yang rasanya tak pernah ada orang yang menyentuhnya sejak ia diciptakan karena terhalang jurang-jurang dalam, bahkan gurun gersang di ketinggian. Lanskap surealis yang mengingatkan saya pada foto-foto daratan Mars di film-film fiksi ilmiah. Menyaksikan pemandangan abstrak seperti itu ditemani lagu Kashmir telah menjadi salah satu ekstasi tertinggi sepanjang saya menghirup udara di bumi ini. Saya memutar ulang lagu Kashmir terus menerus di Kashmir, dan sambil kamu meneruskan pembacaan tulisan ini, tak ada salahnya kamu memutar juga lagunya di bawah. Haha.

Continue reading “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.3]”

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]

“Presently the small of coffee began to fill the room. This was morning’s hallowed moment. In such a fragrance the perversity of the world is forgotten, and the soul is inspired with faith in the future…”
― Halldór Laxness, Independent People

Pagi saya hari itu diawali persis sesuai kutipan buku Independent People di atas; Segera, cecahan harumnya kopi mulai mengisi ruangan. Momen kudus di pagi hari. Dengan semerbak aroma kopi, kebengisan dunia terlupakan, dan jiwa dipulihkan oleh iman kepada pengharapan masa depan… Aroma kopi di pagi hari kadang memang bisa membawa dampak sedahsyat itu. Gangsi biji kopi itulah yang langsung menyambut saya ketika saya sampai ke ruang makan pada pagi hari di penginapan rumah pertanian Steinsholt tempat kami menginap. Uap kopi panas tampak mengepul dari cangkir di meja makan depan teman saya sementara aromanya sudah menyebar ke seisi ruangan ketika saya masuk. Bulir-bulir debu yang terkena cahaya matahari pagi dari jendela raksasa di pinggir meja makan, berkilau dan memantul saat beradu dengan uap kopi. Tarian momentum hukum kinematika berpadu dengan hukum-hukum optika fisika menciptakan pemandangan berpijar yang menari-nari liar seolah kopi yang ada di meja adalah minuman ramuan sihir yang ada di kartun-kartun TV saat sang penyihir menebar mantra kepada eliksir misteriusnya. Saya memang gampang sekali terpukau oleh hal-hal sesederhana seperti ini. Melihat saya terpesona takjub menatap hanya cangkir kopi seolah itu ramuan ajaib betulan, seorang petugas penginapan dengan sigap mendekati saya dan menanyakan apakah saya ingin kopi juga, yang langsung saya jawab tanggap dengan anggukan mantap, “Yes! Yes! Yes! Without sugar, please…Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]”

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]

“The most remarkable thing about a man’s dreams is that they will all come true; this has always been the case, though no one would care to admit it. And a peculiarity of man’s behaviour is that he is not in the least surprised when his dreams come true; it is as if he expected nothing else. The goal to be reached and the determination to reach it are brother and sister, and slumber in the same heart.”
― Halldór Laxness, Independent People

Ketika saya membeli buku Independent People karya Halldór Laxness enam tahun lalu di loakan buku bekas trotoar Jalan Dewi Sartika Bandung* tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa saya akan membaca buku ini di negara tempat sang penulisnya lahir, Iceland. Saya membelinya berbarengan dengan buku berbahasa Inggris bekas lainnya seperti Cold Mountain karya Charles Frazier yang dibeli karena bukunya sudah diadaptasi menjadi film yang membuat saya banyak tidak puas dan memutuskan untuk membaca sendiri bukunya, serta dua buah buku terjemahan Agatha Christie. Kecuali buku Agatha Christie, yang buku berbahasa Inggris, Independent People dan Cold Mountain, tentu saja tidak dibaca hingga bertahun-tahun kemudian. Tumpukan buku yang datang semakin menggunung sehingga membuatnya semakin kalah prioritas. Apalagi nama “Halldór Laxness” terasa asing sehingga semakin membuat saya menunda-nunda untuk membacanya alias tedorong semakin ke dasar timbunan buku-entah-dibaca-kapan dalam gunungan tumpukan buku saya. Bagaimanapun, saya pikir, dari 250 juta penduduk Indonesia, tak sampai 1000 orang pernah mendengar nama “Laxness” apalagi membaca sendiri buku karyanya. Saat saya mengkonfrontasikan kepada teman saya yang maniak baca pun apakah dia pernah mendengar nama “Halldór Laxness”, dia kehilangan petunjuk. Pun saat saya membeli bukunya, saya belum mengenal nama Laxness saat itu, hanya embel-embel “Winner of the Nobel Prize in Literature” di jilid depannya yang membuat saya tergerak melirik-lirik sekilas isi bukunya dan memutuskan mencoba untuk membeli. Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 1]”