Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]

But the fool on the hill
Sees the sun going down
And the eyes in his head
See the world spinning round

― The Beatles, The Fool on the Hill

Jika saya menjadi seorang Julie Andrews maka saya sudah pasti menari-nari, melompat-lompat, bahkan berguling-guling sambil menyanyikan lagu seperti yang dia lakukan di film klasik fenomenal The Sound of Music (1965). Tentu saja saya tak melakukan itu semua karena akan tampak konyol jika dilihat orang lain, haha, meski saya tetap melakukan guling-guling di atas rumputnya sih. Di sini, udara terasa ringan. Tak beraroma, tak ada rasa panas atau dingin, tanpa ada kelembapan, tak mengandung butiran apapun murni seperti habis disuling. Tak ada beban sama sekali saat menghirupnya, membuat saya menghirup udara begitu perlahan tanpa ada ketergesaan. What a wonderful air! What a wonderful air! What a wonderful air! Saya mengucapkan mantra ini berkali-kali dengan mata terpejam sambil mengambil nafas dengan indera berusaha mengecap segala rasa di sekitar. Ah, siapa sangka jika tak jauh dari bukit permai dengan padang rumput hijau membentang luas ini, terdapat bayang-bayang kisah masa lalu yang kelam dan pedih. Bagian Peak District National Park yang saya datangi memang tak hanya menyajikan panorama memukau, tetapi juga keping sejarah masa lampau yang penuh kejayaan dan kemuraman. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]”

Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 2]

“At Ongcor [Angkor], there are …ruins of such grandeur… that, at the first view, one is filled with profound admiration, and cannot but ask what has become of this powerful race, so civilized, so enlightened, the authors of these gigantic works?”

—Henri Mouhot, Travels in the Central Parts of Indo-China (Siam), Cambodia, and Laos During the Years 1858, 1859, and 1860

Perjalanan saya ke Kamboja adalah perjalanan untuk belajar mengenai penerimaan. Penerimaan bahwa apa yang kita miliki tidak sedahsyat yang kita kira–ada langit di atas langit, penerimaan bahwa keragaman sosial-budaya-historis tiap negara adalah unik, penerimaan bahwa sifat dasar manusia tak bisa ditentukan baik dan jahat semata, penerimaan bahwa dengan mengunjungi tempat lain akan memperluas cakrawala pemahaman kita untuk mengerti makna eksistensi kita. Meskipun itu harus dilakukan dengan cara yang menghentak, kadang.  Continue reading “Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 2]”