Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 2]

“He watched the sun rise beyond the grape arbor. In the thin golden light the young leaves and tendrils of the Scuppernong were like Twink Weatherby’s hair. He decided that sunrise and sunset both gave him a pleasantly sad feeling. The sunrise brought a wild, free sadness; the sunset, a lonely yet a comforting one. He indulged his agreeable melancholy until the earth under him turned from gray to lavender and then to the color dried corn husks.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling p. 372

Dalam perasaan damai dan hangat seperti kopi manggarai yang saya cicipi di pagi hari, keengganan meninggalkan Wae Rebo menggelayut dalam hati saya seperti lintah yang lapar. Julukan ‘surga di atas awan’ atau ‘negeri di atas awan’ yang disematkan padanya bukanlah metafora polos dan hiperbola yang eksesif. Benar-benar berwujud nyata dan akan dialami setiap pengunjung yang datang ke sana. Andai belum memesan kapal dan tiket pesawat, saya ingin tinggal lebih lama di sana. Kesunyiannya menyembuhkan kelelahan. Ketinggiannya, menjernihkan pikiran. Kabutnya, yang sebenarnya dingin menggigit, secara ajaib justru mendatangkan rasa kehangatan yang menyelusup ke dalam hati saya dan bertahan lama sesudahnya. Continue reading “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 2]”

Advertisements