Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]

“The wild animals seemed less predatory to him than people he had known.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Dalam perjalanan di bumi Flores, saya belajar bahwa konsep surga dan neraka, adalah sebuah fakta yang begitu nyata dalam manifestasi dualisme yang tak terpisahkan, seperti bayi dempet kembar siam yang berbagi organ vital sama. Tak terpisahkan, keduanya akan senantiasa bertautan. Flores, dengan keindahan alam yang meledak-ledak di setiap jengkal tanahnya, adalah sebuah representasi keindahan surga di bumi yang terbaik, namun masyarakatnya berada dalam kemiskinan yang putus asa dan mencemaskan. Penilaian saya mungkin terlalu dini dan naif. Kunjungan saya singkat dan diri saya adalah sebagai orang asing, tetapi di mata saya, Flores adalah gambaran surga dan neraka yang sangat kentara dan tidak bisa dikelabui. Continue reading “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 3]”

Advertisements

Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 2]

“He watched the sun rise beyond the grape arbor. In the thin golden light the young leaves and tendrils of the Scuppernong were like Twink Weatherby’s hair. He decided that sunrise and sunset both gave him a pleasantly sad feeling. The sunrise brought a wild, free sadness; the sunset, a lonely yet a comforting one. He indulged his agreeable melancholy until the earth under him turned from gray to lavender and then to the color dried corn husks.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling p. 372

Dalam perasaan damai dan hangat seperti kopi manggarai yang saya cicipi di pagi hari, keengganan meninggalkan Wae Rebo menggelayut dalam hati saya seperti lintah yang lapar. Julukan ‘surga di atas awan’ atau ‘negeri di atas awan’ yang disematkan padanya bukanlah metafora polos dan hiperbola yang eksesif. Benar-benar berwujud nyata dan akan dialami setiap pengunjung yang datang ke sana. Andai belum memesan kapal dan tiket pesawat, saya ingin tinggal lebih lama di sana. Kesunyiannya menyembuhkan kelelahan. Ketinggiannya, menjernihkan pikiran. Kabutnya, yang sebenarnya dingin menggigit, secara ajaib justru mendatangkan rasa kehangatan yang menyelusup ke dalam hati saya dan bertahan lama sesudahnya. Continue reading “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 2]”

Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1]

“He lay down beside the fawn. He put one arm across its neck. It did not seem to him that he could ever be lonely again.”
― Marjorie Kinnan Rawlings, The Yearling

Oke, saya melakukan sedikit kebohongan di sini. Meski judul tulisan ini memakai dua nama gunung sekaligus, tetapi saya tidak mendaki kedua puncaknya. “Sedikit”, karena pada nyatanya saya memang mendaki selama hampir 5 jam untuk mencapai sebuah tempat yang diapit kedua gunung tsb. Sebuah tempat yang mengingatkan saya bahwa saya seolah pulang kembali ke rumah meski saat itu saya sedang jauh dari kampung halaman. Nyaman, tenteram, damai, sejuk, dan tentu saja indah, rumah itu bernama “Wae Rebo”. Continue reading “Gunung Tongkor Kina ― Porto (Wae Rebo), Agustus 2015 [bag. 1]”

Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]

“Why they are doing this, Pa?” Kim asks.
“because they are destroyers of things.”
―Loung Ung, First They Killed My Father p. 27

Pendakian ke Phnom Aoral bagi saya bukan sebuah pendakian biasa sebagaimana yang selama ini saya jalani. Pendakian ke gunung tsb adalah sebuah upaya relokasi kenangan dan trauma. Bahkan di tempat sesenyap dan seterpencil ini, jejak berdarah kekejaman Khmer Merah yang sudah berumur 40 tahun masih menjangkau dan tercium jelas. Nama Pol Pot dan genosida memang sudah bak keping koin dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Dan, entah mengapa, dengan segala luka dan jejak dosa di sana, mengingatkan saya pada rumah tempat tinggal saya, Indonesia. Indonesia, punya luka dan dosa yang sama dengan Kamboja. Dan keduanya, berusaha melupakan aib lama itu dengan malu dan enggan, dianggap seolah tak pernah ada, dan tak pernah mengaku dan meminta maaf kepada para korban. Continue reading “Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]”

Gunung Rinjani, Juni 2015

Tell him to seek the stars and he will kill himself with climbing.
― Charles Bukowski, The Roominghouse Madrigals

Sebagai salah satu gunung tujuan pendakian populer dengan publikasi blog dan review yang berjibun, saya sudah mendapat gambaran lengkap medannya yang berat sehingga awalnya sedikit bikin ogah naik ke Rinjani dalam waktu dekat―dengan tiga pendakian sebelumnya yang di luar dugaan, jelas pendakian berikutnya ingin sedikit yang lebih rileks, haha. Tetapi, siapapun yang sudah ke Rinjani akan tahu, ada magnet raksasa di puncaknya. Magnet yang akan menarik orang-orang pecinta gunung dari seluruh penjuru dunia untuk menjejak puncaknya (untuk hal ini saya tidak hiperbolis, mayoritas pendaki adalah warga asing. WNI tak sampai seperlimanya). Dengan sedikit bujuk rayu teman saya, saya langsung luluh menyetujui pendakian ini. Jadilah saya seperti amuba, terbelah antara sedikit menyesal (karena tahu akan menjalani trek yang lumayan dahsyat) dan tertarik untuk menjelajah lagi pelosok Rinjani yang eksotik.

Jika kamu hanya punya satu kesempatan sekali seumur hidup mendaki gunung, saya sarankan untuk mendaki Rinjani. Percaya deh, gunung ini cantik banget. Setelah ngotot-ngototan dengan teman saya, kami memutuskan untuk menjelajah seluruh tempat wisata Rinjani. Tak hanya jalur pendakian standar (Senaru-Puncak-Sembalun-Danau Segara Anak) tetapi juga pelosok-pelosoknya seperti Gua Susu, Air Terjun Tiu Kelep, dll. Dan asal tahu saja, setiap medan untuk menuju tempat-tempat tersebut sama sekali gak mudah. Terjal, ekstrem, jauh dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi selalu terbayarkan dengan kedahsyatan dan keindahannya. Continue reading “Gunung Rinjani, Juni 2015”

Gunung Rakutak, Mei 2015

“You are about to begin reading Italo Calvino’s new novel, If on a winter’s night a traveler. Relax. Concentrate. Dispel every other thought. Let the world around you fade”
―Italo Calvino, If on a winter’s night a traveler

Kalimat pembuka buku If on a winter’s night a traveler sebegitu kerennya sampai-sampai saat kami sedang rebahan di puncak gunung karena kelelahan mendaki, saya memanggil teman saya yang sama-sama suka baca untuk membaca kalimat di atas. Saat saya meminta komentarnya, dia menjawab pendek, “Aneh. Tapi keren sih.” Dan saya rasa seluruh cerita pendakian gunung Rakutak kemarin bisa dirangkum seperti komentar teman saya tersebut. Ditambahkan dengan kata “kejutan”. Continue reading “Gunung Rakutak, Mei 2015”

Gunung Gede-Pangrango, April 2015

Winter kept us warm, covering
Earth in forgetful snow, feeding
A little life with dried tubers.
― T.S. Eliot, The Waste Land

Musim dingin hangatkan kita, selimuti. Pendakian ke Gede-Pangrango April lalu, memiliki catatan sendiri dalam timeline pendakian saya. Pendakian tersebut adalah pendakian ke-35000 meter saya (akumulasi tinggi gunung-gunung yang telah didaki), pendakian pertama yang benar-benar tepat terjadi di hari lahir saya, dan juga mungkin salah satu pendakian terberat saya sejauh ini.

Pendakian tsb nyaris bisa dikatakan sebagai sebuah kenekatan atau malah bisa dikatakan nyaris sebuah kegilaan. Kami mendaki dua puncak sekaligus, plus dilakukan saat musim penghujan. Pendakian dua puncak sekaligus bisa dikategorikan sebagai kegilaan, dan mendaki gunung yang terkenal sadis dalam rute dan jalur yang sulit, bisa dikatakan sebagai sebuah upaya bunuh diri. Dan untuk efek hiperbolis dan dramatis, hal ini dilakukan di musim penghujan.

Yeah, saya sendiri sedikit menyesal saat mendakinya, haha. Untung saja peralatan tenda/logistik diangkut porter, sehingga mengurangi beban derita secara drastis. Tetapi tetap saja, medan yang berat membuat tim kami babak belur. Jatuh bangun, dalam arti kiasan maupun harfiah.

Continue reading “Gunung Gede-Pangrango, April 2015”