Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]

“Why they are doing this, Pa?” Kim asks.
“because they are destroyers of things.”
―Loung Ung, First They Killed My Father p. 27

Pendakian ke Phnom Aoral bagi saya bukan sebuah pendakian biasa sebagaimana yang selama ini saya jalani. Pendakian ke gunung tsb adalah sebuah upaya relokasi kenangan dan trauma. Bahkan di tempat sesenyap dan seterpencil ini, jejak berdarah kekejaman Khmer Merah yang sudah berumur 40 tahun masih menjangkau dan tercium jelas. Nama Pol Pot dan genosida memang sudah bak keping koin dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Dan, entah mengapa, dengan segala luka dan jejak dosa di sana, mengingatkan saya pada rumah tempat tinggal saya, Indonesia. Indonesia, punya luka dan dosa yang sama dengan Kamboja. Dan keduanya, berusaha melupakan aib lama itu dengan malu dan enggan, dianggap seolah tak pernah ada, dan tak pernah mengaku dan meminta maaf kepada para korban. Continue reading “Gunung Phnom Aoral (Kamboja), Agustus 2015 [bag. 1]”

Gunung Rinjani, Juni 2015

Tell him to seek the stars and he will kill himself with climbing.
― Charles Bukowski, The Roominghouse Madrigals

Sebagai salah satu gunung tujuan pendakian populer dengan publikasi blog dan review yang berjibun, saya sudah mendapat gambaran lengkap medannya yang berat sehingga awalnya sedikit bikin ogah naik ke Rinjani dalam waktu dekat―dengan tiga pendakian sebelumnya yang di luar dugaan, jelas pendakian berikutnya ingin sedikit yang lebih rileks, haha. Tetapi, siapapun yang sudah ke Rinjani akan tahu, ada magnet raksasa di puncaknya. Magnet yang akan menarik orang-orang pecinta gunung dari seluruh penjuru dunia untuk menjejak puncaknya (untuk hal ini saya tidak hiperbolis, mayoritas pendaki adalah warga asing. WNI tak sampai seperlimanya). Dengan sedikit bujuk rayu teman saya, saya langsung luluh menyetujui pendakian ini. Jadilah saya seperti amuba, terbelah antara sedikit menyesal (karena tahu akan menjalani trek yang lumayan dahsyat) dan tertarik untuk menjelajah lagi pelosok Rinjani yang eksotik.

Jika kamu hanya punya satu kesempatan sekali seumur hidup mendaki gunung, saya sarankan untuk mendaki Rinjani. Percaya deh, gunung ini cantik banget. Setelah ngotot-ngototan dengan teman saya, kami memutuskan untuk menjelajah seluruh tempat wisata Rinjani. Tak hanya jalur pendakian standar (Senaru-Puncak-Sembalun-Danau Segara Anak) tetapi juga pelosok-pelosoknya seperti Gua Susu, Air Terjun Tiu Kelep, dll. Dan asal tahu saja, setiap medan untuk menuju tempat-tempat tersebut sama sekali gak mudah. Terjal, ekstrem, jauh dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi selalu terbayarkan dengan kedahsyatan dan keindahannya. Continue reading “Gunung Rinjani, Juni 2015”

Gunung Rakutak, Mei 2015

“You are about to begin reading Italo Calvino’s new novel, If on a winter’s night a traveler. Relax. Concentrate. Dispel every other thought. Let the world around you fade”
―Italo Calvino, If on a winter’s night a traveler

Kalimat pembuka buku If on a winter’s night a traveler sebegitu kerennya sampai-sampai saat kami sedang rebahan di puncak gunung karena kelelahan mendaki, saya memanggil teman saya yang sama-sama suka baca untuk membaca kalimat di atas. Saat saya meminta komentarnya, dia menjawab pendek, “Aneh. Tapi keren sih.” Dan saya rasa seluruh cerita pendakian gunung Rakutak kemarin bisa dirangkum seperti komentar teman saya tersebut. Ditambahkan dengan kata “kejutan”. Continue reading “Gunung Rakutak, Mei 2015”

Gunung Gede-Pangrango, April 2015

Winter kept us warm, covering
Earth in forgetful snow, feeding
A little life with dried tubers.
― T.S. Eliot, The Waste Land

Musim dingin hangatkan kita, selimuti. Pendakian ke Gede-Pangrango April lalu, memiliki catatan sendiri dalam timeline pendakian saya. Pendakian tersebut adalah pendakian ke-35000 meter saya (akumulasi tinggi gunung-gunung yang telah didaki), pendakian pertama yang benar-benar tepat terjadi di hari lahir saya, dan juga mungkin salah satu pendakian terberat saya sejauh ini.

Pendakian tsb nyaris bisa dikatakan sebagai sebuah kenekatan atau malah bisa dikatakan nyaris sebuah kegilaan. Kami mendaki dua puncak sekaligus, plus dilakukan saat musim penghujan. Pendakian dua puncak sekaligus bisa dikategorikan sebagai kegilaan, dan mendaki gunung yang terkenal sadis dalam rute dan jalur yang sulit, bisa dikatakan sebagai sebuah upaya bunuh diri. Dan untuk efek hiperbolis dan dramatis, hal ini dilakukan di musim penghujan.

Yeah, saya sendiri sedikit menyesal saat mendakinya, haha. Untung saja peralatan tenda/logistik diangkut porter, sehingga mengurangi beban derita secara drastis. Tetapi tetap saja, medan yang berat membuat tim kami babak belur. Jatuh bangun, dalam arti kiasan maupun harfiah.

Continue reading “Gunung Gede-Pangrango, April 2015”

Gunung Manglayang, April 2015

“April is the cruelest month, breeding
lilacs out of the dead land, mixing
memory and desire, stirring
dull roots with spring rain.”
― T.S. Eliot, The Waste Land

The Waste Land, telah resmi menjadi book of the month saya di bulan April. Banyak elemen di buku ini yang begitu bertalian erat dengan kehidupan saya di bulan April, setidaknya beberapa hari menjelang bulan April.

April adalah bulan terkejam, semaikan. Saya merasa, April tahun ini benar-benar menjadi lebih bengis daripada bulan lainnya. Menjelang April, dunia saya mengalami jungkir balik karena terjadi peristiwa yang tak mengenakkan. Bahkan salah satu peristiwa paling membuat-langit-terasa-runtuh terjadi di bulan April tahun ini. Emang sedikit lebay sih, tapi setidaknya, saat itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir udara yang saya hirup terasa lebih pekat dan berat daripada biasanya. Sampai-sampai, teman-teman saya yang membaca timeline Path saya merasa janggal dengan saya yang baru–untungnya hal tsb tidak saya bagikan juga di timeline FB saya. Bisa-bisa saya dicap anak alay. Haha. Continue reading “Gunung Manglayang, April 2015”

Gunung Gamalama, Maret 2015

Jujur saja, perjalanan saya ke Maluku Utara yang lalu adalah perjalanan paling tidak siap yang pernah saya jalanin. Haha. Pegal-pegal bekas hiking Lawu belum reda, harus sudah mulai hiking lagi. Yang parah adalah, tas keril eks-Lawu belum dibongkar sampai sore keberangkatan, sementara jam 8 saya harus sudah sampai bandara. Alhasil, ketika saya berkemas-kemas dan mengambil satu judul buku untuk dibawa liburan, saya tak melihat judul buku yang dibawa, langsung dimasukkan saja.

Jadi, bayangkan, saat di ruang lounge bandara dan saya mengeluarkan buku berjudul Religion for Atheists: A Non-believer’s Guide to the Uses of Religion karya Alain de Botton, teman-teman saya pada tarik nafas dalam dan memancarkan pandangan tuduhan you-must-be-fun-at-party sementara saya hanya bisa menatap pasrah minta maaf dengan pandangan memelas emangnya-saya-keliatan-mau-bawa-buku-ginian-buat-liburan? Alhasil, buku tsb hanya bisa terbaca belasan halaman saja saat menunggu di lounge bandara. Saat di Maluku, saya sendiri sudah lupa kalau saya pernah membawa buku tsb, haha. Continue reading “Gunung Gamalama, Maret 2015”

Gunung Lawu, Februari 2015

Sudah sejak lama sekali sih saya ingin mendaki Gunung Lawu. Bukan saja karena keindahannya yang menjadi buah bibir, tapi bagi saya, Gunung Lawu adalah salah satu keping puzzle paling menarik dalam sejarah nasional. Peristiwa G30S, peristiwa Reformasi 1998, kehidupan prasejarah Nusantara praabad V, dan terutama era transisi Hindu-Islam adalah beberapa peristiwa dalam sejarah nasional yang menarik minat saya karena begitu banyakanya keping puzzle yang hilang. Tidak pernah ada buku sejarah yang bisa menuliskan dengan lengkap dan memuaskan tentang apa saja yang terjadi pada periode gelap ini. Continue reading “Gunung Lawu, Februari 2015”

Gunung Burangrang, Januari 2015

Mengandalkan citra live satelit cuaca, minggu kedua Januari lalu saya nekat hiking ke Burangrang meski sudah masuk musim penghujan. Tidak sepenuhnya akurat–cuaca lokal seperti hujan gunung memang tidak ditampilkan dalam citra satelit tsb–akhirnya saya mengalami juga hujan lebat di tengah gunung. Terakhir kehujanan kayaknya pas camping zaman SMA. Untungnya hujannya tidak lama, cuma sekitar 2 jam-an dan siang-siang sehingga tidak mengganggu waktu tidur waktu malam. Tapi lumayan lebat juga sih.

Karena Burangrang merupakan gunung yang suka dipakai latihan oleh TNI, perizinan mendaki ke sana agak sulit terutama kalau sedang dipakai latihan oleh mereka. Syukurnya kemarin sedang tidak digunakan latihan. Hanya ditanya-tanya sedikit mengenai tujuan dan rute pendakian saja.

Rute pendakian ada dua, lewat perkebunan (yang lebih singkat) dan lewat air terjung Layung (yang lebih memutar). Rombongan saya mengambil alternatif kedua (karena berangkat pagi sehingga perkiraan waktunya cukup sampai puncak sebelum malam).

Karena musim hujan, medan yang ditempuh cukup sulit, dedaunan yang licin dan lapisan mudcake yang gampang sekali bikin kepleset jika tak waspada. Jadi, meski rutenya tidak terlalu panjang, tetapi karena medan yang kurang kondusif sedikit keteteran juga sih. Tak mengejutkan jika beberapa spot ada epitaph-epitaph (batu penanda bahwa seseorang pernah meninggal di tempat tsb). Melihat epitaph di tengah gunung, selalu membuat saya merinding. Bukan dalam artian takut, tetapi lebih ke arah ‘sedih’.

Continue reading “Gunung Burangrang, Januari 2015”

Gunung Kendang, Januari 2015

Awalnya saya sama sekali gak berniat mendaki gunung di akhir tahun kemarin. Mudik ke rumah tanpa membawa peralatan hiking seperti tas, jaket, sepatu, dsb, saya memang merencanakan untuk menghabiskan akhir tahun dengan keluarga (sudah berbulan-bulan gak pulang, hehe). Tetapi, you know lah, saat teman-teman almamater kuliah mengajak hiking akhir tahun (disertai dengan ejekan-cibiran ‘anak mami’ dan hal-hal yang tak layak didengar lainnya) saya terpaksa setuju ikut mereka.

Karena tanggal 31 Januari sudah saya rencanakan untuk full acara keluarga, saya menego mereka untuk mengadakan acara pendakian ke gunung yang tidak jauh dari rumah dan waktunya pun cuma sehari, 30-31 Desember. Setelah menghasilkan 600-an pesan WA bertubi-tubi yang datang dengan jeda beberapa milidetik, akhirnya terpilih Gunung Kendang. Uh. Continue reading “Gunung Kendang, Januari 2015”