Terbaik dan Terburuk di 2016

Fools have a habit of believing that everything written by a famous author is admirable. For my part I read only to please myself and like only what suits my taste.
― Voltaire, Candide

Betul, kamu sudah saya peringatkan sejak sekarang. Tulisan berikut pada dasarnya hanya berupa rangkuman daftar-daftar bacaan dan tontonan yang sudah saya saksikan sepanjang tahun 2016 kemarin. Tetapi tentu saja, akan diselingi oleh banyak omong kosong dan lanturan tak jelas. Kamu, sudah saya peringatkan. Haha. Continue reading “Terbaik dan Terburuk di 2016”

Advertisements

Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]

Perhaps in the world’s destruction it would be possible at last to see how it was made. Oceans, mountains. The ponderous counterspectacle of things ceasing to be. The sweeping waste, hydroptic and coldly secular. The silence.
― Cormac McCarthy, The Road

Saya berdiri di puncak yang sekaligus tepi sebuah jurang tajam. Di antara bayang-bayang sisa dini hari, bagian-bagian dataran di kaki gunung terlihat memantulkan cahaya sisa purnama dan lampu jalanan di kejauhan, dan segerombol pepohonan di tepi lereng selatan gunung membentuk kerumunan formasi bergerombol yang aneh. Pepohonan berbatang kecoklatan dengan bintik-bintik putih bagai penderita kusta mengintip di tepian jalur pendakian yang kami lewati. Jamur dan lumut berjurai-jurai di bebatuan bagaikan juluran lengan gurita yang murka. Udara menggelegak mengalir deras di antara bebatuan di puncak jurang yang berlumut dan beraroma amis seperti laut. Ada bau tipis abu purba yang terserak diantara sela bebatuan, sisa dan saksi amarah gunung di masa lampau, terlarut oleh embun yang berkerumun di pucuk dedaunan berbentuk jarum dan ada aroma sulfur yang tercium berselang-seling saat angin lewat dengan silih berganti. Di antara lipatan-lipatan angin yang datang bergulung-gulung, tercium aroma laut samar yang dibawa angin lembah dan diperangkap hutan beserta aroma semua ikannya, semua karangnya, semua pasirnya, semua arusnya, semua kedalamannya, semua gemuruhnya, semua kesunyiannya, dan semua misterinya. Aroma eksotik yang memabukkan ini membuat saya mencium udara dengan sangat perlahan seolah kesempatan seperti ini tak bisa terulang. Continue reading “Gunung Tambora, Mei 2016 [bag. 2]”