Gunung Slamet, Februari 2018

“Life is made up of sobs, sniffles, and smiles, with sniffles predominating.”
O. Henry, The Gift of the Magi

Adalah suatu hal yang tak bisa diduga kedatangannya. Daun-daun rimbun menapis cahaya matahari sehingga suasana hutan meremang meski jam masih menunjukan pukul empat sore. Angin semakin lama bertiup semakin lemah sehingga kegerahan semakin meraja dan keringat semakin bercucuran. Ketukan-ketukan lembut pada dedaunan yang ritmis terdengar di kejauhan di belakang kami, yang nadanya naik turun riuh rendah bahkan kadang menghilang. Sebelum saya dapat mengantisipasinya, hujan deras turun dalam hening. Bagi seorang pendaki, hujan bisa menjadi tantangan sendiri. Sebelum baju saya menjadi kuyup, saya segera mengeluarkan jas hujan yang sengaja saya tempatkan di kantong terdekat dan paling mudah diraih. Pendaki-pendaki lain yang tak siap, terlihat semakin kuyup sambil berusaha mencari pohon teduh untuk mengeluarkan jas hujannya. Beberapa orang terdengar menggerutu, sebagian cemberut, yang lainnya pasrah dengan senyum kecut. Namun bagi saya, hujan di gunung saat sore hari adalah sebuah janji. Janji bahwa kelak, saat hujan sudah berhenti dan kegelapan rimba sudah sempurna, akan tersibak misteri terbaiknya.  Continue reading “Gunung Slamet, Februari 2018”

Advertisements

Gunung Latimojong, Mei 2015


Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan

di mana gerangan kemarau, yang malamnya dingin
yang langitnya bersih; yang siangnya menawarkan
bunga randu alas dan kembang celung, yang dijemput angin
di bukit-bukit, yang tidak mudah tersinggung
yang lebih suka menunggu sampai penghujan
dengan ikhlas meninggalkan kampung-kampung
(diusir kerumunan bunga dan kawanan burung)

di mana gerangan kemarau, yang senantiasa dahaga
yang suka menggemaskan, yang dirindukan penghujan

― Sapardi Djoko Damono, Ayat-ayat Api – fragmen 1

Saya tidak ingin menganalisis dan mengulas puisi SDD di atas sih, haha. Tapi puisi tsb terus menerus menggelitik dan berkedut-kedut di kepala saya selama pendakian ke Latimojong. Meski puisi ini secara harfiah berbicara tentang kondisi cuaca, tetapi fragmen ke-1 ini (sesuai judulnya, ‘Ayat-ayat Api‘) merupakan pembuka dari ode sedih tentang Tragedi Penembakan Mahasiswa Mei 1998. Tapi bukan sisi ini yang ingin saya bicarakan. Haha. Saya ambil lirik-lirik harfiahnya saja, sih. Dalam buku-buku geografi sekolah tentang perubahan musim, disebutkan bahwa bulan Mei mestinya sudah masuk periode musim kemarau. Tapi nyatanya, di Latimojong, sebagaimana kutipan puisi di atas, saya merindukan kemarau di musim kemarau. Hujan terus. Continue reading “Gunung Latimojong, Mei 2015”