Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 1]

Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies
I sit, and meanwhile back

The BeatlesPenny Lane

Seperti halnya Varanasi bagi umat Hindu, atau Jerusalem bagi umat Yahudi/Kristen/Islam, saya juga punya ‘kota suci’ versi saya sendiri. Kesempatan untuk mengunjunginya telah menjadi semacam ziarah singkat yang sudah lama saya idam-idamkan. Sebuah pelawatan yang akan menyentuh salah satu kelokan dari kenangan, mimpi, hasrat, cita-cita, imajinasi, obsesi, bahkan pemujaan. Ritual harian saya yang senantiasa memutar lagu-lagu lawas di pagi hari entah untuk menemani saya membaca buku atau mengerjakan tugas-tugas harian, sudah pasti memasukan lagu-lagu The Beatles di dalam daftar putarnya. Bahkan The Beatles menjadi satu diantara dua artis yang semua lagu-lagunya dari segala album yang pernah mereka keluarkan ada dalam daftar musik yang saya putar di ponsel. Ya, kamu bisa menebak kemana semua ini akan bermuara. Saya akan melakukan ziarah suci ke kota Liverpool, Inggris, tempat lahirnya dua kenangan dan obsesi masa kecil yang terus bertahan hingga hari ini; band fenomenal The Beatles dan klub sepakbola Liverpool Football Club. Dan tentu saja, bagi seorang penggila jalan kaki di alam bebas seperti saya, juga sekalian termasuk trekking di taman nasional tertua di Inggris, Peak District National Park. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 1]”

Advertisements

Gunung Manglayang, April 2015

“April is the cruelest month, breeding
lilacs out of the dead land, mixing
memory and desire, stirring
dull roots with spring rain.”
― T.S. Eliot, The Waste Land

The Waste Land, telah resmi menjadi book of the month saya di bulan April. Banyak elemen di buku ini yang begitu bertalian erat dengan kehidupan saya di bulan April, setidaknya beberapa hari menjelang bulan April.

April adalah bulan terkejam, semaikan. Saya merasa, April tahun ini benar-benar menjadi lebih bengis daripada bulan lainnya. Menjelang April, dunia saya mengalami jungkir balik karena terjadi peristiwa yang tak mengenakkan. Bahkan salah satu peristiwa paling membuat-langit-terasa-runtuh terjadi di bulan April tahun ini. Emang sedikit lebay sih, tapi setidaknya, saat itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir udara yang saya hirup terasa lebih pekat dan berat daripada biasanya. Sampai-sampai, teman-teman saya yang membaca timeline Path saya merasa janggal dengan saya yang baru–untungnya hal tsb tidak saya bagikan juga di timeline FB saya. Bisa-bisa saya dicap anak alay. Haha. Continue reading “Gunung Manglayang, April 2015”