Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 5]

“And when the spring breezes blow up the valley; when the spring sun shines on last year’s withered grass on the river banks; and on the lake; and on the lake’s two white swans; and coaxes the new grass out of the spongy soil in the marshes – who could believe on such a day that this peaceful, grassy valley brooded over the story of our past; and over its specters?”
― Halldór Laxness, Independent People

Sejak masih di Jakarta, saat saya menyusun jadwal perjalanan, saya sudah menyusun rencana agar ada satu hari di Iceland dimana khusus didedikasikan untuk  mengobati kecanduan sekaligus terapi penyakit akut saya yang terlalu memuja keindahan alam. Saya sudah jauh-jauh hari merancang agar bisa melakukan trekking di alam terbuka Iceland seharian. Rombongan kecil kami yang berniat melakukan road trip keliling negara Iceland dengan bermobil ria dalam durasi hari yang terbatas tentu saja membuat setiap hari di sana terasa berharga. Dengan hitungan hari kepulangan terasa semakin mendekat setiap paginya, kami tak ingin ada hari yang terbuang. Tetapi tekad saya sudah kuat dan dengan argumen yang sebetulnya tak perlu susah payah saya lakukan teman-teman saya dengan mudah luluh dengan bujukan saya, agar ada satu hari di Iceland di mana kami akan berjalan kaki seharian. Mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, saat saya akan menikmati liar dan indahnya alam Iceland dengan jalan kaki. Maka pada hari ke-5, kami menyusuri Skaftafell National Park yang memiliki banyak rute jalan kaki yang menggoda. Bagaimanapun setelah lima hari berkendara terus-terusan, saya perlu melambat. Saya ingin menikmati garis-garis kepermaian alam Iceland dalam kekhusyuan dengan lebih jelas yang hari-hari sebelumnya lebih banyak blur karena laju kendaraan. Dengan berjalan kaki, tak ada lagi keterpacuan, semuanya menjadi melambat dengan garis-garis gunung dan pantai yang lebih tegas dan jelas. Semuanya diiringi mata yang lapar untuk menyerap keindahan sekitar dengan kelelahan tubuh yang datang mengawal setiap langkah. Kepasrahan dan bebas dari rasa tergabas adalah cara terbaik untuk menikmati alam, dan berjalan kaki adalah salah satu cara terunggulnya. Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 5]”

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]

“Presently the small of coffee began to fill the room. This was morning’s hallowed moment. In such a fragrance the perversity of the world is forgotten, and the soul is inspired with faith in the future…”
― Halldór Laxness, Independent People

Pagi saya hari itu diawali persis sesuai kutipan buku Independent People di atas; Segera, cecahan harumnya kopi mulai mengisi ruangan. Momen kudus di pagi hari. Dengan semerbak aroma kopi, kebengisan dunia terlupakan, dan jiwa dipulihkan oleh iman kepada pengharapan masa depan… Aroma kopi di pagi hari kadang memang bisa membawa dampak sedahsyat itu. Gangsi biji kopi itulah yang langsung menyambut saya ketika saya sampai ke ruang makan pada pagi hari di penginapan rumah pertanian Steinsholt tempat kami menginap. Uap kopi panas tampak mengepul dari cangkir di meja makan depan teman saya sementara aromanya sudah menyebar ke seisi ruangan ketika saya masuk. Bulir-bulir debu yang terkena cahaya matahari pagi dari jendela raksasa di pinggir meja makan, berkilau dan memantul saat beradu dengan uap kopi. Tarian momentum hukum kinematika berpadu dengan hukum-hukum optika fisika menciptakan pemandangan berpijar yang menari-nari liar seolah kopi yang ada di meja adalah minuman ramuan sihir yang ada di kartun-kartun TV saat sang penyihir menebar mantra kepada eliksir misteriusnya. Saya memang gampang sekali terpukau oleh hal-hal sesederhana seperti ini. Melihat saya terpesona takjub menatap hanya cangkir kopi seolah itu ramuan ajaib betulan, seorang petugas penginapan dengan sigap mendekati saya dan menanyakan apakah saya ingin kopi juga, yang langsung saya jawab tanggap dengan anggukan mantap, “Yes! Yes! Yes! Without sugar, please…Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 3]”