Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]

But the fool on the hill
Sees the sun going down
And the eyes in his head
See the world spinning round

― The Beatles, The Fool on the Hill

Jika saya menjadi seorang Julie Andrews maka saya sudah pasti menari-nari, melompat-lompat, bahkan berguling-guling sambil menyanyikan lagu seperti yang dia lakukan di film klasik fenomenal The Sound of Music (1965). Tentu saja saya tak melakukan itu semua karena akan tampak konyol jika dilihat orang lain, haha, meski saya tetap melakukan guling-guling di atas rumputnya sih. Di sini, udara terasa ringan. Tak beraroma, tak ada rasa panas atau dingin, tanpa ada kelembapan, tak mengandung butiran apapun murni seperti habis disuling. Tak ada beban sama sekali saat menghirupnya, membuat saya menghirup udara begitu perlahan tanpa ada ketergesaan. What a wonderful air! What a wonderful air! What a wonderful air! Saya mengucapkan mantra ini berkali-kali dengan mata terpejam sambil mengambil nafas dengan indera berusaha mengecap segala rasa di sekitar. Ah, siapa sangka jika tak jauh dari bukit permai dengan padang rumput hijau membentang luas ini, terdapat bayang-bayang kisah masa lalu yang kelam dan pedih. Bagian Peak District National Park yang saya datangi memang tak hanya menyajikan panorama memukau, tetapi juga keping sejarah masa lampau yang penuh kejayaan dan kemuraman. Continue reading “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 2]”

Advertisements

Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 2]

“Shortly afterwards it started raining, very innocently at first, but the sky was packed tight with cloud and gradually the drops grew bigger and heavier, until it was autumn’s dismal rain that was falling—rain that seemed to fill the entire world with its leaden beat, rain suggestive in its dreariness of everlasting waterfalls between the planets, rain that thatched the heavens with drabness and brooded oppressively over the whole countryside, like a disease, strong in the power of its flat, unvarying monotony, its smothering heaviness, its cold, unrelenting cruelty. Smoothly, smoothly it fell, over the whole shire, over the fallen marsh grass, over the troubled lake, the iron-grey gravel flats, the sombre mountain above the croft, smudging out every prospect. And the heavy, hopeless, interminable beat wormed its way into every crevice in the house, lay like a pad of cotton wool over the ears, and embraced everything, both near and far, in its compass, like an unromantic story from life itself that has no rhythm and no crescendo, no climax, but which is nevertheless overwhelming in its scope, terrifying in its significance. And at the bottom of this unfathomed ocean of teeming rain sat the little house and its one neurotic woman.”
― Halldór Laxness, Independent People

Saya terbangun dari tidur dalam kondisi ganar. Dan ini pasti disebabkan oleh langitnya. Ketika saya tanpa sadar mulai tertidur, mungkin antara pukul 10 dan 11 malam, langit yang melingkupi kota Grundarfjörður masih terlihat calak. Saya tak sempat melihat warna jingga senja atau keremangan gelap malam. Pun saat saya terbangun jam 2 pagi, langit sudah terang dengan awan kelabu pucat berjejalan di tiap penjurunya. Membuat saya bertanya-tanya, apakah memang langit pernah mengalami kegelapan malam selama saya tertidur atau tetap dalam kondisi serupa, karena terang langit tak ada bedanya antara sebelum dan sesudah saya tertidur. Sedikit riset di internet, memberitahukan bahwa memang sempat ada kegelapan malam meski itu sesaat hanya sekitar 3 jam saja. Continue reading “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 2]”