Gunung Latimojong, Mei 2015


Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan

di mana gerangan kemarau, yang malamnya dingin
yang langitnya bersih; yang siangnya menawarkan
bunga randu alas dan kembang celung, yang dijemput angin
di bukit-bukit, yang tidak mudah tersinggung
yang lebih suka menunggu sampai penghujan
dengan ikhlas meninggalkan kampung-kampung
(diusir kerumunan bunga dan kawanan burung)

di mana gerangan kemarau, yang senantiasa dahaga
yang suka menggemaskan, yang dirindukan penghujan

― Sapardi Djoko Damono, Ayat-ayat Api – fragmen 1

Saya tidak ingin menganalisis dan mengulas puisi SDD di atas sih, haha. Tapi puisi tsb terus menerus menggelitik dan berkedut-kedut di kepala saya selama pendakian ke Latimojong. Meski puisi ini secara harfiah berbicara tentang kondisi cuaca, tetapi fragmen ke-1 ini (sesuai judulnya, ‘Ayat-ayat Api‘) merupakan pembuka dari ode sedih tentang Tragedi Penembakan Mahasiswa Mei 1998. Tapi bukan sisi ini yang ingin saya bicarakan. Haha. Saya ambil lirik-lirik harfiahnya saja, sih. Dalam buku-buku geografi sekolah tentang perubahan musim, disebutkan bahwa bulan Mei mestinya sudah masuk periode musim kemarau. Tapi nyatanya, di Latimojong, sebagaimana kutipan puisi di atas, saya merindukan kemarau di musim kemarau. Hujan terus. Continue reading “Gunung Latimojong, Mei 2015”

Advertisements