Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)

Saya jarang menonton film India. Jadi banyak film India yang mencengangkan terlewat begitu saja dari radar andai tidak diberitahukan oleh kawan-kawan dari forum diskusi. Saya hampir melewatkan film Ship of Theseus (2013) begitu saja padahal film ini menjadi film terfavorit saya di tahun 2013 lalu. Pun Supermen of Malegaon, saya harus tertunda selama 7 tahun untuk menyaksikan film luar biasa ini.

 

images-111664
Mungkin ini yang akan saya minta dari Super-Man jika bertemu, meminta dia menggoreng kerupuk dan gorengan dengan mata lasernya

 

Jika ada pepatah jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, maka pepatah untuk film ini adalah jangan menilai sebuah film dari posternya. Ya, posternya norak banget. Karena nyatanya film ini bercerita tentang pembuatan film yang norak juga. Tapi ada sesuatu lain yang sangat menghujam dalam saat menyaksikan film ini. Film ini, mungkin salah satu film paling menghentak yang saya saksikan sepanjang tahun ini. Continue reading “Supermen of Malegaon (Faiza Ahmad Khan, 2008, India)”

Gunung Lawu, Februari 2015

Sudah sejak lama sekali sih saya ingin mendaki Gunung Lawu. Bukan saja karena keindahannya yang menjadi buah bibir, tapi bagi saya, Gunung Lawu adalah salah satu keping puzzle paling menarik dalam sejarah nasional. Peristiwa G30S, peristiwa Reformasi 1998, kehidupan prasejarah Nusantara praabad V, dan terutama era transisi Hindu-Islam adalah beberapa peristiwa dalam sejarah nasional yang menarik minat saya karena begitu banyakanya keping puzzle yang hilang. Tidak pernah ada buku sejarah yang bisa menuliskan dengan lengkap dan memuaskan tentang apa saja yang terjadi pada periode gelap ini. Continue reading “Gunung Lawu, Februari 2015”

Gunung Burangrang, Januari 2015

Mengandalkan citra live satelit cuaca, minggu kedua Januari lalu saya nekat hiking ke Burangrang meski sudah masuk musim penghujan. Tidak sepenuhnya akurat–cuaca lokal seperti hujan gunung memang tidak ditampilkan dalam citra satelit tsb–akhirnya saya mengalami juga hujan lebat di tengah gunung. Terakhir kehujanan kayaknya pas camping zaman SMA. Untungnya hujannya tidak lama, cuma sekitar 2 jam-an dan siang-siang sehingga tidak mengganggu waktu tidur waktu malam. Tapi lumayan lebat juga sih.

Karena Burangrang merupakan gunung yang suka dipakai latihan oleh TNI, perizinan mendaki ke sana agak sulit terutama kalau sedang dipakai latihan oleh mereka. Syukurnya kemarin sedang tidak digunakan latihan. Hanya ditanya-tanya sedikit mengenai tujuan dan rute pendakian saja.

Rute pendakian ada dua, lewat perkebunan (yang lebih singkat) dan lewat air terjung Layung (yang lebih memutar). Rombongan saya mengambil alternatif kedua (karena berangkat pagi sehingga perkiraan waktunya cukup sampai puncak sebelum malam).

Karena musim hujan, medan yang ditempuh cukup sulit, dedaunan yang licin dan lapisan mudcake yang gampang sekali bikin kepleset jika tak waspada. Jadi, meski rutenya tidak terlalu panjang, tetapi karena medan yang kurang kondusif sedikit keteteran juga sih. Tak mengejutkan jika beberapa spot ada epitaph-epitaph (batu penanda bahwa seseorang pernah meninggal di tempat tsb). Melihat epitaph di tengah gunung, selalu membuat saya merinding. Bukan dalam artian takut, tetapi lebih ke arah ‘sedih’.

Continue reading “Gunung Burangrang, Januari 2015”

Gunung Kendang, Januari 2015

Awalnya saya sama sekali gak berniat mendaki gunung di akhir tahun kemarin. Mudik ke rumah tanpa membawa peralatan hiking seperti tas, jaket, sepatu, dsb, saya memang merencanakan untuk menghabiskan akhir tahun dengan keluarga (sudah berbulan-bulan gak pulang, hehe). Tetapi, you know lah, saat teman-teman almamater kuliah mengajak hiking akhir tahun (disertai dengan ejekan-cibiran ‘anak mami’ dan hal-hal yang tak layak didengar lainnya) saya terpaksa setuju ikut mereka.

Karena tanggal 31 Januari sudah saya rencanakan untuk full acara keluarga, saya menego mereka untuk mengadakan acara pendakian ke gunung yang tidak jauh dari rumah dan waktunya pun cuma sehari, 30-31 Desember. Setelah menghasilkan 600-an pesan WA bertubi-tubi yang datang dengan jeda beberapa milidetik, akhirnya terpilih Gunung Kendang. Uh. Continue reading “Gunung Kendang, Januari 2015”

After I was Born

“Who what am I? My answer: I am everyone everything whose being-in-the-world affected was affected by mine. I am anything that happens after I’ve gone which would not have happened if I had not come. Nor am I particularly exceptional in this matter; each ‘I’, every one of the now-six-hundred-million-plus of us, contains a similar multitude. I repeat for the last time: to understand me, you’ll have to swallow the world.”
― Salman Rushdie, Midnight’s Children

There are two things that define me; reading and travelling.

When I was a little, I had a book before I could read. That’s because when I was 4 years old, I asked my parents to buy me a book though I still couldn’t read. The book itself was without any pictures and contained over 300 pages, about the history of religion and god. In fact, I finished it when I was nine.

Continue reading “After I was Born”