Gunung Kendang, Januari 2015

Awalnya saya sama sekali gak berniat mendaki gunung di akhir tahun kemarin. Mudik ke rumah tanpa membawa peralatan hiking seperti tas, jaket, sepatu, dsb, saya memang merencanakan untuk menghabiskan akhir tahun dengan keluarga (sudah berbulan-bulan gak pulang, hehe). Tetapi, you know lah, saat teman-teman almamater kuliah mengajak hiking akhir tahun (disertai dengan ejekan-cibiran ‘anak mami’ dan hal-hal yang tak layak didengar lainnya) saya terpaksa setuju ikut mereka.

Karena tanggal 31 Januari sudah saya rencanakan untuk full acara keluarga, saya menego mereka untuk mengadakan acara pendakian ke gunung yang tidak jauh dari rumah dan waktunya pun cuma sehari, 30-31 Desember. Setelah menghasilkan 600-an pesan WA bertubi-tubi yang datang dengan jeda beberapa milidetik, akhirnya terpilih Gunung Kendang. Uh. Continue reading “Gunung Kendang, Januari 2015”

Advertisements

After I was Born

“Who what am I? My answer: I am everyone everything whose being-in-the-world affected was affected by mine. I am anything that happens after I’ve gone which would not have happened if I had not come. Nor am I particularly exceptional in this matter; each ‘I’, every one of the now-six-hundred-million-plus of us, contains a similar multitude. I repeat for the last time: to understand me, you’ll have to swallow the world.”
― Salman Rushdie, Midnight’s Children

There are two things that define me; reading and travelling.

When I was a little, I had a book before I could read. That’s because when I was 4 years old, I asked my parents to buy me a book though I still couldn’t read. The book itself was without any pictures and contained over 300 pages, about the history of religion and god. In fact, I finished it when I was nine.

Continue reading “After I was Born”