Karakoram-Himalaya Mountains [bag.3]

“A great sorrow, and one that I am only beginning to understand: we don’t get to choose our own hearts. We can’t make ourselves want what’s good for us or what’s good for other people. We don’t get to choose the people we are.”
Donna Tartt, The Goldfinch

Terlalu mudah untuk ditebak, dan mestinya kamu sudah berpikir demikian jua. Alasan saya langsung setuju ikut ajakan perjalanan ke Kashmir tanpa berpikir dua kali adalah (sebagian besar) karena terpengaruh dari lagu Kashmir karya Led Zeppelin. Kashmir adalah lagu yang yang megah. Ketukan pertama nadanya yang epik dan kolosal sudah pasti akan membuat kamu ingin berteriak ‘whooaa-whoaaa-whoaaa’. Nada pembukaan lagunya memang sering dijadikan soundtrack pembukaan event yang kolosal. Tapi lagu Kashmir jauh lebih dari itu. Harmonisasi drum, gitar, bass, dan mollotron-nya menciptakan efek menghentak yang sensual, kesan etniknya terasa menonjol dan tak bisa ditemukan di lagu hard-rock lainnya. Bahas musikalisasinya sendiri akan jadi tulisan panjang, belum ditambah makna liriknya yang enigmatik, multitafsir, dan nyaris prophetic, menjadikan lagu Kashmir sebuah landmark besar dalam garis waktu musik dunia. Yep, lagu Kashmir adalah lagu resmi pengiringan perjalanan saya selama di Kashmir. Dalam dua hari, saya telah cukup banyak menyaksikan keindahan pemandangan di Kashmir. Tapi hari-hari berikutnya ternyata lebih dahsyat dari pada itu. Puncak-puncak es di gunung mahatinggi, amukan sungai-sungai liar, tebing bebatuan yang rasanya tak pernah ada orang yang menyentuhnya sejak ia diciptakan karena terhalang jurang-jurang dalam, bahkan gurun gersang di ketinggian. Lanskap surealis yang mengingatkan saya pada foto-foto daratan Mars di film-film fiksi ilmiah. Menyaksikan pemandangan abstrak seperti itu ditemani lagu Kashmir telah menjadi salah satu ekstasi tertinggi sepanjang saya menghirup udara di bumi ini. Saya memutar ulang lagu Kashmir terus menerus di Kashmir, dan sambil kamu meneruskan pembacaan tulisan ini, tak ada salahnya kamu memutar juga lagunya di bawah. Haha.

*****

Pagi ketiga saya di Kashmir kembali dibangunkan oleh raungan angin dini hari yang dingin. Kembali saya nongkrong di beranda penginapan boat-house Dal Lake sambil menanti fajar dengan membaca buku. Awan lebih tebal daripada hari sebelumnya sehingga saya harus puas dengan langit kelabu dan aneka suara burung hiruk pikuk di langit yang bersemangat menyambut pagi. Ketika teman-teman saya sudah terbangun, segera saya kembali ke kamar untuk mengemas ulang tas karena hari itu kami akan berpindah penginapan dan meninggalkan kawasan Srinagar. Kami diberitahu si supir bahwa seharian kami akan melakukan perjalanan darat sehingga sebaiknya minuman dan makanan sudah disiapkan cukup lengkap karena jalanan yang akan kami tempuh kebanyakan adalah tempat-tempat yang tak berpenghuni. Peringatan yang sebetulnya tak diperlukan karena kami sudah membawa makanan lebih dari cukup untuk beberapa hari kedepan, haha.

Setelah sarapan dengan menu yang sama seperti kemarin (roti, telor dadar, dan potongan wortel/mentimun), kami membawa tas-tas untuk diangkut dengan perahu menyeberang danau. Dengan mengucapkan terima kasih banyak sekali pada si pemilik penginapan atas layanan maksimal mereka, kami bersalaman dan mengucapkan kata-kata perpisahan. Tentu saja kami berfoto bersama untuk mengabadikan perpisahan. Dengan sedikit turis yang mengunjungi Dal Lake, saya merasa khawatir jika kami akan menjadi tamu terakhir mereka di sisa musim panas itu–boat house lain sekitar penginapan yang kami inapi kosong melompong.

Perjalanan kami hari itu adalah menuju kawasan Ladakh di timur laut provinsi Jammu & Kashmir*. Kawasan Ladakh sendiri telah menjadi semacam kawasan yang ‘terlupakan’ di provinsi J&K. Selain karena perbedaan agama (Ladakh mayoritas berpenduduk Budha, berbeda dengan Kashmir yang Islam dan Jammu yang Hindu), juga kawasan Ladakh ‘terkurung’ secara geografis. Ladakh terletak di jantung pegunungan Himalaya seperti halnya Tibet. Untuk memasuki kawasan Ladakh, kita harus siap-siap menempuh jalan-jalan menanjak, terjal, berbatu, gersang, berangin dingin, menembus gunung-gunung tinggi yang bersalju sepanjang tahun saking tingginya, dan merayap melintasi jurang-jurang curam tajam. Ah, jelas sebuah perjalanan yang akan menjanjikan petualangan!

L1020720
Pemandangan semacam inilah yang saya jumpai terus sepanjang perjalanan menuju Ladakh; kawasan gunung-gunung bebatuan teroksidasi kecokelatan, langit biru, dan awan-awan putih jarang di pucuk bebatuan

*****

Berbeda dengan perjalanan sehari sebelumnya yang melintasi jalan tol dan kebanyakan melewati pemukiman yang kebanyakan medan dataran, perjalanan menuju Ladakh sejak setengah jam pertama sudah melalui tanjakan. Jalanan mengular dan berkelok mengikuti alur lembah Sungai Sind, membuat panorama yang tersaji terlihat megah. Semakin lama perjalanan semakin mengarah ke hulu sungai yang ada di jantung Himalaya, membuat perjalanan terasa semakin menanjak, lembah-lembah semakin curam, sungai semakin menderas karena bebatuan di sungai membesar, sementara udara semakin segar. Udara gunung yang terbaharui oleh hawa dingin Himalaya membuat semangat petualangan semakin menggelora. Tentu saja tentara yang berjaga semakin siaga, namun berbeda dengan perjalanan hari sebelumnya dimana mereka siaga di pinggir jalan, pada rute menuju Ladakh tentaranya bersembunyi di atas bukit-bukit tinggi.

Karena udara pegunungan musim panas terasa menyegarkan, kami membuka pintu jendela lebar-lebar. Kamera di tangan selalu ada dalam posisi siaga, yang kadang karena terbuai udara segar membuat kami terkantuk-kantuk, kadang jatuh ke pangkuan. Aroma petualangan hebat terasa sekali di hari itu. Kubah langit biru jernih menghampar luas tak terbendung, Sungai Sind yang mengalir liar, bebatuan cokelat menaburi bebukitan terjal dimana jurang-jurang terjal menghimpit jalanan dan sungai yang melenggok-lenggok. Saya menebak-nebak, bisakah pemandangan yang akan saya lihat hari itu mestinya lebih hebat daripada pemandangan-pemandangan hari sebelumnya. Dan tentu saja insting saya terbukti benar. Perjalanan road-trip ke Ladakh termasuk perjalanan darat paling mengesankan yang pernah saya lakukan. Hanya perjalanan saat ke Iceland saja mungkin yang bisa menyamainya.

Sekitar jam sepuluh pagi, saya tiba di lembah super hijau bernama Sonamarg. Lembah hijau ini, adalah pertemuan tiga gunung yang masing-masing tingginya di atas 5000 mdpl; Puncak Kolhoi, Puncak Sirbal, Puncak Amarnath, dan Puncak Machoi. Keempat puncak ini tetap memiliki es di puncaknya meski sudah musim panas. Akibatnya Sonamarg dialiri banyak gletser (sungai es) yang menjadikannya sebagai kawasan yang sejuk (dan sebetulnya agak dingin) meski di tengah hari. Begitu saya membuka pintu mobil, angin segar segera menghambur dan menyerbu. Teman-teman saya segera menghambur menyerbu bukit-bukit landai yang ditutupi rumput-rumput hijau menghampar luas sejauh mata memandang.

20180819_104253
Sonamarg di musim panas, hijau dan segar. Meski terik, tak terasa panas sama sekali karena udaranya yang dingin menyegarkan

Begitu menginjak padang rumputnya, saya langsung melepas sepatu dan merasakan dinginnya rumput basah. Dengan merentangkan tangan selebar mungkin sambil menutup mata, saya menarik nafas sebanyak yang bisa dua bilah paru-paru saya sanggup isap. Sangat menyegarkan. Sementara teman-teman saya yang lain berfoto, saya menyempatkan diri berkeliling sebentar. Saya berjalan mendaki bukit sebelah yang ada bangunan semacam pos. Saya tadinya akan berjalan menuju bangunan tersebut (dengan memutari pagar kawat berduri) ketika saya menyadari jika ada beberapa tentara sedang membungkuk dalam posisi siaga untuk menembak. Tak perlu sampai dua detik bagi saya untuk pura-pura membalikan badan dan berjalan kembali ke area foto turis. Saya sengaja berjalan sepelan mungkin agar tidak tampak sebagai lari yang dikhawatirkan malah menimbulkan dugaan buruk dan si tentara melepaskan tembakan. Haha.

Karena bagian dari Sonamarg yang saya datangi ada di pinggir jalan raya, saya kembali berjalan menyusuri jalan raya sambil mencari titik yang dirasa terbaik untuk mengambil foto. Saya pikir iring-iringan mobil di tol menuju Pahalgam hari sebelumnya sudah menjadi iring-iringan mobil militer terpanjang yang pernah saya lihat. Saya salah. Hari itu, saya melihat iring-iringan militer lebih panjang lagi–hampir setengah jam saya menunggu kapan mobil terakhir lewat. Saya membayangkan, kericuhan macam apa yang sampai mengharuskan militer melakukan perjalanan sebanyak dan semasif itu. Pastinya sudah mendekati kondisi perang kan? Tetiba kekhawatiran dan kecemasan merajai hati saya.

20180819_103819
Iring-iringan mobil yang memobilisasi tentara. Jumlahnya sekali lewat bisa sampai berpuluh-puluh, yang artinya jumlah tentara sekali angkut bisa sampai ribuan

*****

Karena perjalanan masih sangat panjang, kami tak bisa berlama-lama di Sonamarg. Padahal suasana lindap dan panorama indahnya membuat saya betah berlama-lama–saya  bahkan menyempatkan membaca buku The Goldfinch sambil duduk-duduk di rerumputan. Namun karena memang kami harus melaju, dengan sedikit enggan, kami kembali masuk ke dalam kendaraan. Selepas Sonamarg, perjalanan menjadi lebih berliku dan menanjak. Ngarai di pinggir jalam semakin lama semakin dalam, sementara gunung-gunung di pinggir satunya terasa semakin tinggi menjulang. Dalam kondisi yang mengabur secara perlahan, sejam berikutnya suasana hijau dan sejuk Sonamarg secara bertahap menghilang menjadi suasana kering dan panas. Kami sampai di area gunung bebatuan dengan jurang dalam di satu sisi sementara satu sisinya gunung terjal. Kami menyusuri jalan yang amat sempit–kadang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja sehingga jika ada mobil dari arah berlawanan kami sebagai penumpang kadang menjerit kaget dan panik takut terpepet dan terguling ke sisi jurang. Yah, kami telah sampai di lokasi legendaris lainnya: Zoji La Pass.

Zoji La Pass adalah sebuah area jalan yang membelah pegunungan Himalaya di sebuah ketinggian sangat tinggi (hampir 4000 meter) antara Kashmir dan Ladakh. Mengular menyusuri lereng gunung tinggi, jalanan di Zoji La sangat sempit, ini menimbulkan adrenalin dan sensasi unik yang jarang ditemukan di tempat lain. Pemandangan mahaindah menciptakan sensasi keterpesonaan luar biasa, sementara jurang terjal mengancam mahadalam menciptakan sensasi kengerian tiada banding. Tiap tahun, hampir selalu ada laporan kecelakaan mobil turis yang terguling, hanya dua bulan sebelum kami datang misalnya, terjadi kecelakaan fatal di area ini. Zoji La idealnya hanya bisa dilalui di musim panas karena pada musim dingin, salju tebal menutupi jalanan yang membuat perjalanan semakin berbahaya–tapi tentu saja kadang ada orang yang nekat sehingga berita tentang turis-turis terperangkap saju sering masuk berita secara rutin tiap tahunnya. Keindahan dan kengerian menjadi godaan dan tantangan bagi turis-turis.

Perjalanan menyusuri Zoji La benar-benar mendebarkan, tak hanya pemandangan menakjubkan yang membuat jantung berdebar, namun kengerian oleh jalanan super sempit kadang hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan saja sehingga jika ada kendaraan dari arah berlawanan, kedua mobil harus saling dempet-dempetan. Tak jarang, mobil yang mendapat ‘sisi sial’ menempel ke tepi jurang, posisi ban kendaraannya bisa setengahnya menempel di jalan, sisanya ada di kehampaan jurang. Sering kali saya menutup mata menahan kengerian karena posisi saya yang ada di pinggir jendela bisa melihat betapa tipisnya posisi mobil kami antara selamat dan terguling. Oleng sedikit karena jalan bebatuan tak mulus, sudah cukup untuk membuat kami dalam mobil berteriak kencang ngeri ketakutan. Si supir, dengan seringai jahilnya, malah sengaja menambah laju kecepatan saat di kelokan, membuat saya ingin melemparkan botol minuman padanya. Haha.

20180819_121900
Tentu saja kami berhenti di pinggir jalan untk berfoto-foto. Ngarai dalam di Zoji La, menawarkan keindahan dan kengerian pada saat bersamaan.

Dalam kondisi jalanan yang begitu mencemaskan, bayangkan saat, secara tetiba, ban mobil kami meledak karena robek dihajar serpihan bebatuan tajam. Rasanya seisi mobil gaduh antara panik mobil takut oleng ke jurang dan teriakan memerintahkan supir segera menepikan kendaraan. Begitu mobil berhasil ditepikan di pinggir jalan, saya bisa menyaksikan robekan tajam dan kasar pada karet ban yang menganga lebar. Saya merinding membayangkan apa yang akan terjadi jika mobil kami tak bisa dikendalikan karena mungut lalu kehilangan keseimbangan di tepi jurang. Keburuntungan lainnya, mobil kami dilengkapi ban cadangan. Jika tak ada ban cadangan, saya membayangkan sampai kapan kami harus menunggu bantuan datang–pemukiman terakhir yang menyediakan toko perbaikan ban sudah tak ingat kapan saya saksikan. Sementara si supir mengganti ban, kami menghabiskan waktu untuk berfoto-foto menikmati pemandangan. Perbaikannya yang dia lakukan sendiri cukup memakan waktu sehingga saya menyempatkan diri untuk membaca novel The Goldfinch di ketinggian 3200 meter di atas muka laut beberapa halaman.

L1020618
Ban yang meletus, terkoyak oleh tajamnya serpihan bebatuan tajam. Saya tak sanggup membayangkan jika saat ban meletus, kami sedang ada di bagian jalan sempit atau sedang bersisian dengan kendaraan dari arah berlawanan di mana kami akan berada tepat di pinggir jurang

Setelah ban berhasil diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan di tengah hari yang terik. Jalanan di Zoji La yang berupa pecahan bebatuan gunung Himalaya, membuat area jalanan berdebu di musim panas. Baru kendaraan kami berjalan 5 menit (dengan perasaan waswas masih sangat terasa takut ban meledak lagi karena ban cadangan hanya ada satu), mobil harus berhenti mendadak. Dari arah seberang, iring-iringan mobil militer mengular jauh ke belakag melintasi lereng-lereng pegunungan, saking panjang dan banyaknya, bagian belakang tak bisa terlihat saking kecilnya. Pemandangan ini membuat kami mencelos, karena dengan lebar jalan yang sempit, jika ada iring-iringan militer lewat dan mendahului, artinya bisa sangat lama sekali kami mendapatkan giliran melanjutkan perjalanan. Ketika kami mengutarakan kekhawatiran ini, si supir malah menyengir jahil. Dalam keahlian menyetir yang membuat saya takjub sekaligus jeri, si supir melaju menyelip-nyelip di antara truk-truk besar tentara militer di jalanan yang bergelombang, berkelok, dan jurang dalam menganga. Perjalanan hampir sejam tersebut jelas diisi banyak pekikan ketakutan dari para penumpang. Haha.

IMG_7789
Seorang tentara berdiri di pinggir jurang, di samping mobilnya yang ditepikan agar mobil kami bisa lewat. Di jalanan yang didampingi jurang curam seperti ini, pihak ‘militer’ yang biasanya suka memaksa harus rela berbagi jalan dengan mobil sipil

*****

Ketika jurang dalam terlalu mengerikan untuk dilihat–meski pemandangannya luar biasa indah–saya harus mengarahkan pemandangan ke sisi lain jalan yang berupa pegunungan terjal. Meski pemandangannya mayoritas bebatuan cokelat teroksidasi, kadang di sela-sela bebatuan muncul rerumputan dan pepohonan kerdil. Biasanya ada kambing liar Pashmina goat yang kecil dan lincah berlarian di lereng pegunungan terjal dan bebatuan tajam. Dan, jika kita melihat pashmina goat dalam jumlah banyak, artinya mereka sedang digembalakan oleh salah satu suku paling unik di Himalaya: suku nomaden Gujjar – Bakharwal.

Matahari sudah di pucuk langit, tetapi pemandangan indahnya membuat kami silap pada rasa lapar–toh tak ada juga tempat berjualan makanan di pinggir jurang. Membayangkan tipisnya udara di luar karena ketinggiannya, membuat saya menebak-nebak bakal betapa panasnya jika berdiri di sana (saya sering mendaki gunung-gunung >3200 mdpl, jika sudah lewat jam 9 pagi dan berada di puncak, teriknya luar biasa bukan main). Apalagi saat itu sudah tengah hari dan ketinggiannya lebih tinggi lagi. Jadi bayangkan kekagetan sekaligus ketakjuban saya saat melihat serombongan keluarga kecil dimana anak-anak mereka dinaikkan di atas keledai, sementara anggota keluarga dewasa lainnya berjalan kaki dengan alas kaki seadanya. Dengan diiringi kawasan kambing pashmina gembalaan, mereka adalah bagian dari keluarga nomaden suku eksotis Gujjar Bakharwal. Selama musim dingin, suku yang tak memiliki rumah permanen ini, berjalan ke kaki gunung himalaya, sementara saat musim panas seperti saat itu, mereka mendaki ke bagian atas lereng-lereng pegunungan Himalaya untuk menggembalakan ternaknya. Antara rasa kagum sekaligus prihatin, saya hanya bisa terbelalak melihat rombongan suku nomaden ini berjalan beriringan mencari rerumputan di sela bebatuan gunung untuk ladang gembalaan kambing-kambingnya, tak peduli mereka menghadang konvoi pasukan tentara.

IMG_7873
Dengan membawa barang seadanya, seorang perempuan anggota suku Gujjar-Bakharwal mengendarai kuda di bagian tengah rombongan, sementara kaum lelakinya berjalan lebih dulu sambil menghela ternak kambing gembalanya

Sepanjang perjalanan sisanya, rasanya saya menjumpai 5-6 rombongan anggota suku nomaden ini. Masing-masing rombongan terdiri dari sekitar 5-10 orang, biasanya keluarga inti ayah-kakek-anak-cucu saja. Melihat rombongan suku nomaden ini berjalan dan berpindah-pindah tak kenal henti (sebagian kaum lelakinya jalan kaki) membuat saya membayangkan konsep kepemilikan mereka pada barang-barang kebutuhan sehari-hari terasa sangat minimalis. Rasanya saya tak melihat ada gudukan baju atau peralatan masak yang sangat besar. Kuda beban yang diniatkan untuk membawa barang kebutuhan sehari-hari jumlahnya hanya beberapa, pun dengan beban bawaan tak banyak seperti yang ada di foto di atas. Dengan kondisi lingkungan sangat keras, di mana dengan berkendara mobil saja kami tak menjumpai adanya pemukiman (praktis hanya orang-orang nomaden, konvoi tentara dan mobil-mobil turis saja yang saya lihat), barang bawaan yang super sedikit membuat saya menebak-nebak bagaimana mereka bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di lingkungan keras seperti itu.

*****

Setelah mabuk oleh pemandangan dahsyat selama hampir 4 jam berkendara dan tak menemui adanya pemukiman, sekitar pukul 2 siang akhirnya mobil kami berhenti di sebuah tempat makan yang berada di tengah pegunungan antah berantah. Hanya ada satu restoran itu saja, dan ketika saya mengonfirmasikan hal ini pada si sopir, dia menjawab jika pemukian terdekat masih berjarak sekitar 2 jam berkendara. Fiuh.

Dengan lokasi luar biasa terpencilnya itu, saya tak berkespektasi banyak pada menu yang disajikan. Ada semacam nasi kari kambing yang tak membuat saya yakin rasanya, saya akhirnya memilih menu aman mie rebus instan dan telur dadar. Mie maggie yang terasa kurang bumbu dibandingkan Indomie tak terasa micinnya selain asin garam dan bau rempah kari. Tapi toh saya yang kelaparan tak menghiraukan itu semua. Saya makan lahap hingga tetes kuah terakhir. Haha.

IMG_7882
Di lingkungan yang super keras dan kering, tenda-tenda didirkan oleh suku nomaden Gujjar-Bakharwal. Beberapa mobil turis terlihat mendekati tenda mungkin untuk meminta berfoto. Di pojok kiri, satu-satunya ‘restoran’ dalam 4 jam terakhir berkendara, menyambut saya dengan menu sederhananya

Entah karena kenyang makan (saya tak yakin karena porsi mie maggie-nya sangat sedikit sekali) atau suasana terik di luar sementara udara semilir angin dan perjalanan berkelok-kelok akhirnya membuai saya dalam kondisi terantuk-antuk mengantuk. Saya tak bisa sepenuhnya tidur karena kadang terbanting oleh mobil dibelokan sedemikian tajam mengikuti kelokan jalan, atau terlonjak karena ada lubang jalan dan bebatuan. Kesadaran saya tak bisa pulih sepenuhnya ketika si supir memberitahu jika kami sudah mencapai kawasan atraksi turis berikutnya yakni museum perang Kargil War Memorial Museum di desa kecil bernama Drass.

Entah saat itu sudah jam berapa, anehnya saya tak sempat mengecek jam tangan, hari luar biasa terik membuat sebagian rombongan kami ogah-ogahan masuk ke museum perang Drass. Tapi begitu diberi tahu jika turis asing gratis asal menujukkan paspor, rombongan kami langsung antusias mencari letak pintu masuk. Haha. Kargil War Memorial Museum pada hakikatnya adalah sebuah pemakaman merangkap museum untuk mengenang Perang Kargil di tahun 1999. Perang Kargil adalah perang perebutan kawasan Kashmir-Ladakh antara India dan Pakistan. Perang ini merupakan salah satu perang paling pelik dan menyusahkan dalam separuh abad terakhir, karena lokasi perang berada di Tiger Hill, salah satu anak gunung Himalaya yang tingginya sampai 5000 meter di atas muka laut. Dengan kondisi medan menanjak terjal, pembawaan logistik menjadi begitu rumit sehingga meski durasi perang hanya sekitar dua bulan, tapi korban dari kedua belah pihak sampai ribuan orang.

IMG_7953
Kompleks pemakaman di sebelah museum perang Kargil. Meski kompleks museum ini terbuka untuk turis asing, untuk warga setempat–terutama warga Kashmir Ladakh–jika ingin memasuki museum ini akan mendapatkan pemeriksaan ketat. Saya melihat suatu rombongan studi tur warga lokal, guru-guru dan anak-anaknya diperiksa secara seksama barang bawaannya, sementara saya sebagai turis asing hanya perlu menunjukan passport

Perang Kargil sendiri termasuk momen terpenting dan krusial bagi India untuk mengamankan posisinya sebagai pemilik tanah Ladakh. Keberhasilan mereka mengusir tentara Pakistan di kawasan tersebut mengamankan jalur Kashmir-Ladakh di bawah kekuasaan India. Saya menyempatkan diri masuk ke dalam museum, dan melihat diorama dan fotografi bahwa kondisi medan yang sulit membuat para tentara kesusahan berkonfrontasi langsung. Kematian ribuan tentara sepertinya disebabkan karena kelelahan dan lontaran hulu ledak jarak jauh ketimbang terkena rentetan peluru langsung jarak dekat. Puas keliling museum (dimana kamera CCTV banyak tersebar di setiap penjuru ruangan maksimal berukuran 4×4 meter berjumlah 3 ruangan), saya berjalan ke arah taman dan pemakaman tentara India korban perang Kargil.

Saat sedang melihat-lihat  tulisan di batu nisan, seorang pria mendekati saya. Kejadiannya sangat persis seperti saat saya didekati si A di taman Nishat Bagh atau empat pemuda di Baisaran, saya sedang dalam kondisi sedikit melamun sambil melihat-lihat pemandangan sekitar, ketika seorang pemuda mendekati saya dan menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris. Wajah saya yang mencolok asing dibandingkan wajah India atau penduduk lokal, membuat si pemuda ini tertarik mengajak mengobrol saya. Setelah basa-basi mengenai kabar, saling memberi rekomendasi tempat wisata, dan perkenalan asal daerah masing-masing, saya melangkah lebih jauh dengan mencoba membahas topik sensitif di lokasi yang dijaga ratusan tentara India bersenjata: konflik perang Kashmir. Haha, nekat memang.

Dari perbincangan awal, tahulah saya jika si pemuda tadi, sebutlah namanya sebagai si B, masih berstatus mahasiswa dan berasal dari daerah Chennai–dahulu bernama Madras, ibu kota provinsi Tamil Nandu, yang terkenal sangat konservatif dalam hal keagamaan Hindu. Mengetahui si B pendukung fanatik gerakan konservatif Hindu, malah membuat saya tergilitik untuk ‘menggodanya’. Dengan semangat berapi-api khas mahasiswa, dia menegaskan berkali-kali jika Kashmir harus tetap menjadi bagian India bahkan jika perlu perang besar sekalipun dengan Pakistan. Setelah dia melakukan monolog hampir 3 menit, saya mengajukan pertanyaan, ‘apakah kamu pernah memikirkan hal ini dari sudut pandang penduduk Kashmir sendiri, dimana mereka secara etnis, budaya, agama, dan ekonomi berbeda jauh dengan suku India lain? Andai kamu sendiri jadi warga Kashmir, apakah kamu akan memilih memisahkan diri, bergabung dengan Pakistan, atau bergabung dengan India? Jika sekian puluh tahun bergabung dengan India masih terjadi perang di Kashmir dan membuat warganya menderita, apakah opsi memberikan independensi pada Kashmir patut dicoba?‘ Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat si B terhenyak dan menatap saya jeri. Saya berusaha memasang tampang sepolos mungkin. Haha.

Pada saat diskusi dengan si A–meski Hindu, dia memiliki dilema karena tinggal di kawasan Kashmir langsung sehingga bisa melihat realitas yang ada, membuat jawaban si A pada pertanyaan-pertanyaan saya tadi sedikit berkelit. Empat pemuda di Baisaran karena warga Kashmir langsung, jelas memberikan jawaban antusias pro-kemerdekaan. Sementara si B, dengan ngotot memberikan jawaban kontra meski argumen yang dia sajikan tampak lemah. Saya sebenarnya ingin terus mencecar si B, tapi mengingat tempat saya diskusi adalah pelataran museum perang di mana kompi tentara India bersenjata berjumlah ribuan selalu dalam keadaan standby, saya tak berani mencecar si B. Takut dia berteriak meminta bantuan tentara. Haha.

Berbeda dengan si A yang cukup terbuka, si B (mungkin karena masih berstatus mahasiswa juga) selalu memandang segala hal dari dua sisi hitam-putih: nasionalisme dan separatisme. Cecaran pertanyaan dari saya terasa menohok idealismenya sehingga…well… akhir diskusi kami tak berakhir terlalu baik. Ketika ayahnya memanggil dia, dia segera berpamitan kepada saya. Setelah saya bergabung dengan teman-teman saya lainnya, kami mengakhiri kunjungan ke museum perang dan melanjutkan perjalanan. Di area parkir, saya menjumpai kembali si B. Saya melambaikan tangan dan menyapanya, si B hanya menganggup dan mengangguk masam. Hehe.

20180819_140021
Setelah melakukan perjalanan berjam-jam dari Zoji La Pass, kami berhenti di pos penjagaan militer untuk melaporkan kedatangan kami pada penjaga. Kami secara resmi sampai di kawasan eksotik tujuan berikutnya, Ladakh.

*****

Dengan terik yang terasa semakin menyengat, udara tipis Himalaya membuat hawa terasa semakin membakar. Begitu kami masuk ke mobil, kami segera lelap tertidur siang. Alur jalanan yang berkelok membuat mobil bergoyang malah menimbulkan efek seperti ditimang sehingga kecuali si supir, semua penumpang tertidur baik pulas maupun terantuk-antuk setengah sadar seperti saya. Setelah durasi yang tidak bisa saya perkirakan, kami menepi di sebuah kompleks bangunan sepi di suatu kawasan antah berantah jauh dari mana-mana. Kami melapor kepada petugas berjaga dengan mengisi formulir dan memperlihatkan pasport untuk memasuki kasasan Ladakh. Meski India bebas dimasuki tanpa visa oleh warga Indonesia (perlu membuat e-visa sebelum masuk), tetapi untuk beberapa kawasan seperti Kashmir dan Ladakh diperlukan surat izin khusus (internal permit) bagi para turis. Mirip seperti jika kita akan mengunjungi Tibet, visa China saja tidak cukup, perlu surat izin khusus.

Jika Kashmir menghijau di musim semi-panas-gugur, Ladakh tetap kering kerontang di segala musim kecuali musim dingin. Posisinya yang ada di lembah sempit antara puncak Himalaya menjadikannya jarang terjangkau hujan muson dari Samudera Hindia. Posisinya yang tepat bersebelahan dengan Tibet, menjadikan kawasan Ladakh tidak hanya unik secara geologi, tetapi juga secara budaya identik dengan Tibet dan membedakannya dengan kawasan India lainnya. Penampakan alam dan kondisi sosial-budaya membuat Ladakh dan Tibet bak saudara kembar, tak heran jika Ladakh disebut sebagai The Little Tibet. Jika Kashmir dirongrong Pakistan, maka Ladakh dirongrong oleh China dan saling klaim batas wilayah, membuat hubungan India-Pakistan-China tak pernah akur selama puluhan tahun terakhir.

Ketika kami melaporkan diri pada petugas perbatasan Kashmir-Ladakh, saya pikir jalan menuju kota besar akan ‘sebentar’ lagi. Saya kembali keliru. Kota cukup besar yang akan kami kunjungi berikutnya adalah kota Kargil, yang sama dengan nama museum yang kami kunjungi sebelumnya, anehnya kota ini jaraknya hampir 3 jam berkendara dari lokasi museumnya sendiri. Perjalanan kami masih sangat jauh.

Menjelang sore, kami yang benar-benar kelelahan dengan perjalanan panjang, mulai tampak jemu dengan pemandangan tebing dinding kecokelatan puncak pegunungan berbatu yang mendominasi lanskap. Hanya dua orang dari kami, saya salah satunya, yang masih antusias memoto jika melihat kira-kira ada puncak gunung yang bentuknya aneh dan berbeda dengan sebelumnya–yang sejujurnya, tentu saja lelehan es dan erosi angin menjadikan puncak-puncak Himalaya berbeda bentuknya antara satu dan lainnya. Perjalanan 4 jam menuju kota Kargil benar-benar sangat sunyi. Meski jalanan mulus (untuk memudahkan mobilisasi militer), tak banyak kendaraan sipil yang lewat. Kadang di sebuah ceruk lembah sungai Drass-Shingo yang mengijau, ada beberapa pemukiman kecil yang dihuni hanya puluhan rumah. Kepemilikan kendaraan (dan kekayaan) yang terbatas membuat saya sering kali melihat warga yang tinggal di desa kecil tersebut menunggu di pinggir jalan menunggu angkutan umum untuk lewat–sebuah bis kecil umum yang jumlahnya amat langka dan saya biasanya berpapasan dengan bus itu sekali dalam sekian puluh menit.

Di salah satu kampung kecil yang dilewati, tertulis nama ‘Dras Village, The coldest place in India and the second coldest inhabited place in the world‘. Klaim ini mungkin tak akurat, tetapi googling sebentar menemukan fakta bahwa pada  Januari 1995 temperatur tercatata jatuh ke -60°C. Topografi berupa bebatuan keras membuat kawasan ini memerangkap panas di siang hari namun melepas kalor banyak di malam hari dengan cepat sehingga  membuat temperatur siang-malam berbeda jauh dan ekstrem. Plus udara tipis karena ketinggian dan posisinya yang diapit puncak-puncak Himalaya membuatnya dilewati arus udara gunung Himalaya yang merontokkan. Tak heran jika temperatur bisa jatuh minus sekian.

IMG_7903
Antara Zoji La dan kota Kargil, terserak pemukiman-pemukiman kecil yang jumlahnya terbatas. Ketiadaan kepemilikan kendaraan pribadi membuat penduduk di sana benar-benar mengandalkan transportasi umum yang jarang untuk mobilisasi. Sebuah keluarga kecil ini menunggu (setelah berapa lama?) kendaraan lewat untuk mengangkut mereka

*****

Kami sampai kota Kargil menjelang petang hari. Begitu masuk, saya bisa melihat betapa kecilnya kota ini. Menghampar di bantaran Sungai Suru (anak hulu Sungai Indus yang bermuara di Pakistan), Kargil melampar di satu sisi sungai sementara satu sisi lainnya yang terlalu terjal tidak bisa didirikan kota pemukiman luas (meski ada juga beberapa rumah yang berdiri di antara lereng terjal), membuat saya membayangkan betapa susahnya hidup di sana karena harus naik-turun tiap hari diantara lereng terjal dan susahnya mendapatkan akses air bersih (tanah di Kargil mayoritas bebatuan sehingga menggali sumur tak akan mudah). Dengan topografi kering, berbatu, dan terjal, Kargil hanya menyisakan sejumput tanah pertanian sehingga ekonomi warga bergantung sepenuhnya pada perdagangan dan turisme.

Setelah meletakkan tas di hotel, saya menyempatkan berjalan ke Kargil sebelum malam hari tiba karena bacaan ramalan cuaca di aplikasi telpon seluler menunjukkan malam akan dingin dan berangin. Hanya ada dua orang termasuk saya yang berniat jalan ke pusat kota Kargil. Berjalan menyusuri sungai Suru (tak jauh dari seberang sungai, langsung berbatasan dengan Pakistan), tak banyak pemandangan yang bisa kami lihat. Landmark kota yang signifikan dan ramai adalah pasar tradisional dengan barang jualan berupa kelontongan khas barang-barang murah dari China. Jangan mengharapkan akan ada mall, kuil bersejarah, alun-alun kota tua, dan atraksi turis menarik lainnya.

20180819_191412
Sekolah merangkap mesjid utama di Kargil di dekat pasar. Saya tak melihat adanya landmark kota lain yang signifikan di kota ini selain bangunan ini

Turis era modern yang transit kelelahan melaju antara Srinagar (Kashmir) menuju Leh (Ladakh) atau sebaliknya, seperti rombongan kami, atau pedagang antara dua kota tadi, menjadi penggerak utama ekonomi kota kecil ini. Terlalu banyak hotel yang tak sebanding dengan jumlah turis sampai-sampai saya dibuat kaget ketika melihat adanya ruko di pasar tradisional berukuran tak lebih dari 2×3 meter dan ditulis sebagai kamar hotel. Saya tak menemukan di mana ‘lobi’ atau resepsionis selain gerobak sayur pedagang di ruko sebelahnya. Para pemuda-pemudi setempat yang ‘kebingungan’ mencari penghiburan sore hari, duduk-duduk begitu saja di depan ruko-ruko pasar bersenda gurau menunggu malam datang. Sementara turis-turis kelelahan seperti saya yang jumlahnya amat sedikit, juga bingung harus melakukan apa hanya jalan kaki sekenanya sambil melihat barang-barang pasar yang tak menarik untuk dibeli–selain sayur-sayuran, kebanyakan barang yang dijual adalah barang-barang plastik buatan China atau baju bekas impor.

Saya tak membayangkan jika saya harus menghabiskan banyak waktu di sana, untungnya kami hanya transit semalam saja di sana. Karena tanggung sudah jalan kaki lama, saya dan teman saya iseng menawar di toko buah kering untuk harga buah kurma dan aprikot kering. Harga yang ditawarkan membuat saya terkejut karena seharga 5x harga di Srinagar sehari sebelumnya. Akses jalan susah dan jauh dan sumber daya alam terbatas yang harus didatangkan dari tempat jauh, membuat harga-harga di Kargil melonjak tajam. Kami tak jadi membeli dan memutuskan membeli oleh-oleh di kota besar berikutnya.

20180819_191435
Suasana pasar di Kargil menjelang petang. Minim sumber daya alam dan atraksi wisata menarik, menjelang sore warga berkerumun di sekitar pasar untuk… nongkrong mencari hiburan?

*****

Ketika suara azan Maghrib menggema dari mesjid Kargil, saya memutuskan untuk berputar balik jalan kembali ke hotel. Sepanjang jalan balik, sambil melihat warga-warga setempat, hati saya mencelos betapa sukarnya hidup di daerah kota-kota kecil di antara pegunungan Himalaya. Pemandangan pegunungan yang indah menjadi ironi tersendiri karena diiringi iklim keras dan topografi sulit yang berbuntut pada kesulitan ekonomi yang membelit. Ditambah kondisi politik yang tak stabil membuat investasi ekonomi terhambat dan turisme semakin menyurut. Di hotel yang kami inapi di Kargil, fasilitas kamarnya termasuk lengkap dan layak mendapatkan bintang 3, tetapi tamu hotelnya selain rombongan kami hanya ada dua rombongan kecil lainnya sehingga harga kamarnya menjadi murah sekali. Terlalu banyak kamar kosong, padahal dengan kualitas kamar segitu harga yang kami dapatkan cukup murah (sekitar dua ratus ribu rupiah per kamar dengan fasilitas lengkap dan nyaman termasuk makan malam dan sarapan). Harga murah ini sepertinya diberikan untuk merayu turis agar mau mampir di hotel mereka, ketimbang kosong sama sekali. Sepanjang jalan-jalan di pasar Kargil, saya hanya melihat dua orang turis beretnis China dan empat orang kaukasian. Tak ada rombongan turis lain yang tampak.

Hidup di Himalaya butuh perjuangan, kesabaran, dan keuletan yang jauh lebih besar ketimbang di daerah lain kebanyakan. Meski pemandangan alamnya luar biasa, tetapi kondisinya juga keras dan tak dermawan memberikan sumber daya alam. Namun di Himalaya sana, alam bukan satu-satunya hambatan untuk berkembang. Hal lebih serius dan genting adalah konfil politik antara negara-negara saling berbatasan membuat kawasan ini rawan kerusuhan bahkan perang. Konflik ini tak ada tanda-tanda berhenti malah memiliki kecenderungan semakin kritis. Sepanjang tahun 2018 saja, menjadi tahun paling berdarah dan paling mematikan di Kashmir dalam beberapa dekade terakhir.

Perjalanan saya hari itu, mulai dari kondisi Srinagar, suku nomaden Gujjar-Bakharwal, desa terpencil Drass, hingga kota Kargil, memberikan pandangan lain kepada saya betapa upaya orang-orang untuk berjuang dalam hidup bisa sampai pada titik ekstrem yang mungkin tak bisa saya jalani jika saya terlahir hidup seperti itu. Takdir hidup orang-orangnya menjadi bergantung pada banyak hal karena beririsan dengan banyak faktor rumit dan tak terkendali. Ketika saya membayangkan bagaimana jika seandainya saya terlahir menjadi bagian dari mereka, saya tak bisa berspekulasi banyak selain membayangkan rasa ngeri dan prihatin banyak-banyak. A great sorrow, and one that I am only beginning to understand: we don’t get to choose our own hearts. We can’t make ourselves want what’s good for us or what’s good for other people. We don’t get to choose the people we are.

DSCF0300

Terserak di antara lereng gunung dan berkerumun di dekat aliran sungai (area yang memiliki pepohonan), saya membayangkan jika pemandangan kota Kargil ini tak berubah banyak sejak ratusan tahun terakhir

 

(bersambung)

 

*        = Provinsi Jammu dan Kashmir merupakan salah satu provinsi yang paling heterogen di India. Nama provinsinya sendiri, Jammu dan Kashmir, membelah dua kawasan itu menjadi dua; Jammu yang mayoritas Hindu di barat dan Kashmir yang mayoritas Muslim di utara-tengah. Sementara itu, Ladakh di bagian timur, adalah wilayah yang ‘terlupakan’ karena di kawasan ini ada penduduk yang menganut agama Budha Tibetan yang jumlahnya sangat signifikan sehingga Ladakh bisa dikatakan sebagai kawasan terpisah dan berbeda sendiri diantara J&K. Adalah pertanyaan sangat logis untuk mempertanyakan mengapa Kashmir, Jammu, dan Ladakh tidak dibuat menjadi provinsi terpisah sendiri karena keragaman agama yang dianut penduduknya terasa menyulitkan penduduknya untuk berbaur dan berkembang. Ketika saya menanyakan hal ini ke si A saat di taman Nishat Bagh, dia menjelaskan jika ada undang-undang di India yang sangat spesifik melarang perubahan batas wilayah provinsi (pasal 370 bab 21 UUD negara India) untuk provinsi Jammu dan Kashmir. ‘Ketakutan’ untuk mengubah batas provinsi yang dianggap bisa melanggar undang-undang negara, pada akhirnya malah menjadikan kemelut, ketimpangan, dan kecemburuan sosial di J&K semakin bertambah dari tahun ke tahun. Pemisahan 3 negara bagian Jammu (Hindu), Kashmir (Muslim) dan Ladakh (Budha) tampaknya menjadi solusi ideal untuk meredam gejolak di sana. Tapi tentu saja pemerintah India tak akan pernah menyetujuinya. India khawatir jika Kashmir diberikan independensi menjadi provinsi sendiri, maka Pakistan (Islam) akan mudah merebut Kashmir. Hal yang sama juga dikhawatirkan jika Ladakh dipisahkan, maka China akan merebut kawasan Ladakh. India-Pakistan-China adalah tiga negara yang berbatasan langsung dengan provinsi J&K, dengan ketiganya punya klaim sendiri-senidiri mengenai batas kepemilikan areanya. Jalan menuju damai masih sangat panjang.

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s