Terbaik dan Terburuk di 2018

“I think that most of us feel like something is missing from our lives. And I wondered then if Knight’s journey was to seek it. But life isn’t about searching endlessly to find what’s missing. It’s about learning to live with the missing parts.”
Michael Finkel, The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit

Siklus kembali bergulir. 365 hari bukanlah waktu yang sebentar, banyak hal yang bisa dan telah saya lakukan sepanjangnya. Tak semuanya berisi suka cita tentunya. Dari ke-365 hari terlewat itu, sebagian tentu saja terasa berat dijalani dulunya, tetapi sekarang saat ditinjau kembali, malah terasa menggelikan dan sepele. Well, seperti biasa, saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman saya sepanjang tahun 2018 yang lalu lewat pembacaan buku, penyaksian film, dan pendakian gunung.

*****

Kita pasti punya apa yang disebut sebagai ‘Hari Yang Sempurna’. Saya pikir, saya juga memilikinya beberapa hari semacam itu sepanjang tahun 2018 kemarin. Di suatu hari Minggu cerah, saya yang terbiasa bangun terlalu pagi, melanjutkan tidur sampai matahari cukup tinggi. Setelah bangun, saya melakukan transcendental meditation selama setengah jam, lalu pergi ke dapur membuka lemari es untuk mencari kudapan dan bahan sarapan. Sambil menunggu air mendidih untuk membuat black coffee dari kopi gayo yang dibeli dua hari sebelumnya, saya menggoreng bakso tahu beku dan membuat irisan apel. Sarapan saya untuk hari itu mestinya cukup segitu saja, sampai akhirnya menemukan sisa biskuit wafer hari sebelumnya yang belum habis.

Setelah selesai menyiapkan menu sarapan, saya membuka jendela dan pintu yang menghadap pekarangan belakang. Hujan sepanjang malam sepertinya sudah selesai berjam-jam sebelumnya karena langit begitu cerah sementara dedaunan basah dan tanah lembap masih tampak jelas. Sekilas saya menatap rerumputan lalu merenung sebentar memikirkan kapan terakhir kali saya menyiangi rerumputan yang tingginya sudah hampir selutut. Kalah oleh aroma bakso tahu ikan hangat, kembali saya menunda niat untuk menyiangi rumput. Duduk di kursi dengan memegang novel Maya’s Notebook dari Isabel Allende, mendengarkan musik Sonata Pathétique-nya Beethoven dan menatap rerumputan lebat di pekarangan belakang sambil berjemur di bawah mentari pagi. Ah, saya pikir jika Minggu pagi itu akan benar-benar menjadi awal dari Hari Yang Sempurna.

Pembacaan buku saya baru beberapa halaman, dan sonata Pathétique baru sampai pada bagian adagio cantabile, ketika ponsel saya berdering. Dengan ogah-ogahan, saya mengangkat telepon dan dengan tidak fokus berusaha menangkap kata-kata yang diucapkan secara terburu-buru dan panik oleh si penelpon. “Cepat, kamu tonton televisi sekarang!”, “Duh, dah lama gak nonton TV uy. Kabel colokannya sudah dilepas. Emang ada apa sih?” Detik-detik berikutnya saat ia menceritakan kabar dan alasan ia menelpon membuat saya seolah melihat kabut tebal. Segala sesuatu terasa melambat (apakah saya melihat jika daun lengkeng di pekarangan belakang yang jatuh tertiup angin, turun lebih lambat daripada biasanya?), dan kabut tebal merasuki isi kepala saya sehingga saya benar-benar tak bisa berfikir dengan runut dan tenang serta pemandangan mengabur dengan cepat.

Apa yang terjadi setelahnya benar-benar tak bisa saya ingat dengan jelas. Banyak hal terpleset begitu saja dari memori saya sehingga saya kesulitan mengingat dengan jelas apa yang saya lakukan berikutnya. Anehnya, beberapa detail remeh malah teringat jelas. Meski saya tak bisa mengingat kapan lagu Pathétique berakhir dan sudah berapa lama, yang jelas ketika saya berhasil merasakan jejak panas dari lantai yang saya injak oleh terik matahari, saya mendengarkan lagu The Witch Queen of New Orleans dari band rock Redbone. Saya baru bisa bangkit berdiri dan memutuskan apa yang harus saya lakukan berikutnya setelah lagu The Witch Queen of New Orleans selesai. Hari Yang Sempurna yang diidam-idamkan saat bangkit dari kasur telah meluruh dan menguap entah kemana. Hari Yang Sempurna telah berubah menjadi Hari Yang (tidak) Sempurna.

*****

Apa yang telah saya lalui sepanjang tahun 2018 kemarin sebetulnya tak ada yang benar-benar mengejutkan saya sama sekali selain peristiwa Hari Yang (tidak) Sempurna itu. Sisanya adalah rutinitas yang terasa menjemukan namun ketika dijalani sama sekali tak terasa. Tahu-tahu periode beberapa bulan sudah terlewati*. Beberapa prestasi kecil yang harus saya rayakan (dan pamerkan, haha) adalah diantaranya saya mengikuti sebuah perlombaan. Tanpa ekspektasi banyak, saya mengirim sebuah bahan, lalu ternyata panitia menghubungi jika saya harus melakukan presentasi dihadapan sekian orang untuk dinilai. Pada kenyataannya persiapannya menjadi bak-bik-buk karena menjadi kegiatan dadakan dan harus berbagi waktu dengan aktivitas utama, haha. Meski terasa dibuat asal-asalan, tetapi ketika akhirnya saya memegang piala dan piagam untuk salah satu kategori di hadapan sekian orang, rasanya cengiran saya lebih lebar daripada hari-hari yang lain.

Di lain waktu, kegiatan aksi sosial yang saya gagas bersama teman-teman komunitas saya akhirnya berjalan lancar dengan berhasil menjaring sekian pihak yang terlibat tanpa hambatan berarti. Kami berinisiasi untuk melakukan aksi di bidang pendidikan di daerah pelosok–suatu kawasan yang begitu pelosok dan terisolasi di mana akses menuju lokasi harus ditempuh sepeda motor dengan jalan berbatu sebesar buah kelapa selama hampir 40 menit dari desa terdekat. Jerih payah yang kami lakukan berbulan-bulan sebelumnya untuk persiapan kegiatan–dengan nongkrong di warung-warung kopi untuk rapat menyusun dan merencanakan strategi pelaksanaan, atau online meeting via aplikasi percakapan yang kadang ‘menghangat’ karena harus menyatukan ide sekian puluh orang agar didapat hasil yang dirasa terbaik, semua kesulitan-kesulitan itu terbayar penuh begitu kami melihat senyum lebar menghias anak-anak yang selama ini mengaku tak pernah mendapatkan perhatian layak dari pemerintah. Seorang teman saya bahkan terang-terangan menangis terharu begitu kami sampai di lokasi. Saya tak menyalahkannya.

Dan tentu saja, hobi kecil dan utama saya seperti naik gunung mendapatkan imbalan cukup memuaskan di tahun ini. Meski tak seintens tahun-tahun lainnya, tapi jelas sebuah kemajuan ketimbang di tahun 2017 yang jumlah pendakian saya hanya kurang dari lima buah. Meski tetap di bawah target minimal sebulan sekali, tetapi di tahun 2018 ini saya bisa mendaki gunung cukup banyak. Sejak malam tahun baru 2018, saya mendaki Gunung Sindoro yang dilanjutkan dalam dua bulan berikutnya beruntun dengan gunung-gunung lain seperti Gunung Slamet, Gunung Sumbing, dan beberapa gunung lain di sekitar Jawa. Untuk tahun 2018, saya memang tak mendaki ke gunung-gunung di luar pulau Jawa. Tapi hal ini sengaja dilakukan karena untuk mengkompensasi perjalanan terbesar saya di tahun 2018; saya melakukan perjalanan ke Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Karakoram yang memang memakan waktu cukup lama.

Ah, ada banyak hal harus saya rayakan dan syukuri di tahun 2018 ini.

IMG_7799
Ngarai dalam di Zojila Pass. Jalan raya yang sering masuk dalam daftar jalan terekstrem di dunia ini membelah dan mengikuti kontur gunung-gunung Himalaya. Road trip di Himalaya termasuk perjalanan paling mengesankan yang pernah saya jalani.

*****

Film-film Paling Mengesankan di 2018

Di luar 37 serial TV dan miniseri yang berhasil ditonton, saya berhasil menonton sekitar 400an lebih film. Tentu saja hampir separuhnya adalah film-film lama. Jika tahun 2017 saya berfokus pada sinema klasik Jepang, untuk tahun 2018 ini saya tak memiliki target apapun, tetapi memang film-film Asia tetap ditonton dalam jumlah signifikan. Saya menonton film independen lama India seperti karya-karya Basu Chatterjee, Shyam Benega, Mrinal Sen, Ritwik Gathak, dan sebagainya. Karya-karya sutradara India ini yang konsisten membuat film realisme sosial melawan arus mainstream Bollywood yang hingar-bingar oleh joget-jogetan terasa tetap menyegarkan meski ditonton sekian puluh tahun kemudian.

Film Paling Mengecewakan
Seperti yang telah-telah lewat, daftar film 2018 terburuk saya tak akan banyak. Saya akan berfokus pada film yang membuat saya kecewa atau patah harapan karena ternyata filmnya lebih jelek daripada yang digembar-gemborkan.

5. Gotti (Kevin Connolly, USA)
Film ini berusaha keras ingin terlihat seperti film Godfather (1972) tetapi dalam versi yang begitu murah dan tak menyakinkan. Saya harus menghentikan film di menit ke-40, mencari penetral lain seperti membaca buku, lalu dilanjutkan tanpa ada minat sama sekali untuk berfokus sampai film berakhir.

4. The Happy Prince (Rupert Everett, USA)
Sebagai seorang penulis, sosok Oscar Wilde adalah pribadi yang eklektik, elusif, bahkan mungkin kontroversial. Tapi Everett menyajikan pribadi Wilde dalam penjiwaan yang datar dan hambar. 

3. Jurassic World: Fallen Kingdom (J. A. Bayona, USA)
Lebih membosankan daripada film pertama. Dinosaurus-dinosaurusnya lebih tak menarik, sementara plotnya yang berusaha tampil sebagai homage pada serial Jurassic Park asli, terasa sebagai sebuah usaha putus asa. 

2. A Wrinkle in Time (Ava DuVernay, USA)
Dengan merebaknya kebangkitan gerakan feminsime di Amerika–imbas dari gerakan #metoo yang sensasional, film ini berusaha mengeksploitasi momen tersebut dengan menjual gimmick sutradara, tokoh-tokoh utama, dan cerita yang wanita-sentris. Tapi karya buruk tetaplah karya buruk, tak peduli siapapun yang membuatnya. Adegan sosok Oprah Winfrey yang diniatkan sebagai tokoh raksasa powerful lalu di-zoom sampai memenuhi layar hanya untuk menunjukan ke-super-power-annya terasa begitu berlebihan dan membuat saya memalingkan muka.

1. Black Panther (Ryan Coogler, USA)
Sampai detik ini, saya masih saja tak mengerti, mengapa film ini digembar-gemborkan sebagai film yang monumental. Sosok superhero berkulit hitam yang ditampilkan dalam film solo, bukanlah yang pertama kali dilakukan (Spawn atau Blade sudah melakukannya jauh-jauh hari). Tapi kekuatan marketing dan iklan massif film ini sudah pada level ‘menipu’ karena terbukti review-review media luar mainstream pun tampak segan untuk mengkritiknya. Coba saja ganti tokoh utamanya dengan orang berkulit putih, saya cukup yakin jika review yang akan diterima film ini kalau tak negatif paling standar basa-basi biasa. Tapi bukan ini saja yang membuat saya ‘sebal’ luar biasa. Separuh utama filmnya yang dengan putus asa ingin menampilkan ‘kultur Afrika murni’ terbukti palsu karena di paruh berikutnya, gema musik etnik digantikan musik rap disko, Amerikanisasi yang menghancurkan apapun yang dicoba susah payah dibangun olehnya.

Film-film Paling Menyenangkan
Saya sebetulnya sedikit menunda membuat artikel terbaik-terburuk ini beberapa hari karena saya masih penasaran dengan adanya beberapa film yang masuk dalam daftar film yang ingin ditonton. Hasilnya cukup memuaskan, beberapa film yang baru sempat ditonton ternyata kemudian masuk dalam daftar film-film paling menyenangkan. Berikut adalah film-film 2018 paling menyenangkan versi saya,

20. Eighth Grade (Bo Burnham, USA)
Film ini termasuk film yang paling banyak saya rekomendasikan kepada banyak orang terutama kenalan-kenalan yang jauh di atas usia saya dan sudah memiliki anak remaja. Film ini sangat realistis memotret problematika remaja di era tahun 2010-an dengan interaksi media sosialnya tanpa menghakimi baik-buruknya pengaruh teknologi.

19. Айка / Ayka (Sergey Dvortsevoy, Kazakhstan-Russia)
Mengingatkan saya pada filmnya Andrey Zvyagintsev, film yang tak bermurah hati pada tokoh utamanya yang mengalami duka nestapa beruntun. Betul, bola mata saya tetiba mengilat bercahaya karena berair di beberapa adegan. Haha.

18. The Man Who Killed Don Quixote (Terry Gilliam, UK) & The Other Side of the Wind (Orson Welles, USA)
Kedua film ini, memiliki persamaan karena perlu waktu puluhan tahun untuk bisa selesai. Karya Welles bahkan baru bisa diselesaikan bahkan jauh setelah dia meninggal. Meski kedua karya ini tak seepik film-film lain karya sutradara-sutradara legendaris ini, tetapi respek dan kekaguman terpancar begitu cerah saat menontonnya

17. Cafarnaúm /  كفرناحوم / Capernaum (Nadine Labaki, Lebanon)
Kasar, liar, dan tentu saja menyayat hati. Saya tak bisa membedakan apakah film ini berupa film drama biasa atau malah dokumenter saking realistisnya.

16. Leave No Trace (Debra Granik, USA)
Di situs review Rotten Tomatoes, film ini menjadi film paling banyak direview lebih dari dua ratus orang namun semuanya sepakat untuk memberikan rating 100%. Tontonlah, dan kamu akan segera sadar jika menonton film dengan ratusan orang yang memberikan pujian adalah sebuah kesempatan berharga dan tak boleh terlewatkan.

15. Suspiria (Luca Guadagnino, Italy) & The Favourite (Yorgos Lanthimos, United Kingdom-Ireland-United States)
Setting yang akurat dan akting yang kuat, membantu menciptakan atmosfer dan mood yang membuat penonton tetap melekat duduk di kursi sampai film berakhir.

14. Le Livre d’images / The Image Book (Jean-Luc Godard, France-Switzerland)
Godard masih mengamankan singgasananya di kursi terhormat tempat para dewa sutradara film berada. 

13. Se Rokh / 3 Faces (Jafar Panahi, Iran)
Rasanya, tak ada hal apapun yang bisa menghadang dan merintangi Panahi agar bisa menghasilkan karya hebat. 

12. Beoning / 버닝 / Burning (Lee Chang-dong, South Korea)
Dalam teori segitiga api, syarat terbentuknya api adalah adanya bahan bakar, oksigen, dan reaksi pemicu. Pada film ini, cinta segitiga telah memantik kecemburuan, prasangka, dan dendam menjadi sesuatu yang membakar dan membinasakan. 

11. Roma (Alfonso Cuarón, Mexico)
Menyepi sejenak dari hiruk-pikuk Holywood, Cuarón membawa nostalgia dan melankolisme menjadi sesuatu yang klasik dan apik.

les-garcons-sauvages_bertrand-mandico_2018_36-800x480
Bertrand Mandico membuat film panjang perdananya dengan berani, aneh, dan absurd.

10. Les Garçons Sauvages / The Wild Boys (Bertrand Mandico, France)
Awalnya saya tak menyadari sesuatu yang terpampang nyata ini, tetapi begitu membuka halaman dan artikel ulasan terhadap film ini setelah menontonnya, saya hanya bisa berujar, ‘What?!’

9. Zimna Wojna / Cold War (Paweł Pawlikowski, Poland)
Gambar dan cerita film ini sangat cantik. Sangat cantik. Sangat cantik. Saya ingin menulis ulang kata ‘sangat cantik’ 100x demi film ini.

8. Nu Mă Atinge-Mă / Touch Me Not (Adina Pintilie, Romania-Germany-Czech Republic)
Saya merasa malu, penasaran, sekaligus terkaget-kaget saat menontonnya. Karya yang berani dan sensual tanpa jatuh pada kesan jorok dan murahan.

7. Manbiki Kazoku / 万引き家族 / Shoplifters (Hirokazu Koreeda, Japan)
Menonton film-film Koreeda adalah seperti ketika badai datang dengan hujan rapat membutakan dan petir menggelegar, seseorang membukakan pintunya agar kita bisa berteduh di rumahnya, lalu mengajak duduk di depan perapian dan memberikan secangkir cokelat panas. Shoplifters adalah drama keluarga terbaik di tahun ini.

6. Ang Panahon Ng Halimaw / Season of the Devil (Lav Diaz, Philippines)
Diaz tak pernah bermurah dalam menyajikan durasi film: nyaris selama 4 jam, Diaz menyajikan kritik dengan cara yang aneh, lambat, dan menggelisahkan.

5. Coincoin et les Z’inhumains / Coincoin and the Extra-Humans (Bruno Dumont, France)
Dumont selalu mengajarkan saya bahwa kesabaran tak perlu berarti menunggu dalam diam. Sabar juga berarti kita tertawa dengan bebas atau memaki dengan lugas.

4. Lazzaro Felice / Happy as Lazzaro (Felice Alice Rohrwacher, Italy)
Masih mungkinkah ‘innocence‘ bisa bertahan dan membawa kebaikan bagi dunia yang bergulir dengan cepat nan brutal? Lewat drama realisme magis, Rohrwacher membawa penontonnya pada drama yang berpilin untuk memotret realita yang menyakitkan.

3. Ahlat Ağacı / The Wild Pear Tree (Nuri Bilge Ceylan, Turkey)
Mungkin, inilah film paling menyentuh secara personal bagi saya di tahun 2018. Saya merasa banyak menemukan korelasi atas kehidupan tokoh-tokohnya. Saya tak bisa menceritakan secara detail tanpa membocorkan ceritanya. 

2. Sǐ líng hún / 死靈魂 / Dead Souls (Wang Bing, France-Switzerland-Bulgaria)
Seperti film Shoah (1985). Wang Bing mewawancarai para penyintas yang selamat dari kekejaman dan brutalitas pemerintah otoriter dengan durasi film yang panjang (8 jam), dengan pesan kuat bahwa hanya orang yang jiwanya telah mati yang tega dengan bengisnya membantai jutaan orang yang dikorbankan atas nama ‘kemajuan’.

1. La Flor / The Flower (Mariano Llinás, Argentina)
Saya pikir awalnya, setelah membuat film maha sempurna Historias Extraorinarias (2011), Llinás akan kesulitan menghasilkan karya semonumental itu lagi. Saya salah! The Flower adalah film yang sangat percaya diri. Dengan durasi yang mengintimidasi (tiga belas setengah jam!), tak ada satu menitpun yang terbuang percuma. Waktu, cerita, narasi, semuanya dipelintir dan direnggangkan sedemikian rupa sehingga sulit mencari film lain di dekade ini yang seberani ini dalam mengambil resiko dan mengesekusinya dengan sempurna.

*****

Di majalah National Geographic edisi Januari 2018, ada bahasan menarik mengenai Kebaikan versus Kejahatan ditinjau dari segi sains. Apakah orang berbuat kejahatan yang sudah digariskan dalam takdir hidupnya yang tersimpan dalam gen? Apakah tindakan untuk bermurah hati atau keinginan melakukan kekerasan adalah semacam impuls dan reaksi hormonal? Well, saya tak akan membahas detail, sila baca sendiri majalahnya, haha. Namun pembacaan majalah edisi tersebut menggiring saya pada pembacaan buku lain yang bertema kekerasan dan pembantaian manusia.

Buku-buku Paling Mengesankan di tahun 2018

Seperti pengantar di atas, di awal tahun 2018 saya banyak membaca buku bertema kekerasan, terlebih kekerasan dalam sejarah Indonesia, terutama kekerasan dan pembunuhan massal 1965. Beberapa yang harus saya sebutkan diantara sbb,

Anatomy of the Jakarta Coup: October 1, 1965 karya Victor M. Fic
Menyingkap Kabut Halim 1965 karya Aristides Katoppo
A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia
karya Benedict Anderson dan Ruth T. McVey
Violence and the State in Suharto’s Indonesia karya Benedict Anderson
Culture and Society in New Order Indonesia karya Virginia Matheson Hooker
Indonesian Politics and Society: A Reader karya David Bourchier
Indonesia: The Possible Dream karya Howard Palfrey Jones
Cultural Violence: Its Practice and Challenge in Indonesia karya Wijaya Herlambang
A Dirty Little War karya John Martinkus

Buku yang disebut terakhir mengambil tema mengenai invasi dan kekerasan yang dilakukan tentara Indonesia di Timor Leste. Membaca buku-buku ini, membuat saya merenung lama. Apakah pada hakikatnya warga Indonesia kebanyakan bersifat agresif dan menyukai kekerasan? Dimana bukti ‘masyarakat ramah, sopan santun, dan tenggang rasa’ ini bisa dilihat jika pada sepanjang sejarahnya, darah mengalir menerus di tiap lembaran catatan cerita sejarahnya? Tentu akan menjadi naif jika hanya menilai pribadi suatu bangsa hanya dari kekerasan saja. Tetapi ini juga harusnya menjadi peringatan bersama bahwa tingkat daya berfikir kritis dan skeptis yang rendah pada masyarakat gampang sekali memicu pertikaian besar bahkan pertumpahan darah. Apakah kalimat terakhir berikut membuatmu khawatir dan cemas saat dibandingkan dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang?

Hingga akhirnya, pembacaan saya pada buku-buku sejarah kekerasan bangsa Indonesia berhenti pada bulan Mei 2018. Adalah peristiwa terorisme di Surabaya pada minggu kedua Mei 2018, telah ‘mengguncang’ saya sedemikian rupa sehingga saya begitu sedih dan marah pada apa yang terjadi. Sesuatu yang secara tragis justru telah saya khawatirkan dan takutkan terjadi pada beberapa bulan sebelumnya, ketika saya menulis tentang hal ini di Terbaik dan Terburuk 2017. Mengapa ada orang yang tega berbuat jahat pada sesamanya? Tak fahamkah ia bahwa saat dia membunuh orang lain, maka dia tak hanya mengambil segala sesuatu yang dimiliki olehnya, tetapi juga segala sesuatu yang akan dia miliki. Berapa banyak mimpi dan harapan musnah dan harus dikorbankan hanya karena ambisi picik dan dangkal dari ideologi sesat dan egosime sesaat?

Seperti halnya di tahun-tahun sebelumnya, saya berhenti membaca situs berita nasional karena selain memuakkan (glorifikasi tingkah konyol dan kepandiran politikus selalu muncul setiap hari), juga ketika membaca headline dari tautan berita yang disebarkan lewat grup-grup percakapan, saya malah mendapati berita dangkal dan murahan seperti komentar tukang bakso yang diwawancarai terkait kejadian terorisme yang sedang berlangsung. Tanpa bermaksud mencemooh profesi tertentu, saya mendapati bahwa berita semacam ini adalah berita yang sama sekali tak perlu. Tidakkah berita semacam ini hanya malah membuat pemberitaan tentang aksi terorisme justru semakin ramai dan banyak? Publikasi yang diharapkan si teroris justru tercapai dengan mudah. Si jurnalis mungkin berkilah jika hal ini bertujuan untuk meng-humanis-kan peristiwa kekerasan. Tapi hal ini justru menjadikan resistansi moral kita pada kekerasan menjadi ‘melunak’. Tindakan kekerasan dan terorisme malah dianggap peristiwa keseharian dan biasa, sehingga orang-orang yang tak punya relevansi dan korelasi langsung pada peristiwa berhak berkomentar dan masuk berita. 

Dengan semakin mendugalkannya berita-berita nasional, saya semakin intoleran dengan sumber berita dalam negeri. Untuk mengompensasi ‘ketertinggalan berita’, saya semakin giat membaca majalah mingguan (agar durasinya berjeda sehingga saya dapat ‘tarik nafas dulu’) atau bulanan. Tahun 2018 ini, menjadi tahun yang membuat saya banyak membaca majalah ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Majalah seperti TIME, Newsweek, Bloomberg, Time Out, The New Yorker, dll rutin masuk dalam tablet saya selain tentu saja majalah sains langganan seperti National Geographic, New Scientist, Science, Nature, dsb. 

Haha, ngelanturnya jadi berkelanjutan. Ok, mari lanjut ke daftar bacaan menarik saya di tahun 2018. 

batmanhush16
Jeph Loeb menciptakan panel-panel gambar yang ‘mindblowing‘ seperti ini di komik fenomenal Batman: Hush.

Ada 230 buku terbaca di tahun 2018. Separuh tahun terakhir, saya banyak membaca novel grafis ‘serius’ yang menjadi penyeling segar setelah monoton membaca buku-buku tebal. Sudahkah saya menyebutkan jika tahun ini saya membaca buku Great Lives from History: The 20th Century setebal 5200-an halaman? Haha. Untuk menyiasati ‘jenuh’ karena melihat begitu membanjirnya teks, saya mencari perintang dengan membaca novel grafis yang ditujukan untuk pembaca dewasa. Oh, saya tentu saja membaca komik-komik Batman seperti Gotham by Gaslight, Batman: Hush, dsb. Tentu saja novel grafis dewasa saya bukan saja yang bertema superhero belaka.

Novel grafis Fun Home: A Family Tragicomic karya Alison Bechdel termasuk karya yang membuat saya ternganga karena kejeniusan Bechdel dalam menguliti ‘aib’ diri sendiri dan keluarganya dalam bentuk humor gelap dan tragedi kelam menjadi sesuatu yang menghibur dan membuat saya tersipu malu. Novel grafis Becoming Unbecoming karya Una secara vulgar menantang pemahaman kita tentang feminisme sehingga buku ini ingin saya ‘lempar’ kepada orang-orang yang suka berkoar-koar tentang isu gender tapi tak pernah sensitif melihat permasalah seksis dari sudut pandang korban langsung, hanya dari prasangka. Novel grafis Shortcomings karya Adrian Tomine, Ghost World karya Daniel Clowes, The Push Man and Other Stories karya Yoshihiro Tatsumi, Nijigahara Holograph karya Inio Asano, Essex County karya Jeff Lemire, Asterios Polyp karya David Mazzucchelli adalah sebagain dari novel-novel grafis yang saya baca di tahun ini yang bertema dewasa dan ‘gelap’ yang menantang konsep saya bahwa komik bukan melulu bacaan untuk anak-anak dan gambar bisa lebih kuat efeknya daripada kata-kata.

Untuk novel narasi fiksi, saya terkesan sekali dengan novel tipis The Saga of Gösta Berling karya Selma Lagerlöf. Sebagai nobelis sastra wanita pertama, Lagerlöf menyusun sebuah novel yang begitu liris dan personal yang hanya bisa ditulis oleh perempuan. Novel The Marriage Plot karya Jeffrey Eugenides semakin menegaskan jika saya akan menjadi fans besar dari Eugenides. Eugenides menulis dengan cerdas dan penuh percaya diri. Dan novel A Kestrel for a Knave karya Barry Hines yang hening, adalah sebuah perjalanan mengamati tumbuh kembangnya seorang manusia yang ditempa oleh kekerasan sosial dan menemukan kedamaian dan persahabatan dari hewan peliharaan. Novel ini sempat diadaptasi menjadi film Kes (1969) oleh Ken Loach yang apik. Ah, dan tentu saja novel The Goldfinch karya Donna Tartt yang saya baca pada perjalanan ke Karakoram dan Himalaya adalah novel yang begitu menggugah dan memberikan saya pemahaman pada sifat-sifat manusia saat terbaik dan terburuknya.

Saya juga membaca tiga buah buku puisi di tahun ini. Karya populer dari Robert Frost (The Road Not Taken and Other Poems), puisi The Mirror of Love karya David Drake dan Alan Moore yang ‘nakal’, dan ya, tentu saja kamu bisa menyoraki saya, puisi rutin tahunan saya, The Wasteland dari T.S Elliot. Haha.

Untuk buku sains dan non-fiksi, saya membaca biografi saintis The Recollections Of Eugene P. Wigner: As Told To Andrew Szanton. Nama Wigner memang tak sepopuler Einstein atau Feynmann untuk kebanyakan orang. Tetapi membaca kisahnya tak kalah serunya dengan membaca biografi-biografi tokoh populer lainnya. Oya, saya juga akan menyarankan untuk membaca buku Bottlemania: How Water Went on Sale and Why We Bought It dari Elizabeth Royte yang akan membuka mata tentang dampak botol dan minuman berbotol plastik yang melampaui imajinasi dan bayangan terburuk kita mengenai fakta tentang air kemasan yang mencemaskan. Untuk bacaan sains ringan, tak ada salahnya mencoba buku Underbug: An Obsessive Tale of Termites and Technology yang ditulis oleh Lisa Margonelli. Ada banyak sekali fakta tentang rayap yang akan menimbulkan decak kagum sekaligus ketakutan. Narasi yang lincah dan cemerlang akan membuat kita memandang rayap sebagai makhluk berbeda bak alien dari planet Mars.

Untuk buku serius lainnya, buku The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66 dari Geoffrey B. Robinson sangat direkomendasikan. Dengan begitu banyaknya buku yang menulis tentang topik tragedi 1965, Robinson yang menerbitkan buku ini di tahun 2018, sukses menghasilkan narasi yang segar terhadap topik yang ‘jenuh’ tetapi ‘tetap gelap’ ini. Sedangkan buku A Lover’s Discourse: Fragments karya Roland Barthes adalah karya yang saya sangat rekomendasikan bagi mereka yang gemar ‘begalau ria’ dengan elegan dan cerdas jauh dari kesan cengeng. Saya tak akan terkejut jika di masa depan nanti Barthes akan diangkat menjadi dewa bagi orang-orang yang patah hati. Haha.

Well, karena saya tak membaca buku fiksi berbahasa Indonesia di tahun 2018, sama seperti di 2017, maka saya tak memiliki kategori untuk bacaan terburuk di tahun 2018. Haha, ya saya layak dicaci untuk ini. Bagaimana dengan bacaan terbaik? Judul-judul yang saya sebutkan di atas, tentu saja adalah buku-buku terbaik yang saya baca di 2018. Tetapi untuk alasan sangat personal, saya memilih dua judul lain untuk kategori ‘best of the best’.

Buku memoir The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit karya Michael Finkel yang saya kutipkan di awal tulisan ini begitu menghentak saya karena menjadi refleksi dalam atas pilihan hidup Christopher Knight yang diceritakan dalam buku tersebut untuk hidup mengasingkan diri sepenuhnya di alam liar. Muak dan marah pada kondisi sosial yang saling ‘menerkam’ antara satu manusia dengan manusia lain, Knight memilih hidup menyendiri di alam liar (hermit alias bertapa). Banyak sekali kalimat-kalimat marah, bingung, dan cemas yang dengan jujurnya mengungkapkan keresahan dia pada kehidupan modern sosial. Bagi saya yang seringnya meluah dengan kehidupan urban modern, kisah hidup Knight menjadi inspirasi tak terbatas. Saya, mungkin, tak bisa memutuskan hidup menjadi pertapa. Tetapi kadang saya memilih isolasi ketimbang lacur dalam hidup yang berisik dan melantas dengan membaca buku dan tak bermain media sosial.

download
Thomas Mann menulis buku yang memerangkap saya dalam tokoh dan seting cerita magis

Buku kedua, untuk alasan yang lebih sentimental, saya akan memilih buku The Magic Mountain karya Thomas Mann. Dengan alasan yang sama seperti pada film Ahlat Ağacı-nya Nuri Bilge Ceylan di atas, saya memilih buku ini karena saya menemukan banyak hal dalam diri karakter-karakternya. Keresahan, kecemasan, dan ketakutan yang dialami tokohnya pernah dan akan saya alami. Pengalaman yang dia alami atau hal-hal yang dia lakukan, terjadi pada diri saya. Ini adalah novel yang menantang, mencerahkan, sekaligus layak didebatkan isinya. Ada adegan–yang tidak bisa saya sebutkan tanpa membocorkan adegan krusialnya–yang membuat saya begitu sangat tersentuh. This book makes me tear up several times. Makes me think of all that I can and must do on this rock I call Earth and how beautiful life really can be if I put my heart into it. Although there are long sentences and paragraphs, I remained captivated. When the-magic-moments began, I felt alone, vulnerable, and even began to cry. I have felt pure, unadulterated awe only a few times in my life. Reading The Magic Mountain was one of them.

***** 

Tahun 2019 tidak akan menjadi lebih mudah. Itu yang saya sadari beberapa kali dengan melihat apa yang telah terjadi di tahun 2018 yang telah saya lewati. Pemilu (dan mudah-mudahan tak ada tindakan terorisme lagi) akan membuat tahun 2019 menjadi tahun yang lebih bising daripada yang telah berlalu. Ketika saya membaca buku The Stranger in the Woods, saya benar-benar merasa iri karena si tokoh di dalamnya memutuskan untuk melepas semua kehidupan sosialnya demi mendapatkan kehidupan yang tenang dan damai. Saya tentu saja tak bisa (atau belum?) melakukan tindakan yang membutuhkan komitmen dan ketabahan besar tersebut. Namun, bagi saya, membaca buku, menonton film, dan mendaki gunung adalah salah satu upaya saya untuk ‘bertapa’ dan mencari ketenangan. Saya memang tidak menyiapkan target, tetapi saya rasa di tahun 2019 nanti, saya akan (berusaha) membaca lebih banyak lagi buku, menonton lebih banyak lagi film, dan mudah-mudahan mendaki lebih banyak lagi gunung. Ketenangan akan menjadi barang langka di tahun mendatang, sementara kebisingan akan menjadi semakin kerap terjadi. Maka, perbanyaklah membaca buku (dan lebih bagus lagi berjalan-jalan di alam liar). Ketika dunia telah kehilangan ketenangan dan kedamaiannya, maka temukanlah dalam kesendirian.

“Not till we have lost the world,” wrote Thoreau, “do we begin to find ourselves.”
― Michael Finkel, The Stranger in the Woods: The Extraordinary Story of the Last True Hermit

 

Catatan tambahan:

*      = Pada saat kita masih kecil, mungkin masa-masa sekolah dasar, bahkan saat paling membosankan sekalipun seperti dilarang keluar rumah karena hujan, kita bisa merasakan waktu berlalu dengan lambat sekali sampai-sampai kita mencari perintang dengan melakukan ‘permainan khayali’ entah menganggap tetesan air hujan di kaca jendela sebagai lava yang menyerang butiran debu menempel. Sebaliknya ketika sudah beranjak dewasa, pada kondisi yang sama, waktu menunggu hujan terasa lebih cepat. Hanya cukup dengan membaca pesan-pesan percakapan, tetiba hujan sudah reda dan waktu yang dilewati telah berpuluh-puluh menit. Liburan sekolah dasar terasa akan berlangsung selamanya saat masih bocah, tetapi ketika sudah dewasa ulang tahun yang lalu terasa baru terjadi minggu kemarin. Mengapa waktu terasa berlalu lebih cepat seiring kita bertambah usia?

Alasan mengapa persepsi kita terhadap waktu ‘mengerut’ drastis saat bertambah dewasa (dan tua, haha), memang sedikit rumit. Dari sudut pandang neurologi, kurang lebih alasannya sebagai berikut; setiap kali kita mengalami hal baru, otak mencatat informasi tersebut dalam ‘gulungan’ memori sebanyak mungkin. Ribuan neuron dirangsang untuk menyimpan informasi tersebut sehingga kita dapat ‘merasa’ dan ‘mengalami’ lebih banyak. Dengan bertambahnya waktu, ketika kita mengalami hal baru lain, otak menyimpan informasi lebih sedikit daripada sebelumnya. Dengan alasan efisiensi, otak hanya menyimpan hal baru dan penting saja, yang lain ‘tidak dicatat karena sudah tahu sebelumnya’. Itu sebabnya perjalanan menuju rute baru terasa lebih lama tetapi begitu familiar apalagi rutin, rute yang sama dirasa ditempuh dengan jauh lebih cepat.

Kuncinya memang pada kata ‘baru’. Pengalaman pertama akan dicatat lebih banyak ketimbang rutinitas. Saat masih bocah, banyak hal-hal baru direkam dalam kenangan, sehingga ketika mengingat kembali, perspektif terhadap waktu pun menjadi lebih lama dan lebih panjang. Pengalaman baru pada saat masih bocah dan remaja jauh lebih banyak daripada saat sudah dewasa yang lebih didominasi rutinitas. Saat remaja, kita bisa membedakan usia ke 14-15-16 secara rinci, tetapi ketika sudah berusia 23-24-25-dst sukar membedakan apa saja yang telah dialami di usia itu.

Bagaimana cara ‘memperlambat’ waktu saat sudah dewasa? Jawabannya tentu saja mudah, selalu ciptakan pengalaman baru. Membaca buku baru selalu akan menciptakan pengalaman baru dan memori yang direkam dalam otak menjadi lebih banyak. Belajar hal baru seperti bahasa, mengulik hobi baru, dan terutama melakukan perjalanan ke tempat baru seperti traveling, akan memicu ‘waktu yang terasa lebih melambat’. Akhir pekan yang dihabiskan dengan menonton TV di kamar jelas akan terasa pendek ketimbang menghabiskannya dengan jalan-jalan, kan? Ayo, segera berkemas dan ciptakan waktu yang lebih lama untuk dinikmati!

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

5 thoughts on “Terbaik dan Terburuk di 2018”

  1. Saat menuliskan atau menjelaskan persepsimu (kita) soal waktu; ‘saat bertambah besar (dan tua) waktu berjalan semakin cepat’ dan ‘saat masih anak-anak, dimasa sekolah dasar (SD), waktu berjalan lambat’ adalah sesuatu yang menarik, karena seketika saya ikut memikirkannya. Seketika juga, itu mengingatkanku pada salah satu karya sutradara besar dunia, Jonas Mekas; As I Was Moving Ahead Occasionally. Sebuah karya tentang waktu itu sendiri.

    Liked by 1 person

    1. Hallo Ray,

      Ah. Terima kasih telah mengingatkan saya kembali pada Jonas Mekas. As I Was Moving Ahead Occasionally I Saw Brief Glimpses of Beauty–sesuai judulnya, memang indah ya. Dalam banyak adegan yang terasa ‘sepele dan biasa saja’, Mekas sudah cukup untuk membawa penontonnya pada perjalanan untuk menghimpun kenangan masa kecil dan masa-masa yang telah berlalu lainnya. Sudah mencoba film-film Mekas lainnya seperti Walden, Reminiscences of a Journey to Lithuania, dll? Bagus-bagus banget loh.

      Salam,

      Q

      Like

  2. Biasanya nonton film-filmnya di mana bro? Susah cari karya-karyanya Lav Diaz dan saya kira The Flower belum keluar kecuali di festival-festival di kota-kota tertentu yang tidak banyak pula.

    Like

    1. Hallo Simoli,

      Untuk film-film yang kamu sebutkan, saya memang menontonnya di festival film independen, sih. Saya campur aduk memberdayakan segala cara untuk nonton film-film tsb. Unduhan, bioskop, festival, pinjaman, dsb. Hehe.

      Happy hunting!

      Salam,

      Q

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s