Karakoram-Himalaya Mountains [bag.2]

“Stay away from the ones you love too much. Those are the ones who will kill you.” 
― Donna TarttThe Goldfinch

Ketika saya memutuskan untuk ikut perjalanan mengelilingi kawasan Himalaya-Karakoram ini, yang awalnya hanya diniatkan sebagai perjalanan road-trip tanpa ada kegiatan fisik berarti, tak terlintas di pikiran saya jika ada hari di mana kami akan melakukan perjalanan trekking melintasi hutan hampir setengah harian. Dan saya rasa memang teman-teman saya lain pun tak ada yang menduganya. Maka, teman-teman saya ada yang ‘salah kostum’ hari itu. Alih-alih memakai sepatu outdoor, dia malah memakai sandal dan pakaian semarak. Tak akan ada yang menduga jika perjalanan yang akan kami tempuh adalah perjalanan melalui jalanan setapak berbatu, menerabas semak belukar, menanjaki bukit terjal, atau melampaui tanah basah yang melesak. Bahkan si pemandu pun tak mengetahuinya, haha. Dasar.

*****

Musim panas yang sedang berlangsung di Kashmir memang membuat hawa malam hari terasa beringsang. Penginapan house boat hanya menyediakan kipas angin gantung yang saya stel pada posisi maksimum agar bisa tidur dengan nyaman. Tapi ketika dini hari tiba, saat angin gunung turun, hawa dingin dan berangin membuat saya harus mengenakan selimut. Saat saya terbangun jam 4 pagi, angin yang menyelisip lewat jendela yang tak tertutup rapat akhirnya membuat saya terjaga. Karena upaya untuk tidur kembali gagal serta tak ada sinyal internet, membuat saya memutuskan untuk membaca buku. Bosan dengan kondisi kamar dan tak mau mengganggu rekan sekamar, saya berjalan keluar menuju beranda menikmati hawa danau pagi hari.

Suasana danau jam 5 pagi terasa damainya. Meski kadang angin kencang datang dan suara bising elang-elang pemangsa berkeliaran, tetapi kesan damainya begitu nyata. Mungkin ketidakhadiran manusia menjadi penyebab kedamaian ini. Sambil menunggu cahaya matahari fajar yan gagal terlihat karena langit berawan (dalam jeda singkat-singkat bahkan ada gerimis selewatan tersapu angin), saya akhirnya melanjutkan pembacaan buku The Goldfinch sampai akhirnya kawan-kawan saya yang lain datang untuk mengobrol dan dilanjutkan sarapan jam 6 dengan menu telur dadar dan roti yang disiapkan penjaga penginapan.

Sejak hari sebelumnya, pemandu kami memberitahukan jika untuk hari kedua itu kami akan dijemput lebih pagi karena akan melakukan perjalanan jauh. Maka setelah menyiapkan bekal untuk makan siang, menyiapkan cemilan dan minuman, kami menyeberang danau dimana si pemandu sudah menunggui kami di jam 7 sebagaimana yang ia janjikan. Sebelum perjalanan jauh dimulai, mobil kami tepikan ke sebuah warung untuk menambah bekal minuman. Setelah semua yakin jika bekal cukup, kami memulai perjalanan mengitari danau, yang dilanjutkan ke dalam salah satu perjalanan paling tak terduga selama perjalanan saya di Himalaya-Karakoram ini.

IMG_7609
Suasana pagi di Dal Lake yang tampak tenang. Meski permukaan danau selicin cermin, tetapi gejolak angin terasa nyata dan menggigit dingin

*****

Setelah mengitari kawasan danau Dal Lake, kami memasuki kota Srinagar. Hari yang masih pagi membuat aktivitas warga terasa baru mulai menggeliat. Toko-toko yang baru dibuka banyak didatangi para calon pembeli. Jalan-jalan persimpangan dipenuhi calon-calon penumpang yang menunggu angkutan umum datang (hal yang saya sadari kemudian adalah jumlah angkutan umum di Kashmir terasa sangat kurang, sering kali angkutan umum begitu dijejali penumpang dan tiap beberapa jarak tertentu banyak calon penumpang menunggu karena tak terangkut), atau anak-anak sekolah dan para pekerja yang berjalan menuju tujuannya masing-masing. Srinagar pagi hari terasa begitu hidup. Namun, itu artinya, para tentara juga sudah dan semakin siaga berjaga.

Jika kita melakukan perjalanan ke sebuah kota baru, maka biasanya kita akan diajak si pemandu ke kawasan kota tuanya yang biasanya tak terlalu jauh dari pusat kota yang kadang memiliki alun-alun. Tapi tak demikian jika kita mengunjungi kota Srinagar. Awalnya saya merasa aneh mengapa pemandu kami tak mengajak kami ke alun-alun Lal Chowk–alun-alun kota lama Srinagar. Tetapi setelah browsing singkat, tahulah saya alasan mengapa si pemandu tak mengajak kami di sana. Kami datang ke Srinagar hari Jumat, hari dimana secara rutin diadakan demonstrasi sehabis shalat Jumat untuk menuntut independensi Kashmir dari India. Demonstrasi rutin itu tak selalu berujung damai, kadang (atau malah seringnya) berujung pada kekerasan seperti lemparan batu dan kekerasan fisik lainnya. Si pemandu tentu saja tak mau mengambil resiko jika kami mengalami insiden jika mengajak kami ke sana. Sejujurnya, saya penasaran ingin mengunjungi kawasan kota tua Srinagar, haha.

Tujuan kami hari itu adalah kawasan Pahalgam, sebuah daerah peristirahatan pegunungan di kawasan timur Kashmir. Meski rute kami tak melewati Lal Chowk, tapi ajaibnya rute mobil kami malah melewati kawasan yang lebih sensitif lagi: kamp latihan militer India, haha. Mengingat konflik Kashmir belum selesai (dan sepertinya tak akan selesai dalam waktu dekat), pemerintah India menempatkan banyak sekali tentara di Srinagar (dan seantero kawasan Kashmir lainnya). Tiap beberapa puluh meter tentara berjaga dalam kondisi siaga menenteng senjata di jalanan Srinagar.  Para tentara yang berjaga di Kashmir sudah pasti didatangkan dari kawasan India lain untuk menghindari keberpihakan ada kaum separatis lokal. Dengan jumlah personel puluhan (atau ratusan?) ribu yang berjaga di Kashmir, artinya perlu kamp militer yang sangat besar untuk menampung mereka. Salah satu yang terbesar tentu saja ada di Srinagar, dan mobil kami melewatinya.

20180818_080820
Salah satu gerbang di kamp militer yang dijaga ketat para penjaga. Saya harus benar-benar berhati-hati mengeluarkan kamera untuk bisa mengambil gambar khawatir jika si penjaga melihat dan menyitanya

Jalanan sepanjang pinggir kamp sengaja dibuat buruk berlubang dan dipasangi halang rintang zig-zag agar tidak ada kendaraan mengebut. Penjaga sudah pasti siaga sepanjang jalan. Banyak tanda di dinding bercat merah bertuliskan larangan mengambil foto-foto, yang tentu saja karena bandel dan penasaran, saya mengambil foto-foto tersebut secara diam-diam. Dengan tingkat pengamanan ketat, penjaga dan kamera CCTV di mana-mana, saya berhasil mengabadikan foto-foto larangan tadi dengan perasaan kadang mencelos takut ketahuan saat ada beberapa petugas yang mengamati kaca jendela mobil saya lebih lama daripada biasanya. Haha. Rasanya ada sampai belasan menit mobil kami melewati kawasan kamp militer saking luasnya area kamp.

IMG_7271
Tulisan peringatan yang dipasang di sepanjang tembok kamp militer. Tulisan semacam ini tersebar di sepanjang tembok dan ditulis dalam berbagai bahasa dan abjad. Ada abjad Latin, Devanagari, Arab dan ditulis dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Kashmiri, Hindi, dan sebagainya

Selepas Srinagar, kendaraan melalui semacam jalan bebas hambatan antar kota yang menghubungkan Srinagar dengan kota-kota sebelah timur Kashmir. Saya yang awalnya mengira jika kawasan kota Srinagar adalah kawasan paling ketat dijaga tentara, malah mendapati justru jalan tol itu dijaga lebih ketat daripada kawasan perkotaannya. Jika kawasan kota biasanya dijagai satu penjaga bersenjata setiap 50 meter, maka di jalan tol dijaga 2-5 tentara tiap 100 meter. Dengan panjang jalan tol puluhan kilometer, maka bayangkan berapa banyak tentara yang dibutuhkan. Saat itu hujan turun, dan saya takjub dengan kegigihan tentara yang tetap berjaga siaga meski guyuran hujan cukup deras. Karena mobil kami melaju pagi-pagi, saat itu hendak ada pergantian penjaga. Ada puluhan mobil militer yang mengangkut ribuan tentara yang membawa bekal masing-masing untuk giliran berjaga.

20180818_090530
Dalam kondisi hujan sekalipun, para penjaga ini tetap gigih berdiri siaga di pinggir jalan

Awalnya saya bertanya apakah memang perlu seketat itu penjagaan di jalan tol, mengingat jalan tolnya sendiri relatif sepi (tingkat ekonomi yang tak bagus di Kashmir sudah pasti membuat warga yang memiliki kendaraan pribadi berkurang drastis). Kadang saya melihat para penjaga yang berdiri begitu kebosanan dan mengobrol dengan temannya meski tetap dalam kondisi siaga. Kelak, hanya dalam waktu dua minggu setelah saya melewati kawasan tol ini, saya membaca berita jika salah satu penjaga yang bertugas di tol itu ditembaki sekawanan kaum separatis. Saya tak bisa bayangkan jika si kaum separatis melakukan aksinya lebih cepat dua minggu, saat saya sedang ada di jalan tol yang menjadi tempat aksi tembak menembak.

20180818_082601
Iring-iringan kendaraan militer yang berisi personel-personel yang akan menggantikan giliran berjaga. Jumlah kendaraan ini (yang bisa menampung puluhan personel) jumlahnya banyak sekali. Saya kehilangan hitungan setelah menghitung lebih dari 30-an.

Kawasan kiri-kanan tol kebanyakan berupa kawasan kebun-kebun dan sawah-sawah padi yang menghampar luas mendatar, mengingatkan saya pada kawasan pertanian di daerah Jawa. Di daerah yang disebut kota Pampore, saya melihat banyak pertokoan yang menjual produk safron–rempah termahal di dunia yang berupa putik bunga dikeringkan yang aromanya harum semerbak khas. Kebun-kebun safron menghampar luas dan dari tulisan-tulisannya (di India hampir semua tulisan publik ditulis dalam bahasa Inggris, suatu hal yang kembali mengejutkan saya meski tak semua penduduk memahami bahasa Inggris), mereka menawarkan tur keliling kebun safron. Namun untuk alasan yang misterius, si pemandu kami tak berniat berhenti di kebun maupun toko souvenir safron yang terlihat sepi tak ada pengunjung. Di kemudian hari, saya mungkin memahami alasannya. Saat tulisan ini dibuat, saya membaca berita jika sedang berlangsung aksi kekerasan di kota Pampore, rumah-rumah dibakar oleh kaum separatis dan terjadi tembak menembak yang menewaskan warga.

20180818_085708
Penjaga di pinggir jalan tol mengamati warga setempat yang turun ke arah sungai, mungkin hendak menuju ladang

*****

Hal lain yang terasa mencolok dalam perjalanan dari Srinagar ke Pahalgam selain tentara yang berjaga dimana-mana adalah banyaknya warga yang menunggu kendaraan umum di pinggir jalan raya. Jarang sekali kendaraan berupa bus umum besar (takut digunakan untuk angkutan unjuk rasa atau menghindari aksi terorisme massal yang mematikan?), kendaraan umum yang teramati oleh saya adalah kendaraan kecil tipe mobil keluarga yang disulap dan dimaksimalkan jumlah penumpangnya. Dalam mobil kecil yang mestinya hanya menumpang 6-8 orang, dijejali sampai belasan orang. Pun itu sudah terisi oleh penumpang yang ada di bagian ujung, sementara warga yang tinggal di bagian tengah jalan tol harus rela menunggu lebih lama jika ada sisa kursi (atau rela duduk sangat rapat) agar bisa terangkut.

20180818_092411
Warga yang menunggu di pinggir jalan menunggu diangkut kendaraan umum yang jumlahnya sedikit pun kecil sehingga harus berdesak-desakkan

Melewati kota-kota kecil antara Kashmir dan Pahalgam, terasa sebagai sebuah perjalanan waktu menuju sebuah tempat dengan dua atau satu dekade lebih lambat daripada tempat lain. Saya bayangkan jika saya mengunjungi kota-kota kecil ini sepuluh tahun lalu, tak banyak yang berubah. Kota kecil semrawut karena tak ada arah pembangunan pasti. Hanya papan-papan toko yang menuliskan produk-produk merk ponsel baru yang menandakan jika kota ini eksis di tahun-tahun sekarang.

20180818_102029
Pemandangan seperti ini adalah hal lumrah, yang membuat saya menebak-nebak apakah keberadaan para tentara di depan toko membuat toko terlihat aman sehingga mengundang pengunjung untuk berbelanja atau malah sebaliknya, membuat pengunjung segan untuk mampir melihat-lihat

Selama perjalanan yang hampir 4 jam, entah mengapa pemandangan yang disajikan terasa begitu familiar. Lanskap kota dengan landmark bangunan seadanya dan pola jalan beririsan tak teratur mengingatkan saya pada kota-kota di Indonesia yang tata rencana kotanya diusulkan secara terlambat ketika pemukiman lebih dulu merajai petak-petak tanahnya. Sementara di kawasan pinggirannya di mana pemukiman lebih jarang, diisi daerah pesawahan yang kebanyakan jika tak sayuran maka tanaman padi.

20180818_100430
Ketika saya memposting foto ini ke media sosial saya, teman-teman saya bertanya saya sedang melakukan perjalanan di kabupaten Jawa sebelah mana. Saya tak menyalahkan mereka. Haha

Karena perjalanan kebanyakan pesawahan atau kalau tidak pemukiman biasa, maka untuk menghindari kejemuan kami berlomba mencari pemandangan yang dianggap tak ada di Indonesia. Sayangnya jumlahnya tak cukup banyak mengingat kami melalui jalan-jalan besar di area pemukiman yang menjauh dari daerah kawasan gunung-gunung tinggi yang menjadi ciri khas lanskap Kashmir yang legendaris itu. Karenanya setiap ada papan petunjuk jalan, kami selalu antusias apakah Pahalgam yang dituju sudah semakin dekat atau tidak. Ketika rombongan pengembala dengan puluhan kambingnya melintas, kami selalu meminta sang supir memelankan laju kendaraan agar bisa memotonya–hal yang sebetulnya tak perlu karena khawatir menabrak kambil yang melintas di jalan, mau tak mau kendaraan harus dilambatkan atau dihentikan sama sekali.

IMG_7310
Seorang pengembala dengan tongkat pengendalinya, menggiring puluhan kambing untuk mencari kawasan padang rumput terbuka di pinggir sungai (meadow)

***** 

Setelah menempuh sekitar 3 jam lebih, kami akhirnya menjumpai Sungai Lidder. Sungai Lidder adalah anak salah satu anak Sungai Jhelum–satu diantara 5 sungai yang membentuk kawasan Punjab* yang termasyhur. Sungai Lidder yang mendapatkan sumber airnya langsung dari lelehan salju punya pola aliran khas sungai hulu; berbatu-batu besar dengan amukan air yang liar dan bergemuruh sepanjang alirannya. 

Membelah kawasan bergunung-gunung hijau, Sungai Lidder membentuk lembah curam berbentuk huruf U yang berkelok-kelok. Lembah sungai Lidder sudah terkenal sebagai kawasan hijau tempat berpelesir sejak ratusan tahun lampau. Ketika kami akhirnya keluar dari jalan tol, saya pikir jumlah penjaga semakin berkurang, nyatanya keberadaan mereka malah semakin banyak. Di balik bebatuan besar, atau di balik pepohonan, para tentara bertiarap memegang senjata dalam posisi siaga menembak. Hal ini menimbulkan kengerian tersendiri bagi saya, bagaimana jika ada penumpang yang kebelet ingin buang air lalu turun mobil dan mencari semak/bebatuan lalu si penjaga salah menduganya dianggap kaum separatis yang bersembunyi? 

DSCF9672
Lembah Sungai Lidder di musim panas yang menghijau dan banyak diisi rumah-rumah peristirahatan. Di musim dingin, kawasan ini akan putih sepenuhnya oleh salju

Karenanya, meski ada beberapa teman saya yang ingin buang air kecil, tetapi tak ada yang berani minta izin untuk turun. Apalagi sepanjang lembah Sungai Lidder kecuali yang ada pemukiman yang jumlahnya terserak tak banyak, secara umum kondisi jalanannya sepi. Hanya saat menjelang check-point ada beberapa kendaraan berkerumun karena para penumpang harus turun dari mobil dan diperiksa barang bawaannya. Meski check-point adalah kawasan ramai karena banyak penumpang mobil harus turun, tetapi dengan banyaknya penjaga bersenjata, tak banyak pedagang asongan berjualan. Dalam jumlah yang bisa dihitung jari, ada beberapa penjaja asongan yang nekat berjualan, pun barang jualannya tak ada yang berupa keranjang (takut disangka menyusupkan barang terlarang?), semua dijaja dalam bentuk nampan. 

20180818_110148
Salah satu penjaja asongan yang berjualan “cemilan” kelapa mentah potong. Saya tak pernah melihat penjaja asongan berjualan kelapa mentah sebagai cemilan di Indonesia. Di Kashmir, kejutan kecil-kecil seperti ini terasa seperti trivia kecil yang membuat saya tersenyum simpul

Seperti di Srinagar saat akan melakukan perjalanan ke Nishat Bagh, check-point adalah tempat yang selalu membuat saya sedikit gugup. Bukan karena saya takut akan dicurigai akan membawa barang terlarang, tetapi para penjaga bersenjata yang memasang tampang serius bisa saja salah menafsirkan karena kendala komunikasi (bahasa). Saat saya memasuki pos pemeriksaan, saya mengikuti antrian yang dipisahkan bedasarkan jenis kelamin. Saya membawa tas kecil dan dokumen-dokumen yang dirasa diperlukan seperti pasport dan visa. Ternyata di ruangan pos pemeriksaan, dokumen tersebut tak diperlukan, yang ada malah pemeriksaan fisik. Tas saya dibuka, tubuh-tubuh saya diraba-raba untuk mencari senjata yang mungkin disembunyikan. Karena sudah pasti saya tak membawa barang terlarang, saya dipersilakan melanjutkan perjalanan.

DSCF9620
Akhirnya, setelah melakukan perjalanan 3 jam lebih, saya sampai ke Pahalgam. Kawasan lembah yang dikelilingi pegunungan Himalaya yang menghijau di musim panas

***** 

Kami akhirnya bisa bernafas lega ketika sampai ke Pahalgam yang menjadi area tujuan kami hari itu. Ketika keluar dari mobil, hari sudah tengah hari sehingga terasa terik sekali. Namun kami diberitahu juga jika rute jalan kaki adalah kawasan hutan yang sejuk. Tapi tak ada yang memberitahu kami jika rutenya ternyata cukup panjang dan berat. Ketika saya memutuskan untuk ikut perjalanan mengelilingi kawasan Himalaya-Karakoram ini, yang awalnya hanya diniatkan sebagai perjalanan road-trip tanpa ada kegiatan fisik berarti, tak terlintas di pikiran saya jika ada hari di mana kami akan melakukan perjalanan trekking melintasi hutan hampir setengah harian. Dan saya rasa memang teman-teman saya lain pun tak ada yang menduganya. Maka, teman-teman saya ada yang ‘salah kostum’ hari itu. Alih-alih memakai sepatu outdoor, dia malah memakai sandal dan pakaian semarak. Tak akan ada yang menduga jika perjalanan yang akan kami tempuh adalah perjalanan melalui jalanan setapak berbatu, menerabas semak belukar, menanjaki bukit terjal, atau melampaui tanah basah yang melesak. Bahkan si pemandu pun tak mengetahuinya, haha. Dasar. 

Begitu kendaraan kami menepi di tempat parkir, para penjaja jasa kuda tunggangan langsung merapat dan mengerumuni mobil kami sehingga membuat kami kesulitan keluar sebelum terjadi kesepakatan masalah harga. Di sini peran pemandu sangat membantu sekali dalam hal negosiasi. Sebetulnya, tak ada dari kami yang mau menyewa kuda tunggangan. Dengan alasan menolak kekejaman pada hewan, kami semua sepakat untuk tak menggunakan jasa tunggangan kuda. Tapi tentu saja si penjaja jasa tak akan menyerah begitu saja, karena bagaimanapun itu adalah mata pencaharian utama mereka. Sempat bersitegang sehingga akhirnya kami harus mengalah. Kami hanya menyewa dua kuda, yang jelas tidak sebanding dengan total jumlah orang kami. Kami menyewa dua kuda dan satu orang penunjuk jalan hanya sebagai cadangan jika tetiba ada di antara rombongan kami yang tak kuat jalan. Saat itu, yang terlintas di pikiran kami adalah rute perjalanan dari tempat parkir paling hanya 15 menit saja paling lama. Perkiraan kami salah total. Haha.

20180818_115142
Kuda-kuda kurus harus menanggung bebas berat melalui jalur berbatu nan menanjak. Jelas kami tak tega. Hanya demi mencari jalan tengah, kami akhirnya menyewa tanpa ditunggangi

Dari tempat parkir, perjalanan menanjak bukit melalui jalan setapak berbatu-batu. Melihat kuda lain yang harus menanggung beban dengan kepayahan (jalan pelan dan nafas terengah-engah), keputusan kami untuk tidak menumpangi kuda sewaan semakin mantap. Meski ada sedikit keraguan tersirat di muka teman-teman saya, saya sih malah semakin semangat begitu menemukan jalan yang kami akan tempuh ternyata semakin menanjak. Saking semangatnya, saya berjalan paling depan, bahkan mendahului si pemandunya sendiri. Haha. Ah, betul-betul kejutan yang menyenangkan. Siapa sangka jika perjalanan yang awalnya diduga hanya perjalanan road-trip biasa akan menjadi perjalanan trekking jua?

Meski perjalanannya menanjak, tetapi tak melalui punggungan gunung dan melewati belahan dua buah bukit menghijau yang dipenuhi rerumputan dan pohon-pohon konifera. Kadang, belahan dua bukit itu membentuk lembah hijau kering, tetapi lebih sering lagi membentuk jurang curam sehingga kami harus melipir ke salah satu bukit. Musim panas mencairkan es-es dari puncak gunung menciptakan tanah-tanah becek di sekitar bukit sehingga jika tak hati-hati tanah yang dipijak bisa melesak sampai mata kaki. Pun tetiba jurang menghujam dalam dengan sungai yang bergemuruh dan mengamuk liar sehingga saya harus berjalan secara hati-hati.

Perjalanan yang awalnya terasa menyenangkan, mulai terasa melelahkan. Yang awalnya kami kira hanya perjalanan sekitar 15 menit, tapi tak ada tanda-tanda akan sampai tujuan setelah sejam perjalanan. Pantas saja si pejaja jasa tunggangan kuda tertawa menakut-nakuti kami jika kami tak akan kuat berjalan tanpa kuda sewaannya. Nafas teman-teman saya semakin memendek sehingga kadang saya harus berhenti cukup lama menunggui mereka yang tertinggal di belakang. Setelah menunggu lama, tak semua kawan-kawan saya terkumpul semua. Mungkin sebagian merasa berat melanjutkan–apalagi ada yang salah kostum dengan memakai sandal dan bukan pakaian out door.  Merasa sudah kepalang, kami yang tersisa meneruskan perjalanan, yang tetap tak menunjukan tanda-tanda akan mencapai tujuan.

20180818_120053
Melalui lembah antara dua bukit yang terus menanjak, saya tak mengira jika perjalanannya akan menjadi begitu panjang. Kuda-kuda yang membawa beban dari rombongan lain semakin menunjukan tanda-tanda memprihatinkan

*****

Pahalgam sudah lama dikenal sebagai kawasan wisata pegunungan populer ratusan lampau. Lembah dikelilingi pegunungan tinggi dan bersalju (di musim dingin) menjadikannya sebagai kawasan peristirahatan sejak zaman-zaman raja-raja dinasti Mughal, atau malah lebih tua lagi. Satu bagian kawasan Pahalgam yang kami datangi adalah tempat yang disebut Baisaran. Ketika kami awal berangkat hari itu, kami hanya diberi tahu pemandu jika tujuan kami adalah Pahalgam, tanpa tujuan spesifik Baisaran. Maka, tak ada dari kami yang siap menghadapi perjalanan menuju ke sana, apalagi harus trekking (karena tak ada dari kami yang ingin menggunakan jasa tunggangan kuda).

Perjalanan yang awalnya dikira akan memakan waktu belasan menit, membengkak menjadi hampir dua jam. Waktu makan siang telah lama berlalu, tapi karena tujuan akhir masih belum tercapai, kami memutuskan jika makan siang dilakukan nanti saja. Bekal cemilan membantu menambah energi. Sarapan yang dilakukan pagi sebelumnya terasa berlalu sudah lama sekali. Sementara itu, pemandu setempat yang kami sewa untuk menunjukkan jalan terasa menunjukkan jalan yang memutar-mutar dan melewati medan becek dan terjal. Ketika saya menyarankan untuk memotong jalur dengan mendaki bukit, dia menggelengkan kepala sehingga harus memutar lebih jauh. Sepertinya ada unsur kesengajaan agar kami ‘kapok tidak menggunakan jasa kuda sewaannya’.

Namun, pada akhirnya si pemandu luluh juga. Merasa jika waktu makan siang sudah lewat, dia menawarkan agar kami memotong jalur, haha. Kami yang prihatin dengannya menawarinya biskuit yang dia makan dengan lahap. Saya membayangkan jika saya ada dalam posisi sepertinya, pasti juga ingin mengerjai turis-turis bandel seperti kami yang tak mau menggunakan jasa kuda sebagai satu-satunya mata pencaharian. Begitu kami memotong jalur, tampaklah kawan kami yang awalnya dikira kembali ke tempat parkir ternyata sudah menunggu di sebuah tikungan dalam kondisi lelah. Ternyata dia memotong jalur dengan mendaki bukit super terjal. Kami beristirahat sejenak dengan saling membagi kisah perjalanan konyol nan tak terduga hari itu. Setelah nafas kembali teratur, kami melanjutkan perjalanan yang kata si penunjuk jalan sudah dekat–dia sudah mengatakan hal ini sejak satu setengah jam yang lalu.

Setengah jam kemudian, kali ini perjalanan kami lebih ceria karena tim sudah berkumpul, kami akhirnya sampai di sebuah pintu gerbang yang masih semrawut karena masih dibangun oleh dinding bata-semen dengan kisi-kisi penyangga di mana-mana. Namun, tentu saja mata kami sudah terfokus pada apa yang ada di balik pagar dan pintu gerbang itu. Kami akhirnya sampai ke Baisaran.

DSCF9717
Baisaran, kawasan padang rumput terbuka di tengah hutan (atau dikenal dengan istilah meadow), dipagari oleh gunung-gunung berpuncak tajam–es telah memahat puncaknya dalam sudut-sudut lancip

Baisaran atau yang diiklankan di media promosi wisata sebagai Little Switzerland, ternyata sebuah meadow (padang rumput di tengah hutan) yang cukup luas. Pemandangannya cukup mengesankan, apalagi udaranya yang bersih dan segar seketika melucutkan rasa lelah setelah perjalanan yang cukup menyiksa untuk mencapainya. Kami semua segera melepas alas kaki, dan tak perlu lama menu makan siang segera digelar. Di tengah padang rumput, kami lahap menikmati makan siang yang meski langit cukup terik, tetapi udara basah dingin uang disaring oleh pohon-pohon konifera, membuat suasana terasa nyaman dan segar.

Sebagaimana kebanyakan pengunjung lain, saya bertelanjang kaki, berloncat-loncatan, dan berguling-guling di atas hamparan rumputnya. Haha.

*****

Setelah perut terkenyangkan dan rasa lelah sudah terpupuskan, kami bangkit berdiri dan merasa harus pulang segera sebelum terlalu lama nyaman malah terjebak malam di tengah hutan (sesuatu yang terbayang terasa mengerikan mengingat perjalanan berangkat yang luar biasa panjang, melelahkan, dan melewati jalan yang tak nyaman). Ketika kami menyampaikan kekhawatiran ini, si penunjuk jalan dengan berbahasa Inggris terpatah-patah mengatakan jika kami tak usah cemas. Dia akan memandu melewati jalan yang lebih pintas. Terdengar gerutuan bersahutan seketika. Haha.

Ternyata si penunjuk jalan menepati janjinya, dalam jalan pintas yang tak terduga, hanya kurang dari setengah jam kami sudah melintasi tiga perempat jalan. Gerutuan makin lama makin kencang karena jelas sekali si penunjuk jalan ingin ‘membuat kami menderita’ dengan jalan memutar sebelumnya. Karena sudah tahu jika jalan yang akan saya tempuh sisanya lebih mudah dan jelas, saya berjalan dalam tempo yang lebih lambat, sementara teman-teman saya yang lain malah berjalan semakin mengebut karena ingin segera sampai ke mobil. Saya ingin menikmati kawasan pegunungan Kashmir dengan lebih tenang, santai, dan tak ada ketergesaan.

20180818_143714
Berbeda dengan rute saat berangkat yang penuh tanjakan dan tanah becek, rute pulang adalah melewati jalan datar dan kering

Akibatnya, saya terpisah dari teman-teman saya yang tak perlu saya khawatirkan. Sepanjang jalan, saya menjumpai pengunjung lain yang kebanyakan wisatawan lokal. Di salah satu turunan bukit terakhir sebelum sampai ke tempat parkir, saya menjumpai empat pemuda yang sedang beristirahat. Mereka baru akan melakukan pendakian menuju Baisaran. Dilihat dari peralatan yang dibawa seperti tenda dan matras, mereka sepertinya akan bermalam. Sebelum saya menyapa, mereka malah lebih dulu berinisiatif menyapa saya. Dari keempat pemuda itu, hanya dua orang saja yang bahasa Inggrisnya agak lumayan (hanya dua orang yang berbincang aktif dengan saya, dua lainnya lebih memilih menjadi pendengar dan ikut tertawa jika yang lain tertawa). Sudah bisa ditebak, saya dan mereka kembali terlibat perbincangan, suatu yang entah mengapa terasa mengalir begitu saja seperti halnya saat saya berbincang-bincang dengan si A di taman Nishat Bagh sehari sebelumnya.

Perbincangan yang awalnya dilakukan dalam topik standar seperti asal masing-masing (mereka kaget ketika tahu saya berkebangsaan Indonesia dan mau susah payah datang ke tempat seterpencil itu), dilanjutkan dengan hal yang cukup mengejutkan saya sendiri, mereka curhat tentang sistem politik ekonomi di Kashmir. Saya merasa déjà vu karena topik yang dibahas sama persis dengan yang saya bahas di hari sebelumnya dan mereka bebas leluasa menyampaikannya dimana notabenenya saya adalah orang asing bagi mereka. Sayangnya, berbeda dengan si A yang saya berbicara cukup intens dan mendalam, diskusi dengan mereka tak terlampau lama. Beberapa turis lain yang melewati kami membuat mereka terdiam cukup lama sebelum melanjutkan obrolan (takut didengar dan dianggap membahayakan karena berbau subversif?). Hingga akhirnya, ketika rerintik hujan turun, mereka memutuskan pamit sebelum hujan besar datang (yang ternyata tak jadi). Saya pun harus melanjutkan perjalanan khawatir teman-teman saya menunggu terlalu lama di tempat parkir. Sebelum berpisah, mereka meminta berfoto selfi juga dengan saya.

***** 

Setelah semua orang berkumpul kembali di mobil, suasana dalam mobil kembali penuh gerutuan karena kesal merasa dijaili oleh pemandu jalan. Namun kami semua sepakat jika pemandangan Baisarannya sendiri memang mengesankan. Jadi segera kami melupakan kejailan si penunjuk jalan dan melakukan perjalanan pulang ke penginapan kami di Dal Lake yang masih panjang. Karena kelelahan melakukan trekking tak terduga sebelumnya, perjalanan pulang kami lebih hening daripada saat berangkat. Jika sebelumnya kami antusias berfoto-foto, saat pulang kami lebih banyak duduk melamun dan memakan cemilan.

DSCF9761
Di sela-sela jalan pulang kembali ke penginapan, kami menyempatkan menepi dan duduk di pinggir sungai. Kuda tunggangan sewaan tampak santai menikmati rerumputan di pinggir Sungai Ladder yang deras

Jalan kembali pulang menuju Srinagar dan penginapan Dal Lake kembali harus melewati jalan tol yang dipenuhi banyak penjaga bersenjata. Jalanan tol yang monoton lurus membuat rasa kantuk datang untuk mengimpasi rasa lelah. Suara klakson atau mobil yang harus mengerem mendadak karena ada orang menyeberang membuat tidur di perjalanan pulang terasa tak nyaman dan tak aman. Ketika teman saya melirik si supir yang mulai mengantuk, kami memutuskan sudah saatnya mobil berhenti. Di pinggir sebuah warung kampung terpencil, mobil kami menepi.

Sebuah warung, yang ada di pinggir jalan tol banyak penjaga bersenjata, di mana mestinya jarang pembeli mampir, membuat saya terkejut sekaligus prihatin saat melihat barang dagangannya. Warung tersebut tak menjual hal lain selain chai tea, aneka minum botolan seperti soda, permen, cokelat, dan chiki. Tak lebih. Saya memesan chai tea dan botol minuman meski di mobil masih ada minuman. Entah mengapa saya merasa tak tega jika meninggalkan warung dan tak membeli apa-apa. Apalagi si penjaga warung (meski tanpa kemampuan bahasa Inggris sama sekali) sangat ramah menjamu dan menjawab pertanyaan kami yang diterjemahkan oleh si supir.

img_7551.jpg
Sepanjang jalan, mayoritas pedagang berjualan produk-produk seperti ini, yang membuat saya penasaran apakah berjualan produk seperti ini di kawasan sepi penduduk tetap menguntungkan secara ekonomis

Sisa perjalanan berikutnya, saya lebih banyak lagi menyaksikan warung-warung serupa yang berjualan dengan barang-barang yang rasa-rasanya tak meyakinkan dalam hal memberikan keuntungan secara finansial. Ah, siapalah saya yang berani menilai hidup seseorang. Toh kebahagiaan tak diukur dari tolak ukur kemampuan ekonomi saja. Setiap orang bahagia dengan caranya masing-masing, setiap orang tak bahagia dengan caranya masing-masing. 

*****

Ketika kami akhirnya sampai kembali ke Srinagar dan kawasan Dal Lake, hari sudah petang. Sementara beberapa orang memutuskan pulang ke penginapan, saya dan beberapa lainnya memutuskan untuk mengunjungi kawasan pasar tradisionalnya yang tetap buka sampai larut malam. Kawasan Meena Bazar memang kawasan pasar tradisional di dekat Dal Lake yang terkenal menjual produk oleh-oleh untuk turis selain berjualan barang kebutuhan sehari-hari bagi warga setempat.

Awalnya saya tak berniat belanja oleh-oleh. Toh baru hari kedua, masih banyak sisa hari yang akan saya habiskan di Kashmir. tetapi melihat barang dagangan yang begitu murah mau tak mau saya akhirnya luluh berbelanja beberapa kerajinan kain dan olahan awetan buah.

IMG_7587
Meena Bazar yang tetap ramai meski sudah memasuki waktu senja
DSCF9764
Aneka gorengan dan keripik yang dijual di Meena. Meski secara bumbu rasa seragam, bahan dasarnya sendiri bermacam-macam. Aneka biji-bijian, sayuran, umbi-umbian, daging, bahkan buah digoreng dengan tepung

Rasanya tak ada cukup kepuasan untuk berbelanja di Meena Bazar. Tahu-tahu kami semua sudah menjinjing tas belanjaan masing-masing minimal tiga. Haha. Selain murah, keramahan penjual yang tetap memasang wajah ceria meski saat kami menawar dengan ‘kejam’ membuat suasana tawar menawar tetap hangat. Sering kali sesama kami harus saling memperingatkan satu dengan yang lainnya jika ini baru hari kedua kami di Kashmir, kami harus menahan diri agar tak memborong. Haha.

Malam itu kebetulan Sabtu malam sehingga suasana jalanan lebih semarak daripada biasanya. Di jalanan terutama sisi yang menghadap Dal Lake, banyak gerombolan pemuda. Kawasan Kashmir yang memegang aturan agama Islam dengan cukup ketat membuat pemandangan berpacaran dua sejoli terlihat jarang, sehingga gerombolan pemuda berkerumun berasarkan jenis kelaminnya lebih umum dijumpai. Hal yang begitu mencolok adalah jumlah pedagang jauh lebih banyak ketimbang warga atau turis yang menikmati malam. Tak hanya kawasan pasar Meena, trotoar dipenuhi pedagang asongan dan lapak yang menjajakan aneka souvenir maupun makanan. Dengan jenis dagangan yang nyaris homogen, kompetisi menawarkan sedikit agresif. Kebetulan saja kami sudah menjinjing tas belanjaan sehingga dengan cukup menggeleng kepala, kami bisa sampai ke dermaga seberang penginapan dengan selamat dari sergapan pedagang asongan. Sebetulnya sepanjang jalan menuju dermaga penyeberangan ke penginapan tengah danau, banyak dagangan yang menarik. Tapi perut yang mulai perih minta diisi lebih utama, pun betis mulai terasa meleleh panas kelelahan, jadi acara belanja harus disudahi. Di hari-hari kemudian, saya akan menyesali hal ini. Haha.

***** 

Di hari sebelumnya, saat berbincang dengan si A di Nishat Bagh, pada menit-menit terakhir sebelum teman saya datang menjemput, saya mengajukan pertanyaan padanya. ‘A, kamu punya potensi besar loh. Lulus dari kampus bagus. Kamu juga bisa berbahasa Inggris dengan fasih, jauh lebih fasih ketimbang kebanyakan orang India yang pernah saya jumpai. Dan sekarang kamu merasa kesulitan mencari pekerjaan di Jammu Kashmir. Mengapa kamu tidak mencari pekerjaan di tempat India lain?‘ Saya melontarkan pertanyaan ini pada si A pun kepada empat orang yang saya temui di Pahalgam saat turun dari trekking Baisaran. Ketika orang-orang di sana merasa kesempatan mereka dibatasi karena konflik, mengapa mereka tak memilih keluar mencari tempat yang memberikan penawaran kesempatan lebih terbuka?

Jawaban si A dan keempat orang itu sama saja. Mereka tertawa kikuk. Si A malah merasa kaget dengan pertanyaan itu dan berujar berkali-kali, “Pertanyaan bagus, Mr Detektif… Pertanyaan bagus… Sayangnya untuk saat ini saya belum tahu jawabannya…” Sesaat sebelum saya benar-benar berpisah dengan si A, saya membisikan sesuatu padanya. “A, kamu tak bisa meninggalkan Jammu Kashmir bukan karena semata-mata orang tuamu yang sakit. Toh kalau kamu kerja di tempat lain, kamu bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk pengobatan mereka. Kamu tak meninggalkan tempat ini karena kamu terlalu mencintainya. Ya, Kashmir adalah tempat yang indah. Sangat indah. Orang-orang gampang terbuai oleh keindahannya, oleh kesuburannya. Mereka tak mau melepaskannya meski banyak yang harus dikorbankan. Dan kamu adalah salah satunya.’ Sebelum si A selesai mencerna habis perkataan saya, saya berujar, “senang berkenalan denganmu! Sampai jumpa lagi!

Perjalanan saya hari itu mengingatkan saya pada perpisahan saya pada si A. Kota-kota dan pedesaan kawasan Kashmir dengan segala opresi militer dan konflik politiknya, telah membuat banyak kesempatan ekonomi dan sosial terhambat. Seorang teman perjalanan saya ketika menyaksikan kemiskinan ini sering bertanya mengapa mereka tak keluar Kashmir untuk mencari kesempatan yang lebih baik. Jawabannya tentu saja kompleks dan rumit. Tiap orang beda kasus dan motif. Tapi saya rasa ada benang merah dan kentara. Mereka mencintai Kashmir, bahkan mungkin terlalu mencintainya. Motif seperti nasionalisme, sukuisme, identitas, agama, dan sebagainya membuat mereka bertahan. Tentu saja hal ini bukan hal buruk (setidaknya tak semuanya). Tapi resikonya juga tak kecil. Seperti kutipan dalam buku The Goldfinch, “stay away from the ones you love too much. Those are the ones who will kill you…

DSCF9607
Suatu persimpangan di kota kecil Kashmir. Tanpa ada rambu pengatur lalu lintas, perlu kenekatan agar bisa tetap melaju. Anjing jalanan adalah hal lumrah yang ditemui di jalanan Kashmir

 

(bersambung)

Catatan Tambahan:

*      = Punjab (atau sering disebut juga sebagai Punjabi) adalah kawasan legendaris di bagian barat daya India dan sebagian timur Pakistan, dimana 5 buah sungai (Jhelum, Chenab, Ravi, Sutlej, dan Beas) yang beranak dari gunung Himalaya dan Karakoram mengalir melalui lembah-lembah super subur dan permai untuk kemudian menyatu menjadi sungai besar bernama Sungai Indus. Meski batang sungai utama sungai Indus berada di negara Pakistan modern, tetapi kawasan Punjab sendiri terbelah secara politik antara India-Pakistan. Sejarah kawasan Punjab bisa dilacak jauh ke belakang ketika peradaban manusia mulai membangun kota-kota kuno. Mungkin kita pernah mendengar kota kuno Harappa, yang selain kota Mohenjo-daro, adalah kota-kota besar pertama yang dibangun manusia dan berumur hampir 5000 tahun lalu dan terletak di kawasan Punjab.

Dalam 5000 tahun sejarahnya, Punjab sangat sedikit mengalami masa tenang dan damainya. Keindahan alam dan kesuburan tanahnya menjadi kutukan panjang bagi sebagian penduduknya. Perang terbesar dalam mitologi India yakni perang Baratayudha di Padang Kurukshetra terjadi di kawasan yang letaknya ada di Punjab. Punjab juga merupakan tanah kelahiran agama Hindu. Dengan berkah alamnya yang luar biasa, Punjab menjadi kawasan pertama-tama di India yang selalu diincar untuk dikuasai. Alexander Agung dari Macedonia, kerajaan-kerajaan kuno India seperti Maurya, invasi muslim Muhammad ibn Qasim, Dinasti Mughal, dilanjut era kolonisasi Inggris dan berakhir pada konflik India-Pakistan adalah pergolakan memperebutkan kawasan Punjab. Kawasan Kashmir terletak di pertengahan agak ke utara kawasan Punjab, membuatnya dalam posisi terjepit antara tiga negara modern yang punya ambisi sama ingin menguasainya, China-India-Pakistan. Perang masih berlanjut hingga sekarang, entah sampai kapan.

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

7 thoughts on “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.2]”

  1. saat membaca quote awal, entah kenapa saya sudah mendapat firasat bahwa akan ada The Story of Q and A part 2. Dan ha!

    optimis, positif, suka bergaul, dan mudah berbaur. Sejak awal mengenalmu, dari membaca blog sampai sekarang saya selalu menganggap bahwa kamu memang pribadi seperti itu. Tetaplah positif dan dikelilingi hal-hal positif, itu bagus. 🙂

    Like

Leave a Reply to ariA Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s