Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]

“I had the epiphany that laughter was light, and light was laughter, and that this was the secret of the universe.”
― Donna Tartt, The Goldfinch

Kata “paradise” dalam bahasa Inggris (atau “firdaus” dalam bahasa Indonesia), memiliki akar kata dari bahasa Avesta (Iran Kuno) pairidaēza yang bermakna taman berdinding/berpagar/tertutup. Dalam konteks keagamaan, istilah tersebut memang diasosiasikan sebagai hunian eksklusif dengan pemandangan menawan dan kenikmatan tertinggi bagi mereka yang telah melewati fasa hidup fana di dunia setelah melakukan kebaikan-kebaikan yang disyaratkan dalam aturan agama tersebut, sehingga hanya mereka yang terpilih yang berhak memasukinnya. Sepanjang sejarah, taman-taman yang dibangun di kawasan Timur Tengah (mulai dari taman-taman historis yang telah musnah seperti Taman Tergantung Babilonia, hingga taman-taman dinasti Islam) mengikuti pakem tersebut, taman-taman istana dan publik mereka dibuat dan dilindungi dengan benteng-benteng sehingga untuk memasukinya harus melalui pintu-pintu tertentu saja yang dikawal penjaga. Begitulah, perjalanan saya menjelajahi pegunungan Karakoram dan Himalaya yang lalu sesungguhnya adalah perjalanan mengunjungi taman-taman firdaus, baik dalam pengertian spesifik berupa taman berbenteng, maupun taman firdaus dalam makna luas; saya menjelajahi tempat-tempat dengan keindahan luar biasa–saya sering kali kesulitan mendeskripsikan detail keindahannya–yang dipagari oleh gunung-gunung mahatinggi menjulang menusuk langit, yang acap kali untuk memasuki kawasannya, saya harus meminta izin pada penjaga bersenjata. Saya pikir saya telah banyak menyaksikan tempat-tempat surgawi sepanjang petualangan dan pendakian gunung-gunung yang telah saya lalui selama ini. Tapi perjalanan ke Karakoram dan Himalaya, memberikan pemahaman baru bagi saya dalam memahami ‘keindahan surga firdaus‘ yang tak saya duga sebelumnya.

*****

Jika kamu berkesempatan mengunjungi India dan waktu kedatanganmu adalah malam hari seperti yang saya lakukan, maka kamu akan menyadari dengan jelas kalau kamu telah sampai ke negara tersebut jika pemandangan dibalik kaca jendela pesawat terlihat sangat semarak oleh lampu. Dengan jumlah penduduk 1,36 milyar penduduk (hanya enam tahun lagi diprediksi akan melampau jumlah populasi negara China), maka sedikit sekali petak tanah di India yang kosong oleh lampu pemukiman. Begitu semarak dan acak, saya pikir saya belum pernah melihat lampu malam hari sesemarak India (atau kota Delhi lebih tepatnya). Jika kota-kota besar Eropa malam hari biasanya menunjukan lampu jalanan dalam pola-pola teratur seperti jejaring laba-laba karena blok-blok perumahan, maka lampu malam hari kota Delhi adalah seperti tumpahan emas dalam cerita kuno yang melibatkan naga-naga; tercurah begitu saja tanpa ada pola jelas. Ketinggian pesawat saya jelas tak setinggi pesawat luar angkasa, tetapi para astronot yang melihat langit malam Delhi memberikan kesaksian serupa; jumlah penduduk yang membludak menciptakan pola lampu semarak begitu luas dan begitu mencolok sehingga menarik perhatian dibandingkan kota-kota lain.

Begitulah, kursi pesawat saya yang sengaja dipilih dekat jendela membuat saya leluasa melihat pemandangan kota Delhi malam hari dari ketinggian. Kesemarakan lampu-lampu kotanya membuat saya membayangkan akan sepadat, sebising, dan semenantang apa kota Delhi. Banyak rumor yang pernah saya dengar tentangnya (kemacetan, kesemrawutan, kepadatan, kemiskinan, dsb) terasa begitu nyata dalam bayang imajinasi saya, padahal saya baru melihat lampu malamnya. Sementara ketinggian pesawat menurun, gambaran dari rumor-rumor tersebut terasa semakin nyata. Jalan-jalan yang nyaris tak berpola karena pemukiman urban yang meledak-ledak, siluet pemukiman padat yang menghasilkan garis-garis jalanan sempit, bahkan saya dapat memastikan kualitas lampu murah di pemukiman padat penduduk membuat satu blok pemukiman miskin menghasilkan cahaya lebih redup dibandingkan lampu-lampu blok pemukiman elit yang silau. Namun, dibandingkan bulan kuartil yang melayang rendah, tak ada lampu di permukaan tanah yang sebanding dalam hal keindahan dan kemagisan. Saya mestinya menikmati keindahan rembulan dan pemandangan lampu Delhi dengan khidmat, tapi seorang penumpang di pinggir kursi saya yang berkebangsaan India, sibuk menggerecoki saya untuk mengambil foto dari pemandangan malam kota Delhi yang spektakuler.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Indira Gandhi International Airport menjelang tengah malam, sementara pesawat lanjutan menuju Sheikh ul-Alam Airport di Srinagar Kashmir yang dipesan baru berangkat keesokan paginya. Malas kena scam dan kondisi kota Delhi di tengah malam yang tak bisa ditebak, rombongan kami memutuskan untuk menghabiskan malam di Terminal 3 Bandara Indira Gandhi. Meski sudah tengah malam, bandara tetap ramai, terlalu ramai malah membuat saya yang berniat untuk beristirahat menjadi tak bisa menjalaninya dengan nyaman. Menu makanan di bandara yang hanya menyediakan menu makanan India yang beraroma rempah dengan warna dan aroma mengintimidasi, membuat saya memilih makan bekal yang dibawa sebelumnya.

20180816_230858.jpg
Mudra, pose tangan yang bersifat sakral dalam agama Hindu dan Budha, menyambut kedatangan penumpang di Terminal 3 Indira Gandhi International Airport

Karena pesawat saya menuju Srinagar berbeda dengan pesawat teman-teman saya lainnya, maka esok paginya saya harus pergi ke Terminal 2 sementara mereka tetap di Terminal 3. Terminal 2 yang ditujukan untuk penerbangan domestik membuat suasana check-in menjadi hiruk pikuk. Banyak calon penumpang yang masih gagap dan memilih jalur manual padahal disediakan banyak mesin cetak check-in otomatis. Petugas bandara yang sebetulnya jumlahnya sudah cukup banyak terlihat kewalahan dan kelelahan padahal jarum jam belum menunjukkan pukul 8 pagi. Untungnya saya sudah check-in daring sehingga hanya tinggal menaruh tas keril bagasi saja. Yang menarik dari warga India adalah mereka begitu terbuka terhadap orang asing. Melihat beberapa orang kebingungan, saya mendadak jadi pemandu untuk menerangkan cara penggunaan mesin check-in otomatis dan cara mencetak tiket. Di satu kesempatan setelah membantu calon penumpang keenam, tanpa sengaja saya menekan tombol bahasa Hindi alih-alih Inggris. Si penumpang bingung menu mana selanjutnya sementara saya tak mengerti abjad Devanagari yang disajikan, pun si penumpang tak bisa berbahasa Inggris. Alhasil saya mencarikan petugas bandara betulan, pamit sekaligus meminta maaf pada calon penumpang yang akan dibantu tadi, lalu kabur secepatnya. Haha.

*****

Rute Delhi-Srinagar adalah rute gemuk dan padat. Meski pesawat saya berangkat hari kerja, tetapi kursi penumpang terisi sepenuhnya. Keuntungan saya yang check-in daring sejak dua hari sebelumnya membuat saya bisa memilih kursi sebelah kanan pesawat dan dekat jendela. Pilihan ini tentu saja sudah saya pertimbangkan matang-matang. Sengaja memilih kursi dekat jendela agar tak terganggu penumpang lain yang hilir mudik ke toilet, dan terutama adalah karena rute Delhi-Srinagar mengarah ke arah barat laut artinya sisi sebelah kanan pesawat langsung menghadap pegunungan Himalaya! Maka sepanjang perjalanan, dibalik kerumunan awan gemawan, kadang saya bisa melihat puncak-puncak gunung es yang tajam dan menusuk langit. Secara refleks, syaraf-syaraf di betis saya menggelenyar membayangkan jika saya akan mendaki salah satu puncaknya, haha.

Perjalanan udaranya sendiri bisa dikatakan cukup menyenangkan. Sayangnya setelah dua puluh menit pertama pesawat mengudara, seorang penumpang di kursi sebelah saya yang tak membawa headphone, memutar siaran rekaman ceramah keagamaan dengan kencang-kencang di ponselnya untuk mengimbangi bisingnya mesin pesawat. Khawatir jika isi rekaman itu adalah pidato video motivasi melakukan tindakan ekstremis, penumpang di belakang kursi saya memanggil pramugari agar meminta si penumpang mengecilkan dan mematikan siaran ceramah di ponsel. Kashmir adalah daerah konflik dimana isu keagamaan dijadikan motif untuk melakukan tindakan anarkistik. Saya yang duduk persis di bangku sebelah si penumpang yang memutar video, mau tak mau sedikit panik khawatir video yang diputar adalah video motivasi melakukan tindakan ekstrem. Haha.

Setelah perjalanan hampir satu jam, akhirnya pesawat saya mendarat di Sheikh ul-Alam Airport. Pesawat saya sampai lebih dulu dari teman-teman saya yang lain dimana saya datang sendirian, dan baru saja saya sadari jika ini bisa menjadi masalah serius. Konflik panas di Kashmir yang sudah dimulai sejak tahun 1947 yang dimulai dari pemisahan India-Pakistan membuat dua negara memperebutkan kawasan Kashmir. Pakistan mengklaim mayoritas penduduk muslim di Kashmir sebagai alasan untuk menggabungkan Kashmir ke dalam wilayah mereka. Sementara India jelas tak mau kehilangan Kashmir yang dengan pemandangan menawan dan tanah suburnya dapat menjadi aset ekonomi penting bagi pariwisata dan ekonomi. 70 tahun berlalu, konflik Kashmir masih terus saja terjadi dan tak ada tanda-tanda mereda.

Dengan alasan di atas, izin memasuki Kashmir menjadi ketat bagi turis. Banyak tempat wisata yang untuk memasukinya membutuhkan visa khusus ‘internal permit‘. Nah, saya turun di bandara Srinagar seorang diri, sementara teman-teman saya baru tiba di penerbangan berikutnya. Begitu keluar dari pengambilan bagasi, muka saya yang asing dan berbeda dari wajah warga lokal, membuat saya langsung dipanggil pihak militer yang berjaga di bandara. Dengan memasang tampang tegar, saya mengikuti arahan petugas militer dimana dia meminta saya mengisi formulir buat turis, yang selain berisi data pribadi juga isian mengenai kontak penginapan yang sudah disewa, nomor kendaraan, nomor kontak agen, dsb. Sialnya, surat-surat izin dan nomor kontak agen wisata yang akan menemani saya selama di Kashmir tidak saya pegang karena dipegang teman saya yang baru mendarat setengah jam lagi. Saya tak menyangka jika akan ada formulir serupa sehingga tak menyalinnya. Saya mengisi data yang kira-kira bisa saya isi dan berusaha menjelaskan situasi saya pada mereka yang tampaknya hanya sedikit difahami karena kemampuan bahasa Inggris mereka tak begitu baik. Dalam kondisi sedikit putus asa dan malas ditahan lama-lama, saya akhirnya nekat mengisi nomor kontak fiktif, asal menulis (untuk penginapan, saya mengisi kata Grand xxxx Hotel, untuk nomor telepon saya meniru pola nomor kontak iklan agen wisata di brosur yang saya temukan di meja hanya nomornya diubah sekenanya, sedangkan untuk alamat saya menulis sekitar nama jalan yang diingat dari tulisan brosur di pesawat, dsb). Dengan senyum lebar yang terasa lebih meyakinkan diri saya sendiri ketimbang kepada para petugas, saya menyerahkan formulir. Akhirnya saya diizinkan keluar bandara. Jangan ditiru. Haha.

Dengan kondisi keamanan yang bergejolak dan stabilitas yang sukar ditebak, opsi backpacker sendiri saya rasa bukan ide bagus jika ingin menjelajahi Kashmir dengan nyaman. Petugas keamanan berjaga tiap 50 meter di sisi kanan jalan membuat turis-turis seperti saya menjadi enggan dan kagok. Untuk hal ini akan saya ceritakan kemudian-kemudian. Mengontak jasa agen adalah pilihan terbaik untuk pengalaman yang lebih nyaman dan jelas. Begitu keluar pintu bandara yang sempit (dari beberapa bandara yang pernah saya kunjungi, pintu keluar Sheikh ul-Alam Airport termasuk yang paling ‘aneh’), saya seperti keluar dari dalam ruko ketimbang sebuah bandara dari kota yang terkenal menyajikan salah satu wisata berpemandangan paling indah di dunia.

Begitu keluar bandara, suara klakson langsung menjejali telinga saya dengan kebisingan yang luar biasa pekak membuat saya kesulitan berkonsentrasi mencari pemandu yang membawa tulisan nama teman saya, yang sebelumnya sudah berjanjian dengan teman saya. Tampang asing dan polos saya yang celingukan sudah pasti menjadi sasaran empuk para calo kendaraan dan agen-agen wisata yang berusaha menawarkan jasanya pada saya, apalagi saya berjalan sendirian. Pura-pura tak mengerti perkataan mereka (gabungan bahasa Inggris buruk dan suara pekak yang membuat pengucapan mereka tak terdengar jelas), saya mengabaikan ajakan mereka sambil menelisik satu per satu tulisan kertas yang semestinya ada nama teman saya di sana. Ketika akhirnya ditemukan, ah, saya nyaris teriak histeris bahagia dan menyapa kencang untuk memperkenalkan nama saya padanya.

Setelah perkenalan yang tak sampai 20 detik (saya tak menangkap jelas nama dia saking bisingnya), saya ditunjukan untuk menepi ke sebuah bangku dan menunggu sementara dia tetap berdiri di gerbang menanti kedatangan teman saya lainnya. Begitu saya menaruh tas panggul, kembali dua orang petugas militer memanggil saya dan menginterogasi tujuan saya berserta nomor kontak agen wisata. Sudah pasti saya telah lupa apa yang saya tulis sebelumnya di dalam bandara, haha. Tak mau kena scam dan masalah berlanjut, saya meminta izin pada mereka sebentar untuk menyeret pemandu wisata kami, haha. Ah, saya bayangkan, bakal betapa susahnya perjalanan wisata di Kashmir seandainya nekat melakukan perjalanan secara mandiri tanpa jasa pemandu wisata, pasti bakal banyak kesukaran yang didapat. Dan saya rasa, memang tak ada turis yang mau ambil resiko seperti itu.

20180817_125450
Pemandangan seperti ini, tentara bersenjata lengkap berdiri siaga di pinggir jalan, adalah hal yang lumrah ditemukan di Srinagar–dan seantero kawasan Kashmir lainnya

*****

Setelah teman-teman saya datang semua, kami segera keluar bandara dengan tujuan penginapan untuk menaruh barang terlebih dahulu. Perjalanan dari bandara sampai penginapan yang hampir 40 menit sangat terasa sekali kesan mengintimidasinya. Setiap jarak 50 meter, militer dengan berdiri tegap membawa bedil laras panjang dalam kondisi siaga. Beberapa berdiri di pinggir jalan di tengah hari yang super terik membuat saya kagum pada kegigihan dan ketaatan mereka menjalankan tugas. Di perempatan jalan dimana ada pos patroli, bahkan tak jarang para tentara itu dalam kondisi siaga mau menembak. Tentu saja ini membuat kami bertanya-tanya apakah kondisi Kashmir tetap kondusif untuk dikunjungi para turis? Sejujurnya saat kami memesan tiket dan memilih Kashmir sebagai salah satu tujuan wisata, kami tak sempat memikirkan perkembangan konflik di sana, yang ternyata masih tetap serius dan rawan.

Penginapan kami selama dua malam di Srinagar adalah tidur di rumah terapung (boat house) yang ada di danau Dal Lake. Berada di tengah danau, akses menuju penginapan adalah harus menaiki perahu terapung mirip gondola yang disebut shikara. Beberapa shikara yang digunakan untuk tur dihiasi bebungaan dan tirai-tirai berkelambu, sementara untuk angkut barang ke penginapan, cukup perahu lapuk yang kadang saya khawatirkan akan karam. Haha. Untung saja jarak ke rumah apung yang menjadi penginapan tak sampai 50 meter sehingga jika tenggelam masih bisa dijangkau dengan berenang (kedalaman danau Dal Lake sendiri rerata hanya 2-3 meter saja).

Setelah menyusun barang ke kamar masing-masing, kami makan siang (dengan menu yang akan menjadi menu harian saya berhari-hari berikutnya: dal, masala, dan nasi briyani). Karena saya tak mengonsumsi ayam, saya harus puas makan nasi briyani, dal, dan (untungnya disediakan) wortel mentah serta mentimun. Waktu makan siang sepertinya sudah terlewat cukup lama karena kami makan dengan lahap. Ketika akhirnya supir dan merangkap pemandu menjemput kami untuk mulai jalan-jalan, kami segera menyiapkan cemilan dan bekal air minuman. Tujuan pertama kami adalah Pari Mahal atau diterjemahkan secara bebas sebagai Hunian Bidadari. Kejutan pertama saya tentang pariwisata Kashmir dimulai dalam perjalanan menuju sana.

DSCF9532
Penjaga penginapan menjemput kami untuk menyebrangi danau ke seberang, rumah-rumah apung yang dijadikan penginapan sesungguhnya adalah perahu besar yang dihias dan dimodifikasi agar mirip dengan kondisi penginapan hotel sederhana dan ditambatkan dengan cara dipasangi tiang-tiang penyangga ke dasar danau

*****

Terletak di lereng pegunungan Zabarwan (anak pegunungan Himalaya), jalan menuju Pari Mahal adalah melewati jalan berlekuk-lekuk mengitari lereng. Jalan menuju Pari Mahal sebetulnya melewati banyak taman-taman lain. Kawasan Srinagar terkenal oleh taman-taman peninggalan Kerajaan Mughal abad ke-17 yang pernah menguasai India. Taman-taman ini meniru desain taman-taman dinasti Islam (yang mewarisi tradisi taman Persia) dengan desain khas; taman-taman ini dibangun secara simetris dengan garis pembagi aliran sungai kecil, berundak-undak sehingga terbagi dalam beberapa tingkatan, dan terutama memiliki benteng/tembok pelindung. Desain ini merupakan konsep ‘paradise‘ yang saya kemukakan di awal mula tulisan ini. Di Srinagar, setidaknya ada 6 taman peninggalan kerajaan Mughal yakni Pari Mahal (Hunian Bidadari), Nishat Bagh (Taman Sukacita), Shalimar Bagh (Taman Elok, ada beberapa nama taman serupa di kota lain India seperti Lahore, Ghaziabad, dan Delhi), Achabal Bagh (Taman Putri-putri Raja), Chashme Shahi (Taman Mata Air Raja), dan Verinag (Taman Mata Air). Perjalanan saya menuju Pari Mahal setidaknya melewati tiga taman lain yang disebut terakhir.

Melewati hutan pegunungan, jalan menuju Pari Mahal adalah jalanan yang sepi, namun diawasi dengan banyak sekali penjaga. Kawasan hutan yang rawan dijadikan tempat pesembunyian gerilyawan, membuat jalanan dijaga tak kalah ketatnya dengan jalanan perkotaan. Sering kali para penjaga yang berkulit legam dan berseragam hijau, membaur dengan warna dedaunan hutan. Saya yang kadang celingak-celinguk mencari kehadiran mereka, dikagetkan karena tetiba ada di pinggir jalan berdiri mengawasi mobil kami. Haha. Di salah satu titik jalan, mobil kami diberhentikan, penumpang diinstruksikan turun dari mobil melewati pos penjagaan. Saya membayangkan pasti para turis akan kesulitan memaknai hal ini jika tidak menggunakan jasa pemandu, karena para tentara memberikan instruksi dalam bahasa lokal yang hanya difahami pemandu yang merangkap supir kami. Saya berjalan sekitar 20 meter melewati pos penjagaan, berusaha memberikan senyum terbaik dan sapaan pada penjaga yang ditanggapi dingin oleh mereka. Karena kami hanya membawa botol air minum dan passport saja, kami diizikan melanjutkan perjalanan.

Ketika sampai ke tempat parkir Pari Mahal, timbul keraguan sejenak. Lokasinya dikelilingi hutan, bagian dinding menutupi pandangan ada apa di baliknya, tempat parkirnya sempit sekali hanya menampung tak lebih dari 5 mobil membuat saya ragu apakah ini betulan tempat wisata, sementara penjaga militer depan pintu memegang laras senjata menimbulkan kekhawatiran kuat jika kami sebetulnya bukan menuju taman wisata tapi tempat persembunyian pemberontak. Tak ada papan nama besar selain papan kecil penuh tulisan. Hanya ruang penjualan loket sempit dan gelap yang meyakinkan saya bahwa memang tempat yang saya kunjungi betulan tempat wisata. Setelah membeli tiket seharga 20-an rupee, kami diizinkan masuk ke lewat pintu berpenjaga, dan apa yang ada di dalamnya membuat saya benar-benar terkesan.

IMG_7186.JPG
Pintu masuk Pari Mahal yang sekilas tak meyakinkan, sebetulnya menyiapkan kejutan indah di balik temboknya. Penjaga bersenjata, tetap siaga berdiri di depan pintu masuk

Meski diniatkan sebagai taman, Pari Mahal sebetulnya mirip reruntuhan kastil yang dibangun di tengah gunung dengan taman-taman luas berjenjang sebanyak 6 tingkatan. Meski udara sangat terik, tak menghalangi antusiasme saya dan teman-teman untuk berfoto-foto dan menikmati panorama yang disajikan. Lokasinya yang ada di ketinggian membuat pemandangan bebas menghampar jauh ke bawah. Saya dapat melihat danau Dal Lake yang luas jauh di bawah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi menjulang. Pari Mahal yang berupa taman berdinding, serta kota Srinagar yang berupa lembah dipagari gunung-gunung curam menjulang, adalah definisi sempurna dari makna kata ‘firdaus’.

DSCF9463.JPG
Pari Mahal di bagian dalam terlihat seperti reruntuhan kastil. Pegunungan Zabarwan tampak megah di belakang

*****

Setelah puas berfoto-foto di bawah terik yang sepertinya tak ada habisnya, kami memutuskan menyudahi kunjungan ke Pari Mahal dan menuju tempat wisata lain. Saat si pemandu memberitahu kami jika tujuan kami berikutnya adalah taman mughal lain, timbul keraguan apakah kami akan masuk karena hanya akan menemukan tempat serupa Pari Mahal. Hawa panas membuat kami enggan berpanas-panas ria. Namun karena waktu yang kami miliki memang masih longgar dan si pemandu menjanjikan jika taman yang kami kunjungi akan lebih besar dan lebih menarik, maka kami pun turun dari mobil dan masuk ke taman Nishat Bagh.

Berbeda dengan Pari Mahal yang ada di tengah gunung, Nishat Bagh terletak tepat di pinggir danau Dal Lake. Karena lebih dekat pemukiman, Nishat Bagh jauh lebih ramai didatangi pengunjung. Di Pari Mahal saya hanya menjumpai 6-8 rombongan saja, sementara di Nishat Bagh tiap teras taman yang penuh dengan bunga semarak warna-warni dipenuhi ratusan turis-turis yang semuanya diisi turis-turis lokal. Hanya satu-dua orang saja yang terlihat berwajah asing (kaukasian).

DSCF9461
Dari puncak Pari Mahal, danau Dal Lake tampak seperti mangkuk yang dikelilingi pegunungan

Berbentuk persegi panjang dengan luas sampai 19 hektar, Nishat Bagh adalah taman mughal kedua terluas di Srinagar setelah Shalimar. Bentuknya tipikal taman mughal lain, ada kanal, kolam, dan air mancur membelah taman secara simetris. Ada 12 tingkatan taman yang melambangkan zodiak, perjalanan dari tingkat 1 ke 12 membentang sampai setengah kilometer. Dari tiap tingkatan, Danau Dal Lake terlihat membuat saya berfikir jika ini adalah taman terindah yang pernah saya kunjungi. Taman-taman di Inggris mungkin memiliki arsitektur lanskap dan monumen lebih terawat, tapi dibandingkan Nishat Bagh yang luas, penuh bunga, dan menawarkan pemandangan danau dan gunung sekaligus, Nishat Bagh jelas lebih unggul.

Sementara teman-teman saya yang lain hanya berjalan sampai tingkat ke 4 atau 5 saja, dengan semangat bertualang dan mungkin sekali seumur hidup, saya berjalan terus ke atas sampai tingkat ke-12. Ternyata di tingkat 12 saya menemukan kolam renang terbuka dimana banyak anak-anak berenang. Hawa gerah membuat saya tergoda untuk ikutan berenang juga, tapi mengingat tak bawa baju ganti dan saya menenteng gawai takut diambil, saya memuaskan diri dengan melepas sepatu dan merendam kaki saja. Air yang langsung muncul dari pegunungan Zabarwan, terasa menggigit karena bercampur lelehan salju sekaligus terasa menyembuhkan kaki saya yang kelelahan dengan kesejukannya.

Lima belas menit kemudian saya kembali turun dan beristirahat di taman tingkat ke-7. Sambil duduk di bangku batu bawah pohon dengan angin semilir dan melihat pemandangan danau Dal Lake, setelah minum dan memakan cemilan energy bar, saya mengeluarkan buku The Goldfinch karya Donna Tart. Pembacaan buku saya mungkin baru bertambah 2 halaman ketika terdengar seseorang berteriak, “Hey, you!” berkali-kali yang membuat saya terganggu dan mencari sosok dari mana asal suara itu keluar. Setelah celingukan beberapa detik, tahulah saya bahwa orang yang berteriak tadi ternyata turis lokal yang sedang menikmati taman Nishat Bagh beserta keluarganya, dan ucapannya ditujukan kepada saya.

Bisa bahasa Inggris?’, yang setelah saya jawab iya dia memperkenalkan namanya. Dia meminta maaf karena telah mengganggu aktivitas saya dan bilang kalau dia ingin berbincang-bincang dengan saya. Awalnya saya curiga jika dia adalah scammer yang mencoba mengelabui turis asing (wajah saya jelas terlihat berbeda dengan tampang penduduk Kashmir lokal yang sekilas campuran etnis Arab-Eropa). Sebelum dia mengajak bicara lebih lanjut saya memotong pembicaraannya cepat, ‘Apakah tiga orang di bawah pohon itu keluarga kamu?‘ sambil saya menunjuk sepasang orang tua dan perempuan dewasa. Ketika dia mengatakan iya, saya geser sedikit duduk saya untuk memberikannya tempat duduk dan menawarkan snack yang ia tolak dengan halus. Tak mungkin seorang scammer mau menipu turis depan keluarganya, kan? Apalagi kondisi orang tuanya sudah sepuh tak mungkin dia nekat bertindak tak baik dengan resiko menyakiti perasaan orang tuanya.

Pria yang saya tebak usianya sekitar 24-25 tahunan itu (tentu saja tebakan saya betul adanya, haha), ternyata turis dari kota Jammu (saya juga berhasil menebak asal kota dia), sekitar 300 km di sebelah barat daya Srinagar. Nama resmi provinsi Kashmir memang Jammu & Kashmir (kode plat nomor kendaraan di sana diawali JK), gabungan dari wilayah Jammu yang mayoritas berpenduduk Hindu dan Kashmir yang mayoritas berpenduduk Muslim. Wajah si A ini (sebut saja namanya begitu) entah mengapa terasa tak asing, mengingatkan saya pada wajah aktor-aktor film Bolywood yang saya tak tahu siapa namanya. Dari ceritanya, diketahui jika dia berlibur dengan kedua orang tua dan kakak perempuannya (saya kira sebelumnya jika perempuan tersebut adalah istrinya, haha. Satu-satunya tebakan saya yang salah tentang si A) selama dua hari di Kashmir untuk menghibur ayahnya yang baru sembuh dari sakit (si ayah tampak membawa tongkat dan harus berjalan dengan didampingi istri atau anak perempuannya).

Kamu dulu kuliah di teknik ya?‘ celetukkan saya yang membuat wajahnya berkerut karena kaget sampai-sampai dia mengucapkan berkali-kali ‘kok kamu tahu?‘ yang saya jawab dengan cengiran jahil ‘anggap saja saya detektif, hehe‘. Tak puas dengan jawaban sekenanya itu, dia terus memohon-mohon sehingga akhirnya saya ceritakan asumsi saya. Saya adalah pembaca rutin majalah The Economist dan Time. Dalam salah satu artikelnya disebutkan jika India adalah negeri padat karya. Generasi mudanya di bawah usia 35 tahun adalah 65% total penduduk (atau lebih dari 800 juta warga!). Jika sepertiganya dianggap usia lulus sekolah, artinya hampir 300 juta warga (lebih dari total penduduk Indonesia) berusia 20-35 tahun yang memperebutkan lapangan pekerjaan! India sebagai negara berkembang dengan perkembangan infrastruktur yang tak akan pernah habis (program kampanye para politikus India selalu menjadikan infrastruktur sebagai agenda utama), membuat kebutuhan teknisi (engineer) begitu besar. Setiap tahun ada hampir 2 juta engineer baru diluluskan, namun tentu saja angka penyerapan para teknisi baru ini tak sebanding karena bagaimanapun India bukan negeri kaya. Dalam salah satu laporan, jumlah lulusan insinyur baru yang terserap tenaga kerja hanya kurang dari 10%. ‘Jadi kamu bisa menebak jika saya adalah bagian dari 90% lebih itu?‘ tanyanya dengan malu-malu, saya perhatikan jika telinganya lebih merah dari sebelumnya. Ditodong begitu, saya hanya senyum kikuk dan mengangkat bahu. ‘Kamu punya pikiran yang tajam, Mr Detektif‘ ujarnya dengan senyum kaku malu sambil mengalihkan pandangan ke arah kali di tengah taman. ‘Kamu tahu, saya suka dikeluhkan oleh teman-teman saya karena dianggap memiliki lidah tajam, ahaha‘, kelakar saya yang berusaha menetralkan kekikukan yang terjadi beberapa saat lalu.

DSCF9507.JPG
Pegunungan Zabarwan dilihat dari taman Nishat Bagh, taman yang semarak dengan bunga-bunga berwarna cerah

*****

Ketika suasana sedikit mencair, dia ingin membalas dendam dengan berusaha menebak identitas saya. Mulai dari kebangsaan, usia, pekerjaan, dan hal-hal pribadi lainnya yang tentu saja dia tebak salah semua. Haha. Dia menyangka saya adalah turis Tiongkok dan pelajar SMA atau baru masuk kuliah. Oh, saya selalu memanfaatkan celah untuk mengolok-olok si A yang tebakannya salah ini, dengan cara kelakar tentu saja sampai ia tertawa terbahak-bahak dan dilihat oleh pengunjung lain. Berbicara dengan orang baru biasanya saya tak menampilkan sisi kelakar gelap saya dan memilih topik-topik umum, tapi dengan si A ini yang pembawaannya terbuka membuat saya bisa berbicara bebas dengannya bahkan untuk topik-topik yang dirasa sensitif, seperti tentang status pekerjaannya tadi.

Awal pembicaraan kami tentu saja yang awalnya standar (pengenalan diri, tujuan wisata masing-masing, meminta rekomendasi tempat wisata dan kuliner) berlanjut dengan merembet ke topik politik dan agama. Kawasan Jammu dan Kashmir meski satu provinsi, tapi tak pernah akur satu sama lain. Ibukota provinsi ini berpindah-pindah, musim panas di Srinagar (Kashmir), musim dingin di Jammu (Jammu). Jammu yang secara agama mayoritas Hindu terasa ‘lebih dimanja’ dari negara induk India, terbukti dengan lebih banyaknya fasilitas pendidikan (kampus-kampus di Jammu lebih mentereng), jalan-jalan, dan terutama stabilitas keamanan. Akibatnya Jammu lebih makmur (di Srinagar saya sulit sekali mencari tulisan papan nama seperti PT/perusahaan terbuka, atau apapun yang menandakan adanya aktivitas ekonomi bebas). Bangunan tinggi lebih dari 5 lantai pun nyaris tak ada. Ketika saya mengkonfrontasikan ini dengan si A yang berasal dari Jammu (dan beragama Hindu), si A sedikit kewalahan dengan cecaran pertanyaan saya, haha.

Si A menyampaikan ucapan duka cita atas gempa yang terjadi di Indonesia–hal yang kemudian cukup mengejutkan saya karena di lain hari dan waktu, orang-orang yang mengobrol saya dan tahu saya berkewarganegaraan Indonesia, juga mengucapkan duka serupa. Saya juga mengucapkan duka cita padanya karena banjir besar di Kerala juga merenggut nyawa ratusan orang. Dari sini obrolan berlanjut dengan saling membanding-bandingkan kehebatan negara masing-masing, haha. Saya tentu saja bisa ‘mengunggulinya’ karena saya tahu lebih banyak fakta tentang India ketimbang dia tahu fakta tentang negara Indonesia. Si A sampai histeris ketika saya memberitahunya jika jumlah pulau di Indonesia berjumlah 18 ribu buah, dia tak percaya ada negara yang bisa memiliki pulau sebanyak itu.

Saat seorang Kashmiri (sebutan untuk penduduk Kashmir) melintas dan tak sengaja menyenggol saya, si kashmiri itu tersebut hanya mengangguk dan berlalu. Si A menjelaskan jika si kashmiri itu tak bisa berbahasa Inggris dan mewakilkan permintaan maafnya kepada saya. ‘Maafkan mereka Mr Detektif, pendidikan di Kashmir emang buruk, banyak yang tak bisa berbahasa Inggris sehingga seperti yang menubruk kamu barusan, tak berani meminta maaf karena tak bisa berbahasa Inggris‘ yang secara halus saya sindir balik, ‘tentu saja pendidikan di Kashmir tak bagus, karena ini kawasan konflik, pemerintah India juga saya lihat sangat represif dan paranoid. Banyaknya angkatan bersenjata yang mengawasi serta pembatasan aktivitas penduduk, bikin kesempatan banyak penduduk Kashmir terbatasi‘ ujar saya dengan nada senetral mungkin yang si A hanya balas singkat, ‘kamu benar!‘ Saat membicarakan perilaku dan sistem sosial warga Kashmir, si A berkali-kali bilang, ‘Jangan terlalu percaya warga Kashmir‘ yang saya jawab dengan mata berbinar-binar sejenaka mungkin, ‘Kalau warga Jammu, apakah saya harus mempercayai mereka juga?‘. Kami berdua terkekeh dan si A yang semakin merah telinganya berujar, ‘Kamu memang punya lidah tajam, ya? Haha.’

Beberapa kali ponsel si A berdering saat kami berbincang-bincang, namun si A mengabaikannya. Sepertinya keluarganya meminta dia kembali. Ketika saya meminta si A mengangkat ponselnya, dia malah menggeleng dan tak mau mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan dugaan saya ternyata benar, tak lama kemudian kakak perempuannya yang mirip model karena cantik dan semampai, menghampiri kami. Dari bahasa Inggrisnya yang fasih dengan grammar yang tak banyak salah, sudah pasti si kakaknya juga kalangan terpelajar dan berjiwa kritis. Setelah berbasa-basi memperkenalkan diri, bertiga kami berdiskusi mengenai sejarah Jammu dan Kashmir. Si kakak terbelalak ketika saya bisa menyebutkan nama lima raja pertama dari dinasti Mughal (Babur-Humayun-Jahangir-Shah Jahan-Aurangzeb) yang pernah menguasai J&K dan membangun taman Nishat Bagh. ‘Wow, si A saja gak hafal nama-nama rajanya dinasti Mughal‘ sambil mencibir adiknya itu yang membuatnya tersipu-sipu malu. Setelah si kakak memperingatkan si A agar siap-siap pulang karena sudah sore dia meminta izin kembali ke orang tuanya. Si A malah merengut dan meminta saya tak usah menghiraukan mereka dan melanjutkan diskusi kami yang terjeda.

Diskusi makin ngelantur kemana-mana sampai-sampai entah bagaimana, secara tak sadar saya malah menjelaskan tentang agama Zoroaster* kepada si A, haha. Dan saya kaget ketika mengecek jam tangan dan menyadari jika saya sudah melantur dengan si A hampir sejam lebih. Pantas kakaknya sampai menyusul. Dan itu artinya… saya telah meninggalkan teman-teman saya cukup lama juga. Haha. Dugaan saya terbukti benar, dari kejauhan dua orang teman saya berjalan sedang celingukan mencari saya karena harus melanjutkan perjalanan. Tadinya kunjungan ke Nishat Bagh hanya diniatkan setengah jam saja. Saya buru-buru menjelaskan situasi saya pada si A kalau saya harus melanjutkan perjalanan dan teman saya sudah datang menyusul mencari saya (jika tidak demikian, saya dan si A akan terus mengobrol sampai malam sepertinya). Si A meminta saya untuk berfoto selfi dengannya (yang pastinya akan saya tolak jika dengan orang asing lain), tapi akan jadi tak sopan terutama setelah mengobrol lama. Kami berfoto dua kali, dan si A bersikukuh meninggalkan alamat akun media sosial Facebook-nya agar saya menghubunginya kembali jika saya sudah mendapatkan sinyal WiFi atau saat kembali pulang dari India.

Saya sadar jika saya akan diomeli oleh teman saya karena menghilang dan tak kembali ke mobil di parkiran, jadi saya ajak si A untuk berkenalan dengan mereka. Pembawaan si A yang ceria dan terbuka menulari dua teman saya sehingga tak jadi mengomeli saya. Tapi tak demikian dengan teman-teman saya yang lain yang sudah mengunggu di mobil. Saya dicemooh, diteriaki, dan diomeli hingga saya hanya bisa berkata ‘Ampun! Ampun!’ beberapa kali. Haha. Mereka juga menyalahkan saya karena telah membuat hampir menangis si supir yang juga merangkap pemandu karena saya yang tak kunjung pulang, dikhawatirkan hilang diculik pemberontak. Haha.

20180817_164912.jpg
Di tingkat ke 7 inilah saya bertemu si A yang menyapa saya saat membaca buku The Goldfinch. Kesimetrisan Nishat Bagh terlihat jelas di sini, dimana sebuah kanal yang berisi air mancur membelah Nishat Bagh, danau Dal Lake terletak di ujung belakang

*****

Keluar dari Nishat Bagh, si pemandu menawarkan apakah kami akan melanjutkan perjalanan ke Shalimar Bagh, yang secara kompak ditolak karena selain tipe tamannya mirip dengan Nishat Bagh juga kami sudah kelelahan. Mampir sebentar ke toko oleh-oleh (kami tak terlalu antusias karena merasa baru hari pertama, masih ada belasan hari ke depan untuk beli oleh-oleh), kami pulang ke penginapan rumah apung di Dal Lake. Senja sudah turun saat kami sampai di sana.

Beristirahat sebentar dan mengisi air minum di botol yang kosong, kami lalu melanjutkan petualangan hari itu dengan naik perahu shikara keliling danau Dal Lake. Karena menginap di rumah apung, kami mendapat tur gratis keliling danau selama satu jam. Sepanjang perjalanan dengan shikara, banyak perahu yang menghampiri kami yang ternyata pedagang asongan, entah untuk menawari teh chai (teh campur susu khas India), roti manis mirip waffle, ornamen perhiasan, kain-kain, atau malah makanan berat seperti nasi briyani, dan kain-kain shawl pashmina.

DSCF9572
Pedagang buah-buahan di Dal Lake, satu diantara sekian banyak pedagang lain yang aktif mendatangi rumah-rumah penginapan untuk menawarkan barang dagangannya

Jika kita memasukkan kata kunci ‘danau terindah di dunia’, nama Dal Lake akan muncul, dengan gambar-gambar perahu shikara di tengah permukaan air tenang dengan latar pegunungan Zabarwan berbalut salju di latar belakang. Sayangnya saya berkeliling Dal Lake saat sudah gelap dan musim panas telah merontokkan salju-salju di mahkota Zabarwan sehingga keindahan danau yang dijuluki Permata-nya Srinagar ini kurang terlihat. Shikara kami merapat di Taman Nehru, pulau kecil di tengah danau yang disulap menjadi taman-taman yang mestinya indah tapi karena gelap jadi tak terlihat banyak keindahannya, haha.

Saat saya kembali naik shikara untuk melanjutkan keliling Dal Lake, terdengar seseorang memanggil nama saya yang membuat saya kaget. Siapa orang yang memanggil-manggil nama saya dari tengah kegelapan danau? Ejekan terdengar kencang dari teman-teman saya ketika saya menyadari jika yang meneriakkan nama saya berulang-ulang adalah si A yang saya temui di Nishat Bagh! Ya ampun, bagaimana dia bisa mengenali saya dari tengah kegelapan danau sementara saya sendiri tak bisa melihat dia? Akhirnya, saya membalas sapaan dia dengan teriakan juga karena jarak shikara kami memang jauh. Begitulah, sampai jarak perahu kami semakin menjauh dan membelok, saya dan si A saling teriak. Haha. Sudah pasti saya akan diejek-ejek oleh rekan-rekan saya terkait dengan perkenalan saya dengan si A tadi yang sedikit aneh–berkenalan sebentar tapi langsung diskusi heboh merembet kemana-mana. Sampai perahu saya kembali ke rumah apung peginapan kami, ejekan tersebut tak pernah usai.

DSCF9554.JPG
Perahu shikara di danau Dal Lake yang sedang membawa turis keliling danau

Yang mengejutkan saya adalah Dal Lake ternyata lebih luas daripada yang saya kira. Di Dal Lake banyak perkebunan terapung (rad). Rad adalah lahan gambut yang mengikat tanah dan rerumputan menjadikannya mengapung di atas danau dan dijadikan penduduk sebagai lahan untuk menanam sayuran. Di tepian rad, banyak sekali toko-toko (floating market) yang menjajakan makanan, pakaian, kain-kain, dan oleh-oleh khas Kashmir. Perjalanan saya di musim panas yang seharusnya menjadikannya sebagai musim turis, tapi saya melihat banyak toko di floating market yang tak dikunjungi pembeli.

Konflik Kashmir yang tak usai sudah pasti membuat turis (terutama turis asing) enggan mengunjungi Kashmir. Ini berimbas pada sepinya kunjungan turis ke Dal Lake. Saking sepinya, para pedagang harus ‘menjemput bola’, bukannya turis yang mengunjungi floating market, tapi mereka yang datang ke penginapan boat house untuk menawarkan barang dagangan. Para pedagang begitu sering masuknya ke penginapan kadang membuat kami kehabisan energi untuk menolaknya. Jika ada teman saya yang berujar ‘maaf Pak, kami mau jalan-jalan dulu’, maka begitu kami pulangnya, si pedagang sudah sedia menunggu yang mau tak mau membuat teman saya tak tega dan akhirnya membeli item termurah dari dagangannya.

DSCF9575.JPG
Petang di Dal Lake. Rumah-rumah apung mulai menyalakan lampunya, sementara langit senja merekah di belakangnya

*****

Konsep firdaus yang memiliki makna ‘taman berdinding’ sangat pas disematkan bagi wilayah Kashmir. Banyak taman-taman berdinding peninggalan dinasti Mughal, juga lanskap kawasan Kashmir yang berlembah-lembah subur dengan dinding gunung-gunung tinggi menjadikan Kahsmir seolah taman raksasa berdinding pagar gunung Himalaya. Kashmir ditinjau dari alamnya adalah bentuk dari sekeping surga di dunia. Tapi sebagaimana konsep surga-neraka yang bertalian erat, keindahan surgawi Kashmir menjadi kutukan juga bagi warganya. Wilayah ini menjadi perebutan Pakistan dan India yang tak pernah usai bahkan hingga saat ini. Keamanan yang tak stabil menjadikan ekonominya mandek. Sektor pariwisata yang diharapkan menjadi penyelamat, menjadi terhambat karena turis-turis asing menjadi segan untuk datang ke Kashmir.

Kesempatan ekonomi yang tak banyak membuat kesan ‘miskin’ tercium jelas. Kondisi perumahan, pertokoan, pasar, dan kegiatan perekonomian riil terasa tertinggal jauh bahkan jika dibandingkan dengan kota-kota kecil di Jawa. Hal yang paling sering saya jumpai adalah tatapan putus asa para pedagang agar kami para turis membeli belanjaan mereka karena mungkin seharian sebelumnya tak ada pembeli lain. Lebih banyak jumlah pedagang ketimbang jumlah turisnya sendiri. Ini menciptakan siklus yang ‘membahayakan’, warga semakin ingin menuntut kebebasan ekonomi dan otonomi, kegiatan anarkistik dan separatis semakin kencang, sikap pemerintah semakin represif untuk menekan aksi separatis, siklus kembali berulang. Perekonomian semakin terhambat dan menderita.

DSCF9592.JPG
Salah satu toko di Floating Market, kondisi sepi seperti ini membuat para penjaga toko menghabiskan waktunya dengan mengobrol dengan pedagang toko sebelahnya

Obrolan saya dengan si A semakin membuka mata jika kondisi Kashmir memang sudah dalam tahap kronis. Meski awalnya si A merasa sungkan, tapi akhirnya dia berani mengatakan jika minimal otonomi khusus harus diberikan. ‘Hey, A, saya akui Kashmir sangat indah. Sangat indah. Padahal ini baru hari pertama saya datang ke Kashmir, tapi saya bisa merasakan panggilan-panggilan dari alam untuk memamerkan keindahannya. Dan orang-orangnya, campuran genetika unik menjadikan mereka termasuk orang-orang yang paling menarik fisiknya di dunia. Tapi sayangnya senyum terasa menghilang dari wajah-wajahnya. Dari berbagai tempat yang pernah saya datangi, Kashmir adalah salah satu kawasan yang paling banyak warganya memasang tampang ‘serius’.’ Si A hanya tertawa-tawa saat saya mengatakan hal ini padanya.

Tapi memang begitulah yang saya rasakan. Saya kadang ikut bahagia jika melihat warga di sana sedang tertawa, secercah cahaya di tengah kemuraman. Melihat warga di sana tertawa adalah semacam epifani saking langkanya. Dalam buku The Goldfinch, saya menemukan kutipan kalimat ini yang terasa sekali kebenarannya di Kashmir; I had the epiphany that laughter was light, and light was laughter, and that this was the secret of the universe.

 

(bersambung)

 

Catatan Tambahan:

*      = Agama Zoroaster, sebagaimana yang diketahui, adalah agama tua yang telah ada sejak dua milenium sebelum masehi dan mendapatkan namanya karena nabi pembawanya bernama Zarathursta. Hidup pada masa yang bisa dikatakan sezaman dengan Abraham, Zarathursta menyebarkan ajarannya di Iran dan menjadi agama terpenting pada era kerajaan kuno Persia. Invasi Alexander the Great menyebabkan banyak penghancuran pada teks-teks Zoroaster di abad ketiga sebelum masehi, namun akhirnya kembali populer di abad ketiga masehi dengan berdirinya kerajaan Sasanian. Invasi kerajaan Muslim di abad ke-7 menyebabkan ajaran Zoroaster mengalami pukulan hebat dan berdampak hingga sekarang. Aktivitas keagamaan pemeluk Zoroaster dibatasi di banyak daerah di Timur Tengah. Ritual ibadah mereka yang memuja api (simbol kemurnian, keberkahan, pencerahan, dan penerangan) dianggap sebagai pemujaan berhala dan menduakan Tuhan bagi pemeluk monotheistik. Padahal sesungguhnya Zoroaster adalah ajarah monotheistik. Tuhan dalam ajaran mereka, Ahura Mazda, adalah Yang Satu. Di usia 30 tahun–usia yang sama dalam bibel dimana Jesus memulai dakwahnya–Zarathursta sejak awal punya misi untuk melawan ajaran politheistik yag merebak di Persia kuno. Suka atau tidak, ajaran Ahura Mazda banyak mempengaruhi agama-agama populer setelahnya seperti Yahudi, Kristen, dan Islam. Konsep Tuhan baik yang memerangi kejahatan, kehadiran juru selamat, dan adanya hari pembalasan pasca kematian adalah sebagian kecil dari konsep kegamaan yang diawali oleh Zoroaster dan mewarnai keagamaan agama-agama Timur Tengah lain sesudahnya.

Di usianya yang hampir empat ribu tahun, ajarah Zoroaster jelas mengalami banyak kemunduran dalam hal jumlah penganut. Persekusi dari pemerintah represif, diskriminasi dari sistem sosial, dan mencari pengharapan di tanah baru, membuat penganut Zoroaster di tanah kelahirannya Iran, berkurang drastis dan semakin menyusut dari tahun ke tahun. Ada lebih banyak penganut Zoroaster di Amerika dan India ketimbang di Iran sendiri. Dengan aturan ketat yang membatasi para penganut Zoroaster membaur dengan penganut agama lain, menjadikan ajaran Zoroaster semakin menciut dan terisolasi.

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

5 thoughts on “Karakoram-Himalaya Mountains [bag.1]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s