Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 1]

Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies
I sit, and meanwhile back

The BeatlesPenny Lane

Seperti halnya Varanasi bagi umat Hindu, atau Jerusalem bagi umat Yahudi/Kristen/Islam, saya juga punya ‘kota suci’ versi saya sendiri. Kesempatan untuk mengunjunginya telah menjadi semacam ziarah singkat yang sudah lama saya idam-idamkan. Sebuah pelawatan yang akan menyentuh salah satu kelokan dari kenangan, mimpi, hasrat, cita-cita, imajinasi, obsesi, bahkan pemujaan. Ritual harian saya yang senantiasa memutar lagu-lagu lawas di pagi hari entah untuk menemani saya membaca buku atau mengerjakan tugas-tugas harian, sudah pasti memasukan lagu-lagu The Beatles di dalam daftar putarnya. Bahkan The Beatles menjadi satu diantara dua artis yang semua lagu-lagunya dari segala album yang pernah mereka keluarkan ada dalam daftar musik yang saya putar di ponsel. Ya, kamu bisa menebak kemana semua ini akan bermuara. Saya akan melakukan ziarah suci ke kota Liverpool, Inggris, tempat lahirnya dua kenangan dan obsesi masa kecil yang terus bertahan hingga hari ini; band fenomenal The Beatles dan klub sepakbola Liverpool Football Club. Dan tentu saja, bagi seorang penggila jalan kaki di alam bebas seperti saya, juga sekalian termasuk trekking di taman nasional tertua di Inggris, Peak District National Park.

*****

Saat kuliah di Bandung, di Rabu malam dimana saya biasanya sedang menyiapkan jurnal praktikum Kimia untuk esok harinya atau mengerjakan tugas-tugas kuliah lain atau malah sekadar beristirahat dari kehidupan penat kampus dengan membaca novel-novel picisan dan buku-buku tentang konspirasi, saya mendengarkan siaran sebuah stasiun radio di Bandung yang selalu memutarkan program lagu-lagu The Beatles sepanjang malam tersebut. Ketika hati saya sedang berbunga-bunga, saya biasanya mengirim pesan ke penyiar radio untuk meminta diputarkan lagu If I Fell dan juga mengabari seseorang agar mendengarkan lagu tersebut beserta pesan kepada siapa lagu tersebut dipersembahkan. Haha. Di masa-masa paling gombal, biasanya saya dan dia saling berlomba-lomba meminta diputarkan lagu-lagu semacam All My Loving, Something, Two of Us, dan tentu saja salah satu lagu paling kasmaran, I Want To Hold Your Hand. Atau di masa-masa paling gundah gulana karena hal sepele seperti saat dia pergi keluar kota, saya meminta diputarkan lagu Here There and Everywhere yang biasanya dia balas dengan meminta diputarkan lagu P.S. I Love You kepada si penyiar meski dia tak sedang mendengarkan siaran radionya karena tak di dalam kota. Norak dan tentu saja kuno untuk mengekspresikan perasaan di zaman dimana seharusnya kami menunjukannya dengan memasang status-status keintiman di media sosial, tapi toh kami tak peduli. Haha, kita semua pernah muda, kan?

Sementara itu, di hari-hari lainnya, saya yang membentuk geng Four Quartets dengan si Q-A-Z biasanya melakukan pengamatan hujan meteor* dengan cara mendatangi puncak-puncak bukit di sekitar Observatorium Boscha di Lembang. Sambil menunggu hujan meteor Lyrid atau Perseid turun, dalam kondisi hawa Lembang yang dingin menggigit di malam buta, kami keluar tenda dan berbaring di dalam sleeping bag berjejer menghadap langit malam, seperti kepompong laron yang mencari secercah cahaya di dasar kegelapan langit malam. Lagu Across the Universe tentu saja yang paling sering diputar berkali-kali sambil menemani kami bergosip dan menunggu hujan meteor tiba. Lagu-lagu The Beatles tentang persahabatan seperti lagu With a Little Help from My Friends, In Spite of All Danger, atau We Can Work It Out, dan tentu saja In My Life juga diputar. Di bawah naungan kubah gelap langit malam diiringi lagu-lagu manis The Beatles, kami berempat berbaring bersama untuk takjub dengan semarak kembang api meteor dan kerlipan bintang-bintang di langit, tersedot dalam kepekatan langit malam Bandung dengan segala misteri dan pesonanya. Segala omong kosong tentang mimpi-mimpi kami untuk mengubah dunia, segala bualan tentang khayalan kami untuk menaklukkan ambisi-ambisi yang liar dan tak akan kesampaian, serta segudang keluhan dan curhatan yang tak jarang mengeluarkan rahasia-rahasia terapat dan terdalam diri kami masing-masing, semuanya mengalir dan menderas berbaur dengan ratusan doa yang keluar bersama alunan musik The Beatles dan curahan hujan meteor.

Ah… rasanya sudah lama sekali masa-masa manis itu berlalu, tetapi setiap mendengar salah satu lagu The Beatles di atas terputar baik dari pemutar musik di ponsel atau latar sebuah film yang sedang disaksikan atau di kedai kopi langganan, tanpa ampun saya selalu terlempar ke masa-masa menyenangkan tersebut. Tentu saja kenangan saya pada musik-musik The Beatles bermula jauh sekali selain dari dua momen-momen di atas. Nanti, kalau ingat, pasti saya ceritakan tentang asal-usul kegandrungan saya pada musik-musik lama itu, haha. Tetapi untuk di tulisan ini, saya tuliskan dua dulu saja. Kalau tidak, nanti cerita ziarah saya ke Liverpool semakin tertunda-tunda, hehe.

*****

Jadi bisa kalian bayangkan, betapa gugupnya saya bahkan sejak malam menjelang kepergian ke Liverpool. Bahkan di hari keberangkatan, saya yang berangkat menggunakan bus dari Victoria Coach Station di London, saking gugup dan excited-nya sampai-sampai kehilangan selera untuk sarapan. Saya hanya bisa menggelengkan kepala saat teman saya membeli dan menawarkan cinnamon roll serta chocolate chip cookie, malah melirik tiada henti jadwal keberangkatan takut tertinggal bus, haha. ‘Dasar bocah!‘ begitu gerutuan teman saya yang mendapati saya dalam kondisi serupa dalam waktu cukup lama. Sebetulnya saya suka mengalami sindrom antusias gugup sebelum berangkat berpergian, bahkan sekedar berpergian naik gunung yang sudah 3x sebelumnya didatangi. Haha. Begitu tahu besok saya saya akan pergi ke luar kota, pasti sukar tidur malamnya padahal cuma perjalanan 2 jam saja. Saya sendiri sudah kebal dengan gerutuan ‘Dasar bocah!‘ ini. Haha. Begitulah, pagi hari di stasiun bus London itu, saya baru mulai merasa santai begitu jadwal bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Petugas yang merangkap kondektur menyebut jumlah tiket kami sambil menunjuk-nunjuk kami, dimana dia menyebutkan jumlah tiket kami ternyata kurang. Saya yang masih dalam kondisi terlalu excited tadi sedikit panik dan meminta si petugas untuk menghitung ulang tiket namun si petugas masih bersikukuh dengan jumlah tiket yang masih kurang. Sebelum saya berteriak mendesak, saya melihat kilatan mata jenaka di mata si kondektur, dan seketika saya nyaris meledak dalam tawa sekaligus ingin melemparkan cinnamon roll ke muka dia. Ternyata si kondektur sedang mengerjai kami. Sial! Dia bahkan masih cekikikan penuh kemenangan saat saya menaruh tas di bagasi bawah bus. Muka saya yang terlihat gugup dan excited memang jadi sasaran empuk untuk dijahili. Haha.

Setelah saya akhirnya bisa duduk dengan aman dan nyaman di kursi, saya masih saja geli memikirkan betapa konyolnya saya karena begitu mudah dijahili si kondektur. Dia juga menjahili para penumpang lain. Saya dan para penumpang lain tak kuasa menahan tawa sepanjang perjalanan karena dia terus membuat lelucon tentang seorang penumpang yang bertampang ras asia selatan yang tidur dalam posisi canggung. Tenang saja, leluconnya tak rasis kok, meski memang sedikit slapstik. Tapi baik si penumpang yang dijahili itu maupun penumpang lain sama-sama terhibur, saya mulai santai dengan semangat untuk segera sampai ke Liverpool semakin menggebu-gebu.

Selama 4 jam lebih di dalam bus, sudah bisa ditebak jika saya tak bisa tidur di bus, padahal malam sebelumnya saya tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Liverpool, haha. Kombinasi antara resah karena ingin segera sampai ke Liverpool atau karena kebiasaan saya yang memang sukar tertidur nyenyak dalam kendaraan, membuat perjalanan antara London dan Liverpool diisi dengan membaca buku (saya baca 2 buku sekaligus) dan lebih banyak lagi lamunan**, haha.

*****

Saya sampai di Liverpool saat sudah tengah hari, di satu hari musim panas yang luar biasa cerah. Nyaris tak ada awan, namun lokasi Liverpool yang berada di tepi lautan membuatnya selalu dihembusi angin Atlantik yang segar. Saya nyaris bisa merasakan dan melihat sinar matahari menari-nari dan loncat-loncat di lengan saya saking cerahnya hari itu. Udara garam laut membaur dengan aroma gosong aspal yang terpanggang menciptakan sensasi unik yang menggelitik indera penciuman saya. Tanpa perlu menunggu waktu lebih lama, saya segera menitipkan tas pakaian ke penginapan (jam check-in masih dua jam lagi, yang tentu saja membuat saya menolak menghabiskan waktu dua jam untuk sekedar menunggu). Setelah makan siang (di sebuah restoran Chinese di pusat kota), kami langsung menuju ke salah satu jantung wisata Liverpool.

Albert Dock di muara kanal Sungai Mersey memiliki banyak sekali bangunan tua yang terawat baik. Meski berupa bangunan dermaga di tepi laut, berbeda dengan dermaga-dermaga di Indonesia, Albert Dock jauh dari kesan kumuh. Kanal-kanal lebar serta bangunan batu bata dan baja yang kokoh menjulang (tak ada satupun kayu yang digunakan) membuat Albert Dock terlihat gagah bahkan layak disebut kolosal. Pelataran alun-alunnya cukup luas menjadikan Albert Dock tak hanya menjadi pusat atraksi wisata bagi turis tetapi juga pusat hiburan warga sekitar. Ada banyak wahana-wahana seperti komidi putar dan bianglala dipasang untuk menghibur warga lokal terutama anak-anak. Oya, di pelataran Albert Dock terdapat lajur kereta pendek (panjang treknya tak sampai 50 meter) karena sedang lawatan tahunan dari Palmerston, lokomotif bersejarah yang menjadi tulang punggung rintisan kereta api di daerah Wales selama hampir dua abad belakang. Lokomotif tersebut menarik tiga gerbong kecil yang bisa dinaiki gratis dan bergerak maju mundur sepanjang dua puluhan meter. Tentu saja yang naik mayoritas (kalau tak dikatakan semua) adalah anak-anak yang antri cukup lama untuk bisa naik.

20170507_155920
Kawasan Albert Dock yang diisi kapal-kapal uap lama, bangunan-bangunan tua merangkap aneka museum-museum, dan wahana bianglala sebagai kompromi antara bangunan bersejarah dan wahana permainan modern

Memanfaatkan tampang Asia kami yang tampak kekanak-kanakan di mata orang Eropa, maka saya dan teman-teman saya ikut mengantri agar bisa menaiki kereta tersebut. Maka terjadilah–meski sebetulnya sensasinya sama seperti naik odong-odong–saya dan beberapa teman saya menjadi satu-satunya orang dewasa yang bukan orang tua pendamping yang menaiki kereta tersebut. Durasi naiknya tak sampai 3 menit, maju mundur dua kali sepanjang jalur rel pendek. Supaya menambah keseruan dan ketegangan, saya membayangkannya seperti sedang naik Hogwarts Express yang melewati jalur-jalur jurang yang dikelilingi banyak dementor. Rasa norak dan suka cita masih bersatu padu setelah saya turun dari kereta dan membuat saya bertanya-tanya apakah kami harus naik lagi untuk kali kedua? Ketika antrian sedikit pendek, tentu saja kami naik untuk yang kali kedua… Haha.

*****

Kawasan Albert Dock merupakan sebuah kawasan wisata terpadu tempat beberapa wahana dan museum-museum yang bisa sekalian dikunjungi. Ada beberapa museum di sana termasuk salah satu tujuan terbesar saya datang ke Liverpool yakni The Beatles Story yang ada di sisi tengah Albert Dock. Sayangnya saya baru membeli tiketnya keesokan harinya karena memesan via daring (lebih murah) sehingga tak bisa mengunjunginya hari itu. Namun ada beberapa museum gratis di Albert Dock yang bisa dipilih langsung di tempat. Saat itu saya memilih museum Tate Liverpool, museum tempat memajang karya dan instalasi seni modern terbesar di Inggris selain Tate London. Dan selalu saja, setiap saya masuk ke dalam museum seni modern, saya selalu merasa ‘tersesat’, haha.

Di groundfloor, langsung dipajang lukisan-lukisan aliran minimalism yang akan mengundang cemoohan bagi orang-orang yang tak mengikuti perkembangan seni lukis modern. Lukisan-lukisan karya Yves Klein, Ellsworth Kelly, Kenneth Noland, atau Frank Stella yang gambar-gambarnya begitu ‘sederhana’ dipajang di sebuah galeri lapang. Kadang pikiran jahil saya tergoda sekali untuk berujar ‘kayaknya saya bisa bikin lukisan macam ini 10 buah sehari‘ karena lukisan-lukisannya benar-benar berupa coret-coretan tanpa bentuk yang tak bisa dikenali polanya, atau hanya berupa garis-garis lurus yang membentuk pola ubin warna-warni dan benda-benda dua dimensi yang disusun-susun seperti permainan tangram. Saya benar-benar tertegun beberapa saat ketika melewati sebuah lukisan raksasa dengan dimensi panjang-lebar hampir dua meter dilukis hanya berupa warna merah saja tanpa ada pola atau garis lain sama sekali. Oh, itulah lukisan Broadway (1958) karya Ellsworth Kelly yang kesohor itu. Setidaknya, untuk lukisan Vir Heroicus Sublimis saya masih melihat garis atau gradasi, tapi dengan Broadway yang polos, mau tak mau saya tergoda untuk berbuat iseng. Saya kirim foto WA dari lukisan tersebut ke teman saya dan meminta dia menafsirkan apa makna lukisan tersebut. Karena tahu saya di Liverpool, dia menebak jika lukisan raksasa tersebut bermakna kartu merah pada pertandingan sepakbola… Haha.

Broadway 1958 by Ellsworth Kelly 1923-2015
Kamu pasti berujar jika kamu juga bisa dengan mudah membuat lukisan ‘sederhana’ seperti ini, kan? Broadway karya E. Kelly dibalik tampilan semenjananya sebetulnya menyimpan tafsir rumit. Warna merah terangnya adalah sebuah tantangan–atau apapun yang ingin kamu tafsirkan tentangnya (sumber gambar)

Selama hampir dua jam (atau lebih, saya tak merasa cukup melihat-lihat), saya menjelajahi karya-karya seni di Tate yang dipasang di 4 lantai bangungan tersebut, yang dipisahkan menurut genre dan bentuknya. Di lantai-lantai atas ada bagian visual room tempat memutar film-film ‘aneh’. Karena beberapa film itu justru ‘saya-banget’, saya menyempatkan untuk menonton beberapa film pendek di sana. Beberapa film yang harus disebut adalah film Whose Utopia? (2006) karya Cao Fei yang benar-benar provokatif. Selama hampir 20 menit, Fei menyorot para buruh di pabrik lampu Osram di Foshan, China dalam adegan-adegan yang penuh kegagapan, awkward, polos, gugup, bingung, dan segala emosi untuk menampilkan pesan besar dan maharaksasa tentang isu-isu kapitalisme, kemiskinan, globalisasi, neo-liberalisme, lingkungan, bahkan ‘rasa kemanusiaan’ yang diberangus oleh otomasi robot dan mesin-mesin. Begitu padat dan lengkapnya tema yang dieksplorasi dalam film yang hanya berdurasi kurang dari 20 menit, membuat saya bertepuk tangan sesaat ending credit keluar.

Sebetulnya masih banyak karya seni modern yang ingin saya bahas, haha. Mengunjungi museum-museum seni modern seperti itu bagi saya merupakan sebuah selingan menyenangkan. Setelah saya mengenal dan keranjingan film-film art-house, saya memang menjadi gampang terpesona pada berbagai benda seni baik yang rumit dan absurd maupun yang minimalis dan polos. Saya yang kadang dianggap ‘terlalu saintis dan teoretis‘ menemukan semacam sudut pandang berbeda untuk melihat jiwa, emosi, lingkungan, dan semesta tidak hanya dari sudut pandang sains yang tegas dan gamblang, juga dari sudut pandang seni yang lebih lentur dan tersirat.

*****

Saya terbangun jam 2 pagi dini hari dalam kondisi lapar. Makan malam sebelumnya yang dilakukan di tempat makan yang sedikit ‘fancy‘ ternyata tak membuat perut kenyang lama, haha. Berbekal minuman sereal cokelat instan dan berharap restoran di lantai satu penginapan buka, saya turun ke restoran tersebut setidaknya untuk mencari air panas sementara teman saya masih terlelap tidur. Meski jam 2 dini hari, suasana restoran masih ramai terutama orang-orang yang baru pulang dari pesta-pesta minum namun kehilangan tenaga dan mencari kudapan malam. Saya memutuskan membeli roti sandwich dan duduk membelakangi televisi yang menyiarkan acara drama. Seorang pengunjung berkewarganegaan Belanda duduk di hadapan saya sambil memegang sandwich dan sekaleng bir. Tadinya saya tak berniat basa-basi dan mengobrol tetapi saat orang Belanda itu memperkenalkan diri dan mengajak bincang-bincang mau tak mau saya turut serta.

Ledakan big-bang bermula dari pipi sebelah kanannya menciptakan bintang-bintang freckles (bintik -bintik di wajah) yang menjalar melintasi pangkal hidung dan, anehnya secara tak simetris, menyurut di pipi sebelah kiri si orang Belanda itu. Saya sedang mencari apakah ada pola konstelasi rasi Orion di pipi kirinya ketika si orang Belanda tetiba menanyakan sekilas jadwal itinerary saya di Liverpool yang membuat saya tergagap sesaat takut dia memergoki saya sedang mengamati secara detail pola-pola freckles di wajahnya. Hehe. Kami berbincang lumayan lama (artinya lebih dari 10 menit) sampai saya menghabiskan sisa sandwich dan minuman sereal. Sebelum saya beranjak pergi kembali ke kamar, si orang Belanda mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya untuk memamerkan kepada saya potret seorang perempuan, yang dengan senyum bangga berhasil dia rebut hatinya dari sebuah klub malam saat di London. Lalu dia meminta pendapat saya apakah perempuan di foto tersebut ‘hot‘, saya nyaris malu untuk menjawabnya dan harus mengerjapkan mata beberapa kali sebelum memberikan jawaban. Selera dan definisi ‘menarik’ tiap orang berbeda sih. Tapi entah lah, bagi saya penampilan perempuan di foto tersebut yang terlihat urakan karena berbaju minim dengan model rambut yang diniatkan mirip Harley Quinn di film Justice League tapi versi murah, tak berhasil menggugah saya. Saya cuma mengatakan ‘Cool!‘ meski dengan nada tak meyakinkan tetapi menambah anggukan beberapa kali untuk memberi efek setuju dengan pendapatnya. Semoga dia tak mencurigai ‘keterpaksaan’ saya, haha. Maka setelah dirasa cukup kenyang, saya pamit padanya dan kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur malam yang terjeda.

*****

Setelah sarapan, kami sedikit berargumen tujuan mana yang akan ditempuh terlebih dahulu. Karena museum The Beatles Story belum dibuka, kami memutuskan dahulu pergi ke Anfield Stadium, rumah keramat bagi klub sepakbola Liverpool FC. Meski antusiasme sepakbola saya sedikit menurun di tahun-tahun belakangan ini (terutama karena jadwal pertandingan yang tak bersahabat di tengah malam dan juga karena setelah membaca berbagai sisi lain olahraga yag tak sportif seperti skandal-skandal termasuk tindak kriminal yang terlibat di dalam dunia sepakbola), LFC masih merupakan salah satu klub favorit saya. Jika ada pertandingan besar, saya menonton siarannya (atau kalau pun gagal, saya menonton siaran ulang highlights-nya). LFC termasuk relik kenangan masa bocah saya yang sering memajang poster klub bola ini dan Juventus di kamar (selain poster Kamer Rider dan Power Ranger). Sayangnya prestasi LFC yang semakin terpuruk dan jadi bulan-bulanan dalam satu dekade terakhir memang  membuat saya sedikit ogah-ogahan menontonnya (apalagi berani secara terbuka mengaku menyukainya, siap-siap kena cemoohan fans tim lawan, haha).

Bola mata saya sedikit berkeringat terharu begitu bus kota menepi di gerbang Anfield. Ada suatu gejolak yang tertimbun lama sejak masa bocah, meletup-letup ketika akhirnya saya bisa memegang pintu gerbang Anfield. Saya pikir letupan emosional itu tak akan berlanjut lebih lama, namun kenyataannya malah meledak menjadi beberapa tetes keringat dari bola mata ketika akhirnya menyaksikan sendiri patung Bill Shankly di gerbang masuk stadium. Selama berkarir sebagai pelatih selama hampir lebih dari 15 tahun di Liverpool, Shankly termasuk yang awal-awal membawa Liverpool ke puncak kejayaan dan kemasyhuran. Inskripsi di bawah patung yang bertulisan “He made the people happy” benar-benar sebuah pujian sederhana namun mengena terhadap anugerah kehadirannya di LFC. Rombongan turis dari Jepang bahkan sampai sesenggukan menangis dan melakukan saikeirei (membungkukan badan sebagai bentuk penghormatan tertinggi) di depan patungnya, membuat saya ikutan terenyuh. Meski masa jabatannya di LFC jauh sebelum saya lahir, tetapi saya juga berbisik mengucapkan terima kasih di depan patungnya.

20170508_102426
Patung Bill Shankly di depan Anfield yang tak pernah kehabisan karangan bunga. Kenangan, kebanggaan, dan kejayaan semuanya melarut dalam warna merah terang yang membawa percikan-percikan gelora yang hanya bisa difahami oleh mereka yang memiliki agama kedua bernama ‘sepakbola’

Saya memang tak berniat mengikuti tur Anfield berbayar sih (fans macam apa itu, haha) karena pertimbangan jadwal tur yang tak sesuai dengan jadwal itinerary saya lain di Liverpool. Tetapi sekedar berjalan keliling stadium, menaiki tangga-tangga stadium, duduk-duduk di bangku dan tangga kosong dengan lompatan khayalan dan kenangan berlarian di lapangan rumput hijau, sudah cukup bagi saya. Namun tentu saja saya masih menyempatkan masuk ke toko merchandise. Dan entah mengapa begitu masuk serasa menemukan banyak ‘benda lucu-lucu yang bagus untuk dipajang‘. Huft.

Di dinding Anfield, terpasang tulisan besar, ‘Anfield: Where Greatness Happens‘. Ketika saya memasang foto saya berpose di bawah tulisannya di media sosial saya, beberapa orang berhati dengki menulis komentar, ‘happened‘. Sial. Haha.

*****

Saya keliling Anfield sekitar 1 jam lebih, lalu melanjutkan keliling kota Liverpool sebelum nantinya kembali ke kawasan Albert Dock di mana museum The Beatles Story berada. Tiket yang dipesan untuk TBS baru dimulai jam 1 siang, masih punya cukup waktu untuk keliling kota Liverpool. Di salah satu rute bus, saya menjumpai seorang supir yang begitu ramah menjelaskan rute-rute tempat atraksi kota terbaik. Ketika nantinya saya sampai kembali ke terminal bus dan berjumpa lagi dengannya, dia meminta saya menceritakan kesan-kesan saya mengenai kota kebanggaannya. Oh, dia adalah seorang fans LFC dan juga The Beatles. LFC dan The Beatles menautkan kami berdua dalam nostalgia dan fanatisme meski kami berbeda bangsa dan usia. Dari dia lah saya diberi petunjuk menuju jalan Penny Lane yang begitu saya sampai di sana, saya benar-benar menyenandungkan lagu The Beatles yang judulnya sama dengan nama jalan tersebut. Lirik-lirik lagu The Beatles yang kaledioskopis benar-benar mengurai dalam kenangan dan pemandangan keseharian yang bersahaja namun menciptakan efek déjà vu yang begitu kuat.

Kami makan siang di sebuah restoran kaum hippies yang menyajikan menu vegetarian dengan minuman yang eksotik dari berbagai ekstrak bebungaan (saya memesan minuman ekstrak bunga pimrose). Setiap menu yang disajikan diklaim tanpa bahan kimia buatan, saya selalu terkejut begitu mencicipi rasanya yang terasa aneh namun lembut dan enak di lidah. Para pelayannya menggunakan celana cutbray ala tahun 60-an. Bahkan di bawah restoran terdapat toko yang menjual baju-baju yang sering dikenakan peramal di sirkus. Saya sampai penasaran apakah toko semacam ini bisa menguntungkan secara ekonomis atau tidak karena tak yakin ada orang yang tertarik dengan barang-barang yang dijual.

Oya, kebetulan ada teman saya di Indonesia yang gemar kartu tarot. Mumpung ada di toko penyihir, saya menanyakan kepada si penjual apakah dia menjual kartu tarot juga yang dia jawab tidak. Dengan aksen Liverpool English (scouse) yang begitu kental dan sukar ditangkap telinga, dia menyarankan saya mendatangi toko lain. Saya dan teman-teman saya hanya menangkap beberapa kata yang terdengar tak jelas selain ‘nanti lurus lalu belok kanan’ sedangkan kata-kata lain hilang tertelan aksen cepat dan gigi yang bergemulutuk. Mengandalkan peruntungan dan iseng coba-coba, saya meminta teman menemani saya ke toko yang dimaksud. Maka sampailah saya ke toko Quiggins di Grand Central yang aneh dan sebetulnya sedikit menyeramkan. Haha.

Terdiri dari 3 lantai, ketiganya berada di bagian basement sebuah gedung tua, Quiggins merupakan sebuah ‘supermarket’ yang terdiri dari banyak toko-toko yang hampir semuanya menjual barang-barang klenik. Hanya baju-baju dan kaos-kaos band-band underground yang ditulis dengan font yang sukar dibaca saja yang mungkin tak beraroma mistik. Lampu-lampu yang diset remang-remang harus membuat saya jalan hati-hati jika tak mau menubruk display toko atau terjengkang dari tangganya yang sempit dan spiral curam. Dengan ukurannya yang luas serta barang-barang disusun secara acak, rasanya hanya kami saja yang keliling saat itu (siapa yang mau belanja barang-barang aneh begitu setiap hari?). Lebih suram dan lebih gelap daripada kumpulan toko Diagon Alley yang ada di serial Harry Potter. Teman-teman saya ada yang terang-terangan meminta tak jadi masuk melihat suasana pertokoan yang gelap gulita. Saya sedikit penasaran apakah memang suasana pertokoannya sengaja diset remang-remang atau omset yang payah tiap hari tak sanggup membayar sewa listrik, haha.

Akhirnya saya menemukan penjual kartu tarot di toko yang penjualnya seorang wanita paruh baya bertampang India dengan selera humor payah (saya awalnya berniat mengeluarkan lelucon biar enak jika menawar, tapi apapun lelucon yang saya keluarkan selalu ditanggapi dengan sangat serius olehnya). Bahkan saat saya sedang memilih kartu-kartu apa yang dirasa bagus dan unik desainnya, si penjual malah menawari apakah saya mau ikut terlibat dalam sekte gerakan spiritualisme rahasianya. Katanya dia melihat bahwa saya punya potensi dan bakat istimewa nan langka. Saya yang tadinya mau tertawa mendengarnya tak jadi begitu melihat tampang seriusnya sambil terus menerus menatap saya. Saya akhirnya membayar tanpa jadi menawar, dan segera bergegas keluar mengajak teman saya. Quiggins adalah pengalaman belanja teraneh yang pernah saya alami. Haha.

*****

Rombongan kami termasuk yang paling awal sampai ke TBS, hanya lebih beberapa menit dari jadwal museum dibuka. Meski demikian di dalam museum sudah banyak orang-orang yang datang lebih dulu dari kami. Di dalam kami dipinjami headset yang akan memandu kami secara audio berdasarkan bagian-bagian museum yang kami kunjungi. Meski sudah ada panduan audio tersebut, teman saya malah menempel kepada saya selama di museum dengan alasan sebagai seorang Beatlemania, saya bakal menceritakan setiap aspek di dalam museum secara lumayan lengkap juga. Dasar. Selama di Anfield, saya juga merangkap sebagai pemandu tur dadakan karena bersikap sok tahu tentang sejarah LFC, haha.

Lorong galeri di TBS disusun secara kronologis mengikuti perjalanan karir The Beatles. Mulai dari inisiasi awal pembentukan The Quarrymen sebagai band awal-awal yang didirikan John Lennon yang nantinya berevolusi (dan ganti-ganti personel) untuk menjadi The Beatles yang dikenal sekarang, masa-masa awal mereka tampil di bar-bar seperti The Casbah Coffee Club di mana di salah satu malamnya terjadi pertemuan antara Lennon-McCartney yang akan mengubah sejarah dunia selamanya, masa-masa inisiasi dan bongkar pasang personel, peluncuran album-album awal yang penuh kerja keras agar bisa memperoleh perhatian audiens, kesukaran merintis karir di masa-masa awal kesuksesan, hingga tentu saja sampai masa-masa bubarnya band tersebut.

Meski bisa dikatakan saya sudah hafal sebagian besar hal-hal yang disajikan di museum—selama di Liverpool saya menonton 2x film dokumenter The Beatles: Eight Days a Week (2016) karya Ron Howard–namun menyaksikan langsung benda-benda asli yang pernah dikenakan para beatle membuat saya sangat tergugah. Pakaian, barang-barang pribadi, artikel-artikel media, dan benda-benda historis lainnya (sebagian asli sebagian lagi replika) membuat penyaksian secara langsung tersebut menguras emosi saya secara habis-habisan. Akhirnya, saya bisa mendekati benda-benda yang pernah dipakai/didekati langsung oleh musisi idola saya tersebut.

Di salah satu seksi galeri, dipajang artikel dan dokumentasi tentang kesuksesan The Beatles yang tak terbendung telah memicu apa yang disebut sebagai gerakan ‘garage rock‘–musisi muda yang bermimpi untuk menjadi ‘The Next Beatles‘ yang selama ini tampil hanya di bar-bar sempit, berlomba-lomba menggapai mimpi menjadi musisi terkenal, dimana para manajer musik mengidam-idamkan jika mereka dapat menemukan ‘mutiara terpendam dalam lumpur’ lainnya. Beberapa tentu saja ada yang sukses seperti the Rolling Stones, the Kinks, the Yardbirds,  the Hollies, the Animals, Herman’s Hermits, the Searchers, Dave Clark Five, Gerry and the Pacemakers, Freddie and the Dreamers, Petula Clark, Dusty Springfield, Peter & Gordon atau Chad & Jeremy. Meski tentu saja dari beberapa nama tersebut hanya satu dua nama saja yang masih punya fans setia hingga sekarang. Tetapi yang gagal jauh lebih banyak lagi. Menyaksikan galeri wajah-wajah mereka yang tersenyum cerah dengan mata-mata bersinar penuh mimpi, membuat saya terenyuh. Bahkan mungkin pada masa beberapa bulan setelah foto tersebut diambil, banyak diantara band-band tersebut hilang dari peredaran karena kalah oleh kompetisi mengerikan***.

Sementara itu di seksi lain, ada diorama The Cavern Club–klub malam tempat The Beatles awal-awal sering tampil dan meraih popularitas yang kemudian ditutup tahun 1973 karena pembangunan jalur kereta bawah tanah. Replikanya dibangun di TBS dan dibuat dengan dekorasi mendekati seasli mungkin (dan memajang manekin The Beatles yang sedang manggung) menciptakan efek nostalgia dan perjalanan waktu. Saya duduk di salah satu kursi seolah saya sedang menyaksikan The Beatles muda sedang tampil di tahun ’60-an. Seorang kakek bahkan tak malu-malu menangis sesenggukan ketika lagu Please Please Me diputar. Saya dan beberapa turis Amerika cukup memasang tampang haru terbawa suasana. Begitulah, untuk kesekian kalinya, The Beatles menyatukan kami semua yang berbeda generasi dan bangsa dalam suasana rindu yang mengharu dan terseret arus kenangan kejayaan masa lampau.

Ketika saya menyadari jika galeri di TBS disusun secara kronologis, saya semestinya sudah bisa menebak kemana semua pajangan tersebut akan bermuara; galeri TBS yang dimulai dengan ‘kelahiran’ The Beatles akan diakhiri dengan pembubaran band tersebut (dan juga galeri kematian dua orang personelnya). Karenanya saya semestinya harus bisa mengantisipasi jika saya akan mengharu biru di galeri-galeri akhir. Di galeri The White Room (replika sebuah ruangan di rumah John Lennon yang berisi piano putih dan muncul di video musik Imagine), dimana lagu Imagine terputar secara terus menerus dan menampilkan informasi kematian John Lennon yang tragis, benar-benar membobol pertahanan emosional saya. Si kakek yang saya temui di galeri The Cavern Club tiba-tiba ada di samping saya dengan mata yang sudah digenangi air mata. Terpengaruh suasana di ruangan itu dan stimulasi haru si kakek, saya mau tak mau ikutan berlinang air mata juga, haha. Tak lama kemudian si turis Amerika ternyata masuk juga ke galeri tersebut. Melihat kami berdua sudah hampir tenggelam air mata selutut, dia mengumpat ringan ‘Kalian lagi? Sial!‘ sambil tersenyum kecut dan matanya ikutan berkaca-kaca juga. Kalau tak ada pengunjung lain dan tak malu tertangkap kamera CCTV, kami bertiga mungkin sudah berpelukan dan berpegangan tangan saling menguatkan. Haha.

20170508_155320
Replika sebuah ruangan di rumah John Lennon di Tittenhurst Park di Ascot ini menjadi sangat ikonik karena banyak muncul di album dan dokumentasi pribadi John. Ruangan yang kelak disebut “The White Room” ini begitu menguras emosi saya karena kebersahajaannya. Pesan yang ingin disampaikan ruangan ini terus menghantui saya lama setelahnya bahkan hingga sekarang

*****

Sepertinya akan panjang sekali jika saya menceritakan setiap sesi kunjungan saya di tiap galeri yang ada di TBS, haha. Yakinlah, kalian harus mendatangi sendiri tempat istimewa ini. Bahkan teman saya yang tak familiar dengan The Beatles sekalipun mengaku merasa sangat terharu begitu dia keluar TBS, dan berjanji akan mendengar lagu-lagu The Beatles lebih banyak lagi. Begitu mudah untuk jatuh cinta pada band legendaris dan spektakuler ini. Jika diberi kesempatan datang ke Liverpool, mampirlah ke museum TBS. Kalian tak akan menyesalinya.

TBS tak hanya menyajikan adegan-adegan atau pajangan teatrikal semata. Seperti galeri The White Room, hanya ada piano putih dan gitar saja. Namun pesan yang ditampilkan begitu menghujam. Dalam kesederhanaan dan kemurnian, seperti halnya yang dicitrakan dalam lagu Imagine-nya Lennon, pesan-pesan universal seperti betapa pentingnya kebersamaan, kesetaraan, dan kehormatan individu sebagai hal-hal melekat pada setiap manusia yang sering kali dilanggar manusia lain atas nama kerakusan politik, fanatisme agama, gila kuasa ekonomi, dan obsesi-obsesi untuk pemuasan individu dan kelompok seideologi. Tiga puluh tahun lebih lagu ini pertama keluar, pesan-pesan yang ingin disampaikannya semakin mendesak, menggelisahkan, serta kian relevan.

Beatles
Tentu saja, saya tak melewatkan membeli buku tentang The Beatles di toko souvenir TBS. Begitu saya cek beberapa jam berikutnya, sebuah toko daring menjual dengan separuh harga. Sial. Haha.

Bagaimanapun, setelah dibuat terkesan dan ‘jatuh cinta lagi’ dengan The Beatles, seperti halnya museum-museum komersial lainnya, pintu keluar selalu diarahkan ke galeri tempat belanja. Banyak pernak-pernik yang ‘kok kelihatan lucu‘, dan anehnya teman saya yang kurang familiar dengan The Beatles sebelumnya justru yang belanja paling banyak. Haha.

Lagu-lagu The Beatles yang beragam jenis genre musiknya (dari yang pop mendayu-dayu hingga rock metal, dari yang lirik-liriknya roman picisan hingga yang filosofis nan enigmatis, dari yang dimainkan satu alat musik saja hingga yang harus dimainkan oleh puluhan musisi karena ada puluhan instrumen yang mesti dimainkan), membuat sangat mudah sekali untuk familiar dan jatuh cinta dengan band ini. Begitu banyak lagu yang populer, sampai-sampai majalah The Rolling Stone membuat daftar 100 Lagu The Beatles Terbaik yang bahkan banyak yang berpendapat (saya salah satunya) jika daftar 100 lagu terbaik masih kurang dan banyak yang belum masuk (200 atau malah 300?). Saya setidaknya belum menemukan daftar serupa untuk penyanyi/band lain. Satu fakta ini saja sudah cukup untuk menobatkan mereka sebagai band paling populer dan terbesar yang pernah hadir di muka bumi.

Ketimbang saya berpromosi banyak lagi tentang The Beatles, lebih baik dengarkan sendiri lagunya yang saya senandungkan langsung di lokasi yang menjadi judul lagunya. Penny Lane termasuk lagu The Beatles yang dibuat di puncak kejayaan dan kematangan musikalitasnya. Saya pikir tak banyak lagu yang bisa menggambarkan suasana keseharian di sebuah tempat yang tak terlalu istimewa, menjadi begitu ritmis dan melodis seperti lagu ini. Hanya The Beatles yang bisa!

 

(bersambung)

 

Catatan tambahan:

*       = Setidaknya ada lebih dari 20 kejadian hujan meteor yang terjadi secara periodik dalam satu tahun. Sebuah meteor/komet yang mendekat dan masuk dalam orbit bumi akan meninggalkan jejak-jejak ‘debu’ yang saat masuk ke atmosfer bumi menjadi terbakar dan berpijar menciptakan hujan meteor yang banyak. Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor adalah menjelang fajar, saat kondisi malam tergelap dan kamu berbaring untuk melihat seluas mungkin area langit. Mengapa dini hari menjadi waktu terbaik melihat hujan meteor, bukannya tengah malam? Karena bumi berotasi dari arah barat ke timur, langit bagian barat ‘menyongsong’ pecahan meteor-meteor terlebih dahulu dan lebih banyak. Itu artinya, sementara belahan bumi timur baru masuk gelap malam, belahan bumi barat sudah sampai dini hari. Tetapi tentu saja ada beberapa hujan meteor yang mengalami pengecualian seperti Draconid (sesuai namanya terlihat di rasi Draco yang hanya bisa dilihat di belahan bumi utara saja) justru terlihat paling jelas sesaat setelah senja. Hujan meteor paling ‘indah’ karena paling banyak mengeluarkan meteor per jamnya adalah Geminid, sayangnya hujan meteor ini terjadi di Bulan Desember, dimana potensi awan hujan sangat besar menutupi langit Indonesia. Hujan meteor Perseid bisa menjadi penglipur lara karena hujan meteor ini terjadi di sekitar Juli-Agustus yang masuk masa kemarau sehingga relatif bebas awan dan memiliki intensitas meteor hampir sebanyak Geminid.

**       = Kamu pasti pernah mengalami situasi seperti ini; kamu sedang duduk di kursi dekat jendela pesawat dan melihat tumpukan awan gemawan. Tiba-tiba saja kamu seolah mendapat pencerahan karena kamu menjadi sangat filosofis sekali dengan mempertanyakan ‘siapa saya?‘ atau ‘apa tujuan saya hidup?‘. Atau saat duduk dekat jendela kereta dan melihat pedagang kaki lima gerobakan di tepi jalan, kamu segera memikirkan seandainya kamu menjadi presiden apakah kamu bisa mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi semua orang. Di lain waktu, kamu sedang bersandar di jendela bus dan melihat mobil mogok di tepi jalan tol yang segera memicu kamu berpikir muram bagaimana jika seandainya kecelakaan menimpa kamu lalu dilanjutkan dengan memikirkan apa makna cinta, kehilangan, keluarga, dan kepemilikan. Bisa juga saat kamu berdiri di dekat jendela gedung tinggi sambil mengamati macet, kamu mulai mempertanyakan eksistensi kehadiran kamu di dunia dan di tengah semrawut dan semaraknya jalanan kota. Pernah kah kamu bertanya, mengapa saat berada di pinggir jendela kamu tetiba menjadi berfikir lebih serius dan cenderung mempertanyakan hal-hal yang filosofis?

Ada banyak hipotesis yang berusaha menjelaskan fenomena dan perilaku ini. Salah satu penjelasannya adalah pemandangan perspektif ‘helikopter’. Dari kejauhan, kamu melihat sesuatu tak secara spesifik alias seperti helikopter, kamu melihat banyak hal secara lebih menyeluruh dan terpadu. Dengan menghilangnya detail karena ‘blur’ (oleh laju atau jarak objek yang jauh), pemikiran abstrak dan kreativitas terpicu dalam kepala. Maka hal-hal ‘aneh’ menjadi tetiba terpikirkan yang berbeda dengan kondisi sehari-hari, yang biasanya memiliki pemandangan detail dan menuntut banyak konsentrasi.

Berada di tepi sebuah jendela juga membuat perasaan aman dan tenang karena tak terlibat dari kekacauan dunia luar. Kondisi santai tersebut memicu untuk merenung dan memikirkan hal-hal yang tak bisa dipikirkan dalam kondisi penat. Terkungkung dalam ruang tertutup sementara melihat pemandangan luas di luar sudah pasti akan merangsang kita memikirkan banyak hal di luar sana, termasuk aspek filosofisnya. Berada dalam posisi yang relatif sama dalam waktu cukup lama juga membuat kita yang tak memiliki aktivitas pengalih perhatian, menjadikan kita punya banyak waktu luang untuk memikirkan banyak hal yang selama ini tak sempat direnungkan.

Namun, apapun alasannya, kamu pasti semua setuju. Entah karena kamu memang seorang filsuf betulan atau sekedar amatir yang berusaha memahami bagaimana dunia bekerja, mengamati dunia luar dari balik jendela adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi yang kamu tunggu? Mari bertualang–dan menatap dunia dari balik jendela!

***       = Kesuksesan The Beatles telah menyapu apapun semua ikon kultural dan musikal dalam sejarah dunia terutama di era 60-an. Di tahun 1963, mereka pertama kali tampil di AS dan memulai apa yang kelak disebut sebagai “The British Invasion“–sebuah sebutan yang tak berlebihan karena meski masa kolonialisme telah berlalu, musik-musik dari Inggris ini datang dan menyingkirkan musisi lokal dari daftar lagu-lagu terlaris di negeri orang. Orang-orang fundamentalis Amerika bahkan menjuluki mereka sebagai (Fab) Four Horsemen of the Apocalypse–plesetan sebutan yang berasal dari istilah Perjanjian Baru mengenai ramalan kedatangan 4 penunggang kuda yang membawa bencana menjelang kiamat. Meski dianggap ‘merusak moral’ bagi orang-orang berpikiran kolot, nyatanya The Beatles telah menjadi awal baru dari dunia musik yang kita kenal sekarang. Banyak inovasi dan inspirasi yang dilakukan oleh mereka yang tak mungkin bisa dilampaui musisi-musisi setelahnya.

Orang Indonesia mungkin masih ingat jika satu dekade lalu, dunia musik kita dipusingkan oleh demam boyband/girlband yang merajai acara-acara televisi. Pun di tahun 1960-an, menyusul demam The Beatles, ribuan band-band baru terbentuk yang berusaha (setidaknya) menyamai kesuksesan The Beatles. Di kota Liverpool saja, gerakan The Marseybeat (jenis musik yang sejenis dengan genre The Beatles awal) telah melahirkan setidaknya 300 band lokal yang punya mimpi sama. Band Gerry and the Pacemakers atau The Dakotas layak disebut dari 300-an band-band ini yang beberapa lagunya pernah masuk jajaran lagu laris. Namun tentu saja tak semua pengekor ini bisa bertahan sukses. Hanya yang bisa mempertahankan originalitas musikalisasi dan konsisten menghasilkan karya bermutu saja yang bertahan dan tetap tenar sampai sekarang. The Rolling Stones, The Who, The Yearbirds (yang menjadi cikal bakal Led Zeppelin), the Kinks, The Animals, dan The Donovan adalah beberapa nama yang mampu bergeming dan menciptakan fanbase fanatik sendiri yang bertahan hingga sekarang. Sisanya tergerus dan menghilang tergilas dalam perputaran roda kejam industri hiburan yang penuh persaingan bahkan pengkhianatan.

 

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

4 thoughts on “Peak District National Park, Derbyshire, Inggris [bag. 1]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s