Gunung Sumbing, Maret 2018

“If you are pitched into misery, remember that your days on this earth are counted and you might as well make the best of those you have left.”
Yann Martel, Beatrice and Virgil

Dalam setiap pendakian gunung, selain pemandangan indah atau keheningan hutan, kamu juga mendapatkan pengamatan paling “vulgar” dari sifat-sifat manusia. Dalam kondisi tertekan, kelelahan, dan kepayahan serta kondisi medan pendakian yang berat atau hujan lebat yang membuat tak nyaman, kamu bisa melihat sisi lain dari kawan-kawan sependakian kamu yang selama ini tak kamu lihat. Seseorang yang suka mengeluarkan lelucon konyol, bisa jadi seorang pembentak pada kondisi tertekan tersebut. Seseorang yang sebelumnya dianggap ramah malah bisa menjadi seorang pemaki. Pada pendakian Gunung Sumbing, saya menjumpai hal tersebut di rombongan lain yang nyaris akan saling berkelahi antara sesama anggota rombongan karena seorang anggota mereka (yang bersikap sok pemimpin) tetiba menjadi bersikap sok tahu, suka menyuruh, gemar membentak, serta mengumpat dengan kata-kata yang begitu kasar nan kotor sehingga membuat saya mencari korek kapas untuk membersihkan telinga saya dari aneka kata-kata kotor yang terlanjur masuk. Untungnya teman-teman rombongan pendakian saya adalah orang-orang asyik sehingga saat melihat cekcok rombongan lain membuat saya begitu banyak bersyukur. Pendakian bukanlah sekedar upaya untuk melihat pemandangan belaka, tetapi juga upaya untuk mengamati sifat-sifat dasar manusia, dari yang terbaik hingga yang terburuk.

*****

Dalam 3 bulan terakhir, saya memang sengaja punya keinginan untuk menggenapkan pendakian Triple S, sebutan untuk 3 gunung-gunung tertinggi di Jawa Tengah yang semua namanya berawalan huruf “S”; Gunung Sindoro di bulan Januari, Gunung Slamet di bulan Februari, dan di bulan Maret saya mendaki Gunung Sumbing. Meski bukan sebuah prestasi gemilang yang patut dibanggakan, tetapi bagi saya mendaki tiga gunung tinggi yang masing-masing di atas 3000 meter dan dilakukan secara beruntun menjadi sebuah rasa syukur sendiri yang tak ternilai. Apalagi saat dilakukan di musim penghujan yang meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan, saya dan teman-teman saya bisa selamat dan sehat dalam menempuh ketiganya.

Tentu saja tak semuanya berjalan mulus. Kena hujan di jalan atau kesulitan mendirikan tenda yang memadai menjadi sebagian dari ‘duka’ yang kami alami. Tapi hal-hal sederhana seperti bisa menghirup udara segar hutan, atau bercengkerama dengan kawan pendakian tentang sendal jepit putus, sudah cukup menghibur kami dan memberikan imbalan yang tak ternilai. Bagi yang belum sempat merasakan pendakian, mungkin tak bisa memahami sepenuhnya kenikmatan makan cokelat yang rasanya menjadi berlipat ganda manis dan lezatnya saat dicicipi di sela-sela pendakian yang melelahkan, atau betapa nikmatnya sepotong kerupuk yang dilahap ditemani mie rebus di dalam tenda sambil menertawakan kekonyolan kawan, dan tentu saja menyesap minuman kemenangan yang tak ada duanya.

Dari pengalaman mendaki Gunung Sindoro dan Gunung Slamet yang dilakukan menjelang akhir pekan dimana jalan raya yang begitu padat (bahkan di jalan tolnya sendiri mobil kami berhenti sama sekali karena macet yang begitu parah), maka untuk pendakian ke Gunung Sumbing rombongan kami harus menyusun strategi lain agar tak mengalami macet di jalan yang menguras waktu. Sempat terpikir untuk menaiki pesawat lalu dilanjutkan ke moda transportasi darat menuju basecamp, tetapi harga tiket menjelang akhir pekan yang terus merambat naik membuat rombongan saya ragu-ragu memesan tiket. Naik bus meski menghemat energi di jalan macet karena tak perlu membawa kendaraan sendiri, tetapi jelas menguras waktu juga. Kelak ketika kami sudah sampai di puncak gunung dan bertanya kepada kawan-kawan pendakian lain dari area Jabodetabek yang naik bus umum, mereka menjawab bahwa mereka naik bus Jabodetabek-Wonosobo dalam durasi sampai 16 jam karena terjebak macet. Ugh.

Untungnya kemujuran sedang berpihak pada kami. Ketika kami sedang mempertimbangkan pilihan-pilihan transportasi di tiga hari sebelum hari keberangkatan, tetiba kawan saya mengabari jika ada kereta api tambahan ke Jawa Tengah untuk mengantisipasi membludaknya penumpang di musim liburan. Pembukaan penjualan tiket yang dimulai jam 10 pagi, langsung habis di jam 4 sore, untungnya rombongan kami sudah mengamankan tiket tersebut. Karena tiket yang tersedia hanya untuk jadwal pemberangkatan malam, saya tak punya pilihan dan tak berharap akan ada pengalaman nostalgia menarik seperti pemberangkatan kereta siang hari ke Yogyakarya saat akan mendaki Gunung Merbabu.

*****

Dari Stasiun Kutoarjo, kami menumpang kendaraan pengangkut sayur ke pasar yang menuju arah kota Wonosobo. Kami sampai stasiun pada jam 3 dini hari sehingga kendaraan umum masih sangat sedikit, yang beroperasi hanya mobil-mobil yang akan menuju pasar. Maka sudah bisa ditebak, di dalam mobil kami berdempet-dempetan dengan karung-karung hasil pertanian dan keranjang sayur-sayuran. Saya tak kuasa menahan tawa ketika muka teman saya terdesak dan terjejali dedaunan sayur ketika dalam kondisi tersesak, sang kondektur masih memaksakan masuk penumpang lebih banyak sehingga ibu-ibu yang berdiri di depan teman saya tak punya pilihan lain selain menutup muka teman saya dengan timbunan sayur-sayuran, haha.

Meski di sepanjang jalan kereta pemandangan gelap sehingga tak banyak yang bisa dilihat (toh juga karena malam saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur), tetapi saat naik mobil-mobil pengangkut orang ke pasar itu, entah mengapa perasaan saya begitu mudah tergugah oleh hal-hal kecil dan sederhana.

Dalam kondisi gelap sempurna dini hari, diselingi angin gunung lamat-lamat yang menggigit dingin dan menyelusup di antara celah jendela mobil terbawa deru laju kendaraan, saya menyaksikan ada begitu banyak terang semangat yang terbakar. Petani-petani sayur yang harus bangun sepagi mungkin agar bisa sampai ke pasar untuk menjual hasil tani, ibu-ibu yang rela meninggalkan selimut hangat di rumah agar bisa mendapatkan bahan masakan terbaik buat keluarga, supir-supir yang harus menahan kantuk agar bisa menghantarkan para penumpangnya yang punya misi-misi mulia berjuang demi keluarga tercinta. Ketika kendaraan melintasi kawasan-kawasan pasar, kota-kota kecil yang sudah bangun dari malam dan cahaya fajar masih lena, dari kejauhan saya sudah terpapar semangat hebat yang menggelegak, orang-orang yang harus meninggalkan banyak kenyamanan untuk berjuang dengan cara-cara baik dan halal bagi orang-orang tercinta. Mungkin penghasilan yang didapat tak seberapa dibandingkan dengan mereka yang masih bisa tidur nyaman karena jadwal kerja kantoran, tapi saya tak pernah menyaksikan semangat yang begitu melimpah dan meruap sebanyak di pasar-pasar dini hari di kota-kota kecil. Dengan segala keterbatasan kesempatannya, ada begitu banyak mimpi-mimpi dan harapan yang yang berkelindan, mengambang, dan berpijar di mata, hati, serta udara sekitar. Saya merasa terenyuh. Saya merasa nyaman.

*****

Setelah sampai basecamp Garung di kaki Sumbing, rombongan kecil kami segera berbenah-benah dengan merapikan kembali isi tas keril sambil melengkapi bekal yang dirasa kurang seperti air minum (tak ada mata air di sepanjang jalur pendakian) atau bekal makanan ringan dan cemilan. Tanpa membuang waktu lebih lama, kami segera menyewa ojek untuk langsung menuju pos 1 menggunakan motor trail dengan harapan akan menghemat waktu perjalanan sampai satu setengah jam. Rute basecamp – Pos 1 memang cukup jauh, melewati aneka perkebunan sayur warga. Namun perjalanannya ojeknya sendiri sedikit ‘mengerikan’. Motor trail melaju kencang di mana tiap melewati tanjakan dan belokan si pengemudi malah semakin menaikan kecepatan. Benar-benar serasa naik motor yang dipakai di pertandingan MotoGP. Dengan kiri kanan tebing-tebing curam, lutut saya masih gemetar bahkan sampai 5 menit setelah berhenti turun. Perlu keahlian dan konstentrasi tingkat tinggi agar mahir membawa motor dalam kondisi ekstrem tersebut dengan selamat.

Perjalanan dari Pos 1 hingga Pos 3 didominasi hutan dipterokarp yang lembap. Tanah-tanah bekas hujan malam sebelumnya menciptakan medan licin. Dan tentu saja seperti saudaranya Sindoro, medan pendakian Sumbing tak memberikan bonus sama sekali, menanjak terus menerus tanpa ada ruang datar dan terbuka sama sekali. Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 mungkin yang paling melelahkan dan menderitakan. Lereng tanah gembur yang licin dengan kemiringan sampai 60° benar-benar menandaskan asa dan tenaga. Seringkali saya harus merangkak hanya berpegangan pada rerumputan karena minimnya pijakan yang tersedia. Ada banyak momen-momen yang sepertinya akan konyol jika direkam kamera. Sejauh mata memandang membuat kepala mendongak hampir tegak, tak terlihat ada tanda-tanda bukit terjal berakhir. Tanpa putus sama sekali selama kurang lebih 2 jam medan seperti itu yang terus saya temui. Setiap bertemu kawan pendakian rombongan lain, kami mengobrol sebentar sekedar membagi perasaan lelah dan rasa payah.

Karena kami termasuk rombongan yang awal-awal berangkat (karena rombongan lain terutama yang berangkat dari Jabodetabek terhadang macet), ketika akhirnya sampai di Pos 3, masih sedikit tenda yang didirikan. Waktu baru menunjukan pukul 1 siang sehingga rombongan kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke Pos Pestan yang tak jauh hanya sekitar setengah jam dari Pos 3 sebagai tempat berkemah. Rute berikutnya terasa lebih mudah sehingga kami akhirnya sampai ke area kemping Pestan lebih cepat dari perkiraan. Pun kami masih sempat mencari tempat kemah terbaik. Sudah lama sekali akhirnya saya bisa memilih tempat berkemah sesuka hati–biasanya kami datang terlambat sehingga hanya menyisakan area berkemah yang seadanya. Setelah kami mendapatkan lokasi yang dirasa strategis (entah karena terlindungi tebing jika ada hujan badai, atau cukup jauh dari jalan setapak yang bisa jadi ribut orang-orang yang datang telat), kami segera mendirikan tenda. Dan rasa syukur harus saya panjatkan sebanyak-banyaknya karena begitu kami selesai mendirikan tenda, hujan lebat turun.

Seperti anak kecil yang sedang berulang tahun, hujan turun dalam semangat membara yang benar-benar membuat pendaki manapun akan gentar. Turun dalam bercak-bercak kasar dan bulir-bulir besar, hujan turun nyaris dari segala arah karena angin ribut mengayun dan menghempaskan butiran-butiran hujan ke mana saja tanpa arah pasti. Saya yang berniat menunggu senja untuk menikmati matahari terbenam terpaksa harus mengubur impian tersebut karena hujan turun selam 7 jam berikutnya tiada henti.

Dalam kondisi seperti itu, kadang mental pendaki bisa jadi sangat terpuruk. Lelah dan dingin bisa memicu emosi dengan begitu cepat. Saat saya sedang bercanda dengan teman-teman saya di dalam tenda, terdengar suara hardikan kuat. Rombongan tim lain yang baru sampai di area kemah dan belum mendirikan tenda, harus mendirikan tenda dalam kondisi baju dan tas basah. Pada situasi seperti itu sudah pasti daya konsentrasi berkurang tajam. Pendirian tenda yang semestinya bisa dilakukan kurang dari 10 menit molor menjadi setengah jam lebih. Terdengar suara hardik-hardikan tajam, aneka ledakan sumpah serapah yang begitu kotor dan kasar, bahkan di beberapa saat nyaris terjadi perkelahian fisik. Untungnya sempat dilerai oleh rombongan lain juga.

Begitulah, pada saat pendakian, kamu bisa melihat secara utuh siapa teman-teman kamu sesungguhnya. Seseorang yang sering berkata-kata manis bisa jadi seorang yang egois nan sinis. Seseorang yang gemar menceritakan lelucon bisa jadi seorang yang malas membantu pekerjaan kelompok dan sikap yang nge-bos. Seseorang yang berwajah lugu bisa jadi bertampang judes pemberang dan bermulut kasar. Itulah, saat mendaki gunung kita tak hanya bisa melihat alam berserta keindahnnya yang termurni, tetapi juga merejang sifat-sifat terdasar seorang manusia.

*****

Purnama berpendar lemah dalam kabut bak bola kristal yang meredup saat ramalan suram dibacakan tukang tenung yang muram. Saya pikir awalnya karena hujan sudah berlangsung lama sekali hampir 7 jam, maka saat saya bangun besok dini hari sekitar jam 2, langit akan cerah. Tapi nyatanya begitu saya membuka tenda, sinar purnama yang mestinya benderang malah kuyu terselubungi kabut pekat. Tadinya saya pikir saya tak perlu menyalakan headlamp karena purnama terang sudah cukup sebagai penunjuk jalan, tetapi dengan cahaya yang begitu lemah bahkan untuk menciptakan bayangan saja tak cukup, saya harus menyalakan headlamp dalam posisi maksimum. Saya juga harus melewatkan sunrise karena kabut menutupi ufuk timur.

20180331_052232
Menjelang subuh, kabut mulai menipis. Pemandangan ke arah Gunung Sindoro mulai terkuak, dengan Gunung Telerejo dan perbukitan kawasan Dieng di latar belakang

Perjalanan dari Pestan menuju Puncak masih menyisakan trek curam nan menantang. Bebatuan kasar dan besar-besar menyembul begitu saja melumuri dinding-dinding gunung sehingga membuat rute perjalanan selain menanjak tajam, juga berputar-putar. Ada banyak sekali “bukit palsu” yang seolah tampak sebagai puncak gunung, nyatanya hanya sebuah bukit yang harus dikitari sementara puncak Gunung Sumbing masih tak tampak, jauh di di depan.

20180331_053534
4 jam perjalanan dari tenda sampai puncak adalah medan terjal dengan bongkahan batu dimana-mana yang selain monoton juga membuat nafas memendek dengan cepat karena harus melangkahkan kaki tinggi-tinggi

Meski tak semengenaskan trek menuju Puncak Gunung Slamet, tetapi trek menuju Puncak Sumbing memerlukan ketabahan sendiri yang tak kalah besar. Sering kali saya harus berhenti lama sambil menunggu teman-teman saya yang tertinggal jauh di belakang. Dalam keremangan pagi hari yang samar-samar berbalut kabut, sambil beristirahat saya membaca buku Beatrice and Virgil karya Yann Martel (penulis Life of Pi). Meski cerita novel ini sangat sederhana (kisah farabel tentang seekor keledai dan monyet howler), tetapi kejutan tragis di bagian akhirnya benar-benar menguras emosi. Pembacaannya yang dilakukan dalam kondisi nafas terkuras membuat udara yang saya hirup terasa semakin tipis dan sesak. Saat kamu terhempas dalam penderitaan, ingatlah bahwa hari-hari kita di dunia tinggal menghitung hari, lakukan yang terbaik untuk bisa meninggalkan jejak….

*****

Ketika saya akhirnya sampai di Puncak Sumbing, jumlah pendaki lain yang sudah sampai ke sana masih sedikit. Saya masih punya banyak waktu untuk mengambil foto-foto atau sekedar bengong sambil merasakan dinginnya puncak gunung yang berangin dan menunggu kawan-kawan saya yang masih jauh di bawah. Kawah Sumbing sendiri berbentuk ceruk dangkal yang dipagari bukit-bukit bebatuan andesit dengan sebuah lubang berasap kecil di tengahnya. Meski ada jalan kecil turun ke bawah, saya sendiri tak berminat turun. Cukup mengamati dari jauh saja. Selain menghemat tenaga, juga tak ingin mengambil resiko terpapar asap kawah yang bisa menimbulkan bahaya.

20180331_060137
Kawah kecil yang dikelilingi tebing-tebing curam di Puncak Sumbing, tampak mengepulkan asap lemah, tapi jelas saya tak mau ambil resiko turun mendekatinya
20180331_064804
Seorang pendaki berpose di Puncak Sumbing di mana samudera awan terhampar dan menggulung di bawahnya. Sementara di seberang lembahnya yang menganga lebar, Puncak Sindoro terlihat datar dan mengepulkan asap tipis (ciri khas Sindoro jika dilihat dari kejauhan). Perhatikan awan yang mengisi lembah yang tetiba begitu banyak dibandingkan dengan foto Sindoro sebelumnya di atas

Saya pikir saya harus bersyukur banyak sekali karena saya sampai ke Puncak Sumbing saat hari masih cukup pagi sekitar pukul 6. Soalnya sekitar pukul 7 pagi, angin menderu begitu kencang tak hanya membawa udara dingin tetapi juga awan dan kabut yang menyelimuti puncak dan juga lembah-lembahnya. Begitu banyaknya awan sampai-sampai Gunung Sindoro yang ada di seberang Sumbing menghilang tertelan! Begitu dinamis dan aktifnya udara saat itu. Pendaki-pendaki lain yang datang kemudian dari kami banyak yang mengeluh karena mereka tak bisa berfoto-foto karena pemandangan menjadi kabur dan jarak pandang sangat terbatas.

Sementara itu, saat saya sedang merenungi banyak hal di puncak (saat kamu duduk-duduk di sebuah ketinggian, sangat mudah sekali pikiran berkelana memikirkan banyak hal yang selama ini tak terbayangkan), saya melihat seorang pendaki mencium tanah Puncak Sumbing berkali-kali sambil berlinang air mata. Saat dia lebih tenang, saya mendekatinya dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Dengan mata berbinar dan nada syukur serta kebanggaan yang meluap-luap, si pendaki berkata bahwa pendakian kali itu adalah pendakian dia ke Sumbing yang keempat. Tiga pendakian sebelumnya dia tak pernah sampai puncak, entah karena terhadang badai sehingga harus turun kembali ke bawah, atau ada teman pendakian yang tak kuat sehingga memaksa rombongan mereka kembali ke basecampOh well… Saya mengucapkan selamat berkali-kali padanya. Kata teman saya, mencapai puncak sebuah gunung itu seperti mencari jodoh. Sedikit klise memang, tetapi mencapai puncak sebuah gunung selain harus menyiapkan bekal memadai dan fisik prima, juga harus memiliki banyak keberuntungan dan peruntungan. Haha.

*****

Karena tak ada tanda-tanda kabut turun dalam waktu cepat, rombongan kami memutuskan untuk segera turun kembali ke kemah setelah memakan bekal roti-rotian sebagai pengganjal perut. Setelah tenaga dirasa cukup pulih, kami berkemas dan kembali menuju pos Pestan. Selama hampir sejam, kami berjumpa dengan banyak sekali pendaki yang menuju puncak yang terlambat dan memasang wajah cemas khawatir jika begitu sampai ke atas mereka tak dapat menikmati pemandangan yang bersih kabut. Saya harus mengucapkan kata-kata semangat atau sekedar menyapa bagi para pendaki-pendaki (yang mungkin) kurang beruntung ini. Kami saling mendoakan agar langit kembali cerah. Meski bagi saya sendiri pemandangan cerah di puncak gunung bukanlah sebuah ‘tujuan’ (entah mengapa, bagi saya salah satu hal paling berharga dalam sebuah pendakian justru ujian ketabahan saat mengalami ‘kesusahan’ dan berbagi keceriaan bersama kawan), tapi bagi pendaki lain mereka rela-rela berkeringat demi mendapatkan pemandangan ajaib di puncak gunung. Saya tak bisa menyalahkan dan mengoreksi hal itu, maka saya berdoa pada setiap pendaki yang saya jumpai agar mereka mendapatkan apa yang diharapkan.

Setelah sejam berjalan turun, kabut perlahan mulai tersibak. Kawasan Kledung Pass (lembah yang memisahkan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing) menyeruak dan menghampar, menguar sebuah kontur perbukitan bergelombang seperti riak-riak lautan hijau. Ada banyak celah jurang-jurang dan ngarai dalam yang jika dilihat dari dekat tampak mengerikan dan mengancam, tapi saat dilihat dari ketinggian terasa mengagumkan dan indah. Sangat indah.

20180331_083052
Saat awan-awan terbelah, pemandangan dahsyat yang tersembunyikan terkuak. Bersiaplah untuk terpikat dan mengalami kecanduan olehnya

Saat saya beristirahat duduk di bebatuan, diselingi dengan terbengong-bengong melihat panorama yang tersajikan, sambil menunggu teman-teman saya datang menyusul, saya kembali melanjutkan pembacaan buku Beatrice and Virgil. Kadang saya memutar musik meski lebih seringnya lagu dimatikan dan menikmati keheningan. Namun saat yang terputar lagu dari John Denver, saya terpaksa harus mengulang-ulangi lagunya beberapa kali. Take Me Home Country Roads mungkin menjadi ‘song of the day‘ saya hari itu.

Life is old there, older than the trees, younger than the mountains, blowing like a breeze.

 

 

 

Catatan tambahan:

*    = Dalam serial edukasi kosmologi yang ikonik Cosmos, Carl Sagan menyatakan bahwa ada lebih banyak bintang di langit ketimbang jumlah butiran pasir di pantai. Memikirkan berapa jumlah butiran pasir yang ada di satu pantai saja mungkin akan membuat kepala kamu sakit, apalagi jika menghitungnya dengan jumlah pasir di seluruh pantai serta berbagai gurun di planet bumi. Dengan jumlah pasir yang nyaris tak-hingga itu, sesungguhnya masih lebih banyak bintang di luar angkasa ketimbang jumlah butiran pasir di planet bumi. Setidaknya, untuk setiap butiran pasir di bumi, ada lebih banyak sampai 5-10x lipat bintang di langit. Begitu banyak bintang di langit sana, tetapi mengapa langit malam lebih banyak area gelap hitamnya?

Tentu saja karena alam semesta begitu amat luas, sehingga banyak dari cahaya-cahaya bintang yang jauh belum sampai ke bumi (bayangkan saja, bintang terdekat dari bumi setelah matahari saja perlu waktu 4 tahun lebih agar bisa terlihat dari bumi, yang lain perlu waktu berjuta-juta hingga bermilyaran tahun lagi). Pun setelah menempuh jarak jauh, cahaya dari bintang-bintang telah berkurang intensitasnya sehingga terlalu redup untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Ditambah dengan isu seperti polusi cahaya perkotaan, jumlah bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang semakin berkurang. Jika kita bisa berpergian ke tempat tergelap di musim kemarau paling bebas awan, berapa jumlah bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang? Astronom perempuan luar biasa Dorrit Hoffleit dari Universitas Yale benar-benar menghitung jumlah bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang di langit malam dengan menetapkan batas magnitude kecerlangan bintang +6.5 sebagai ambang batas yang masih bisa dilihat oleh mata telanjang. Menurut perhitungannya, ada sekitar 9096 bintang saja yang dapat dilihat oleh mata telanjang. Karena bentuk bumi bulat, hanya separuh kubah langit yang bisa dilihat seseorang (penghuni bumi selatan khatulistiwa tak bisa melihat belahan langit bumi utara, pun sebaliknya), artinya hanya ada sekitaran 4000-an bintang saja yang bisa kita hitung dalam kondisi langit terbaik di satu malam. Beberapa bintang tentu saja sesungguhnya bisa jadi merupakan kumpulan bintang lain (berupa galaksi). Para penghuni belahan bumi selatan misalnya beruntung bisa melihat ‘bercak’ awan Magellan, yang dalam kondisi redup awan atau purnama bisa disangka satu bintang saja padahal sesungguhnya merupakan galaksi yang dihuni setidaknya 30 milyar bintang. Beberapa ‘bintang’ lain bisa jadi sesungguhnya merupakan galaksi rumah dari puluhan atau malah ratusan milyar bintang lainnya. Indra mata manusia tak bisa menangkap keajaiban dan kesesakan itu semua. Ketika indra tak bisa merasa bahkan teknologi tercanggih hanya bisa mereka-reka, maka hanya rumus-rumus matematika eksotis dan lompatan imajinasi yang bisa membuktikan eksistensi mereka. Kita hidup di semesta yang mahaluas, asing, dan tak sepenuhnya bisa dinalar.

**     = Pencarian “Pusat Tanah Jawa” tergolong hal baru dalam kajian budaya Jawa. Ketika istilah “Jawa” sejak dulu kala hanya bermakna geografis dari Sungai Pemali dan Gunung Slamet di barat sampai Banyuwangi di timur saja, sementara daerah Pasundan dan Banten (bahkan hingga sekarang setidaknya secara kultural) masih dianggap bukan bagian dari “Jawa”. Frasa “mudik ke Jawa” hanya bermakna jika orang-orang tersebut pergi ke daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur saja. Karena itu dokumen tertua yang menyebutkan secara eksplisit “Pusat Tanah Jawa” baru Serat Cȇnthini di abad ke-19 yang relatif baru. Naskah abad ke-19 yang sering dicitrakan seronok ini, meski sebetulnya hanya ada di keping-keping terakhir dari sekian panjang larik-larik kidung pupuh yang menceritakan petualangan tiga orang keturunan Sunan Giri ala Odyssey-nya Homer, secara tak terduga menuliskan banyak deskripsi menarik tentang gunung-gunung di Jawa. Setidaknya ada 150-an lebih nama gunung disebut dalam naskah tersebut.

Pada bab ke 99 pupuh kinanti bait ke 23, Serat Cȇnthini menyebutkan Gunung Tidar di Magelang sebagai “Pusar-nya Tanah Jawa”. Mitologi masyarakat sekitar Magelang memang menyebutkan jika Gunung Tidar diciptakan sebagi paku-pakunya Pulau Jawa agar Pulau Jawa tak oleng diombang-ambingkan samudera. Meski tak ada survei geografis resmi yang mendukung, tetapi memang Gunung Tidar dikenal luas sebagai pusatnya pulau Jawa karena posisinya secara geografis memang hampir di tengah-tengah Pulau Jawa baik dari arah Utara-Selatan maupun Barat-Timur.

Namun Gunung Tidar bukan satu-satunya tempat di Jawa yang disebut-sebut sebagai pusar-nya Pulau Jawa. Di  kawasan Pringsurat, kabupaten Temanggung berdiri sebuah monumen pendek yang disebut  Tugu Sepuser. Sayangnya tugu tersebut tak bertuliskan apapun dan warga sekitar sana juga nyaris tak mengenali asal-usul pendirian tugu tersebut, namun beredar kabar bahwa orang-orang Belanda yang mendirikan tugu tersebut. Di Pekalongan berdiri Tugu Mylpaal yang didirikan Daendels sebagai titik 0 km saat pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan. Meski lokasinya di pesisir utara, tetapi secara timur-barat, lokasinya juga nyaris berada di tengah pulau Jawa. Lokasi lain yang sering disebut-sebut pusatnya Pulau Jawa adalah Gunung Pakujawa di Dieng. Dan jika kita menarik garis antara Gunung Tidar dan Gunung Pakujawa, terletak Gunung Sumbing di tengahnya. Jadi, biar adil, saya mengusulkan jika Gunung Sumbing saja sebagai pusatnya Pulau Jawa, ya? Haha.

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

One thought on “Gunung Sumbing, Maret 2018”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s