Gunung Sindoro, Januari 2018

“What is the good of your stars and trees, your sunrise and the wind, if they do not enter into our daily lives? They have never entered into mine, but into yours, we thought–Haven’t we all to struggle against life’s daily greyness, against pettiness, against mechanical cheerfulness, against suspicion? I struggle by remembering my friends; others I have known by remembering some place–some beloved place or tree–we thought you one of these.”
― E.M. Forster, Howards End

Ketika saya masih SD (mungkin kelas 5 SD, saya tak ingat persis), salah satu tontonan favorit saya adalah acara-acara petualangan di kanal Discovery. Dalam sebuah episode yang mengisahkan para petualang yang mengalami cedera saat melakukan olahraga ekstrem di alam liar, tayangan tsb (sayang saya lupa judul serialnya) berulang kali menyorot tulisan besar yang ada di papan peringatan di kawasan Rocky Mountains yang terjal-terjal namun berpemandangan menawan yang bertuliskan “Mountains doesn’t care!” Kelak bertahun-tahun kemudian di masa SMA, ketika saya memulai mencoba bertualang  dengan berkemah di hutan dan gunung, saya mulai memahami apa makna dari frasa dan peringatan itu secara sesungguhnya. Kita bisa berikrar, mendeklamasikan, atau membual bahwa kita mencintai gunung. Tapi kenyataannya gunung tak mencintai kita. Gunung tak pernah peduli baju apa yang kita kenakan atau bekal yang kita bawa. Tapi jika memakai baju dan bekal ala kadarnya, “hukuman” dari gunung bisa begitu fatal mengerikan. Atau saat kita bertindak ceroboh tak mengikuti aturan, tak ada toleransi yang diberikan oleh gunung. Gunung punya jiwa, semangat, pesona, keindahan dan juga kebrutalannya sendiri. Kesenangan dan keselamatan kita tak menjadi perhatiannya. Ketika seorang pendaki mengabaikan kenyataan ini dimana dia melakukan kesenangan tanpa memerdulikan keselamatan, bersiaplah menghadapi resiko mengerikan. Saat pendakian ke Sindoro lah, saya masih mendapati perilaku pendaki gegabah itu, dalam konsekuensi yang begitu buruk. Mungkin ini adalah salah satu “kecelakaan” terburuk yang pernah saya hadapi secara langsung saat mendaki dalam 10 pendakian gunung terakhir.

*****

Setelah diistirahatkan selama hampir 3 bulan tak melakukan pendakian gunung, rasanya kaki saya sudah mulai membentuk akar-akar serabut yang membuat malas untuk dilatih. Terlebih musim munson basah rutin di akhir-akhir tahun membuat rasa enggan berbasah-basahan di rimba raya terasa semakin besar. Tapi sebelum rasa malas semakin mengakar, saya memutuskan saya ingin merayakan malam tahun baru di gunung yang di malam tahun baru 2017 terlewatkan. Karena dilakukan dalam kondisi mendadak, dimana di musim liburan akhir tahun seperti itu tiket-tiket transportasi umum sudah terjual habis, saya dan teman saya akhirnya memutuskan gunung yang relatif dekat jaraknya dari Jakarta dengan menyetir mobil menuju basecamp pendakian. Karena gunung-gunung di Jawa Barat sudah pasti sesak sekali, kami memutuskan mencari gunung di Jawa Tengah yang cukup tinggi (dengan ketinggian di atas 3000 meter) agar jumlah pendaki tidak terlalu padat (yang mestinya cukup mustahil menemukannya terlebih di libur tahun baru), juga diharapkan karena mendaki gunung tinggi, saat kami mendirikan tenda nanti di pos terakhir, awan dan gemuruh kilat yang terjadi di ketinggian rendah sehingga kami yang bertenda di ketinggian lebih tinggi terlindungi (puncak gunung tinggi biasanya bebas dari awan petir). Setidaknya, harapan-harapan itu yang coba saya ingin dapatkan di pendakian Sindoro. Dan tentu saja, harapan saya terlalu muluk. Haha.

Ketika kami sampai di basecamp pendakian jalur Kledung di Temanggung sekitar pukul 8 pagi, setelah 12 jam melelahkan perjalanan bermobil yang terhadang macet libur panjang, hujan baru saja berhenti. Padahal ketika memasuki kota Temanggung, hujan turun dengan begitu deras sehingga harus membuat kami menepi untuk merapikan tas keril yang diikat di atap mobil. Dengan berhentinya hujan yang turun di pagi hari, kami mengharapkan semangat atmosfer untuk menurunkan hujan sedikit menyurut. Setiap awal tahun baru, tak hanya para pendaki (atau orang-orang lain yang berlibur) saja yang bersemangat, langit juga selalu bersemangat untuk ikut berpesta dalam menyumbang tarian hujan dan pesta halilintar. Jadi bagi saya, pendakian awal tahun selalu membawa tantangan sendiri. Bagaimanapun antusiasme kami yang ingin merayakan tahun baru di gunung lebih kuat ketimbang gertakan langit, meski untuk itu saya biasanya menyiapkan persiapan ekstra untuk antisipasi.

Begitu sampai basecamp pendakian Kledung, kami sudah menemui banyak sekali calon pendaki yang juga punya misi yang sama; merayakan malam tahun baru di puncak gunung. Informasi di bagian pendaftaran membuat saya sedikit ciut, jumlah pendaki terdaftar sudah lebih dari 300 orang, padahal langit masih mendung dan kabut pagi belum sepenuhnya hilang dari permukaan tanah. Tim kami memutuskan untuk sarapan, ganti baju, dan menyiapkan bekal yang masih dirasa kurang sebelum melakukan pendaftaran dan memulai pendakian. Kami sendiri memang sengaja memilih jalur populer Kledung karena di musim penghujan seperti ini, bertemu banyak pendaki akan membuat kami merasa lebih aman ketimbang mencari jalur sepi yang beresiko sukar mencari bantuan jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan.

*****

Hujan yang turun dari sejak dini hari ternyata membawa berkah bagi pendakian tim kecil kami. Suasana pendakian menjadi begitu menyenangkan dengan sisa awan membawa suasana sejuk. Meski ada beberapa titik pendakian yang licin bekas hujan, tapi trekking pole sangat membantu untuk mengindari diri terpeleset. Tipe hutan dipterokarp (tipe hutan tropis basah yang ada di pegunungan rendah) senantiasa mengiringi perjalanan kami hingga pos 3. Pohon-pohon rapat menghimpit jalan membuat tak ada pemandangan menarik yang bisa saya lihat karena jarak bentang pandang terhalang pohon-pohon padat.

Dalam perjalanan dari pos 1 ke pos 2, saya menjumpai rombongan pendakian anak-anak SMA yang membawa speaker besar yang memutar lagu-lagu dangdut yang dipadupadankan dengan musik-musik remix disko. Mendengar lagu-lagu ini diputar selama 10 menit dalam kondisi nafas tersenggal-senggal membuat saya sedikit senewen, ahaha. Sialnya, rombongan ini selalu mengiringi saya hampir selama sejam. Ketika saya mendahului mereka, dalam waktu 10 menit mereka dapat menyusul saya. Ketika saya sengaja melambatkan diri, mereka malah ‘menunggu’ sambil beristirahat. Saya harus bermain kucing-kucingan ini sampai di pos 2 satu setengah jam kemudian. Begitu sampai pos 2, saya sengaja beristirahat sebentar dan berangkat lebih dulu ketimbang mereka menyusul dan beriringan selama satu jam lebih berikutnya, haha.

Jangan salah duga, saya tidak punya sentimen khusus pada musik dangdut, tetapi ketika digabung dengan musik disko ritmik yang tampak melanggar nada-nada notasi blok, menjadi sebuah rentetan nada-nada simultan dan monoton berulang menerus, membuat syaraf-syaraf pendengaran saya bergidik. Toh saya ingin menikmati keheningan hutan, bukan musik berisik ala disko klab malam. Saya rasa, masih lebih baik lagu India yang diputar di Rinjani ketimbang lagu  disko remix di Sindoro.

Jalur dari pos 2 ke pos 3 menjadi jalur “terberat” karena rute yang terus menanjak dengan banyak pohon-pohon tumbang melintang jalan membuat saya yang membawa tas keril berat harus berjalan merangkak untuk melewatinya. Beberapa kali paha saya menderita kram saat merangkak dengan beban berat di pundak. Teman-teman saya juga mengalami hal serupa sehingga kami harus saling mengejek untuk saling menghibur dan mengurangi penderitaan. Di saat-saat seperti itu, menertawakan rekan perjalanan yang kesakitan (yang tentu saja tak kami anggap serius) menjadi satu-satunya penghiburan. Kami membutuhkan banyak sekali lelucon dan penglipur lara agar bisa tetap semangat dan mengurangi penderitaan.

Dengan tidak adanya rombongan pendaki yang membawa speaker musik-musik dangdut tadi, saya bisa menikmati dan meresapi keheningan hutan. Ketika menyaksikan pohon-pohon melintang di tengah jalan, saya tergelitik pada pertanyaan kuno klasik yang hingga kini masih tak pernah tuntas dijawab, Jika sebuah pohon tumbang di tengah hutan tanpa ada hewan atau manusia di dekatnya, apakah tumbangnya pohon itu mengeluarkan suara? Percayalah, pertanyaan sepele ini sudah eksis sejak 300 tahun lalu dan masih menggelisahkan banyak orang karena jawabannya lebih rumit daripada yang dikira*.

Sindoro 2.[2018.03.08_17.51.26]
Seorang pendaki terlihat merunduk saat melewati pohon-pohon tumbang. Jumlahnya puluhan, dan banyak di antaranya yang begitu rendah sehingga membuat pendaki harus merayap dan membuat kaki kram

*****

Kami memutuskan mendirikan tenda di Sunrise Camp (kawasan semak terbuka tak jauh dari pos 3) karena pos 3 sendiri sudah penuh oleh para pendaki lain begitu kami sampai di sana. Sebetulnya berkemah di kawasan terbuka sedikit beresiko terutama jika dilakukan di musim hujan. Pada kondisi badai, petir bisa menyambar karena ketinggian pendaki sama dengan ketinggian awan petir, petir bisa langsung kena dari samping tanpa perlu memerlukan waktu atau arah rambatan dari atas ke bawah. Kami masih ragu apakah akan berkemah di sana tetapi karena kondisi kami sudah mulai payah dan rerintik hujan mulai menjelma dalam titik-titik air yang dingin dan kabut pekat, kami putuskan kami harus mendirikan tenda segera. Dan benar saja, begitu tenda selesai dibuat, hujan tanpa ampun langsung mengguyur selama 5 jam berikutnya tanpa henti. Untungnya bekal makanan masih tersedia (kami membeli nasi bungkus sebelum memulai pendakian) sehingga tidak perlu memasak makanan mentah. Namun teman saya tetap menyalakan kompor untuk memanaskan air dan menyeduh minuman kemenangan. Ya, setelah perjalanan payah seharian, kami perlu sedikit perayaan.

Hujan baru mulai reda (namun angin masih mengamuk hebat) ketika hampir jam 11 malam. Tenda kami yang sebetulnya mulai sepi terlelap karena kepayahan, mulai sibuk ribut sebagaimana tenda-tenda lain. Bahkan teriakan-teriakan peringatan dan seruan bersahut-sahutan terdengar dari berbagai arah; para pendaki Sindoro akan merayakan malam pergantian tahun!

Karena membawa petasan, kembang api, atau alat musik dilarang (atau benda apapun yang berpotensi menimbulkan sampah dan bebunyian ribut), maka perayaan para pendaki menjadi sangat sederhana. Karena hujan masih baru turun, hanya ada beberapa api unggun yang menyala. Sisanya sambil menahan dingin dari angin yang semakin kencang berhembus, kami berdiri dalam kegelapan menyaksikan temaram lampu-lampu kota Temanggung dari kejauhan.

Meski bulan malam itu sudah memasuki fase purnama, tetapi kedatangan awan yang datang silih berganti membuat langit seolah memasuki suasana on-off saklar lampu bohlam yang dimainkan anak yang iseng. Mega malam datang dan pergi menapis cahaya purnama menciptakan ilusi optis jika bulan sedang berayun maju mundur yang aneh bak bandul yang digunakan pesulap untuk menghipnotis (dan memang kondisi itulah yang menimpa saya). Rasi Orion si pemburu tampak lemah dalam semarak cahaya purnama. Hanya bintang Canopus dan rasi Taurus yang bisa saya pastikan keberadaannya sementara rasi-rasi dan bintang lain terlalu kalah oleh benderangnya rembulan dan mega-mega berseliweran menyembunyikan. Namun sebagai penghibur bagi pemuja langit malam seperti saya, lampu-lampu kota Temanggung di kaki gunung memberikan penglipur hiburan lautan bintang buatan. Beberapa ‘bintang’ mengular dan berkelok mengikuti kontur jalanan sementara beberapa berkerumun dalam komplek-komplek pemukiman.

Ketika detik-detik awal tahun baru mulai mendekat, terdengar teriakan-teriakan hitungan mundur yang tentu saja berbeda-beda karena tiap pendaki punya standar jam tangan atau telepon genggam yang tak saling sinkron masing-masing. Semakin berbeda, semakin kencang teriakan, semangat berlomba mengajukan bahwa waktu versi masing-masing adalah yang paling benar. Haha. Tapi tentu saja semua itu tak menjadi soal. Di bawah naungan langit malam, perbedaan-perbedaan itu tampak tak berarti dan tak menimbulkan kelahi. Semuanya ingin merayakan dan bersuka cita. Ketika akhirnya detik-detik pergantian hari benar-benar terjadi, di kejauhan terlihat letupan-letupan bunga kembang api, bak titik-titik kunang-kunang nun jauh. Hanya cahaya kembang api yang terlihat oleh kami sementara suaranya sudah lenyap ditelan hening dan padatnya pepohonan hutan. Ketika detik-detik tahun baru dimulai, mendadak suasana di sekitar menjadi hening dan khusyu. Ratusan pendaki memanjatkan doa dan harapan masing-masing. Doa-doa yang melayang berbaur dalam kegelapan malam, berpijar dan terbang ke langit malam, menuju ke suatu tempat nun jauh di atas sana di antara bintang-bintang. Mungkin tak semua doa akan terjawab, beberapa akan menjadi bintang penghias langit malam.

20171231_053134
Cahaya pertama di hari pertama tahun 2018, di kanan adalah gunung Sumbing. Matahari ada di pertengahan Merapi dan Merbabu. Paling kiri dan kecil adalah gunung Lawu

*****

Perayaan malam tahun baru sederhana tak berlangsung lama, setidaknya penghuni tenda kami segera bergelung dalam sleeping bag memulihkan tenaga untuk summit attack pagi hari berikutnya. Tubuh lelah membuat kami tidur tanpa mimpi. Karena kami berkemah di Sunrise Camp, begitu bangun kami sudah bisa menyaksikan sunrise dengan jelas tak terhalang pepohonan seperti pada foto di atas, tanpa perlu menuju puncak. Tetapi tentu saja tak afdhol rasanya mendaki gunung tanpa menjejakkan kaki di puncaknya. Setelah dirasa puas menikmati sunrise pertama di tanggal 1 Januari (kami mematung dan berfoto-foto selama hampir dua jam sambil menikmati teh hangat), kami menyiapkan bekal sarapan untuk perjalanan selama hampir satu setengah jam menuju puncak.

Angin pagi dengan semangat menderu membawa udara dingin yang menyegarkan namun ketika ada kabut menyertainya membuat badan menggigil. Jaket hangat saya yang dua lapis kadang tak anggup menahan hawa dingin yang menerobos dan membuat saya bergemulutuk hebat. Saking dinginnya saya nyaris jarang sekali berhenti untuk beristirahat meski lelah, tetap memaksakan terus bergerak agar tubuh tetap panas.

20171231_062252
Difoto dari samping, selimut kabut pagi inilah yang membuat hawa dingin datang tak tertahankan. Datang dan pergi selama hampir 3 menit sekali, kabut ini tak hanya membutakan karena membuat jarak pandang terbatas, tetapi juga membawa uap-uap air yang begitu dingin

Dalam perjalanan menuju puncak itulah saya menjumpai kejadian yang tak diharapkan. Karena saya berjalan terus nyaris tak berhenti, saya terpisah dari rombongan jauh ke depan, teman-teman saya masih di belakang. Pada ketinggian di atas 3000 meter di mana medan bebatuan terjal menghampar menuju puncak, lanskap berubah drastis. Tak hanya pemandangan menjadi jelas dan indah karena tak ada lagi pepohonan yang menghalangi, medan juga semakin terjal, licin, dan berbahaya karena bebatuan hasil erupsi terserak dimana-mana dengan sisi-sisi tajamnya siap mengiris-iris pendaki yang tak waspada.

Kondisi pendaki yang kelelahan dan ingin kembali pulang dengan cepat kadang membuat mereka tergoda untuk berlari saat turun dari puncak. Saat itulah bahaya sesungguhnya mengancam. Berlari dalam kondisi tubuh lelah membuat arah dan kecepatan lari menjadi tak terkendali. Medan terbuka tanpa ada pegangan dan tanah berpasir membuat sulit berpijak membuat banyak pendaki tergelincir.

Saya sedang minum ketika sayup-sayup terdengar teriakan meminta tolong. Awalnya saya tak yakin mendengar suara itu (pendaki-pendaki yang berjalan di atas saya tampak santai) namun ketika ada angin lewat, suara itu semakin jelas dan tak mungkin salah dengar. Ternyata, tersembunyi di balik rekahan gunung (semacam parit), duduk seorang perempuan dikelilingi teman-temannya, dan ketika saya menghampirinya, muka perempuan itu sulit dikenali; mukanya penuh darah dan terus mengalir.

Ternyata si perempuan tergelincir dan terguling beberapa kali. Mukanya yang tak terlindungi teriris bebatuan setajam pisau, mengiris melintang di bagian dahi, hidung dan bibir. Otot dahi yang tipis menderita paling parah karena adanya luka sobekan dalam (bagian tulang kening terlihat jelas) dan memanjang horizontal sepanjang dahi. Reaksi pertama saya adalah bergidik ngeri ketika melihat putihnya tulang kening yang terlihat.

Sindoro 2
Medan terakhir menuju puncak Sindoro; hanya perlu menengok ke belakang maka pemandangan indah luar biasa menghampar. Namun medannya yang amat terjal tak hanya menguras tenaga tetapi juga berbahaya. Puncak gunung Sumbing tampak menyembul di balik awan

Karena tak ada yang membawa peralatan P3K di rombongan si perempuan (pun pendaki-pendaki lain yang mereka mintai pertolongan), si perempuan berada dalam kondisi serupa sambil menangis selama hampir setengah jam dengan luka menganga dan berdarah. Ini membuat perasaan saya campur aduk antara kasihan dan ingin mengomeli. Ingin sekali saya menasehati mereka andai tak ngeri dan jeri melihat luka yang terbuka besar seperti itu. Untungnya saya selalu membawa peralatan P3K saat mendaki. Meski tak lengkap, sambil mendengar cerita kronologi kecelakaan, saya segera membalut dan menutup luka si perempuan untuk menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi. Tangan saya bergetar entah karena hawa dingin atau jeri karena luka dalam yang begitu vulgar. Ketika akhirnya semua jalan luka tertutupi, saya minum air banyak-banyak sambil memejamkan mata mencoba melupakan kengerian yang saya lihat sebelumnya.

Ternyata rombongan si perempuan memilih jalur pendakian alternatif yang relatif sepi sehingga ketika mereka turun dari puncak, mereka melalui jalur yang jarang pendaki. Maka ketika terjadi kecelakaan, tak banyak pendaki yang bisa dimintai pertolongan. Terlebih dengan tak adanya persiapan seperti peralatan P3K membuat tindakan pengobatan tak bisa dilakukan. Ini membuat saya masygul luar biasa. Seingat saya, saya memberikan ceramah lumayan panjang kepada rombongan mereka sambil mencoba menelepon tim SAR di basecamp. Meski berada jauh di puncak dengan ketinggian lebih dari 3000 meter, untungnya sinyal telepon operator tertentu sampai ke sana meski sayup-sayup. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya berhasil menelepon bantuan. Setelah memastikan bantuan akan datang dan tindakan medis dasar diberikan, saya pamit dengan rombongan itu sambil menitipkan pesan sebanyak mungkin. Saya meneruskan mendaki ke puncak, menyusul teman-teman saya yang mungkin sudah menngungguli sampai lebih dulu ke sana.

*****

Puncak gunung Sindoro, meski tak banyak diketahui orang, adalah puncak gunung api aktif. Ada kawah cukup besar bernama Kawah Kembang dengan lereng curam vertikal memagarinya, mengitari lubang dalam yang aktif mengeluarkan asap sulfur pekat. Saat asap sulfur menyembur, pemandangan menjadi kabur dan membuat saya batuk-batuk. Tetapi saat arah angin berubah, pemandangan dahsyat menghampar begitu saja dengan pesona yang tak bisa ditutup-tutupi. Awan gemawan di bawah kaki, gunung Sumbing di seberang dengan langit biru menghampar sampai jauh ke cakrawala. Ah… Betapa syahdunya, betapa indahnya. Kebahagiaan bisa muncul dari dan dalam hal-hal sederhana seperti ini.

Dengan pikiran menjelajah kemana-mana, sambil mengingat kilas balik mengingat perayaan malam tahun baru, melewati belantara hutan pepohonan, melihat langit dan bintang-bintang malam, menyaksikan detik-detik matahari terbit bersinar, entah kenapa kutipan buku Howards End karya E.M. Forster yang saya bawa dan baca di tenda, menjadi terngiang-ngiang kembali. Apa gunanya bintang-bintang dan pepohonanmu, matahari terbit dan anginmu, jika mereka tak merasuk dalam keseharianmu? Bukankah sehari-hari kita berjuang melawan kepedihan, kehinaan, keceriaan palsu, dan prasangka? Kadang aku berjuang dengan mengingat sahabat-sahabatku, kadang kuberjuang sambil mengingat tempat-tempat tercinta, atau sekedar pepohonan. Kamu adalah salah satu yang kuingat. 

20171231_060446
Para pendaki ini beristirahat, merenung, melamun, mengagumi, mencintai, serta menatap pepohonan, awan, bebatuan, rerumputan, lembah, sungai, bukit-bukit, tarian angin atau apapun… Ada banyak hal yang bisa kita saksikan dari tempat tinggi. Termasuk tubuh dan jiwa kerdil kita yang tak seberapa dibandingkan dengan keluasan semesta

 

Catatan tambahan:

*               : Mungkin terdengar sebagai lelucon dan sepele, tetapi pertanyaan ‘apakah pohon tumbang di hutan tetap mengeluarkan suara meski tak ada yang mendengarnya?‘ adalah pertanyaan yang menggelitik banyak orang sejak ratusan tahun silam. Bagi kamu yang masih ingat pelajaran fisika materi gelombang, mungkin akan segera berujar bahwa tentu saja pohon tumbang akan tetap mengeluarkan suara meski tak ada yang mendengarnya. Suara adalah bentuk dari gelombang mekanik yang dihasilkan oleh perubahan tekanan yang menyebar dan menjalar melalui medium. Pohon yang tumbang tentu akan membuat getaran pada udara, gesekan pada pohon-pohon atau tumbukan pada tanah sehingga pasti gelombang suara tercipta. Tanpa atau dengan dengan ada pendengar pun, pohon tumbang pasti mengeluarkan suara karena proses fisika tadi. Kamu pasti mengangguk-anguk dan setuju dengan pernyataan barusan. Tapi, apakah memang seperti itu?

Uskup sekaligus filsuf George Berkeley mempertanyakan hal ‘sepele’ ini dalam buku termasyhurnya A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge. Singkatnya, bagi orang tuli atau hewan-hewan yang tak memiliki kepekaan indera pendengaran, pohon tumbang tak menimbulkan suara. Artinya, konsep suara hanya hadir dalam proses indera (atau lebih spesifiknya pengolahan informasi dalam otak).

Tentu saja ketika dua buah benda berinteraksi (misal pohon tumbang ke tanah) akan menciptakan gelombang energi yang diterjemahkan oleh otak sebagai suara. Jika tak ada ‘otak’ yang mencerna informasi gelombang energi ini, apakah suara ini tetap akan diterjemahkan sebagai suara atau tetap menjadi sekedar gelombang energi di udara di sekitar benda? Toh ketika udara dihampakan, suara tak muncul meski gelombang energi tetap ada. Kita pasti pernah melihat percobaan ini di buku sains, sebuah bel tak terdengar suaranya saat dimasukan ke dalam kota kaca hampa udara meski digoncangkan keras sekalipun. Sederhana saja penjelasannya, suara tak sampai ke pendengar karena adanya kehampaan. Gelombang energi baru bisa diterjemahkan sebagai suara oleh impuls-impuls elektrik dalam otak. Tak ada otak tak ada suara. Otak kita cukup cerdas untuk menerjemahkan konsep suara bahkan mengolah informasi lebih lanjut seperti memperkirakan asalnya dari mana. Ini membuat kita bisa menginderai realitas, padahal semuanya hanya ‘trik’ dalam otak.

Menurut Berkeley, saat tak ada seseorang pun yang menyaksikan pohon tumbang di hutan, maka pohon itu tak akan mengeluarkan suara. Bukan hanya tak ada ‘telinga’ yang mendengarkannya tetapi juga karena memang tak ada pernah ada suara sama sekali. Bahkan jika kita menyaksikan langsung pohonnya tumbang pun, tetap tak ada suara, hanya gelombang energi yang diterjemahkan sebagai suara oleh otak.

Terdengar rumit dan berputar-putar? Kamu pasti bersikukuh dengan penjelasan fisika dasar di paragraf pertama catatan tambahan ini. “Sialnya”, fisika juga memberikan penjelasan lain yang malah membuat ‘runyam’ masalah ini. Kamu pasti pernah mendengar istilah Kucing Schrödinger. Percobaan khayali ini mengandaikan jika seekor kucing dimasukan ke kotak yang ada tabung racun yang akan meledak dengan kemungkinan 50:50 pada periode tertentu. Setelah periode itu terlewati, kita tak bisa memastikan apakah si kucing hidup atau mati tanpa kita membuka kotaknya. Selama kotak belum dibuka, si kucing bisa hidup bisa juga mati. Kondisi inilah yang dinamakan fungsi gelombang (wavefunction) dalam fisika kuantum. Jika tak ada entitas yang mengamati, keruntuhan vektor kondisi tak terjadi sehingga tak ada kejadian fisik terjadi. Semuanya berada dalam tahap superposisi, dimana pohon di hutan bisa tumbang dan bisa tak tumbang sekaligus selama tak ada pengamat. Jadi menurut fisika kuantum, sebuah pohon di hutan yang tidak disaksikan pengamat, berada dalam kondisi tumbang sekaligus tidak tumbang, pohonnya berisik sekaligus senyap… Seperti kutipan termasyhur Einstein, sesungguhnya realita adalah ilusi belaka bahkan untuk yang paling meyakinkan sekalipun...

 

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

7 thoughts on “Gunung Sindoro, Januari 2018”

  1. Bagian penjelasan tentang fisikanya sangat menarik! Tapi cerita pendakiannya juga tidak kalah menarik kok:D bagi orang-orang dengan tingkat kemageran luar biasa seperti saya ini, baca cerita mendaki rasanya sudah kayak ikut mendaki((:

    Like

    1. Ahaha. Seperti tulisan² pendakian lainnya di blog ini, saya memang sengaja tak fokus pada cerita detail perjalanan (seperti detail itinerary, dll). Jadi harap maklum jika melantur kemana². Pun catatan kaki yg bisa jadi lebih panjang drpd episode kejadian di cerita utamanya. Haha.

      Well… Sebetulnya (seperti yg saya tuliskan di bagian pengantar blog ini) saya menuliskan cerita² ini sbg berbagi pengalaman (dan sedikit ajakan) untuk menjelajahi alam. Pendakian gunung adalah salah satu cara menikmati alam. Sindoro jelas bukan utk pemula, tapi banyak kok gunung² yg lebih mudah utk didaki tanpa perlu membawa bekal banyak, bahkan bisa ditempuh tanpa perlu menginap. Selain sehat, juga pemandangan indahnya harus dirasakan. Cobalah. Tak akan ada penyesalan. Lebih seru dari pada tulisan membual² saya tak ada apa²nya. Ahahaha.

      Like

    1. The conception that existence is an illusion is called Solipsism (you can check on Wiki for the details). For centuries (or even millenniums since it could be tracked from Hinduism/Buddhism), it has tickled so many people because it’s impossible to disprove. For myself, life exists on many levels and spectrums. Some are real, others just an illusion, it depends on your perspective.

      PS: If you want to dig deeper into modern solipsism (and its modern science interpretation) you should read more about “Holographic Principle” or “Holographic Universe”. There are so much interesting ideas…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s