Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 5]

“And when the spring breezes blow up the valley; when the spring sun shines on last year’s withered grass on the river banks; and on the lake; and on the lake’s two white swans; and coaxes the new grass out of the spongy soil in the marshes – who could believe on such a day that this peaceful, grassy valley brooded over the story of our past; and over its specters?”
― Halldór Laxness, Independent People

Sejak masih di Jakarta, saat saya menyusun jadwal perjalanan, saya sudah menyusun rencana agar ada satu hari di Iceland dimana khusus didedikasikan untuk  mengobati kecanduan sekaligus terapi penyakit akut saya yang terlalu memuja keindahan alam. Saya sudah jauh-jauh hari merancang agar bisa melakukan trekking di alam terbuka Iceland seharian. Rombongan kecil kami yang berniat melakukan road trip keliling negara Iceland dengan bermobil ria dalam durasi hari yang terbatas tentu saja membuat setiap hari di sana terasa berharga. Dengan hitungan hari kepulangan terasa semakin mendekat setiap paginya, kami tak ingin ada hari yang terbuang. Tetapi tekad saya sudah kuat dan dengan argumen yang sebetulnya tak perlu susah payah saya lakukan teman-teman saya dengan mudah luluh dengan bujukan saya, agar ada satu hari di Iceland di mana kami akan berjalan kaki seharian. Mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, saat saya akan menikmati liar dan indahnya alam Iceland dengan jalan kaki. Maka pada hari ke-5, kami menyusuri Skaftafell National Park yang memiliki banyak rute jalan kaki yang menggoda. Bagaimanapun setelah lima hari berkendara terus-terusan, saya perlu melambat. Saya ingin menikmati garis-garis kepermaian alam Iceland dalam kekhusyuan dengan lebih jelas yang hari-hari sebelumnya lebih banyak blur karena laju kendaraan. Dengan berjalan kaki, tak ada lagi keterpacuan, semuanya menjadi melambat dengan garis-garis gunung dan pantai yang lebih tegas dan jelas. Semuanya diiringi mata yang lapar untuk menyerap keindahan sekitar dengan kelelahan tubuh yang datang mengawal setiap langkah. Kepasrahan dan bebas dari rasa tergabas adalah cara terbaik untuk menikmati alam, dan berjalan kaki adalah salah satu cara terunggulnya.

*****

Ketika teman-teman saya mengetahui bahwa saya akan pergi ke Iceland, mereka langsung mencecar saya apakah saya akan melihat aurora borealis. Waktu pemberangkatan saya yang ada di awal musim panas tentu saja membuat penampakan aurora sukar dilihat dengan mata telanjang. Langit sudah terlalu terang dan durasi waktu malam yang amat singkat. Untuk melihat aurora, selain harus kondisi gelap dan bebas awan, juga bergantung pada aktivitas matahari yag sangat fluktuatif sehingga bahkan di musim dingin sekalipun, belum tentu bisa melihat aurora setiap saat. Bagaimanapun, selama di Iceland saya selalu memantau situs ramalan aurora yang selalu memperbaharui ramalan mereka setiap jam. Kondisi awan yang tebal semakin memperkecil peluang kami untuk menyaksikan aurora meski kondisi malam sudah cukup gelap dan aktivitas matahari sedang intens. Memang begitulah resiko pergi ke Iceland di musim panas. Kemungkinan melihat aurora menjadi kecil, tetapi jalanan yang bebas dari salju memungkinkan kita bisa menjelajahi tempat-tempat di Iceland sampai pelosok terjauh. Pada musim dingin banyak jalanan di Iceland yang ditutup karena rawan longsor salju serta tempat wisata yang tidak bisa dikunjungi. Ya, kita tak bisa mendapatkan semuanya.

Meski kemungkinan melihat aurora semakin kecil, saya nyatanya tak berkecil hati. Pemandangan dahsyat musim panas yang saya saksikan sudah menjadi pengobat dan penghibur yang melebihi harapan saya. Saya memang sengaja tidak mencari terlalu banyak gambar-gambar alam Iceland di internet sebelum berangkat, sehingga saat menyaksikannya langsung selalu terkejut dan terpana setiap melihat lekuk dan rangkaian alam lanskapnya. Sedangkan pada malam hari, penghiburan terbesar datang dari penampakan rasi bintang Ursa Minor. Penglihatan atas rasi ini meyakinkan saya bahwa saya sudah tidak menjejak lagi tanah Jawa, rasi ini hanya bisa dilihat di belahan utara khatulistiwa. Jam 2 pagi, di beranda kamar, saya takjub menatap bintang kutub utara, Polaris* ditemani aransemen lembut album Relaxin’ with the Miles Davis Quintet. Harmonisasi alunan trompet dari Davis dan sax dari Coltraine adalah nada-nada terindah untuk mengawali hari baru.

IMG_1590
Pemandangan beranda hotel yang langsung menghadap panorama rendah, luas, cokelat, menghampar sejauh indra penglihatan kita berdaya

*****

Ketika cahaya matahari mulai menguar di langit timur, saya beranjak ke dalam kamar dan mulai membaca pesan-pesan surel yang selama beberapa hari ini tak terjamah. Dan kepanikan kecil mulai melanda. Saat saya berangkat ke Iceland, saya masih meninggalkan sedikit tugas. Saya terlibat sebuah komunitas kesukarelawanan yang bergerak di bidang pendidikan. Saya kebagian tugas untuk menilai essai pendaftaran. Karena yang mendaftar sangat banyak, jadi essai yang harus dinilai sangat banyak sekali. Saat direkap dalam bentuk Excel, ada ratusan baris dan 40 puluhan kolom yang harus dibaca satu-satu. Tadinya saya mau membaca dan menilai essai-essai tadi di tablet elektronik yang saya bawa. Tetapi setelah membaca 2 baris (artinya baru dua pelamar), saya menyerah karena tulisan terlampau kecil sementara jumlah kolom yang amat banyak membuat saya harus geser layar bisa sampai jauh sekali sehingga tak nyaman. Untungnya dalam rombongan kami ada teman saya yang membawa laptop ke Iceland karena dia masih meninggalkan pekerjaan juga. Jadi, sepagian itu sebelum sarapan, saya membajak laptopnya untuk menilai essai-essai tadi. Awalnya saya mencibir teman yang membawa laptop itu, karena buat apa liburan jika harus tetap bekerja. Namun hari itu saya harus baik-baikin dia agar mau meminjamkan laptopnya kepada saya. Haha.

Karena keasyikan membaca essai-essai saya jadi terlambat datang ke ruang makan, tanpa perlu mencari-cari akun media sosial atau foto-foto para pelamar, saya bisa menilai kepribadian (bahkan kadang bisa membayangkan penampilan fisik) dengan membaca essai-essai mereka. Pertanyaan essai yang sengaja dikemas agar bisa menggali sebanyak mungkin kepribadian seseorang secara mengejutkan bisa mengungkapkan diri seseorang lebih banyak daripada foto-foto media sosial (yang biasanya disaring dan dipilih agar terlihat fotogenik sehingga ada kesan ‘palsu’). Saya hampir lupa waktu sarapan saking asyiknya membaca essai-essai tadi andai teman saya tak menelepon karena mereka belum menemukan saya berkeliaran di meja hidangan mencari buah beri-beri unik yang disajikan. Hehe.

Sambil sarapan, kami mendiskusikan rute perjalanan yang akan kami tempuh hari itu. Karena hari-hari sebelumnya kami sudah melewati banyak sekali air terjun dan geyser-geysersalju dan bongkahan es dimana-mana, ataupun lanskap tundra luas, kami merekap pemandangan apa yang akan kami jumpai pada hari itu. Minus geyser, pemandangan Skaftafell National Park yang akan kami jelajahi ternyata kombinasi semua itu. Teman saya yang membawa laptop dan merasa masih memiliki banyak pekerjaan menumpuk mengatakan dia tak akan ikut serta dalam perjalanan hari itu, memilih untuk mengerjakan tugas di hotel. Memang pemandangan yang disajikan sedikit ‘tipikal’ jika dilihat dari gambar di internet. Tetapi ketika kami pergi ke Skaftafell, apa yang kami jumpai tetap di luar dugaan. Iceland, sama sekali tak kehabisan bahan untuk mengejutkan dan memesona kami. Memikirkan teman saya yang seharian tinggal di hotel, saya pikir dia akan sangat menyesal karena melewati apa yang saya lihat hari itu.

*****

Skaftafell National Park sebetulnya masih berupa bagian dari Vatnajökull National Park yang membentang dari pesisir selatan Iceland, melalui padang-padang lumut tundra yang menghampar mahaluas, dilanjutkan dengan rangkaian pegunungan berpuncak tajam dengan tudung-tudung es abadi yang dilihat dari jauh saja sudah tampak pasti akan sukar sekali untuk bisa menaklukannya. Vatnajökull National Park sendiri adalah satu dari 3 taman nasional yang ada di Iceland, dua lainnya sudah saya datangi hari-hari sebelumnya yakni Þingvellir National Park dan Snæfellsjökull National Park. Agenda kami hari itu adalah seharian mengelilingi Skaftafell dan kawasan sekitarnya. Dan sudah diputuskan bahwa kami akan melakukannya dengan berjalan kaki, hal yang paling saya dambakan sejak dari Indonesia akhirnya terjadi juga, trekking seharian di Iceland!

Ketika saya sampai di kaki gunung Kirkjufell di hari pertama kedatangan saya di Iceland, rasanya kaki saya mengerinyau. Ingin mendaki dan berdiri di puncaknya. Tapi tentu saja dengan dinding-dinding vertikalnya ditambah hambusan angin superkencangnya, rasanya mustahil bisa mendakinya. Ikon nasional Iceland itu juga sudah pasti terlarang untuk didaki para turis. Sementara gunung-gunung es seperti Snæfellsjökull meski sangat menggoda untuk didaki tetapi perlu tenaga prima dan peralatan ekstra agar bisa mendakinya. Sementara rombongan saya hanya turis-turis biasa dengan kostum ala kadarnya. Trekking di alam terbuka biasa tanpa perlu menyiapkan peralatan khusus adalah pilihan terbaik tanpa kehilangan makna utamanya. Di Iceland dimana keindahan alam meruah di tiap jengkalnya, trekking di mana saja sebetulnya tak jadi masalah. Tapi tentu saja saya ingin mencoba jalur trekking yang terbaik, dimana Skaftafell menawarkan banyak kesempatan itu. Dan bukan rombongan kami saja yang berpikiran serupa.

Lokasi hotel tempat kami menginap tidak begitu jauh dari Skaftafell. Hanya berkendara setengah jam kami sudah sampai ke sana. Begitu kami sampai di Skaftafell, tempat parkir sudah nyaris penuh padahal kami datang sekitar jam 8 pagi. Skaftafell adalah surga trekking dengan puluhan jalur trekking tersedia di sana tergantung durasi dan durabilitas tubuh. Ada beberapa opsi yang tersedia. Setelah mempertimbangkan waktu, kami mengambil jalur trekking yang menengah saja, yang durasinya sekitar 4 jam, melewati aneka air terjun (lagi) sambil bertanya-tanya, apakah air terjun yang akan kami jumpai akan kembali mengejutkan saya setelah hari-hari sebelumnya menikmati aneka air terjun mulai dari yang tinggi sekali, yang lebar, maupun yang gentur debitnya.

IMG_1726
Pemandangan dari tempat parkirnya saja sudah begini. Keindahan apalagi yang akan kami temui di sana? Jam masih menunjukan pukul 8, tetapi para pejalan sudah banyak

Ah. Mungkin inilah romantisme jalan-jalan musim panas yang sering saya idam-idamkan sejak masih kecil saat membaca kisah-kisah petualangan remaja yang berlatar di belahan bumi utara. Rerumputan hijau baru bangkit dari tidur musim dinginnya yang panjang, menyeruak diantara semak dan timbunan dedaunan kering yang sebelumnya meranggas oleh dinginnya musim dingin. Langit biru jernih dengan awan-awan tipis menggantung rendah di puncak gunung-gunung es, parit yang mengalirkan air sejernih kristal dari lelehan es-es di pegunungan yang tak terjangkau meliuk-liuk mengitari bebukitan membelah lanskap kering dan datar dengan ikan-ikan kecil berenang dan berlompatan di dalamnya seperti anak-anak kecil yang semangat bermain hujan-hujanan. Sementara angsa-angsa dalam kedisiplinan prajurat gigih yang menempuh jarak ribuan kilometer dari belahan bumi selatan tetap terbang dengan formasi huruf V teratur yang memesona mencari kehangatan musim panas bumi utara, dan membuat saya selalu mendongkak tiap kawanan itu terbang. Elang-elang pemburu terbang berputar-putar mencari tikus yang keluar dari liang-liangnya setelah hibernasi panjang berbulan-bulan. Angin semilir dari gunung yang membawa udara dingin es salju menyegarkan kawasan lembah dan lereng-lereng sehingga terik matahari tak terasa sama sekali, tergantikan oleh semerbak bunga-bunga rerumputan yang aromanya terbang melewati tempat yang jauh bercampur dengan aroma tanah basah. Dan di atas segalanya, terik matahari memancar dengan begitu semangat dan agung menyinari kawasan bebukitan yang tak hanya membawa terang tapi juga semangat hidup bagi semua makhluk-makhluk yang hidup di atas, di permukaan, dan di bawah tanah.

Saya pikir, saya berjalan dengan sangat lambat sekali. Meski jalur trekkingnya mudah dengan tangga-tangga tempat berpijak disediakan, tetapi saya berjalan dalam tempo yang teratur seolah menghitung jumlah langkah yang saya lakukan. Kenyataannya saya mengengok kiri-kanan-depan-belakang, mata saya dengan rakus menjelajah tiap lekuk dan pelosok tempat-tempat di nun jauh sana yang entah mengapa semakin terasa asing padahal hari-hari sebelumnya sudah pernah saya datangi. Setelah hari-hari sebelumnya kami kebanyakan melakukan perjalanan dengan mobil untuk berlindung dari guyuran hujan dan terpaan angin kencang, hari indah itu benar-benar membuat saya serasa berada dalam surga. Saya mabuk oleh keindahan alam.

IMG_1714
Baru 10 menit saya berjalan, bebukitan cokelat dengan semak meranggas menyembunyikan puncak salju gunung tinggi nun jauh di kaki cakrawala

Meski secara umum kecepatan jalan saya sangat lambat, ada kalanya saya berjalan cepat nyaris berlari, terutama jika menjumpai bukit yang menghalangi pemandangan, saya ingin segera menyibak misteri keindahan apa yang ada di baliknya. Atau lebih seringnya, saya berlari mendahului teman-teman saya agar saya sampai lebih duluan ke tempat yang lebih sepi untuk membuka sepatu saya, berjalan menginjak rerumputan basah yang tetesan embun paginya belum menguap seluruhnya. Berjalan di atas rumput, kadang berbaring dan berguling jika tak ada turis lain yang lewat, haha, saya ingin seluruh indra menikmati seluruh anugerah keindahan itu. Tak hanya penglihatan, pendengaran, dan penciuman saja yang merasakan kedahsyatan alam liar di sana, tetapi indera peraba juga harus ikut serta mencicipinya. Untuk inilah mengapa saya bersikeras memasukan agenda trekking dalam jadwal perjalanan kami, karena keindahan kecil seperti ini tak bisa dilakukan jika kita melaju terus dalam kendaraan.

Ketika saya sedang berbaring di tepi sesemakan, tetiba ada burung Wren Musim Dingin (Troglodytes troglodytes) keluar dari semak dekat kaki saya. Awalnya saya tak menyadari kehadiran burung ini karena warnanya yang menyabur dengan warna rumput dan bebatuan sekitarnya. Saya nyaris menahan nafas saking senangnya. Burung ini biasanya bertelur di bulan April-Mei, di mana jantan-jantannya membangun sarang dari potongan rerumputan dan ranting semak. Tak takut dengan kehadiran saya, burung ini berjalan begitu dekat sehingga saya nyaris bisa membelainya andai saya mau. Tapi saya lebih memilih agar burung ini tetap berjalan tanpa merasa terancam, melanjutkan ikhtiarnya mencari serangga sebagai makanannya. Saya tak mungkin bisa melihat burung ini sedekat itu jika saya tak melakukan trekking.

IMG_1639
Burung Winter Wren (Troglodytes troglodytes) ini mungkin sang jantan yang setelah tugasnya membangun sarang selesai, mencari serangga-serangga yang meledak jumlahnya karena kehangatan musim panas yang persuasif

Begitu saya menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, air terjun pertama langsung saya temui. Dibandingkan air-air terjun yang kami jumpai sebelumnya, air terjun ini terasa ramping. Namun kesan gagahnya tak bisa ditutup-tutupi. Jalur trekking yang melewati kepala air terjun membuat saya bisa melongok ke bawah, gemuruh dan getarannya terasa mengguncangkan dinding tebingnya. Efek Lenard terasa dan membawa kesejukan luar biasa yang dengan seketika merontokan rasa lelah yang mulai datang karena jalur yang dilewati terus menanjak. Tapi bukan air terjun itu tujuan kami dalam jalur trekking yang akan kami tempuh. Air terjun ini hanya pembuka untuk air terjun lainnya. Namun tetap saja saya cukup berlama-lama di sana untuk menikmatinya.

Semakin lama, perjalanan semakin menanjak. Setelah melewati 4 bukit utama, di kejauhan mulai lah terlihat tujuan utama kami; air terjun Svartifoss.

IMG_1682
Berada di tengah mangkuk yang dikelilingi bebukitan, Svartifoss sudah terlihat jelas dari kejauhan

Dengan segala air terjun yang saya jumpai sejak hari pertama sampai hari sebelumnya, air terjun Svartifoss tetap berhasil memukau saya. Meski tak sebesar dan setinggi yang sebelum-sebelumnya, Svartifoss tetap memukau terlebih karena dinding air terjun ini lain daripada dinding air terjun yang sebelumnya saya jumpai. Svartifoss tercurah dari dinding-dinding yang berupa columnar joint. Kolom-kolom balok batuan basalt (biasanya berbentuk segi enam) yang terbentuk karena magma yang membeku lambat menghiasi dinding-dinding yang membentuk ‘mangkuk’ raksasa di mana air terjun mengalir deras di satu sisinya. Di Indonesia, kolom-kolom balok seperti ini bisa ditemui di Gunung Padang Cianjur yang sering disalahtafsirkan sebagai peninggalan candi/piramida buatan manusia, padahal kolom-kolom balok basalt ini yang ukuran dan bentuknya sangat teratur bisa terbentuk oleh proses alami. Garis-garis kolom balok basalt di sekitar Svartifoss kadang tidak sampai ke tanah sehingga menggantung begitu saja menciptakan ilusi seolah gerojokan tambahan dari air terjun yang berubah menjadi batu.

IMG_1662
Ada begitu banyak batu, namun Svartifoss dengan genturnya membelah kolom-kolom balok bebatuan keras  ini dengan daya yang begitu menggetarkan

Di Svartifoss, saya berjumpa dengan rombongan turis dari Malaysia. Saya yang awalnya mengira mereka dari Indonesia menyapa duluan yang dibalas dengan ucapan logat melayu totok. Kami berbincang sebentar berbagi pengalaman dan saran mengenai tempat-tempat yang telah masing-masing kami datangi. Berada di tempat seterpencil Iceland, berjumpa dengan warga negara tetangga seolah bertemu dengan tetangga gang sebelah.

Dan tentu saja saya menyempatkan untuk melepas sepatu dan merendamkan kaki. Airnya yang berasal dari lelehan salju terasa menyengat dingin pada mulanya, namun setelah terbiasa menjadi terasa nyaman dan menenangkan. Seketika saraf-saraf kaki saya yang mulai kelelahan langsung rileks. Dinginnya air sangat kontras dengan hawa panas yang mulai menjalar seiring tingginya matahari di pucuk langit. Meski temperatur terbaca 13°C, tetapi ketiadaan awan membuatnya menjadi lebih panas saat terasa oleh kulit. Saya tak bisa membedakan apakah saya sedang berada di Iceland atau pegunungan di Bogor. Namun dinginnya air terjun dan semilir angin yang membawa udara es dari puncak-puncak pegunungan yang dingin menyegarkan membuat saya yakin bahwa udara dan air sedingin itu tak akan ada di Indonesia (kecuali mungkin di kawasan Papua yang ada es abadinya).

Sebetulnya jalur trekking masih panjang. Tetapi kawan-kawan saya yang sudah kelelahan dan terbuai dengan dinginnya air sungai, memutuskan untuk kembali ke tempat parkir untuk mencoba jalur trekking lain. Setelah pamit kepada turis-turis Malaysia, saya berjalan kembali lebih dahulu. Di tengah jalan, saya berjumpa turis dari Timur Tengah. Sepertinya, mereka salah kostum. Terperdaya cuaca hari-hari sebelumnya yang mendung, hujan dan berangin, mereka memakai kostum jaket tebal dan shawl berlapis-lapis, lengkap dengan alas kaki dan sarung tengan wool tebal, sementara saya hanya mengenakan kaos T-shirt saja. Dan mereka tampak menderita sekali dengan kostum lengkapnya itu. Lebih buruknya lagi, kostum mereka berwarna hitam yang sempurna menyerap panas lebih banyak dan cepat. Seorang laki-laki yang saya taksir usianya 30-an, merengek-rengek kepada pasangannya untuk kembali pulang, sementara sang perempuan ingin terus maju sampai Svartifoss. Terjadi hardik-hardikan yang lumayan keras dan sang perempuan yang tak tahan dengan rengekan, meninggalkan sang pria. Sang pria yang tak punya pilihan lain dengan nafas terengah-engah berteriak dan berusaha menyusul. Haha, drama sekali memang.

IMG_1719
Gunung-gunung salju membatasi kawasan Skaftafell dari dataran pasir hitam mahaluas untuk selanjutnya menyambung dengan Samudera Atlantik di kawasan pesisir selatan Iceland

Di kawasan sekitar parkir, disediakan bangku-bangku piknik nyaman yang menghampar di atas rerumputan hijau luas. Meski terik, semilir angin membuat hawa terasa nyaman sehingga kami makan siang di bawah guyuran terik. Kelelahan karena telah berjalan kaki selama hampir 4 jam serta angin bersilir-silir yang mengisi kawasan lembah berumput, membuat selera dan nafsu makan siang saya meningkat dengan drastis. Setelah pose “piknik di bangku taman dengan menu bekal buatan mama” yang gagal saat di Grundarfjörður karena angin super kencang, di Skaftafell akhirnya bisa makan di bangku taman dengan tenang dan hati riang.

Suapan makanan dan foto-foto mungkin hampir sama banyaknya, haha. Kami tak merasa perlu tergesa-gesa makan siang. Setiap gigitan makanan begitu dinikmati sambil memanjakan mata dengan pemandangan padang rumput luas dengan gunung-gunung bermahkotakan es di latar belakang.

*****

Seusai makan siang, timbul sedikit perdebatan apakah kami akan melanjutkan trekking ke jalur berbeda (Skaftafell memiliki banyak sekali jalur trekking yang menggoda). Namun dari brosur wisata yang kami dapatkan di hotel, di sekitar sana ada tempat wisata lain yang  juga terkenal yang membuat kami memutuskan bahwa kami akan melanjutkan jalur trekking yang lain di luar Skaftafell. Maka, sambil malas-malas kekenyangan makan siang, kami menuju mobil untuk mampir dulu ke pantai pasir hitam Reynisfjara sebagai selingan melanjutkan trekking di tempat lain.

Berada di dekat kota Vik, pantai Reynisfjara terkenal karena memiliki tebing-tebing yang dihiasi kolom-kolom balok batuan basalt seperti yang ada di air terjun Svartifoss. Pantai pasirnya yang hitam legam menandakan bahwa pasirnya berasal dari pecahan batuan magma basaltik. Kota Vik sendiri yang merupakan kota paling selatan di Iceland menjadikannya sedikit menjorok menembus samudera Atlantik. Artinya, gelombang di sana bisa sangat dahsyat sekali.

20170504_160103
Dahsyatnya ombak di pantai Reynisfjara mengikir batu-batu karang dalam formasi aneh berupa tiang-tiang yang mencuat di tengah laut.

Dan ombak di pantai Reynisfjara adalah salah satu ombak terdahsyat yang pernah saya saksikan seumur hidup! Gemuruh ombaknya bisa terdengar berkilo-kilo sebelum saya mencapai pantai (bisa terdengar dari jalan raya saat masih dalam mobil). Ombaknya yang terlihat tenang dan jinak di tengah laut, menjadi berlipat ganda tingginya saat mencapai bibir pantai. Bahkan dengan hanya melihat bentuk ombaknya saja, saya sudah kagum dan ngeri dengan pantai Reynisfjara.

IMG_1752
Tanda peringatan di pantai Reynisfjara yang dipasang dimana-mana. Pantai paling terkenal se-Iceland ini justru menjadi pantai paling mematikan. Hampir tiap dua tahun sekali, pantai ini memakan korban bagi turis yang tak waspada. Meski ombak besarnya menggoda, kegiatan surfing dilarang sama sekali di bulan-bulan tertentu

Dan tentu saja bukan ancaman kengerian belaka yang ditawarkan Reynisfjara. Pantai pasir hitamnya yang melampar puluhan kilo menjadikan Reynisfjara sebagai pantai yang paling banyak dan panjang pasirnya yang pernah saya datangi. Benar-benar luas dan panjang sekali. Jalan dari satu ujung ke ujung pantainya pasti akan memakan waktu berjam-jam. Dan tentu saja bukan hanya pantai pasirnya yang membuat pantai Reynisfjara menjadi pantai paling terkenal se-Iceland. Adalah keberadaan dinding-dinding kolom balok basalt yang membuat pantai ini terkenal.

Mengingatkan saya pada kolom balok batuan basalt Giant’s Causeway di North Ireland yang terkenal, kolom-kolom balok basalt di tebing pantai Reynisfjara muncul secara massif dan jumlah cukup banyak. Di satu bagian, kolom-kolom balok ini membentuk ceruk yang besar dan dalam yang jika dari kejauhan seolah membentuk gua raksasa. Berdiri di depannya membuat saya seolah berdiri di pintu gerbang katedral yang megah dan raksasa. Impresif dan memukau.

20170504_162417
Pasangan turis dari Asia Timur melakukan foto pre-wedding di dinding kolom balok basalt pantai Reynisfjara. Sang calon mempelai perempuan yang gesit mendaki batuan curam dan tinggi membuat saya takjub mengingat dia mengenakan sepatu dan gaun yang ringkih

Di pantai Reynisfjara terdapat toilet yang
berada di pinggir sebuah cafe. Teman saya
yang kebelet antri di sana, tapi malah
tidak jadi begitu antrian dia sampai. Ketika
saya tanya mengapa dia tak jadi masuk ke
toilet, ternyata untuk masuk ke sana harus
memasukan uang ke alat yang mirip
vending machine. Toilet canggih ini ternyata
berbiaya kurang lebih 80 ribu rupiah sekali
masuk. Pantas teman saya batal masuk, haha

Di belakang pantai Reynisfjara, di balik dinding kolom-kolom balok basalt, terdapat sebuah laguna dangkal yang tampak gelap karena pasir hitamnya. Pada bulan-bulan musim semi, laguna tersebut biasanya disinggahi anjing laut. Saga terkenal Mýrdalur mengisahkan bahwa pada malam hari, anjing-anjing laut ini melepaskan kulitnya dan menjadi manusia untuk berpesta di laguna tersebut. Sayang saat saya ke sana tak ada satupun anjing laut yang terlihat.

Pantai pasir mahaluas, dinding kolom balok basalt yang tegap dan kabir, gua kolom balok yang agung, serta ombak Atlantik yang mengancam namun menghipnotis, saya hampir dua jam sendiri berkeliling atau sekedar bengong-bengong di pantai Reynisfjara.

*****

Setelah dirasa cukup puas (padahal menonton amukan ombaknya saja tak pernah membuat saya pasai), kami memutuskan kembali mencari tempat trekking baru melanjutkan trekking di Skaftafell. Saya sesungguhnya tak perlu kembali lagi ke sana untuk mencari jalur trekking baru karena antara Reynisfjara dan hotel tempat menginap, terdapat bentang panorama alam Iceland yang juga ikonik dan termasyhur; ngarai Fjaðrárgljúfur.

Ngarai Fjaðrárgljúfur adalah ngarai berusia dua juta tahun, terbentuk saat zaman es yang secara perlahan mengikis bebatuan magma, menciptakan batuan rombakan yang disebut palagonite. Dan hasilnya adalah lembah sempit, dalam, berkelok-kelok sedalam hampir 100 meter dengan panjang 2 kilometer. Waktu dan ketabahan air sungai yang menatah selama jutaan tahun menciptakan ngarai indah berseluk dan hijau dibaluri lumut. Untuk bisa melihat puncak ngarai, saya harus mendaki sebuah bukit hijau seperti bukit yang ada di gambar wallpaper Bliss di windows XP. Hijau permai dan menjulang, saya awalnya berpikir jika bukit ini rendah, tetapi untuk memanjat sampai puncak ternyata perlu setengah jam sendiri. Kelandaiannya ternyata menipu, saking landainya saya tak merasa jika sudah mendaki bukit yang lumayan tinggi dan panjang. Orang-orang yang ada di puncak buku terlihat sangat kecil sekali saat dilihat dari kaki bukit.

IMG_1920
Panorama dari salah satu tepi ngarai Fjaðrárgljúfur, segala sesuatu yang ada di sekitar tempat ini hanya bisa diungkapkan dengan kata “menawan”

Batuan palagonite yang mengisi dasar lembah dengan riakan sungai yang berkilau saat diterpa cahaya matahari sore, di beberapa tempat membentuk menara monolit di tengah lembah, menciptakan bayangan memanjang matahari sore yang rendah, tidak hanya membentuk formasi abstrak tetapi juga ilusi bayangan aneh sehingga terbentuk pemandangan surrealis seperti di lukisan Forest and Dove-nya Max Ernst. Benar-benar menghipnotis.

Menghabiskan sisa hari yang melelahkan; menatap jurang yang dipenuhi bebatuan, berselonjor di padang rumput sepanjang bukit, berguling-guling dan berlompat-lompat menuruni lereng, menyaksikan burung-burung yang kembali ke sarang-sarang di liang bebatuan, melihat sungai yang melicau terkena cahaya matahari dan mengalir berkelok mengikuti kontur bumi dan hukum gravitasi, meraba lumut-lumut lembut di tepi jurang, berjalan dengan kaki telanjang di busut-busut rerumputan, berbaring menatap awan di langit terang yang meski sudah menunjukan pukul jam 6 sore tetapi masih tak ada tanda-tanda keremangan senja, bersendau gurau dengan kawan sambil duduk-duduk menghabiskan sisa bekal, mengucapkan salam dan semangat pada turis-turis lain yang kelelahan. Ah, saya pikir saya telah melewatkan hari yang sangat luar biasa dan diakhiri dengan hal luar biasa juga. Sambil berbaring di padang rumput, saya memutarkan lagu Summertime** dari Ella Fitzgerald dan Louis Armstrong. Saya pikir, sore itu adalah salah satu sore terbaik saya seumur hidup. Dan akan terus saya kenang.

Dan tatkala angin musim semi meledakkan lembah; Saat matahari musim semi menyinari rumput kering tahun lalu di susuran sungai, menerangi danau serta dua angsa putih di danau itu; dan merayu rumput baru untuk keluar dari tanah gambut di paya – Siapa yang bisa percaya jika di hari yang begitu damai, lembah-lembah berumputnya memendam kisah masa lalu beserta bayangannya yang terus menghantui?

IMG_1922
Ngarai curam dan tua ini tampak tenang dan ranah. Bayangan bebatuan menciptakan ilusi bahwa selain keheningan, ada juga kehampaan yang mengisi ngarai. Namun semuanya begitu damai

(bersambung)

 

        = Polaris atau kadang disebut bintang utara (north star), adalah sebutan untuk bintang yang nampak (nyaris) di atas kutub utara pada lintang utara 89 koma sekian. Merupakan satu dari kumpulan bintang yang membentuk rasi Ursa Minor (beruang kecil), selama berabad-abad Polaris sudah menjadi alat navigasi paling berharga terutama bagi para penduduk belahan bumi utara. Karena bentuk bumi yang berbentuk bola sedangkan polaris bisa dikatakan tepat berada di atas kutub utara, maka penduduk belahan bumi selatan khatulistiwa tak bisa menyaksikan bintang ini di langit malam. Posisinya yang nyaris di atas kutub utara menjadikan Polaris sebagai alat navigasi “sederhana” yang jauh lebih akurat ketimbang kompas (kompas dapat terpengaruh medan magnet bumi yang tiap tempat bisa berbeda nilainya tergantung posisi lintang bahkan kandungan mineral yang ada di kerak bumi). Karena posisinya yang ada di atas kutub utara dan tak berubah selama berabad-abad terakhir, dalam babak ke-3 drama Julius Caesar yang tragis karya Shakespeare, Sang Caesar berujar “But I am constant as the northern star” sebagai ungkapan bahwa sang Caesar punya pendirian tak tergoyahkan. Namun, tentu saja pada kenyataannya Polaris tak akan selamanya berada di atas kutub utara. Karena sumbu rotasi bumi yang miring, akan ada pergeseran relatif posisi bintang-bintang langit. Ketika orang Mesir membangun piramida pertama mereka, bintang Thuban lah yang berada di atas kutub utara. Seribu tahun lagi, bintang Alrai-lah yang akan menduduki singgasana kutub utara sementara posisi Polaris akan bergeser ke lintang yang lebih rendah. Baru setelah 26 ribu tahun lagi Polaris akan kembali menguasai singgasana kutub utara lagi. Klise sebetulnya, tapi frasa ‘tak ada yang abadi di dunia ini‘ merupakan sebuah keniscayaan bahkan saat kita membicarakan benda-benda berumur panjang seperti bintang.

**         = Lagu Summertime yang aransemen musiknya diciptakan pianis jazz legendaris George Gershwin dengan lirik ciptaan DuBose Heyward telah menjadi salah satu lagu paling populer sepanjang masa. Hanya lagu-lagu The Beatles saja yang mungkin bisa mengalahkan lagu ini sebagai lagu yang paling banyak dinyanyikan ulang oleh penyanyi lain. Versi duet Ella Fitzgerald dan Louis Armstrong yang saya perdengarkan di Fjaðrárgljúfur adalah versi paling monumental dan terkenal (dua penyanyi dengan bakat vokal paling puncak dalam dunia seni suara). Namun versi Sonny and Cher, Nina Simone, REM, bahkan Norah Jones juga sangat amat layak didengarkan. Lagu yang begitu paripurna membawa semangat bertualang untuk menikmati keindahan musim panas. Dan oh, tentu saja versi Janis Joplin yang pernah menyanyikan lagu ini di festival musik Woodstock 1969 juga menjadi versi Summertime yang paling banyak diingat orang. Janis yang enerjik memberi energi sendiri bagi lagu yang menarik ini,

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

6 thoughts on “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 5]”

  1. Luar biasa perjalanannya Qui. Betul-betul penikmat alam dengan level yang tinggi. “Lucunya” aku “kenal” tempat-tempat yang Qui ceritakan ini di video clip film India yang berjudul Gerua. Iceland digambarkan dengan luar biasa indah di video clip itu.

    Aaaa mupeng!

    Like

    1. Ahaha. Saya masih tak faham apa maksud “penikmat alam level tinggi”. Kenyataannya saya hanya bengong-bengong saja kok. Haha

      Saya belum menonton film India itu. Tapi seperti yang saya ceritakan di tulisan bagian ke-3 seri Iceland ini, banyak sekali film yang berlatar di Iceland. Pemandangannya dramatis. Atau seperti kata Björk di tulisan ke-2 saya, pemandangan di sana itu “emotional landscape”.

      Seumur hidup sekali, kamu harus menyempatkan diri datang ke sana. Hehe. #kompor

      Liked by 2 people

      1. Nah kalo aku biasanya bengong-bengong dari jauh, setidaknya Qui bengongnya jauh lebih dekat hehe.

        Siap, makasih atas komporannya Qui. Mudah-mudahan nanti aku bisa ke tempat-tempat yang Qui ceritakan ini. Amiiin.

        Like

  2. Seperti biasa tulisan Om Qui menarik dan minim typo (cuma 2) hehe. Saya memiliki sedikit kritik. Saya tahu anda mengambil foto sesuka anda tetapi alangkah baiknya kalau fokus fotonya diperbaiki. Errr pokoknya begitulah, saya susah menjelaskannya. Harap gunakan telepati saja.

    NB: Terima kasih lho sudah membuat saya menghabiskan waktu satu jam lebih untuk mencari foto toilet fu fu fu

    NB2: Saya membaca dari awal berdebar menunggu cerita seram yang (kali ini pun) tidak kunjung datang sampai akhir hehehe

    Like

    1. Hehe. Kayaknya cerita ke sana harus nunggu lebih lama. Ada beberapa tulisan lain yang mau naik cetak (tapi sampai sekarang belum ditulis). Let’s see sajalah kapan saya bisa lagi nulis. Ada beberapa trip yang akan saya lakukan, semakin sulit buat cari waktu untuk menulis. Hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s