Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4]

The peace in nature fills his mind with calm and cheer, the bright green grass under his feet awakens a sense of beauty, almost of reverence. In the fragrance that is borne so sweetly to his nostrils, in the quietude that broods so blissfully around him, there is comfort and rest. The hillsides, the dingles, the waterfalls, and the mountains are all friends of his childhood, and never to be forgotten.”
― Halldór Laxness, Independent People

Syahdan, satu millenium yang lampau, para penjelajah laut bangsa Viking dari tanah Skandinavia di Eropa Utara* menjelajah lautan beku untuk mencari tanah pengharapan baru. Konflik dan perebutan lahan di Skandinavia membuat bangsa Viking nekat menjelajahi lautan beku dengan kapal seadanya ke arah barat (arah utara sudah pasti mustahil karena laut Arktika sukar untuk ditembus dengan teknologi masa itu). Maka, mungkin di musim panas, akhirnya para pelaut bangsa Viking menemukan pulau besar yang udaranya cukup hangat dengan padang rumput hijau membentang sepanjang lembah-lembahnya, sekilas mirip dengan tanah Skandinavia yang mereka tinggalkan. Para penjelajah pioneer ini sadar bahwa pulau baru ini akan menggoda para pelaut Viking berikutnya untuk datang ke sana dan akan menimbulkan konflik perebutan lahan seperti di negeri Skandinavia asalnya. Maka para penjelajah pioneer ini menamakan pula baru itu sebagai “Ísland” atau “Iceland“, dengan harapan nama “tanah es” cukup untuk membuat para penjelajah berikutnya menghindari dan mengabaikan penemuan pulau baru yang sebenarnya hijau itu. Sementara itu, terpicu atas penemuan pulau besar itu membuat para penjelajah Viking semakin semangat untuk meneruskan pencarian pulau baru. Kegigihan menghantarkan mereka untuk berlabuh di pantai timur pulau yang lebih besar dan lebih raksasa, namun sayang sepenuh pulaunya ditumpuki es. Meski sepenuhnya pulau ini diisi es, penjelajah Viking menamakannya sebagai “Grønland” atau “Greenland“. Nama “tanah hijau” digunakan agar orang yang menyusul memilih menetap di Greenland yang penuh es ketimbang Iceland yang hijau. Maka, begitulah cerita asal-usul nama dan penemuan Greenland yang penuh es bertukar nama dengan Iceland yang hijau. Cerita yang cenderung jenaka ini menyebar di buku-buku sekolah dan bacaan, bahkan masuk dalam cerita di brosur wisata yang saya temukan di Reykjavik. Namun, tentu saja, cerita ini penuh dusta–atau setidaknya, tidak sepenuhnya benar. Mengapa kita lebih mudah mempercayai hal-hal yang tidak benar, mengapa cerita yang tidak benar begitu digemari?**

*****

Fenomena alam Iceland yang unik dan berbeda dengan kebanyakan tempat di belahan dunia lain membuat orang-orang di sana menciptakan kosakata aneh yang tak ditemukan padanannya dalam bahasa lain selain deskripsi yang lumayan panjang. Seperti saya ceritakan sebelumnya, saat di kota Grundarfjörður saya mengalami gluggaveður yang selalu sukses menipu saya. Saat di Gunung Kirkjufell atau di Þingvellir, saya terus-terusan mengalami rokrassgat (istilah yang digunakan untuk menyebut tempat-tempat yang selalu diterpa angin terus menerus sampai kamu merasa keburu bosan menunggu kapan anginnya akan berhenti). Maka, di Hotel Laki, saya menghadapi fenomena yang disebut dalalæða (kabut setinggi pinggang yang menyelimuti lembah dan terbentuk di malam hari setelah sore yang cerah dan panas).

Begitulah, ketika saya terbangun sekitar jam setengah 3 pagi, langit sudah terang, kabut setinggi dada berkerumun depan pintu kaca di kamar saya yang menghadap taman–karena alasan yang sebetulnya tak bisa saya fahami betul-betul, semua kaca jendela kamar saya buka sehingga kamar mendapatkan pencahayaan alami dari luar. Jadi ketika saya terbangun jam setengah tiga pagi karena langit di Iceland sudah terang di jam segitu, saya pikir saya saya bisa melihat taman tetapi dalalæða menghalangi pemandangan saya atasnya. Lokasi kamar saya yang ada di lantai bawah membuat ketinggian kabut terlihat jelas hanya berkerumun setinggi dada di depan pintu kaca, sementara di atas kabut, angin bergejolak membuat ujung-ujung kabut meliuk-liuk dalam gerakan sentrifugal liar yang memesona. Saya yang tadinya berniat tidur lagi (atau membaca buku) malah berakhir bengong dengan melihat kabut pekat sampai akhirnya mereka hilang terbawa angin sejam kemudian. Fenomena kabut aneh ini sesungguhnya selain memang menarik dan memesona, juga sedikit menakutkan. Haha. Saya jadi teringat cerita novel The Mist karya Stephen King, dimana sebuah kota kecil di Maine kedatangan kabut aneh dengan monster-monter mengerikan akan menarik korban malang ke dalam kabut dan membunuhnya. Tapi keterpesonaan mengalahkan ketakutan, saya hampir sejam duduk bengong di depan pintu melihat kabut di luar (tapi tidak berani buka pintu kacanya, haha, males ditiup angin dingin… #alesan, ahaha).

Ditemani lagu-lagu blues dari Paul Butterfield***, saya menghabiskan sisa malam (atau lebih tepatnya dini hari) dengan membaca buku Independent People dan sebagain buku Javasiesta, buku yang ditulis teman saya tentang perjalanannya singgah di beberapa tempat di Jawa.

20170502_170148
Jam 3 pagi, kondisi di luar kamar tampak menyilaukan karena dalalæða (kabut setinggi pinggang yang datang dari lembah) membias dan memantulkan cahaya mentari dini hari yang membuatnya silau–dengan banyak misteri tertutupi di baliknya.

*****

Setelah kalap sarapan di Steinsholt di hari sebelumnya, sarapan di di Hotel Laki ternyata sama kalapnya. Menu hotel yang banyak jenisnya, membuat saya mencoba-coba berbagai menu yang tersaji sampai membuat perut saya sedikit begah saking banyaknya eksperimen mencoba makan ‘apa saja mumpung ada’. Skyr (yoghurt khas Iceland) dicampur dengan berbagai beri-berian akhirnya menjadi menu favorit sarapan saya selama di Iceland. Sayang kopi di hotel terasa lebih hambar (saya duga mungkin kopi jenis robusta dari Brazil) ketimbang kopi di Steinsholt sehingga saya hanya mengecap sesendok dan tak berniat menyesap lebih banyak. Setelah sarapan yang durasinya sangat lama karena mencoba berbagai aneka menu, saya menyiapkan bekal makan siang dan langsung mengarahkan mobil menuju kawasan timur Iceland yang lebih sepi lagi, melewati pasir hitam yang menghimpit jalan aspal nyaris lurus berkilo-kilometer dengan kabut yang masih tampak bahkan di tengah hari yang terik.

Pada hari pertama menjejakan kaki di Iceland, dimana perjalanan kami dimulai ke arah barat dan utara Iceland yang lebih dingin, kami menjumpai banyak sekali gunung-gunung dan bebukitan yang masih diselimuti es. Salju-salju bahkan masih menumpuk di pinggir jalan. Sementara sejak hari ketiga, kami menjelajahi kawasan selatan yang karena mendapat paparan udara hangat Atlantik, beriklim lebih hangat sehingga salju-salju hanya bisa ditemui di tempat-tempat yang lebih tinggi. Ini membuat saya sedikit menyesal karena seharusnya saya bermain dengan es dan salju lebih banyak saat di kota Grundarfjörður. Perjalanan hari kedua dan ketiga, salju tetap terlihat tapi berada jauh di tempat-tempat yang tinggi tempat glasier-glasier abadi seperti Langjökull, Mýrdalsjökull, dan Eyjafjallajökull berada yang sulit dijangkau. Namun pada hari keempat, kami menuju Vatnajökull, kawasan glasier dan tudung es abadi terbesar di Iceland. Kawasan Vatnajökull melampar dari puncak Hvannadalshnúkur sebagai titik tertinggi di Iceland hingga pasir pantai hitam di pesisir timur Iceland, menjadikannya sebagai salah satu massa es terbesar di Eropa baik dari segi luas maupun volume. Oh hari itu akan menjadi Hari Es Sedunia saya setelah hari sebelumnya saya mengalami Hari Air Terjun Sedunia.

20170503_105143
Dari kejauhan, volume es raksasa yang begitu banyak sudah mencolok sedemikian rupa kontras dengan bebatuan hitam yang ada di sekelilingnya

*****

Setelah berkendara selama dua jam dari penginapan yang membuat saya terkantuk-kantuk (kabut rendah yang seolah tak beranjak bahkan ketika angin yang malas dengan sia-sia ingin mengusirnya, dataran pasir hitam hampa sampai jauh ke kaki horizon baik saat menghadap depan-belakang maupun kiri-kanan, dan rerintik hujan ringan sisa malam sebelumnya yang belum tertuntaskan turun) nyaris membuat membuat tim kecil kami terseok-seok mengendarai mobil karena kejemuan yang melanda. Untungnya, di sebuah daratan pasir hitam vulkanis yang bernama Skeiðarársandur, kami menemukan sebuah “atraksi”. Hari masih pagi, tapi sudah banyak mobil diparkir, menandakan bahwa tak hanya rombongan kami saja yang ingin dihibur. Atraksi yang ada di Skeiðarársandur sebetulnya tak terlalu istimewa, hanya baja jembatan rusak yang ditumpuk di pinggir jalan (ya kalian bisa bayangkan betapa putus asanya kami terhadap kemonotonan jalan sampai melihat rongsokan baja saja sudah dianggap sebagai hiburan). Tetapi tentu saja bukan sembarang baja jembatan biasa, rongsokan baja itu adalah bekas jembatan Skeiðará yang hanyut terseret oleh air jökulhlaup (air bah yang membawa lelehan es dan lumpur gunung api, mirip dengan lahar dingin jika ada hujan setelah letusan gunung api di Indonesia).

Melihat besi baja yang demikian besar bisa terpilin dan terseret berkilo-kilometer membuat saya merinding membayangkan kekuatan sebesar apa yang mampu membuat jembatan baja sedemikian besar dan berat bisa roboh dan tercerabut oleh air bah. Dari papan informasi terbaca jika pada tahun 1996 letusan gunung Grímsvötn mengeluarkan abu dan lava yang ditambah hujan selama berhari-hari meluluhkan glasier es Vatnajökull, hasilnya adalah amukan bah dengan debit 50,000 m³/s (hampir sepuluh kali debit sungai Kapuas, sungai dengan debit terbesar di Indonesia). Dengan debit sebesar itu, amukan bah lumpur es itu rasanya akan sanggup menyeret apapun benda buatan manusia. Antara kagum dan merinding, kami betah berada di sana hampir setengah jam meski dinginnya kabut mulai menyelusup ke sela-sela baju hangat (namun ketiadaan angin membuat hawa dingin lebih jinak dibandingkan hari-hari sebelumnya).

img_1219
Seorang turis berpose di ‘monumen’ jembatan Skeiðará yang tercerabut dari fondasinya sedekade lampau oleh amukan air bah terbesar di Iceland. Sebuah jembatan baru dibangun sekitar 200 meter dari lokasi asal

Saat di Steinsholt, petugas wisma memberi kabar dan menyemangati kami bahwa cuaca di hari-hari berikutnya akan jauh lebih jinak ketimbang hari-hari sebelumnya, dan kami akhirnya bisa merasakan cuaca Iceland yang lebih bersahabat pada hari itu. Temperatur meski menunjukan kisaran 11-13°C, namun dengan deru angin yang lunak membuat hawa terasa sejuk 20-an°C sehingga saya tak memakai terusan baju hangat seperti hari-hari sebelumnya. Dengan tujuan utama bermain-main dengan es dan salju, cuaca yang bersahabat ini jelas merupakan sebuah mukjizat. Maka, dengan menaikkan percepatan mobil di jalan yang begitu lurus dan datar, mobil kami langsung menuju Jökulsárlón, sebuah laguna es yang menjadi tempat syuting film-film aksi Holywood seperti James Bond atau Batman.

Meski kami sampai di Jökulsárlón saat pukul 10 pagi, tetapi kabut masih sepekat ketika saya bangun jam 3 pagi, membuat pandangan kami terbatas tak bisa terlalu jauh melihat danau es yang begitu besar. Jarak pandang tak sampai 30 meter sehingga warna putih es yang dikaburkan oleh kabut pekat membuat saya menebak-nebak di mana batas glasier raksasa ini berada. Dari pinggir laguna (danau di tepi laut), terlihat banyak sekali bongkahan-bongkahan es raksasa yang mulai memecah oleh musim panas yang sudah datang. Ukuran bongkahannya yang sangat besar (rata-rata seukuran mobil bahkan ada yang sebesar bukit kecil) mengapung tenang untuk nantinya hanyut ke laut. Karena hampir 90% volume es berada di bawah air, membuat saya menebak-nebak seberapa dalam lagunanya. Sesekali terdengar bunyi ledakan sangat keras seolah ada bom yang meledak, padahal itu adalah bunyi bongkahan es yang patah. Meski terjadi berkali-kali, namun kejadiannya yang mendadak selalu membuat saya terkaget-kaget saat mendengarnya.

20170503_132645
Laguna Jökulsárlón dengan bongkahan-bongkahan es raksasanya untuk dihanyutkan ke laut nantinya. Kabut yang pekat menutupi sisi seberang  membuat saya bertanya-tanya sebesar apa luas dan dalam ukuran laguna ini

Meski sudah pasti air laguna dingin, tak menyurutkan saya untuk membuka sepatu dan berendam kaki di pesisir pantai hitamnya. Dengan jarak yang begitu dekat dari laut, jiwa kepenasaran saya terusik, laguna yang kena air pasang laut pasti mendapatkan pasokan air garam banyak, sementara pecahan dan lelehan es akan menambahkan massa air tawar. Sudah pasti tanpa ragu saya mencicipi airnya, yang malah mengejutkan saya karena rasanya yang unik. Rasanya ternyata enak, dingin-dingin dan gurih seperti kuah sayur sop yang disimpan di dalam kulkas. Kalau tak takut sakit perut dan masih kenyang sarapan, sepertinya saya bakal minum laguna Jökulsárlón sampai kembung. Haha.

Dengan begitu banyaknya bongkahan es yang mengisi laguna Jökulsárlón, pada saat kabut perlahan tertiup angin sehingga sinar matahari langsung jatuh ke permukaan laguna, tercipta pemandangan yang sangat spektakuler. Bongkahan es yang ada di atas air berwarna putih bersih, sementara airnya berwarna biru jernih. Dalam iklan-iklan wisata, Jökulsárlón sering diiklankan sebagai “Blue Lagoon“. Rasanya hampir dua jam sendiri kami jalan-jalan, merendamkan kaki, makan es batu di laguna, main lempar-lemparan batu siapa yang melempar paling jauh, mengetuk-ngetuk bongkahan es yang terdampar di pinggir laguna, berfoto-foto dengan berbagai gaya sampai teman saya mengeluhkan jika memori kameranya mendadak penuh, dan tentu saja obrolan serius dan analisis sok tahu mengenai korelasi dampak pemanasan global dengan jumlah bongkahan es yang hanyut.

20170503_162150
Es putih yang seolah mirip “sungai” itu sesungguhnya glasier raksasa Breiðamerkurjökull yang menjadi sumber bongkahan dan pecahan es di laguna Jökulsárlón

Kami baru berhenti bermain-main (dan berfoto-foto) di pinggir laguna ketika waktu makan siang sudah tiba. Sebelum mengambil bekal, saya sempat mempertimbangkan untuk menyicipi air laguna lagi, haha. Makan siang kami lakukan cukup cepat meski tak tergesa-gesa pula. Masih banyak bagian dari Jökulsárlón yang ingin kami jelajahi. Setelah membersihkan tangan dengan cairan antiseptik, kami menyeberangi sungai untuk mendaki gumuk pasir hitam dengan tujuan mendapatkan pemandangan yang lebih luas. Dan saat keluar mobil saya akhirnya menyadari ada yang aneh dengan kacamata saya.

Dengan alasan kepraktisan, saya tidak membawa kacamata hitam untuk jalan-jalan. Untuk melindungi mata dari sengatan panas, saya menggunakan kacamata biasa yang lensanya memiliki filter UV, alias kacamata yang menggelap dengan sendirinya jika terpapar cahaya matahari langsung. Di Indonesia, biasanya kacamata saya menggelap jika sudah terpapar sekitar 5-10 menit, itupun alih-alih lensanya hitam pekat, malah terlihat abu-abu. Di Iceland, kacamata saya menggelap nyaris seketika. Begitu keluar dari mobil, lensa kacamata saya langsung menggelap sempurna. Ini membuat saya sedikit merinding, karena itu artinya, paparan sinar UV di Iceland jauh lebih kuat daripada di Indonesia. Alias ada sesuatu yang salah dengan langit Iceland, penipisan lapisan ozon memang terjadi di atas langit Iceland. Meski tidak separah penipisan lapisan ozon di kutub selatan (yang diperparah karena pola angin kutub selatan yang lebih kencang dan berpola melingkar), kawasan sekitar kutub utara dimana Iceland ada di salah satu bagiannya juga mengalami penipisan ozon sehingga sinar UV yang lolos lebih banyak ketimbang di kawasan tropis. Bagian telinga saya yang tak dilapisi krim anti-sinar matahari memerah dengan cepat dan terasa panas terbakar hanya beberapa menit di bawah sinar matahari. Kondisi hawa Iceland yang dingin kadang membuat saya tak menyadari kondisi ini. Udara dingin tetapi kulit terbakar dengan cepat. Penipisan lapisan ozon, melelehnya glasier-glasier di Jökulsárlón yang begitu cepat, saya tentu saja mendapatkan ceramah gratis dari teman saya yang mengambil kuliah jurusan konservasi lingkungan.

Tetapi tentu saja kecemasan masalah lapisan ozon itu  tak berlangsung lama, di atas gumuk pasir hitam, dimana panorama Blue Lagoon lebih luas dan lebih indah, pikiran saya menjadi menerawang kemana-mana dengan keterpesonaan yang terus berlipat ganda tiada bosan. Setelah dirasa puas melihat-lihat (alias sudah merasa foto cukup banyak), saya turun dan berjalan sekitar 30 meter menuju pantai, di sana kami menghabiskan waktu sejam lagi.

Pecahan es dari glasier Breiðamerkurjökull (bagian dari massa es Vatnajökull yang jauh lebih besar lagi) berkumpul di laguna Jökulsárlón untuk kemudian mengalir ke laut lepas di Samudera Atlantik. Di muara laguna dan beserta di sepanjang pesisir pantainya, ada banyak sekali bongkahan-bongkahan es mulai dari yang sebesar telapak tangan hingga sebesar truk. Es-es ini pecah ketika terkena gelombang samudera yang demikian dahsyat. Meski angin sepoi-sepoi, gemuruh Samudera Atlantik dan tingginya ombak yang menghantam terasa begitu kuat, bahkan kadang menimbulkan getaran pada kerikil dan pasir yang saya injak. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jika angin lebih kencang lagi. Sayang saat itu sudah masuk musim panas, karena jika masih musim dingin atau awal musim semi, kawasan pantai Jökulsárlón akan dimeriahkan kedatangan robongan singa laut. Tetapi kondisi pantai yang tak biasa (bongkahan es dimana-mana di tepi pantai) yang baru pertama kali saya jumpai, membuat saya betah berlama-lama berada di sana.

20170503_140812
Es dari gunung, bersatu dengan air garam dari laut. Saya berfoto-foto akrobatik di atas es ini seperti halnya rombongan turis Taiwan yang ada di foto ini (hati-hati, esnya licin untuk dijejak dengan sisi-sisi tajam siap mengiris bagian tubuh yang tak dilindungi)

Dari papan informasi di Jökulsárlón, patok-patok jalur trekking bagi mereka yang gemar menikmati alam dengan jalan kaki. Tentu saja saya tergoda sekali untuk melakukannya. Meski kami tak sampai menempuh jalur lengkap sesuai yang disarankan, kami memanjat bukit-bukit curam menyusuri laguna Jökulsárlón hingga akhirnya kami sampai di sebuah padang tundra mahaluas yang menimbulkan ketakjuban tiada henti. Antai waktu yang tersedia lebih lama, ingin sekali saya menjelajahi jalur trekking yang ada di sana sepuas-puasnya (kalau perlu seluruh jalurnya didatangi).

Saya menyempatkan untuk melepas sepatu, dengan kaki telanjang dimana kerikil dan bebatuan terasa memijat kasar yang diselingi gelitikan lembut lumut-lumut, menciptakan sensasi unik pada saraf-saraf perasa di telapak kaki, seolah kaki saya dipijat dan dimanja sedemikian rupa oleh padang tundra. Semilir angin yang datang dari gunung es nun jauh di kaki cakrawala membawa kesejukan lembut yang bercerita tentang dewa-dewa gunung di saga-saga kuno seolah rambut saya dibelai penuh kasih seperti yang dilakukan kakek saya saat saya akan tidur sembari dibisiki dongeng-dongeng kisah pewayangan. Di tempat seluas itu, absennya makhluk-makhluk hewan besar seolah menjadikannya tempat sakral yang terlarang untuk dijamah dimana satu-satunya kegaduhan yang diizinkan hanya doa-doa yang agung dan syahdu. Kubah langit biru dengan awan-awan tipis di puncaknya, menaungi tempat itu agar terik tak merusak dan keteduhan melindungi segenap makhluk yang menjejak di atas buminya.

20170503_145352
Glasier Vatnajökull yang agung di latar belakang, konon menjadi benda di planet bumi yang bisa dilihat paling jauh. Pada kondisi cuaca yang baik, es di Vatnajökull bisa terihat dari kepulauan Faroe Inggris yang berjarak 500 km lebih, setara dengan separuh panjang pulau Jawa
20170503_214535
Padang tundra (padang lumut) mahaluas dan datar yang dibatasi es di kaki horizon, hampir tak ada kepuasan untuk mengagumi dan menjelajahi tempat luar biasa ini

Kami sebetulnya ingin menjelajah lebih jauh lagi, jalan raya kerikil yang begitu datar menggoda sekali untuk dijelajahi dengan bermobil ria. Namun baru dua kilometer, bunyi gemelutuk pasir terbang terlempar ban mobil dan mengenai badan mobil bahkan kaca belakang mulai kerap terdengar. Di tempat pengambilan rental mobil, kami sudah diperingati mengenai material batu lepasan yang bisa menggores kendaraan dan memecahkan kaca. Teringat mengenai peringatannya yang menjadi kenyataan mengenai angin kencang yang hampir menerbangkan pintu mobil di Kirkjufell, kami tak mau ambil resiko berkendara lebih jauh. Kerikil lepasan kadang membuat roda melesak sehingga sulit melakukan manuver ketika ada lubang. Kami memutar balik kendaraan ke jalan utama Route 1 yang mulus dan melanjutkan perjalanan ke tujuan wisata berikutnya.

Setelah menyaksikan glasier Vatnajökull yang mahabesar, kami pikir kami sudah cukup mendatangi glasier, tetapi seperti godaan air terjun yang tak pernah mendatangkan kepuasan, kami memutuskan untuk mendatangi glasier Svínafellsjökull. Merupakan bagian dari Taman Nasional Skaftafell, glasier Svínafellsjökull terkenal karena banyak gua es di dalamnya. Lokasinya yang amat dekat dari tepi pasir membuatnya gampang didaki langsung (tapi saat itu karena sebagian sudah cair, ada pemisah “danau” kecil antara es dan tepian pasir kering). Di salah satu batuan yang ada di tepian pasir terpasang epitaph, yang selalu membuat saya merinding sedih seperti saat melihat epitaph-epitaph saat mendaki gunung Merbabu atau Tambora. Rasa kagum dan ngeri berbaur menjadi satu membuat kepala saya melayang seolah mendengar album psychedelic Eleanor Rigby.

20170503_153045
“Lidah” es glasier Svínafellsjökull ini merupakan “sungai” es terbesar dan paling dekat yang bisa saya saksikan langsung. Warna biru yang ada di esnya benar-benar menghipnotis
Skaftafel
Epitaph untuk mengenang dua petualang yang hilang di Skaftafell (mungkin terperosok ke dalam gua es saat berdiri di atas glasier). Kadang keindahan alam yang menggoda harus diimpasi dengan harga yang amat mahal…

Jam sudah menunjukan pukul 5 sore ketika saya beranjak dari Svínafellsjökull. Perut sudah lapar dan makan siang terasa sudah lama sekali berlalu. Kami menyempatkan diri mampir dahulu ke pintu gerbang Taman Nasional Skaftafell, tetapi lokasi-lokasi air terjunnya membutuhkan trekking sendiri dengan durasi 2-6 jam sehingga kami putuskan untuk menunda besoknya saja. Toh perut lapar segera minta diisi, maka kami putuskan untuk segera kembali ke Hotel Laki tempat kami menginap. Saat menuju area parkir, kami berjumpa dengan rombongan turis yang selalu “menguntit” kami. Sungguh sebuah kebetulan yang menyenangkan ternyata selama 4 hari di Iceland, kami selalu berpapasan dengan sebuah rombongan keluarga dari Singapura. Dengan luas area Iceland yang begitu luas dan tempat wisata membludak dimana-mana, bertemu 4 hari berturut-turut dengan mereka merupakan kebetulan dan kejutan yang menyenangkan. Bahkan di Steinsholt kami berbagi penginapan yang sama. Ketika berpapasan lagi di hari keempat di Skaftafell kami saling tertawa bahagia karena kebetulan yang aneh itu, kami menjelajah Iceland dengan rute dan itinerary yang sama, sayang pada hari berikutnya kami tak pernah berpapasan lagi.

Setelah mandi dan merapikan diri di hotel, kami memutuskan mencari makan malam lagi di luar hotel. Seperti hari sebelumnya, di “kota” Kirkjubæjarklaustur hanya ada dua tempat makan yang kami jumpai saat lewat.  Karena salah satunya sudah dicoba hari sebelumnya sementara yang satunya lagi adalah restoran cepat saji, kami ingin mencari restoran lain. Kami mencoba membawa mobil sampai tepi paling ujung kota (sesungguhnya yang namanya ujung kota hanya berjarak seratus meter dari “pusat kota” alias pom bensin yang ada). Di tepi paling ujung, ternyata terdapat sebuah restoran yang bernama “Café Munkar” yang menimbulkan derai tawa kami saat pertama kali melihatnya karena nama ‘munkar’ yang bermakna tidak baik dalam bahasa Indonesia. Sayang hari itu café tersebut tutup sehingga karena tak ada pilihan lain kami akhirnya kembali makan malam di restoran hari sebelumnya.

 

20170503_180351
Secara spontan, saya langsung tertawa saat membaca tulisan nama café ini. Meski tulisan di bagian resepsionis menyatakan buka, hanya penginapannya saja yang buka, sementara cafénya tutup saat kami ke sana

 

Di samping café Munkar, terdapat sebuah jalur trekking tepat di pinggir sebuah air terjun cantik bernama Systrafoss (The Sisters Waterfall) yang mendapatkan namanya dari sebuah saga yang menceritakan dua biarawati yang dikubur di puncak air terjun karena membelot dan ‘menjual jiwanya’ pada setan. Jalur trekkingnya yang menanjak sementara kami belum makan malam membuat segan untuk diteruskan meski terlihat sangat menggoda untuk dijelajahi. Fiuuh, di Iceland, banyak sekali jalur trekking yang ingin saya coba satu-satu. Rasanya perlu waktu bertahun-tahun agar bisa mencoba semua jalur trekkingnya yang masing-masing punya pemandangan dahsyat sendiri-sendiri. Meski debit air terjunnya tak sebesar air terjun hari-hari sebelumnya yang kami jumpai (pada musim panas air terjun Systrafoss bahkan bisa kering sama sekali saat pasokan glasiernya habis), namun bentuknya yang unik. Curahan jeramnya ada dua mengalir secara beriringan bak dua saudara (saya kira dari sana nama air terjun ini didapatkan dan saga tentangnya tercipta) dan sebelum mencapai dasar, menghilang masuk ke dalam gua pendek, baru muncul lagi di di kakinya.

 

20170503_180723
Air terjun Systrafoss yang bagian tengahnya menghilang masuk ke dalam gua

Selesai makan malam jam 8, hari masih terang tetapi kami sudah kelelahan sehingga diputuskan kembali pulang ke hotel untuk beristirahat. Dari jendela mobil, saya melihat seorang remaja yang bermain sendirian dengan anjingnya (di kota yang sedemikian kecil, pasti sangat sulit mencari teman seumuran) di tepi sungai Fossá yang memisahkan kota ini dari kehampaan padang lumut tak berhingga. Meski saya menganggap saat itu sudah “waktu malam”, namun hari terang membuat orang-orang Iceland sendiri masih menganggap itu jam kerja. Seorang petugas perbaikan jalan sedang bekerja di penghujung sore dalam ketekunan yang membuat saya terpukau. Dia yang menebar kerikil, menuangkan aspal panas, dan menjalankan kendaraan perata jalan secara sendirian. Bandingkan dengan proyek perbaikan jalan di Indonesia yang harus dilakukan secara rombongan dalam jumlah banyak. Saya bayangkan, jam berapa dia pulang ke rumahnya dan di mana memarkirkan mesinnya karena kota lain yang terdekat jaraknya dua jam bermobil sementara kecepatan mesin perata jalan sangat lambat sekali. Tak ada rekan kerja pasti membuatnya akan kesepian sekali, dia pasti punya dedikasi yang amat besar untuk pekerjaan ini.

Melewati padang-padang tundra dengan aneka air terjun di tebing-tebing, dan keheningan di mana-mana, kutipan dari buku Independent People yang saya kutip di awal tulisan ini mengiang-ngiang di kepala saya, Kedamaian di alam menjejali pikirannya dengan tenang dan ceria, rumput hijau terang di telapak kakinya membangkitkan keindahan, nyaris ketakziman. Aroma yang disesap terasa begitu manis saat menyusup ke lubang hidung, dalam keheningan yang jika direnungkan terasa begitu memberkati, ada kenyamanan dan ketentraman tak terperi. Bukit-bukit, lembah-lembah, jeram-jeram, dan pegunungan begitu akrab seperti sahabat dari masa kecil yang tak mungkin terlupakan…

 

(bersambung)

 

Catatan tambahan:

*         = Semua imajinasi kita tentang bangsa Viking mungkin kebanyakan berasal dari film-film Holywood yang menggambarkan mereka sebagai bangsa haus darah, penjarah, nomaden, barbar, dan menebar teror “bangsa-bangsa beradab Eropa lainnya” di abad pertengahan. Mulai dari film kolosal The Vikings (1958) yang populer karena dibintangi Kirk Douglas, sampai film animasi anak-anak How to Train Your Dragon (2010) semakin menguatkan citra tak sedap tersebut. Meski memang bangsa Viking sering menjarah gereja-gereja untuk mendapatkan harta rampasan (gereja abad pertengahan dikenal sebagai tempat transit ‘pajak’ untuk kepausan dan raja), bangsa Viking yang sebetulnya merupakan sebutan umum untuk penduduk di pesisir Utara hingga Timur Eropa di abad 8 hingga 11 masehi. Dengan rentang jelajah geografi luas, bangsa Viking mewakili banyak bangsa dan ragam budaya yang kompleks. Banyak fakta dari sejarah dan arkeologi bangsa Viking yang begitu mencengangkan, bayangkan saja ternyata ada bangsa Viking yang berkulit hitam hasil asimilasi dan interaksi mereka dengan bangsa Afrika, atau banyaknya artefak bangsa Viking yang mengindikasikan mereka punya keterkaitan erat dengan kebudayaan Islam abad pertengahan. Ledakan populasi dan masuknya teknologi pelayaran yang lebih modern di abad ke-6 dari kawasan Mediteran membuat bangsa Viking mulai melakukan penjelajahan yang lebih berani. Merekalah yang menemukan Iceland, Greenland, bahkan daratan Amerika Utara jauh sebelum Columbus datang (Malah Columbus hanya sampai pulau Karibia saja, bukan daratan utama benua).

**       = Iceland adalah negara Eropa terakhir yang dihuni manusia, masih relatif muda, hanya baru dihuni seribu tahun terakhir. Meski novel fiksi, dalam Independent People, Halldór Laxness membuka novel epik personal itu dengan kutipan sebuah saga tentang kisah kedatangan koloni pertama ke Iceland yang dipimpin oleh Kolumkilli si Penyihir Ireland, datang pertama kali ke pulau itu dan menemukan pulau itu dalam keadaan hijau dan subur, tetapi mereka menetap hanya saat musim panas saja, ketika musim dingin datang mereka kembali ke Ireland. Ketika orang-orang Viking datang ke sana dan mendesak rombongan Si Kolumkilli, sang penyihir meninggalkan kutukan bahwa orang-orang Viking itu tak akan bisa hidup makmur di Iceland.

Meski orang-orang Viking dianggap sebagai “penemu pertama” pulau Iceland, namun saga yang dijadikan referensi oleh Laxness memang berangkat dari fakta yang akurat (penggalian arkeologis di daerah yang menjadi Reykjavik sekarang membuktikan bahwa ada pemukiman orang Irelandia yang lebih tua daripada saat kedatangan orang Viking pertama). Saga-saga Iceland memang suka menyelipkan fakta-fakta mencengangkan dalam hal akurasi sebelum penemuan-penemuan arkeologis membuktikan kebenaran kisah-kisahnya. Lalu, bagaimana asal kisah penamaan yang ditukar itu, apa memang Iceland yang hijau dinamakan sebagai “tanah es” untuk mengecoh orang-orang Viking agar melewatkannya dan mengunjungi Greenland si “tanah hijau” yang beku?

Kisah anekdot ini memang lucu dan menarik untuk dikisahkan, makanya kisah ini tersebar dan ditulis dimana-mana termasuk di brosur wisata yang saya temukan di biro wisata di Reykjavik. Sayangnya, kisah ini bohong. Yang terjadi sesungguhnya sedikit rumit tentang asal-usul nama kedua tempat ini. Naddodd si orang Norwegia sebagai orang Viking pertama yang datang ke Iceland menamakan pulau ini Snæland (Snowland) karena dia mendarat di pesisir timur Iceland yang langsung berhadapan dengan glacier raksasa Vatnajökull yang tak mungkin dihuni, Naddodd kemudian memutuskan kembali pulang. Garðar Svavarsson si orang Swedia mendarat di tempat yang lebih baik dan menetap beberapa lama di Iceland sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Eropa daratan karena tak tahan dengan iklim dingin Iceland di musim dingin, dia menamakan Iceland sebagai Garðarshólmi (pulau Garðar). Orang Viking berikutnya Hrafna-Flóki Vilgerðarson menetap beberapa tahun di Iceland dan sempat menjelajahi Iceland utara yang lebih dingin sebelum akhirnya menyerah dan kembali ke Eropa daratan, dia lah yang menamakan pulau itu menjadi Ísland (Pulau Es) yang bertahan sampai saat ini. Baru saat orang Viking berikutnya Ingólfr Arnarson menemukan kawasan yang sekarang menjadi Reykjavik yang beriklim paling bersahabat dan menetap permanen di Iceland. Orang-orang Viking ini menetap di Iceland pada periode tahun 840-870 M. Sementara Greenland baru ditemukan seratus tahun kemudian pada tahun 982 M oleh Erik Thorvaldsson yang lahir dan besar di Iceland namun diusir dari pulau itu karena kasus pembunuhan. Erik sengaja memberikan nama Grønland “tanah hijau” agar ada orang Iceland lain yang tertarik untuk ikut dengannya tinggal di Greenland. Jadi nama Iceland-Greenland itu memang dibuat sengaja, bukan bermaksud untuk ditukar.

Mengapa cerita tentang penukaran nama Iceland-Greenland lebih populer ketimbang cerita sejarah sesungguhnya? Dan untuk hal lebih luas lagi, mengapa kita lebih senang dengan narasi fiksi yang gampang tergelincir pada cerita hoax ketimbang susah payah mengecek kebenaran sesungguhnya? Well, akan jadi bahasan panjang sendiri jika saya menuliskan semua alasannya, haha. Tapi ada bacaan bagus untuk dibaca mengenai topik ini. Saran saya, jangan remehkan kekuatan narasi dongeng!

***     = Musik blues, mungkin bisa masuk salah satu genre musik paling marginal dan underrated di tahun-tahun sekarang dimana gempuran musik-musik pop-disko-hiphop-rap menyapu habis daftar-daftar playlist dan video-paling-banyak-ditonton-di-youtube yang semakin banal dan vulgar. Padahal, musik blues punya spektrum kreativitas yang amat luas dalam eksplorasi intrumental, terutama generasi awal tahun ’60-an. Pun lirik-liriknya yang dipilih sedemikian rupa, menjadikan lagu-lagu blues terdengar seksi tanpa perlu penyanyinya tampil tak senonoh dengan kostum dan aksi panggung tak pantas. Selain jazz, blues adalah musik yang setiap lekukan iramanya menggambarkan keseksian dan kesensualan yang akan menggelitik syaraf pendengaran dan membuat mata kita terpejam hanyut dalam irama musikalisasinya. Jika ingin mencoba penyanyi-penyanyi blues, maka sudah pasti saya akan menyarankan blues generasi-generasi awal tahun 50-60’an. Magic Sam, Junior Wells, Albert King, Son House, Willie Dixon, Robert Johnson, Muddy Waters, Elmore James atau Little Walter, adalah sedikit nama-nama dewa musik blues. Atau yang tak kalah hebatnya, musisi yang juga saya dengarkan selama di Hotel Laki, adalah nama yang tak asing bagi penikmat musik blues, Paul Butterfield. Salah satu albumnya, The Paul Butterfield Blues Band dianggap sebagai album blues terbaik dan paling otentik dari blues aliran Chicago, dan salah satu yang paling cemerlang di era 60-an. Saya jatuh cinta pada album The Paul Butterfield Blues Band sejak pertama kali mendengarnya beberapa tahun silam dan masih bertahan hingga sekarang. Masuk dalam playlist harian saya, The Paul Butterfield Blues Band sering diputar hampir tiap hari dimana di tiap pendengarannya, saya menemukan karakteristik baru yang sebelumnya tak tertangkap. Bersahaja dan halus, namun kompleks dan dinamis. Benar-benar klasik.

Coba dengarkan lengkingan harmonika dan dentuman ritmis drum yang tak ada duanya ini,

 

Advertisements

Author: Qui

Climbing up the mountain of books and Reading a book while climbing the mountains

2 thoughts on “Gunung Kirkjufell, Iceland, Mei 2017 [bag. 4]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s